BAB 4: RAHASIA DI SUJUD SEPERTIGA MALAM
صَلَاةُ الاسْتِخَارَةِ
Tema: Istikharah Sunyi dan Menguji Ketulusan Niat
-------------------------------------
Sinopsis:
Bulan-bulan berlalu. Perasaan itu bukannya layu, melainkan kian mengakar dalam ketenangan. Ghufran mulai menyadari bahwa ia tidak bisa terus membiarkan perasaannya menggantung dalam angan-angan semata. Ia menjalankan shalat Istikharah selama empat puluh malam berturut-turut, menimbang kemampuannya secara lahir dan batin, serta meminta restu sang ibu yang mengetahui perubahan kedewasaan putranya.
-------------------------------------
--- Bagian I: Kabut Dini Hari dan Roda Berkarat ---
Bulan-bulan yang Membatu dan Getir di Ujung Angan
---o0o---
Kabut kelabu belum sepenuhnya terangkat dari permukaan jalan berbatu ketika deru knalpot motor bebek tua milik Ghufran membelah kesunyian pinggiran kota. Di boncengan belakangnya terikat dua keranjang rotan yang sarat oleh tumpukan kardus cokelat berperekat tebal. Dari sela-sela anyaman yang mulai merenggang, tercium aroma khas yang amat ia hafal: paduan lem kertas baru, tinta cetak pekat, dan bau apek dari sejumlah kitab terbitan lama yang baru saja ia tebus dari pasar loak Palasari. Bagi orang lain, tumpukan itu sekadar beban berdebu yang memberatkan laju roda motor tahun sembilan puluhan tersebut. Namun bagi Ghufran, setiap jilid buku di dalam keranjang itu adalah denyut nadi hidupnya—sebuah ikhtiar kecil bernama Pustaka Kembara, usaha rintisan kurir literasi dan penyedia buku pesanan yang ia bangun dengan peluh serta tabungan recehan.
Pagi itu udara menggigit hingga ke sumsum tulang. Sarung tangan rajut hitam yang ujung telunjuknya telah berlubang tak kuasa menahan terpaan angin lembap sisa hujan semalam. Ghufran memperlambat lajunya saat melewati tikungan dekat deretan pohon trembesi yang menjulang muram di tepi kampung. Di sanalah, setiap kali pandangannya membentur bayang-bayang pepohonan basah, ingatan itu kembali hadir tanpa permisi. Bayangan seraut wajah berkerudung cokelat tembikar dengan pandangan yang selalu terjaga ke bawah: sosok Afra binti Ustadz Salman.
Sudah hampir enam bulan berlalu sejak pertemuan singkat namun berbekas di serambi perpustakaan madrasah aliyah tempat ia mengantarkan paket pesanan ensiklopedia islam dan kitab balaghah. Kala itu, Afra hanya mengucap terima kasih dengan nada begitu tenang, seraya memeriksa lembar tanda terima dengan jemari teratur penuh adab. Di sudut nota yang dikembalikannya, terselip sepotong kertas pembatas buku bertuliskan nasihat tentang kesabaran penuntut ilmu. Tidak ada percakapan berlebih di antara mereka. Tidak ada tatapan yang melampaui batas kepatutan syariat. Namun getaran yang tertinggal di dada Ghufran bagai gema lonceng perunggu di ruang hampa; ia tak kunjung reda, bahkan setelah ribuan kilometer aspal jalanan ia tempuh bersama derit rantai motor tuanya.
