Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

LUKA YANG MENGUNCI PINTU

Luka yang Mengunci Pintu

حِفْظُ القَلْبِ

Tema Utama Bab : Iffah, Menjaga Hati, dan Trauma Masa Lalu

-----------------------------------

Sinopsis Alur Kejadian:

Ghufran Al- Ghifari hidup dalam kesederhanaan dan ketenangan yang ia jaga ketat. Sejak remaja, ia menyaksikan bagaimana cinta yang salah arah menghancurkan orang-orang di sekitarnya—termasuk melihat beberaoa kasus perceraian yang diawali nafsu dan berakhir kebencian. Ghufran memilih menyibukkan diri dengan kerja sosial, menjaga ibunya yang ringkih, dan berjanji tak akan membiarkan hatinya terombang-ambing perasaan sebelum waktunya.

-----------------------------------


--- Bagian I: Serpihan Porselen dan Pintu yang Terkunci ---

Gema Masa Remaja dan Luka yang Menolak Padam

---o0o---

Ada bau karat dan tanah lembap yang selalu menguar setiap kali hujan deras membentur seng atap rumah sewaan itu. Namun bagi Ghufran AlGhifari, bukan aroma tanah basah yang paling lekat dalam ingatan kanak-kanaknya, melainkan denging tajam pecahan piring porselen putih bergambar melati yang menghantam dinding ruang makan empat belas tahun silam. Suara benturan keras itu membelah masa kecilnya menjadi dua: sebelum dan sesudah kepedihan.

Malam itu usianya baru tiga belas tahun. Suara deru angin dari celah kusen lapuk kalah bising oleh teriak bentakan ayahnya—seorang lelaki yang dulu dipuji tampan dan memikat, tetapi kemudian meranggas menjadi sosok yang gampang tersulut api amarah. Ibu Halimah, dengan jemari kurus yang gemetar hebat, berlutut di atas ubin semen yang dingin, memunguti serpihan porselen tajam dengan tangan telanjang hingga darah segar merembes membasahi kain jariknya. Lelaki itu pergi membanting pintu belakang hingga engselnya berderit, meninggalkan kepulan asap rokok murahan dan kata-kata talak yang menusuk ulu hati, mengejar angan asmara baru dengan perempuan lain yang katanya lebih mampu membakar gairah hidupnya.

Sejak detik itulah, sebuah gembok tak kasat mata berdentang menutup ruang terdalam di dada Ghufran. Anak lelaki yang mendadak dipaksa dewasa itu bersumpah di depan tubuh ibunya yang terisak: ia tidak akan pernah membiarkan hawa nafsu berkedok cinta menguasai akal warasnya, meruntuhkan martabat keluarganya, atau mengubah dirinya menjadi pemuja nafsu yang menghancurkan orang lain.

Kini, di usianya yang telah menyentuh dua puluh tujuh tahun, sumpah sunyi itu menjelma menjadi benteng pertahanan yang kukuh. Ghufran tumbuh menjadi pribadi yang irit kata, bersahaja dalam berpakaian, dan memiliki ketenangan serupa permukaan telaga sunyi di kala fajar. Matanya teduh memancarkan wibawa, namun ada batas tegas yang tak tertembus setiap kali berhadapan dengan riak asmara dunia. Sehari-hari, ia mencurahkan energinya di Yayasan Harapan Insani—tempat ia mengurus logistik beras, mendata anak yatim di pelosok, dan mendistribusikan obat bagi kaum dhuafa.

Bagi Ghufran, kerja sosial adalah perisai pelindung jiwa. Kesibukan memanggul karung gandum, memeriksa berkas penerima manfaat, dan menyusuri lorong sempit gubuk reot menjadi cara paling ampuh agar benaknya tak punya celah kosong untuk melamunkan sesuatu yang belum halal baginya. Pikiran yang menganggur adalah celah empuk bagi angan-angan liar untuk merayap masuk.

Setiap pagi sebelum matahari menyembul, rutinitasnya berulang dengan ketelitian penjaga mercusuar. Seusai mengimami ibunya salat Subuh, Ghufran bergegas ke dapur belakang. Ia menjarang air rebusan serai, kayu manis, dan jahe merah, lalu menakar obat pengencer dahak untuk Ummi Halimah. Batuk sang ibu yang kian berat sejak pancaroba adalah pengingat harian bahwa ada amanah rapuh yang membutuhkan seluruh baktinya, jauh di atas ambisi mengejar romansa pribadi.

"Ghufran," panggil sang ibu pelan dari balik tirai kamar, suaranya parau oleh tarikan napas pendek. "Jangan terburu-buru berangkat, Nak. Sarung tanganmu masih basah di jemuran belakang."

