DI ANTARA GEMERISIK ADAB
حُسْنُ الخُلُقِ
Tema: Pertemuan Pertama, Keindahan Akhlak, dan Menundukkan Pandangan
-----------------------------------
Sinopsis Alur Kejadian:
Di sebuah proyek bantuan kemanusiaan pedalaman, Ghufran Al-Ghifari bertugas mendistribusikan logistik. Di sana, ia pertama kali bersinggungan dengan Afra Nailah, sukarelawan medis muda. Ghufran tertegun bukan semata oleh paras Afra, melainkan oleh kelembutan tutur katanya kepada anak-anak yatim, ketenangan saat mengatasi kepanikan pasien, dan caranyanya menundukkan pandangan ketika berinteraksi dengan rekan kerja pria.
-----------------------------------
BAGIAN I: Hujan yang Mengikis Bukit dan Deru Truk Tua
Kabut Sikunir, Bau Tanah Basah, dan Punggung Logistik
---o0o---
Kabut tebal menuruni punggung Bukit Sikunir laksana kafan raksasa yang dibentangkan perlahan di atas rimba basah. Di bawahnya, jalan tanah liat selebar tiga meter telah menjelma bubur merah pekat, menjebak roda-roda truk pengangkut logistik dalam erangan mesin yang nyaris putus asa. Gerimis belum juga reda sejak fajar menyingsing; tetes demi tetesnya yang dingin menusuk hingga ke balik rompi parasut hitam yang dikenakan Ghufran.
Pemuda itu menyeka peluh bercampur cipratan lumpur di pelipisnya dengan ujung lengan jaket. Sepasang sepatu bot karetnya telah tenggelam separuh betis ke dalam kubangan liat yang lengket. Sejak longsor menerjang tiga dukuh di lembah terpencil ini dua hari lalu, jalur darat terputus total. Ghufran, sebagai koordinator regu logistik dari Yayasan Tangan Peduli, memikul amanah yang tak ringan: memastikan dua ton beras, puluhan selimut tebal, air mineral kemasan, dan tiga peti kayu berisi pasokan medis darurat sampai ke balai desa yang kini beralih fungsi menjadi posko pengungsian utama.
"Tahan tambangnya, Mas Ghufran! As roda kiri amblas lagi!" teriak Salim, pemuda desa berwajah tirus yang sejak subuh mendampingi kemudi truk diesel tua itu.
Ghufran mengangguk tegas tanpa banyak bicara. Otot-otot lengannya mengeras saat ia menyentak tali karmantel pengikat muatan, menahan peti-peti obat agar tidak tergelincir ke tebing jurang yang menganga lima langkah di sisi kanan mereka. Dadanya bergemuruh oleh kelelahan yang menumpuk. Sudah hampir tiga puluh jam ia tidak memejamkan mata secara utuh, hanya bersandar sejenak di bangku reot posko antara satu jadwal distribusi ke jadwal berikutnya.
Namun, di balik napasnya yang memburu dan keletihan tulang punggungnya, ada seberkas doa yang tak pernah putus berputar di bilik hatinya: *Lillāhi Ta'ālā*. Ia selalu mengulang kalimat itu laksana mantera penjaga jiwa. Dalam setiap butir beras yang dipanggulnya, dalam setiap tetes keringat yang jatuh ke lumpur, ia bersumpah menjaga niatnya agar tidak dicemari oleh kebanggaan semu atau pujian manusia. Medan bencana bukanlah panggung pertunjukan; ia adalah mihrab pengorbanan yang sunyi.
Ketika ban truk akhirnya berhasil mendaki gundukan kerikil terakhir menuju pelataran balai desa, napas Ghufran terembus panjang, menciptakan kepulan uap putih di udara pegunungan yang membekukan. Dari kejauhan, tenda-tenda darurat berwarna oranye dan biru terpal tampak berdiri tak beraturan di antara pepohonan pinus. Suara tangis anak-anak kecil, rintihan orang tua yang terluka, dan derap langkah kaki para sukarelawan berpadu dalam dengung kecemasan yang pekat. Di sanalah tugas kemanusiaan yang sebenarnya baru saja dimulai.
