Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

TAK HARUS MEMAKSA

CINTA YANG TAK HARUS MEMAKSA

رِضَا الرَّحْمَنِ

Tema: Filosofi Mencintai karena Allah dan Melepaskan Obsesi

--------------------------------------

Sinopsis Alur Kejadian:

Sebelum melangkahkan kaki ke rumah Afra Nailah, Ghufran Al-Ghifari merumuskan filosofi cintanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri: jika lamaran ini diterima, itu adalah amanah berat dari langit; jika ditolak, itu bukan kehinaan, melainkan cara Allah melindungi keduanya. Ia belajar bahwa mencintai Afra berarti menempatkan keselamatan agama dan kebahagiaan Afra di atas nafsu memilikinya.

--------------------------------------


--- Babak 01 : Gemersik Angin di Beranda Mushala ---

Antara Hasrat, Detak Kegelisahan, dan Batas-Batas Kesucian

---o0o---

  Malam itu, hembusan angin dari arah perbukitan selatan bertiup melintasi celah ventilasi kayu di kamar sewa Ghufran, membawa aroma dedaunan basah dan sisa basuhan gerimis senja. Jarum jam dinding yang tergantung di atas rak buku sederhana berdetak dengan ritme yang teramat lambat, seolah sengaja mengejek debar dadanya yang berkejaran tak menentu. Di sudut ruangan, sebuah koper kecil berbahan kanvas abu-abu telah tergeletak rapi di samping lemari pakaian. Di atas meja belajar kayu jati belanda yang permukaannya dipenuhi serat kasar, selembar kemeja koko putih berserat halus telah tuntas disetrika beberapa jam lalu, terlipat rapi bersama celana kain berpotongan lurus dan sebuah peci hitam beludru yang masih wangi minyak nilam.

  Besok adalah hari penentuan. Hari di mana langkah kakinya tidak lagi sekadar menapaki jalan-jalan berdebu kota kelahirannya, melainkan menyeberang menuju gerbang rumah keluarga Afra Khansa Zahira. Sebuah nama yang selama berbulan-bulan ini menetap di lipatan doa-doa rahasianya, tanpa pernah sekali pun ia biarkan meluncur sembarangan di lidah manusia.

  Ghufran duduk bertumpu lutut di atas tikar pandan, menatap kedua telapak tangannya sendiri yang tampak sedikit bergetar. Dingin hawa malam merayap menembus kaus oblong tipisnya, namun di dalam rongga dadanya, ada bara yang menyala bergantian antara panas dan beku. Sebagai seorang pemuda yang tumbuh dalam naungan disiplin kitab-kitab kuning di pondok pesantren, ia terbiasa membedah definisi cinta dengan kacamata tasawuf. Ia hafal di luar kepala bab-bab tentang mahabbah, rida, dan zuhud. Namun malam ini, teori-teori agung itu seakan runtuh menjadi serpihan debu di hadapan kenyataan telanjang: hatinya tetaplah hati seorang anak manusia yang rapuh.

  Ia takut. Rasa takut itu begitu nyata, menyusup bagai sulur-sulur kabut yang dingin. Ia cemas akan sebuah penolakan. Bagaimanapun juga, Afra adalah permata di lingkungannya—seorang muslimah berwawasan luas, santun, terlahir dari keluarga yang terhormat dan memiliki rekam jejak pengabdian umat yang kokoh. Sementara dirinya? Ghufran memandang pantulan wajahnya di kaca jendela yang gelap. Ia hanyalah seorang perintis usaha literasi kecil, seorang pemuda yang hari-harinya dihabiskan di antara tumpukan kertas dan naskah, yang modal terbesarnya untuk melamar hanyalah sebilah tekad, sedikit tabungan halal, dan keyakinan akan pertolongan langit.

  Namun, di balik ketakutan akan penolakan itu, ada racun yang jauh lebih berbahaya yang sedang mengintai kesucian nuraninya: ilusi kepemilikan. Ghufran menyadari bahwa dalam beberapa pekan terakhir, pikirannya acap kali tergelincir membayangkan Afra seolah-olah sudah menjadi miliknya. Ia kerap mendapati dirinya membayangkan bagaimana senyum wanita itu menyambut kepulangannya, bagaimana suara tilawahnya melantun di ruang tengah rumah masa depan mereka. Setiap kali lamunan itu hadir, hatinya terasa hangat, namun sedetik kemudian ia selalu tersentak oleh rasa bersalah yang menusuk. Bukankah Afra belum menjadi siapa-siapanya? Mengapa rasa ingin memiliki ini begitu arogan menancapkan kukunya di dalam hati yang seharusnya hanya berserah pada takdir?

  "Ya Muqallibal qulub..." bisik Ghufran dengan suara parau yang tercekat di kerongkongan. Ia meraba dadanya sendiri, merasakan degup yang tak juga mereda. Ia ingat betul petuah gurunya di pesantren dahulu: kecelakaan terbesar seorang salik bukanlah saat ia tidak mendapatkan apa yang dicintainya, melainkan saat ia menjadikan apa yang dicintainya itu sebagai tandingan bagi cintanya kepada Allah. Cinta sebelum ijab kabul adalah ladang ranjau yang paling licin. Satu langkah keliru yang dibumbui oleh ego dan angan-angan kosong, maka seseorang bisa terjerembap menyembah keinginannya sendiri di atas altar syariat.

