Cinta Terlarang di Antara Saudara

Aldibilalagi
Chapter #3

Bab 3 — Rasa yang Tidak Pernah Direncanakan

Widya selalu merasa hidupnya penuh.


Jadwal kuliah padat, rapat organisasi yang nyaris tidak ada jeda, diskusi panjang hingga larut malam, ditambah pesan-pesan masuk dari orang-orang yang menginginkan waktunya—teman, senior, junior, bahkan beberapa pria yang terang-terangan menunjukkan ketertarikan. Ia dikenal, disukai, dan sering dianggap “beruntung” karena hidupnya tampak berjalan mulus.


Namun hanya Widya yang tahu, di tengah semua itu, ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi.


Pagi itu, ia duduk di sudut kafe dekat kampus, laptop terbuka, catatan rapat berserakan di meja. Kopinya sudah dingin, tapi tak disentuh. Matanya menatap layar tanpa fokus.


“Kamu bengong lagi.”


Suara itu membuat Widya tersentak. Ia menoleh dan mendapati Dina, teman satu organisasinya, berdiri dengan alis terangkat.


“Capek,” jawab Widya singkat.


“Kamu selalu bilang capek, tapi tetap ambil semua tanggung jawab,” ujar Dina sambil duduk. “Kenapa sih?”


Widya mengangkat bahu. “Kalau bukan aku, siapa lagi?”


Jawaban refleks. Jawaban yang selalu ia pakai.


Namun hari itu, pertanyaan Dina terasa berbeda. Seolah menyingkap sesuatu yang lebih dalam—tentang kebiasaannya menjadi kuat, tentang ketidakmampuannya meminta bantuan, tentang keinginannya untuk didengar tanpa harus selalu terlihat tangguh.


Dan tanpa ia sadari, satu nama melintas di benaknya.


Fadil.


Widya menghela napas pelan. Ia tidak tahu kapan tepatnya pria itu mulai menempati ruang pikirannya. Tidak ada momen dramatis. Tidak ada kejadian besar. Semuanya tumbuh dari hal-hal kecil—percakapan singkat, perhatian sederhana, sikap tenang yang tidak pernah memaksanya menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.


“Wid?” panggil Dina lagi.


“Hm?” Widya tersadar.


“Kamu nggak dengerin aku, ya?”


Widya tersenyum kecil. “Maaf. Kepikiran skripsi.”


Dina mengangguk, meski jelas tidak sepenuhnya percaya. “Jangan terlalu keras sama diri sendiri.”


Widya mengangguk, tapi di dalam hatinya, ia tahu itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.


Sore itu, Widya pulang lebih awal dari biasanya.


Ia lelah—bukan secara fisik, tapi mental. Terlalu banyak suara di kepalanya. Terlalu banyak tuntutan. Ia hanya ingin pulang ke satu tempat yang memberinya rasa tenang tanpa syarat.


Rumah kakaknya.


Begitu membuka pintu, aroma masakan menyambutnya. Richa terlihat sibuk di dapur, mengenakan celemek sederhana. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tampak fokus.


“Kamu masak?” tanya Widya.


Richa menoleh, tersenyum. “Iya. Kak Samantha bilang mungkin pulang agak telat lagi.”


Widya mengangguk. “Mas Fadil?”


“Belum pulang.”


Widya berusaha menyembunyikan rasa kecewa yang muncul begitu saja. Ia menaruh tas, lalu duduk di kursi makan, memperhatikan Richa yang bergerak cekatan.


“Kamu kelihatan capek,” kata Richa.


Widya menyandarkan punggung. “Sedikit.”


“Organisasi lagi?”

Lihat selengkapnya