Cinta Terhalang di Penghujung Jalan

Lynda Cevest
Chapter #3

Bab 3

Sejak kejadian malam itu, hidup Siti tidak pernah benar-benar kembali seperti semula.

Hari-harinya kini terasa lebih berat, seolah ada beban tak kasat mata yang terus menekan dadanya tanpa henti.

Perasaan tertekan itu perlahan menggerogoti dirinya, mengubah Siti yang dulu dikenal sebagai gadis cantik, ceria, dan penuh semangat…

Kini menjadi sosok yang pendiam, murung, dan lebih sering tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Senyumnya masih ada, tetapi terasa berbeda.

Senyumnya terasa Hambar...

Dipaksakan...

Dan senyumnya hanya muncul saat ia benar-benar harus terlihat “baik-baik saja” di depan orang lain.

Di sisi lain, Rizky pun tidak berada dalam keadaan yang lebih baik.

Setiap hari, rumahnya dipenuhi perdebatan dan pertengkaran dengan ibunya. Tidak ada lagi percakapan hangat, yang ada hanyalah tekanan, tuntutan, dan perintah yang terus memojokkannya.

Keinginannya tidak pernah didengar.

Perasaannya tidak pernah dianggap.

Semua yang ia perjuangkan… seolah tidak berarti apa-apa. Tekanan itu perlahan mengubah Rizky menjadi pribadi yang berbeda.

Ia menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, dan tanpa sadar melampiaskan kemarahannya pada hal-hal kecil.

Dan yang paling merasakan dampaknya adalah Siti.

Perubahan sikap Rizky mulai terasa semakin jelas dari hari ke hari. Hal-hal kecil yang dulu ia abaikan, kini menjadi sumber kemarahan yang tidak masuk akal.

“Kenapa kamu selalu ceroboh sih, Siti?”

Nada suaranya tajam...

Menusuk...

Tanpa jeda, tanpa empati...

Ia mulai sering mengkritik baik hal kecil maupun besar. Cara Siti berbicara, bertindak, bahkan hal-hal sepele yang dulu justru membuatnya tersenyum.

Tapi kini… semuanya terlihat salah di mata Rizky.

Ia merasa jenuh...

Merasa malu...

Seolah kehadiran Siti bukan lagi kebanggaan, melainkan beban. Sementara itu, di balik diamnya, Siti terus menahan semuanya seorang diri.

Semakin hari, perasaan tertekan dalam hatinya semakin dalam. Setiap malam, air mata menjadi pelarian satu-satunya untuk meredakan rasa sakit yang tak bisa ia ungkapkan kepada siapa pun.

Ia menangis dalam diam.

Menangis tanpa suara.

Seolah takut bahkan pada dirinya sendiri.

Kadang-kadang, Siti mencoba menghibur dirinya dengan mengenang masa-masa bahagia mereka dulu.

Saat Rizky masih hangat.

Saat senyumnya tulus.

Saat kebersamaan mereka terasa begitu sederhana namun penuh makna.

Namun ironisnya, semakin ia mengingat momen-momen manis itu… semakin hancur pula hatinya.

Rasa rindu itu berubah menjadi luka.

“Sekarang ini bukan Rizky yang aku kenal… melainkan sosok yang sangat berbeda,” gumam Siti lirih.

Waktu terus berjalan dan bersama waktu itu, desas-desus mulai beredar.

Awalnya hanya bisikan.

Lalu menjadi cerita yang semakin jelas.

Tentang sesuatu yang sulit dipercaya… namun terlalu sering terdengar untuk diabaikan.

Ada seseorang yang membongkar rahasia keluarga Rizky.

Bahwa keluarganya telah mencari dukun untuk menhilakan pelet yang sudah Siti berikan kepadanya.

Mereka melakukan cara-cara yang tidak masuk akal demi satu tujuan. Membuat Rizky berubah menghilangkan rasa cintanya pada Siti.

Agar ia menjadi anak yang patuh.

Agar ia mau menerima perjodohan yang telah disiapkan oleh ibunya sendiri.

Siti tidak tahu apakah itu benar.

Namun satu hal yang pasti, Rizky memang sudah berubah dan perubahan itu… terasa nyata.

Beberapa hari kemudian, Seperti biasa...

Rizky masih menghubunginya melalui telepon. Namun bukan lagi panggilan yang ditunggu-tunggu.

Melainkan panggilan yang menimbulkan rasa cemas.

“Kenapa lama banget sih diangkat?!”

Bentakan itu langsung menyambut begitu Siti menjawab.

Jika ia terlambat sedikit saja, atau bahkan tidak sempat mengangkat panggilan…

Rizky akan marah.

Membentak.

Mengeluarkan kata-kata kasar.

Lihat selengkapnya