  Ghufran bangkit, melangkah perlahan ke arah jendela. Dari lantai dua rumah sewanya, ia bisa melihat kubah mushala kampung yang bermandikan cahaya temaram lampu jalan. Suara dedaunan mangga yang saling bergesekan diterpa angin malam terdengar seperti tasbih alam semesta yang tak berkesudahan. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan angin dingin menampar dahinya yang berpeluh dingin. Ia harus menata ulang seluruh isi kepalanya malam ini. Tidak boleh ada satu jengkal pun ambisi gelap yang ikut menumpang di dalam langkah kakinya besok pagi. Sebelum ia mengetuk pintu pagar rumah Afra, ia harus terlebih dahulu memastikan bahwa pintu hatinya telah sepenuhnya diketuk oleh kesadaran tauhid.

--------------------------------------


--- Babak 02 : Secangkir Kopi Dingin dan Logika Ziyad ---

Ujian Muru'ah: Benturan Antara Cara Instan dan Kehormatan Syariat

---o0o---

  Ketukan di pintu kamar yang berderit memecah kesunyian malam. Tanpa menunggu dipersilakan, pintu terbuka separuh dan menampakkan sesosok tubuh kurus tinggi dengan jaket bomber hitam dan senyum khas yang santai. Ziyad, karibnya sejak masa kuliah di Yogyakarta, melangkah masuk sambil menenteng dua gelas kertas kopi panas yang aromanya langsung mengalahkan bau kayu lapuk kamar tersebut.

  "Kutebak kau belum tidur, Akhi," ujar Ziyad sembari menaruh satu gelas kopi di atas meja dan langsung menghempaskan tubuhnya ke karpet busa tipis di lantai. Matanya langsung tertuju pada kemeja koko putih yang tergantung rapi. "Masya Allah... kemeja pengantin sudah siap digantung. Tapi kenapa wajahmu tampak seperti prajurit yang besok subuh harus maju ke garis depan Perang Yarmuk? Pucat sekali, Ran."

  Ghufran menarik napas panjang, tersenyum tipis sembari menarik kursi belajar dan duduk menghadap sahabatnya itu. "Ini memang medan pertempuran, Yad. Bukan melawan musuh di luar, tapi melawan setan dan isi kepalaku sendiri."

  Ziyad menyeruput kopinya, lalu tertawa kecil seraya menggelengkan kepala. "Kau ini selalu saja terlalu filosofis. Menikah itu ibadah, sunnah, perkara manusiawi yang lumrah dijalani miliaran manusia sejak zaman Nabi Adam. Yang kau butuhkan besok itu cuma dua hal: senyum percaya diri dan lidah yang tidak kelu saat berbicara di depan ayahnya Afra. Kenapa harus kau buat serumit tesis filsafat Islam abad pertengahan?"

  "Karena ini bukan sekadar urusan lidah, Ziyad. Ini urusan pertanggungjawaban jiwa. Aku datang untuk meminta anak perempuan seseorang yang telah dirawatnya dengan darah dan doa selama lebih dari dua dekade. Aku datang bukan untuk membeli barang, melainkan mengajukan diri memikul separuh amanah keimanannya."

  Ziyad terdiam sejenak, mengamati ekspresi wajah Ghufran yang teramat serius. Raut santai di wajah Ziyad perlahan memudar, digantikan oleh kernyitan dahi yang menandakan rasa penasaran sekaligus ketidaksepahaman. Ziyad merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel pintar dengan layar yang menyala terang.

  "Begini, Ran," Ziyad memajukan posisi duduknya, suaranya kini merendah, bernada akrab dan penuh kalkulasi taktis. "Aku ini sahabatmu sejak kita makan mie instan sebungkus berdua waktu kiriman uang bulanan terlambat. Aku ingin kau berhasil besok. Tapi menurutku, caramu ini terlalu spekulatif. Terlalu kuno dan berisiko tinggi."

  "Maksudmu?" dahi Ghufran bertaut.

  "Kau belum pernah sekali pun bicara empat mata secara langsung dengan Afra di luar forum pengajian atau rapat kepanitiaan literasi. Kau tidak pernah bertukar pesan pribadi dengannya. Kau hanya mengamati adabnya dari kejauhan, menanyakan rekam jejaknya lewat gurumu dan keluarga ustadz pembimbingnya, lalu besok kau langsung datang bersama pamanmu melamar ke ayahnya? Ran, ini tahun dua ribu dua puluhan! Dunia sudah berubah."

  Ziyad mengetuk-ngetuk layar ponselnya, lalu mengarahkannya ke arah Ghufran. Di layar tersebut terpampang profil media sosial Afra—sebuah akun sederhana dengan foto profil siluet pemandangan dan unggahan kutipan-kutipan mutiara hikmah. "Lihat ini. Dia aktif di Instagram. Kenapa kau tidak kirim pesan singkat dulu malam ini? Sekadar 'warming up', Ran. Kau bisa menyapa dia, memuji tulisannya, lalu bilang secara halus: 'Afra, besok pagi insya Allah aku dan keluargaku akan berkunjung ke rumahmu untuk bersilaturahmi dengan ayahmu. Semoga kamu berkenan'. Dengan begitu, dia punya waktu untuk bersiap secara mental! Kau bisa membaca responnya dari caramu membalas pesan. Kalau dia ramah, kau bisa masuk dengan percaya diri. Kalau dia dingin, kau punya antisipasi. Jangan melompat ke jurang gelap tanpa parasut, kawan!"

  Ruangan mendadak hening. Udara terasa memadat di antara kedua pemuda itu. Ghufran menatap layar ponsel yang menyala di tangan Ziyad, lalu perlahan mengalihkan pandangannya menatap langsung ke manik mata sahabatnya. Sorot mata Ghufran tidak memancarkan amarah, melainkan ketegasan yang dingin dan tak tergoyahkan.

  "Simpan ponselmu, Ziyad," ucap Ghufran pelan, nyaris berbisik namun memiliki bobot seperti palu godam.

Lihat selengkapnya