Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

MENUNDUKAN PANDANGAN

MENUNDUKAN PANDANGAN, MENYALAKAN DO'A

غَضُّ البَصَرِ

Tema Utama: Perjuangan Menjaga Iffah dan Gejolak Rasa

-------------------------------------

Sinopsis Alur Kejadian:

Sekembalinya dari pedalaman, bayangan kesalehan Afra Nailah tidak kunjung hilang dari benak Ghufran Al-Ghifari. Di sisi lain, Afra pun diam-diam merasakan kesan mendalam akan kegigihan dan kesantunan Ghufran. Namun alih-alih saling bertukar pesan pribadi atau stalking media sosial, keduanya memilih menempuh jalan yang sunyi: membatasi percakapan sebatas urusan formal, menundukkan pandangan saat berpapasan, dan memindahkan rasa kagum itu ke dalam sujud panjang.

-------------------------------------


--- Bagian 01: Debu Pedalaman yang Mengendap di Sudut Kota ---

Bayangan Kesalehan yang Tak Kunjung Pudar

---o0o---

Gemuruh mesin pesawat baling-baling yang membawa tim relawan kemanusiaan mendarat di bandara kota asal tiga hari silam rupanya belum benar-benar mengembalikan ketenteraman batin Ghufran AlGhifari. Di sekelilingnya, hiruk-pikuk metropolitan telah kembali menuntut ritme: deru knalpot di jalan layang, lampu-lampu reklame neon yang berkedip tanpa henti, serta kepulan asap kopi di kedai-kedai sempit. Namun, seluruh ingatan pemuda berkulit sawo matang itu seolah tertinggal ribuan mil di belakang—terpasak kuat di sebuah lembah berbatu di Dusun Liang Bangke, pelosok Manggarai Timur, tempat ia dan rekan-rekan Yayasan Bina Umat baru saja menuntaskan program darurat bencana longsor dan sanitasi air bersih.

Lebih dari sekadar bentang alam pedalaman yang keras, ada satu kenangan yang kian hari kian benderang di ruang kepalanya: sesosok gadis bergamis sederhana dengan jilbab kelabu tua yang tepiannya sempat terpercik lumpur merah. Afra Nabila. Gadis itu bukan tipe perempuan yang banyak bertutur kata demi merebut perhatian forum. Tetapi di tenda darurat berlantai terpal kala malam-malam berangin menusuk tulang, Ghufran menyaksikan sendiri bagaimana ketulusan bekerja tanpa suara.

Ghufran masih mengingat dengan teramat jernih bagaimana jari-jemari Afra yang lentik namun cekatan membalut luka bernanah seorang bocah yatim piatu bernama Anton. Anak itu meronta karena perihnya antiseptik, namun Afra tidak surut barang seinci pun. Dengan suara pelan yang bergetar penuh kasih, Afra melantunkan shalawat lembut dan menyeka peluh di kening si anak dengan ujung kerudungnya sendiri. Tidak ada keluh kesah yang meluncur dari bibir perempuan itu, meski selama dua pekan mereka harus tidur beralaskan matras tipis dan bersantap hanya dengan nasi bungkus berlauk ikan asin serta sambal tomat rebus.

Kala itu, dari balik bayang-bayang tiang bambu posko, Ghufran sempat terpaku beberapa jenak. Ada sebuah getar asing yang menyusup ke sela-sela rusuknya—bukan semata ketertarikan fisik yang biasa menjerat pandangan anak muda, melainkan sebuah penghormatan tak terucap pada keteduhan iman. Afra memiliki pancaran kesalehan yang murni, tipe perempuan yang membuat siapa pun yang memandangnya merasa kerdil dalam amal dan malu pada kelalaian diri sendiri.

Namun kini, setelah mereka berjarak dan kembali ke rutinitas harian masing-masing, getar kagum itu bermetamorfosis menjadi beban batin yang mencemaskan. Setiap kali Ghufran duduk di meja kerjanya menghadap tumpukan laporan logistik, wajah bersahaja Afra saat mengajar anak-anak mengeja huruf hijaiyah di bawah remang pelita minyak kelapa mendadak melintas. Bayangan itu datang tanpa diundang, mengetuk pintu hatinya yang selama ini ia kunci rapat dengan disiplin tarbiyah.

'Astagfirullahal 'adzim,' bisik Ghufran seraya mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. Napasnya terhela berat ke udara malam yang pengap. Ia tahu betul batasan antara fitrah yang suci dan pintu masuk jebakan bisikan syaithan. Ketertarikan kepada wanita salehah adalah perkara manusiawi, namun membiarkan angan-angan berlayar tanpa kemudi di luar ikatan yang halal adalah awal dari keroposnya keikhlasan seorang pejuang dakwah.