Ghufran berjongkok di samping dipan kayu jati tempat ibunya bersandar. Jemarinya yang kokoh menyentuh lembut tangan sang ibu yang dingin berkerut. "Tidak apa-apa, Ummi. Ghufran pakai jaket parasut tebal saja. Ummi jangan banyak bergerak dulu, angin pagi ini sedang kencang. Rebusan jahe dan obat sudah Ghufran taruh di meja samping. Nanti siang Mak Inah akan datang mengantar sayur bening kelor."

Ibunya menatap putranya lekat-lekat dengan rasa syukur berbaur penyesalan. Ibu Halimah tahu betapa putranya memikul beban masa silam terlalu dini. Kawan-kawan sebayanya sudah sibuk memamerkan pesta pernikahan atau bersenang-senang dengan pasangan mereka. Sementara Ghufran hidup bagai seorang zahid yang membatasi diri dari segala gemerlap asmara.

"Sampai kapan kau mengurung dirimu seperti ini, Fran?" bisik ibunya lirih. "Ummi tahu rumah ini dulu pernah menjadi luka bagimu. Tapi ketahuilah, Nak, tidak semua ikatan pernikahan berakhir dengan piring pecah di lantai."

Ghufran tersenyum tipis—senyuman santun yang ia pakai untuk menenangkan ibunya. Ia mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. "Ghufran tidak sedang mengurung diri, Ummi. Ghufran hanya belajar menjaga apa yang semestinya dijaga. Sebelum Allah mengizinkan seseorang masuk, tugas kita adalah memastikan rumah jiwa ini tidak kotor oleh khayalan sia-sia. Ummi istirahatlah ya. Ghufran pamit bekerja."

Lelaki itu melangkah keluar rumah seraya menyandang tas punggungnya. Saat ia menutup pintu depan dan memutar kuncinya dua kali hingga berbunyi klik mantap, ia kembali merasakan sensasi yang sama: ada pintu lain di dalam rongga dadanya yang ia pastikan tetap terkunci rapat, tak boleh ada kunci tiruan yang membukanya, dan tak boleh ada ketukan sembarangan yang ia beri sahutan.

-------------------------------------


--- Bagian II: Ruang Arsip dan Bisik-bisik di Jam Istirahat ---

Ujian Sikap di Tengah Gurauan yang Mengikis Batas

---o0o---

Kantor Yayasan Harapan Insani menempati sebuah ruko dua lantai di dekat terminal antarkota. Pagi menjelang siang selalu riuh oleh ketukan papan ketik komputer, dering telepon donatur, dan derit pintu kaca yang terus berayun. Ghufran duduk di sudut lantai satu, di balik meja kayu lapis yang sarat tumpukan map cokelat survei keluarga prasejahtera.

Berbeda dari rekan kerjanya yang kerap memanfaatkan sela jam kerja untuk mengobrol santai atau saling melempar candaan akrab antar lawan jenis, Ghufran bekerja dengan kedisiplinan yang nyaris kaku. Jika ada rekan perempuan mendekat menanyakan administrasi tanda terima, Ghufran selalu menjawab seperlunya dengan tatapan mata tertuju lurus pada berkas atau tertunduk sopan ke meja. Nada bicaranya selalu tenang, terukur, dan memberi jarak yang amat nyata dari keakraban sembarangan.

Bagi Ghufran, menundukkan pandangan—ghadhul bashar—bukanlah ekspresi kebencian, melainkan rem batin yang paling murni. Ia tahu betul dari pengalaman pahit orang tuanya bahwa panah asmara terlarang bermula dari sepasang mata yang saling menatap tanpa kendali rasa malu.

"Fran, kamu ini kalau diperhatikan mirip manusia abad pertengahan yang nyasar ke kantor modern," celetuk Ardi, staf penggalangan dana di seberangnya sambil melempar bolpoin ke atas map. "Tadi Maya tanya soal laporan donasi beras, mukamu tegang sekali macam sedang disidang skripsi. Padahal Maya cuma mau ngobrol ramah. Senyum sedikitlah! Maya itu relawan idola kampus, banyak pemuda yang mengantre minta nomor kontaknya."

Ghufran menuntaskan tanda tangan verifikasi sebelum menatap Ardi dengan tenang. "Laporannya harus selesai sebelum pukul dua siang, Di. Kalau aku banyak berbasa-basi, pencairan beasiswa anak yatim di pelosok desa akan tertunda satu hari. Dan keluarga mereka amat menunggunya besok pagi."

Lihat selengkapnya