Cinta Terlarang di Antara Saudara

Aldibilalagi
Chapter #1

Bab 1 — Rumah Bernama Pernikahan

Pagi selalu datang dengan cara yang sama di rumah itu—pelan, tenang, dan nyaris tanpa suara. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai berwarna krem, jatuh di lantai ruang makan yang bersih dan tertata rapi. Aroma kopi hitam bercampur dengan wangi roti panggang memenuhi udara, menciptakan suasana hangat yang hanya bisa dimiliki oleh rumah yang benar-benar dihuni oleh rasa nyaman.


Fadil berdiri di depan meja dapur, menggulung lengan kemeja kerjanya hingga siku. Jam tangannya menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Seperti biasa, ia bangun lebih awal—kebiasaan yang terbentuk sejak bertahun-tahun lalu, sejak kariernya menanjak dan tanggung jawab datang silih berganti.


Ia menuangkan kopi ke dalam cangkir keramik favoritnya, lalu menoleh ke arah pintu kamar.


Samantha belum keluar.


“Sam?” panggilnya lembut.


Tak ada jawaban.


Fadil tersenyum tipis. Ia tahu istrinya bukan tipe yang suka terburu-buru di pagi hari. Samantha selalu memulai hari dengan tenang, seolah dunia tidak pernah mendesaknya untuk berlari lebih cepat. Itulah salah satu hal yang ia sukai—ketenangan yang tidak dibuat-buat.


Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka. Samantha melangkah keluar dengan rambut masih sedikit lembap, mengenakan blus putih sederhana dan rok kerja berwarna abu-abu. Wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan, namun kecantikannya justru terasa paling nyata di saat-saat seperti ini.


“Kamu bangun cepat sekali,” katanya sambil mendekat.


Fadil tersenyum lebih lebar. “Kebiasaan.”


Samantha duduk di kursi makan, meraih secangkir teh yang sudah disiapkan. Ia menyesapnya perlahan, lalu menatap suaminya dengan tatapan yang penuh sesuatu—kepercayaan, kenyamanan, dan cinta yang tidak pernah perlu diucapkan setiap hari.


Mereka sudah menikah tiga tahun. Tidak terlalu lama, tapi cukup untuk mengenal ritme satu sama lain. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada drama yang berlebihan. Pernikahan mereka berjalan seperti air yang mengalir—kadang tenang, kadang beriak kecil, tapi tidak pernah meluap.


“Kamu ada meeting pagi ini?” tanya Samantha.


“Iya. Dengan klien baru,” jawab Fadil. “Mungkin agak lama.”


Samantha mengangguk. “Hati-hati di jalan.”


Kalimat sederhana. Tapi selalu terdengar tulus.


Fadil menatap istrinya sejenak lebih lama dari biasanya. Dalam hati, ia bersyukur. Tidak semua orang diberi pasangan yang mampu menciptakan rumah seperti ini—rumah yang bukan hanya tempat tinggal, tapi juga tempat kembali.


Namun, di balik semua itu, Fadil tidak menyadari bahwa pagi yang tampak biasa ini adalah awal dari sesuatu yang perlahan akan mengubah makna kata rumah bagi mereka semua.


Richa tiba di rumah itu menjelang siang.


Ia baru saja menyelesaikan shift paginya di bank—hari ketiganya sebagai karyawan tetap setelah lulus kuliah. Wajahnya tampak sedikit lelah, tapi matanya menyimpan semangat yang tidak bisa disembunyikan. Richa selalu seperti itu: gigih, ambisius, dan jarang mengeluh.


Begitu pintu terbuka, Samantha langsung menyambutnya.


“Capek?” tanya sang kakak sambil tersenyum.


“Lumayan,” jawab Richa sambil melepaskan sepatu. “Tapi senang.”


Ia melirik ke arah ruang tamu, lalu ke dapur. “Mas Fadil belum pulang?”


“Belum. Masih kerja,” jawab Samantha.


Entah kenapa, Richa mengangguk sedikit terlalu cepat. Ia menyembunyikan sesuatu di balik senyum kecilnya—rasa penasaran yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.


Sejak mulai bekerja di bank yang sama dengan Samantha, Richa lebih sering berada di rumah kakaknya itu. Awalnya hanya karena jarak yang lebih dekat. Namun belakangan, ada alasan lain yang tak pernah ia ucapkan.


Ia menyukai suasana rumah ini. Terlalu nyaman. Terlalu hangat.


Lihat selengkapnya