-------------------------------------


--- Bagian 02: Meja Arsip, Langkah di Lorong Yayasan, dan Ghaddul Bashar ---

Ketika Tatapan Bertemu Lantai dan Salam Menjadi Batas

---o0o---

Pagi itu, kantor pusat Yayasan Bina Umat di bilangan jalan rindang pinggiran kota dipenuhi kesibukan laporan pertanggungjawaban. Berkas-berkas bertumpuk, nota pembelanjaan obat-obatan perlu diverifikasi, dan kuitansi sewa perahu motor dari kepulauan harus segera dirapikan sebelum audit bulanan dilakukan oleh dewan pembina yayasan.

Afra Nabila duduk tenang di balik meja kayu panjang di ruang arsip. Kacamata berbingkai tipis bertengger di pangkal hidungnya, sementara jemarinya menari di atas tuts papan ketik laptop. Kerudung dusty rose yang ia kenakan menjuntai rapi menutupi dada. Dari luar, ia tampak begitu fokus dan tak terganggu oleh desau pendingin ruangan maupun gemeretak mesin pencetak dokumen di sudut ruang. Namun, hanya lubuk hatinya yang paling rahasia yang mengerti betapa dadanya berdesir tatkala telinganya menangkap derap langkah kokoh yang sangat ia kenali melintasi lorong luar.

Itu langkah Ghufran. Selama dua pekan di rimba pedalaman, Afra tak dapat menampik bahwa ia mengamati bagaimana pemuda itu bersikap. Ghufran adalah lelaki yang memikul dua karung beras seberat seratus kilogram di pundaknya menembus bukit berlumpur ketika truk pembawa logistik mogok terperosok kubangan. Pemuda itu tidak pernah meminta difoto untuk kebutuhan media sosial yayasan; ia justru selalu menepi saat kamera hendak mengabadikan keringatnya. Yang lebih menyentuh batin Afra adalah adab bicaranya: Ghufran selalu menundukkan pandangan setiap kali menyampaikan instruksi kepada para relawati muslimah, bicaranya lugas, sopan, dan tidak pernah sedikit pun menyelipkan gurauan menjurus.

Kini, kenop pintu ruang arsip berputar pelan. Pintu terbuka, dan aroma sabun mandi herbal serta aroma tanah basah khas hujan pagi terbawa masuk bersama sosok Ghufran yang membawa setumpuk map merah tebal di tangannya.

'Assalamu'alaikum warahmatullah, Ukhti Afra,' ucap Ghufran dengan nada datar, rendah, dan terkontrol. Pandangan matanya lurus terarah pada sudut karpet abu-abu sekitar dua meter di depan ujung sepatunya, sama sekali tidak mendongak ke arah wajah lawan bicaranya.

Mendengar salam itu, debar jantung Afra berdegup lebih kencang seolah hendak meloloskan diri dari tulang iga. Namun dengan segera ia menarik napas teratur, menepis desiran rasa itu ke tepi kesadaran. Ia memperbaiki letak kacamatanya dan membalas tanpa mengangkat kepala dari layar komputer jinjingnya.

'Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, Akhi Ghufran. Silakan diletakkan di meja verifikasi sebelah kiri. Itu berkas logistik obat-obatan tahap dua dari Flores kemarin, kan?'

'Na'am, benar. Semua kuitansi bahan bakar genset dan sewa genset puskesmas pembantu sudah saya bubuhkan paraf di lembar lampiran. Tinggal tanda tangan persetujuan bendahara,' jawab Ghufran singkat. Suaranya terdengar begitu formal, seolah-olah mereka adalah dua orang asing yang baru pertama kali berurusan di sebuah kantor perbankan.

Tidak ada basa-basi. Tidak ada pertanyaan tentang bagaimana kondisi kesehatan masing-masing setelah menempuh perjalanan darat yang melelahkan. Tidak ada pancingan percakapan tentang kabar Anton atau suasana desa yang mereka rindukan. Hanya jeda sunyi selama tiga detik ketika Ghufran meletakkan map dengan sangat hati-hati agar tidak bersenggolan dengan cangkir teh hangat Afra.

'Jazakillahu khairan, berkasnya saya titipkan. Saya permisi kembali ke ruang depan,' kata Ghufran seraya melangkah mundur setengah depa sebelum berbalik.

'Wa jazakallahu khairan katsira,' sahut Afra lirih. Begitu pintu kayu itu tertutup kembali, Afra menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menghembuskan napas panjang. Jemarinya yang memegang tetikus terasa sedikit dingin. Ada kelegaan luar biasa karena mereka berhasil melewati pertemuan itu dengan adab yang terjaga, namun ada pula ruang hampa di relung hatinya yang menuntut kejujuran: bahwa menundukkan pandangan di hadapan orang yang dikagumi adalah sebuah jihad yang menguras tenaga batin.

-------------------------------------

Lihat selengkapnya