Richa selalu menyukai pagi.
Ada sesuatu yang menenangkan dari jalanan yang belum terlalu ramai, dari udara yang masih menyimpan sisa embun malam, dari perasaan bahwa hari belum sepenuhnya dimulai dan segalanya masih mungkin. Pagi memberinya ilusi kendali—bahwa ia bisa mengatur ritme hidupnya sebelum dunia menuntut terlalu banyak.
Pagi itu, Richa berdiri di depan cermin kamar mandi dengan kemeja kerja biru muda yang disetrika rapi. Rambut panjangnya diikat sederhana, make-up tipis menegaskan garis wajahnya yang memang sudah cantik tanpa usaha berlebih. Ia menatap pantulan dirinya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Bukan karena ragu.
Melainkan karena ada perasaan aneh yang tidak bisa ia beri nama.
Hari ini tidak berbeda. Ia akan pergi bekerja seperti biasa. Duduk di balik meja layanan, menyapa nasabah, mempelajari sistem, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Semua normal. Semua sesuai rencana hidup yang telah ia susun sejak lama.
Namun sejak semalam, pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Bayangan rumah kakaknya—rumah Fadil dan Samantha—muncul tanpa diundang. Suara Fadil yang tenang saat berbicara. Cara ia mendengarkan, bukan sekadar menunggu giliran bicara. Hal-hal kecil yang seharusnya tidak penting, tapi entah mengapa menetap di benaknya.
Richa menggeleng pelan, seolah bisa mengusir pikiran itu secara fisik.
“Fokus,” gumamnya.
Ia meraih tas, lalu melangkah keluar kamar. Di ruang makan, Samantha sudah lebih dulu siap berangkat kerja. Blus rapi, rambut disanggul sederhana, ekspresi wajah yang selalu tenang—perempuan yang tidak pernah membiarkan kekacauan menguasai hidupnya.
“Pagi,” sapa Samantha sambil tersenyum.
“Pagi, Kak.”
Mereka sarapan bersama dalam keheningan yang nyaman. Tidak perlu banyak kata. Hubungan kakak-adik itu sudah terbangun lama—tanpa kecanggungan, tanpa jarak.
“Mas Fadil berangkat lebih dulu,” kata Samantha sambil menyesap tehnya. “Ada agenda ke luar kota hari ini.”
Richa mengangguk. “Oh.”
Satu kata itu meluncur begitu saja. Namun ada rasa kecil yang tidak ia kenali menyelip di dadanya—bukan kecewa, bukan juga sedih. Lebih seperti… kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia sadari ia tunggu.
Samantha tidak memperhatikan. Ia terlalu sibuk mengecek agenda kerjanya sendiri.
Dan Richa bersyukur untuk itu.
Hari di bank berjalan cepat.
Sebagai pegawai baru, Richa masih berada dalam fase observasi. Banyak belajar, banyak bertanya, dan lebih banyak mendengarkan. Ia menikmati kesibukan itu—ritme kerja, tanggung jawab, perasaan dibutuhkan.
Beberapa rekan kerja pria mencoba bersikap ramah. Ada yang mengajaknya makan siang, ada yang melempar pujian halus, ada juga yang terang-terangan tertarik. Semua itu bukan hal baru bagi Richa. Sejak kuliah, ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.
Namun anehnya, hari itu semua terasa hambar.
Saat jam istirahat, ia duduk sendiri di kantin kantor, menatap ponselnya tanpa benar-benar membuka apa pun. Pikirannya kembali melayang—kali ini pada obrolan singkat semalam di meja makan.
Kalau capek, jangan dipaksakan.
Kalimat sederhana dari Fadil. Bukan sesuatu yang istimewa. Tapi cara ia mengucapkannya—tenang, tulus, tanpa maksud lain—membuat Richa merasa diperhatikan sebagai manusia, bukan sekadar adik ipar.
“Aneh,” gumamnya lirih.
Ia tahu ini tidak seharusnya. Fadil adalah suami kakaknya. Figur yang seharusnya ia hormati, bukan pikirkan berlebihan. Namun perasaan tidak selalu meminta izin pada logika.