-------------------------------------
BAGIAN II: Tenda Biru dan Aroma Minyak Kayu Putih
Sosok Bersahaja di Balik Tabir Kepanikan Medis
---o0o---
Aroma minyak kayu putih, antiseptik klorheksidin, dan uap tanah lembap menyengat hidung seketika Ghufran menyingkap tirai terpal pintu masuk tenda medis utama. Di dalam ruangan berlantai terpal plastik itu, kesibukan berlangsung dalam tempo yang mencekam. Deretan velbed lipat dipenuhi warga korban reruntuhan dinding rumah; beberapa di antaranya merintih menahan perih patah tulang tertutup, sementara yang lain terbaring lemah dengan perban melingkari dahi.
Ghufran meletakkan dus pertama berisi cairan ringer laktat ke atas meja penerimaan logistik medis. Saat hendak memutar tumit untuk mengambil muatan berikutnya, sudut pandangnya terhenti oleh pemandangan di sudut bilik perawatan anak. Di sana, di atas tikar pandan yang lusuh, seorang dokter muda duduk bersimpuh di hadapan seorang bocah laki-laki berusia sekitar enam tahun.
Bocah itu, Arka, kehilangan kedua orang tuanya yang tersapu material tebing kemarin sore. Anak itu meringkuk ketakutan, menjerit histeris setiap kali jarum spuit atau kasa pembersih mendekat ke arah luka sobek di lutut kanannya. Dua perawat pria tampak kewalahan menahan gerak kakinya yang menendang-nendang liar.
Namun sukarelawan medis wanita itu mengangkat tangan kirinya perlahan, memberi isyarat lembut kepada dua rekannya untuk mundur setindak. Ia mengenakan jilbab abu-abu tua berbahan katun tebal yang terulur rapi menutupi dada, dipadu dengan rompi relawan medis berlogo bulan sabit merah di punggungnya. Tidak ada bedak atau riasan yang melekat di wajahnya yang sedikit pucat karena lelah, tetapi ada semacam cahaya kejernihan yang membuat siapa pun enggan menatapnya dengan tatapan lancang.
"Arka sayang... dengar detak jantung burung di balik jaket Kakak?" bisik wanita itu. Suaranya tidak keras, tetapi begitu hening dan jernih, bagai gemercik air mata air di celah batu cadas.
Wanita itu melepas stetoskop dari telinganya, lalu dengan kesabaran seorang ibu yang tak terbatas, ia menempelkan *earpiece* alat itu ke telinga mungil Arka. Bagian diafragma logam yang dingin ia hangatkan terlebih dahulu dengan telapak tangannya sendiri yang masih bersarung tangan lateks, sebelum ditempelkan ke dadanya sendiri di atas kain rompi yang tebal.
"*Dug... dug... dug...* seperti langkah rusa yang sedang melompati dahan kering, bukan?" sambungnya seraya tersenyum teduh. Sepasang matanya berbinar teduh, memancarkan rasa aman yang seketika menyusup ke sukma bocah malang itu.
Arka terdiam. Tangisnya yang meraung-raung menyusut menjadi isakan lirih. Ketika wanita itu mengusap puncak kepala sang anak dengan tangan kanannya seraya melafalkan bait doa kesembuhan dalam gumaman yang lirih, luka di lutut Arka dibersihkan dan dijahit oleh perawat pembantu tanpa ada perlawanan lagi. Dari jarak lima langkah, Ghufran berdiri mematung. Dadanya berdesir ganjil menyaksikan pemandangan itu; bukan pesona fisik yang mengguncangnya, melainkan ketulusan yang memancar tanpa setitik pun rekayasa.
-------------------------------------
BAGIAN III: Mata yang Menatap Bumi, Batin yang Tersengat