Awalnya, Ghufran mengira rasa kagum itu hanyalah percikan sesaat yang akan menguap seiring padatnya kesibukan harian. Ia berusaha menenggelamkan diri dalam tumpukan resi pengiriman, menyortir buku pesanan santri pelosok, mengencangkan rantai motornya yang kerap aus, serta menghitung laba recehan yang sering kali hanya cukup untuk membeli bensin eceran dan setengah kilogram beras. Akan tetapi, waktu membuktikan kebalikannya. Perasaan itu bukannya layu tertelan terik mentari, melainkan kian mengakar dalam ketenangan batin yang hening. Rasa itu bermutasi menjadi kegelisahan suci yang menuntut pertanggungjawaban nurani. Ghufran mulai menyadari bahwa ia tidak bisa terus membiarkan perasaannya menggantung dalam angan-angan semata tanpa kejelasan niat dan langkah nyata. Menyimpan nama seorang wanita shalihah dalam lamunan panjang tanpa keberanian menempuh jalan yang halal adalah sebentuk kezaliman terhadap hati sendiri dan ketidaksopanan di hadapan Sang Pemilik Takdir.
-------------------------------------
--- Bagian II: Riyadhoh Empat Puluh Malam Sunyi ---
Menanggalkan Ego di Atas Sajadah Lusuh
---o0o--
Malam itu adalah malam ketiga puluh sembilan dari riyadhoh sunyi yang ia jalankan. Suasana kampung telah lelap dalam dekapan malam yang pekat ketika jarum jam dinding di ruang tengah menunjukkan angka dua lebih lima belas menit. Udara malam merayap masuk melalui celah dinding papan separuh semen yang belum sempat diplester halus. Hanya suara jangkrik di sela rumpun lengkuas samping sumur tua dan derak dahan pohon mangga tertiup angin barat yang mengisi pendengaran.
Ghufran bangkit dari dipan tipisnya tanpa suara. Ia melangkah sangat berhati-hati menuju kamar mandi belakang agar derit lantai papan tidak membangunkan ibunya, yang kamar tidurnya hanya dibatasi tirai kain kusam dan sekat tripleks tipis. Air sumur timba seng yang ia tuang ke gayung terasa sedingin es saat membasuh muka, kedua tangan, hingga mata kakinya. Dingin itu sengaja ia biarkan meresap, membakar tuntas sisa-sisa kantuk yang menggelayut di kelopak matanya.
Di sudut kamarnya yang sempit dan beraroma kertas tua, beralaskan sajadah tenun hijau bermotif kubah yang tepian benangnya sudah banyak terurai—sajadah peninggalan almarhum ayahnya yang wafat lima tahun silam—Ghufran berdiri tegak menghadap kiblat. Tidak ada penerangan selain lampu minyak tanah kecil di atas rak buku dan remang cahaya jalan yang menerobos lubang ventilasi kayu.
Ia mengangkat kedua belah tangannya. Takbiratul ihram meluncur lirih dari bibirnya yang kering. Sejak empat puluh malam yang lalu, Ghufran mendisiplinkan jiwanya untuk menunaikan shalat Istikharah di penghujung malam, tepat di waktu mustajab ketika para penghuni bumi terlelap dan pintu langit terbuka bagi doa hamba yang berserah. Ia tidak datang membawa proposal asmara yang mendikte takdir. Ia memegang teguh petuah kiai sepuhnya dahulu di pesantren: 'Hakikat istikharah bukanlah memohon mimpi ajaib, bukan pula menuntut Tuhan membenarkan nafsumu dengan pertanda di langit. Hakikat istikharah adalah mengosongkan bejana hatimu dari segala kecenderungan ego, lalu memasrahkan pilihan kepada ilmu-Nya yang Maha Sempurna.'
Setiap kali mengangkat kedua tangannya melafalkan doa istikharah yang agung, dada Ghufran bergetar hebat. Kalimat-kalimat warisan kenabian itu mengikis kerak-kerak ambisi di dadanya: 'Allahumma inni astakhiruka bi'ilmika wa astaqdiruka biqudratika... Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu... Jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini—keinginan meminang Afra—baik bagiku, bagi agamaku, kehidupanku di dunia, serta kesudahan urusanku di akhirat, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah jalannya bagiku, lalu berkahilah aku di dalamnya. Namun jika Engkau mengetahui perkara ini buruk bagiku, bagi agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka palingkanlah ia dariku, palingkanlah hatiku darinya, lalu takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun ia berada, kemudian jadikanlah hatiku ridha menerimanya...'