Malam itu, di perbatasan sunyi antara desa dan hutan, dua jiwa yang terpisah akhirnya kembali bertemu. Pelukan mereka lebih kuat dari ancaman apa pun yang mengintai. Dan tiga pemuda kampung berdiri tak jauh, menjadi saksi—dan mungkin, tanpa sadar, menjadi saksi awal dari sebuah cerita yang akan mengubah nasib mereka semua.
Renji tak segera melepaskan pelukan itu. Nafasnya berat, tersengal seperti menahan sesuatu yang lama terpendam. “Aku pikir… aku tak akan bisa lagi merasakan hangatmu, Nara-chan.”
Senara menekan wajahnya lebih dalam ke dada Renji. “Setiap hari aku takut. Takut saat aku buka mata, aku tak bisa lagi mengingat wajahmu. Aku rindu…
“Shhh…” Renji mengusap rambutnya, lembut. “Aku tetap di sini. Kau tidak perlu takut lagi.”
Senara terisak, lalu mendongak. Wajahnya basah, matanya berkilat di bawah sinar bulan. “Aku dengar… mereka memintamu untuk mengajari mereka.”
Renji terdiam. Pelukannya mengendur sedikit, sorot matanya gelisah. “Aku menolak... karena tidak mau membuat mereka jadi sepertiku. Semua yang kulakukan hanya demi melindungimu dan bertahan hidup.”
Senara menggeleng kuat, tangannya mencengkeram wajah Renji. “Mereka bukan anak nakal, Renji. Mereka pemuda yang jujur dan baik. Mereka percaya padamu. Mereka melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain.”
Renji menunduk, merasa malu. Ia tidak pernah menganggap dirinya baik. Ia hanyalah seorang prajurit yang penuh dosa.
Senara meraih wajah Renji dengan kedua tangannya, memaksa mata mereka bertemu. “Jangan merendahkan dirimu, Renji. Mereka melihatmu sebagai harapan. Ini kesempatanmu untuk membuktikan bahwa kau bukan lagi bahaya bagi mereka... bahkan bisa jadi berguna. Mungkin setelah ini kau bisa menjadi bagian dari mereka. Menjadi bagian dari kampung ini.”
Renji menutup mata, keningnya menempel pada kening Senara. Jemarinya mengetuk pelan kening gadis itu—kebiasaan lama yang dulu selalu ia lakukan untuk menenangkan Senara saat gelisah. Suaranya parau. “Aku takut, Nara-chan… aku takut aku hanya membawa lebih banyak kematian.”
Senara mengusap wajahnya, suaranya lembut tapi tegas. “Itu tak akan terjadi, karena kau berbeda dengan tentara yang lain. Dan aku ingin… saat waktunya tiba, kau ada di sisiku. Aku ingin saat anak kita lahir nanti, kau berada di sampingku.”
Renji membuka mata. Air bening akhirnya lolos di sudutnya. Ia menunduk, mencium dahi Senara lama sekali. “Kalau itu yang kau inginkan… aku akan melakukannya, Nara-chan. Aku akan mengajari mereka. Demi kau. Demi anak kita. Aku akan membuktikan diriku dan tidak akan membiarkan kita dipisahkan lagi.”
Senara menutup matanya, mengangguk kecil, senyumnya tipis meski masih menangis. “Terima kasih…”
Suasana hening. Hanya desir angin lewat pepohonan.
Lalu, suara berdehem keras memecah keintiman itu.
“Ehem!” Ero berdiri dengan tangan di pinggang, wajah pura-pura serius. “Kalau kalian butuh lilin atau musik pengiring, bilang saja. Aku bisa nyanyi, tapi nadaku suka lari.”
“Ro!” Jau langsung menyikutnya.
Lukas menggeleng keras, wajahnya penuh kesal. “Kau mau kita ketahuan Urakng kampung, hah?! Bisa-bisanya kau bercanda di saat seperti ini.”
Alih-alih diam, Ero malah mengangkat bahu. “Apa? Biarkan saja. Kita bertiga juga tak punya pacar. Cuma Lukas yang pernah dekat sama perempuan.”