LANGKAH PERTAMA MENUJU RUMAH KAYU
طَرْقُ البَابِ
Tema: Khitbah Resmi, Keberanian Moral, dan Adab Bertamu
-------------------------------------
Sinopsis Alur Kejadian:
Didampingi pamannya dan Ziyad, Ghufran Al-Ghifari memberanikan diri bertandang ke rumah keluarga besar Afra Nailah di kawasan perumahan asri kota. Kedatangan mereka yang sederhana disambut dengan tatapan menyelidik oleh keluarga Afra. Ayah Afra, Haji Mansyur—seorang pensiunan pejabat terpandang dan tokoh terkemuka—menerima mereka di ruang tamu megah bernuansa jati ukir.
-------------------------------------
--- BAGIAN I: Di Balik Gerbang Besi Bertempa ---
Menembus Kawasan Puri Cendana dan Riak Keraguan di Dalam Dada
---o0o---
Deru mesin sedan tua keluaran sembilan puluhan itu terbatuk pelan sebelum akhirnya melambat di ujung jalan berpaving rapi. Di luar kaca jendela yang diturunkan separuh, deretan pohon palem raja dan cemara perak berbaris anggun, memayungi trotoar bersih kawasan Puri Cendana—sebuah komplek hunian tempat para pembesar kota, saudagar mapan, dan mantan petinggi birokrasi menghabiskan masa purnabakti mereka dalam naungan kemapanan yang tenang.
Ghufran Al-Ghifari duduk di jok belakang, meremas kedua telapak tangannya yang mendadak dingin. Kemeja katun putih gading yang ia kenakan disetrika dengan amat rapi oleh tangannya sendiri subuh tadi. Tak ada label perancang busana terkenal pada kerah bajunya, tak ada jam tangan berlapis emas melingkar di pergelangan tangannya. Yang melekat pada tubuhnya hanyalah kesahajaan seorang pemuda yang hidup dari tetesan keringat halal, wangi minyak kasturi yang dioleskan tipis di pergelangan nadi, serta sebutir keyakinan yang terus bergetar di dalam bilik dadanya.
Di samping kirinya, Paman Salim—saudara tertua mendiang ayahnya yang sengaja datang dari kampung dengan bus malam kemarin—duduk dengan punggung tegak. Pria sepuh itu mengenakan jas hitam berkancing lima yang kainnya mulai tipis di bagian siku, dipadu kain sarung tenun Samarinda dan peci beludru hitam yang warnanya sedikit memudar dimakan usia. Jemari paman yang kurus dan berurat kasar tampak tenang menggeser butir-butir tasbih kayu zaitun.
“Tarik napasmu dalam-dalam, Ghufran,” suara Paman Salim memecah kesunyian kabin mobil, lirih namun sarat muatan ketenangan. “Jangan biarkan matamu tertipu oleh tingginya pagar batu atau lebarnya halaman rumput. Rumah ini dibangun dari semen dan pasir, sama seperti rumah kayumu yang ditegakkan dari batang-batang meranti dan jati tua. Yang membedakan derajat manusia saat memasuki pekarangan orang lain bukanlah isi kantongnya, melainkan niat yang ia bawa di hadapan Allah Ta’ala.”
Ghufran mengangguk pelan, berusaha menelan saliva yang terasa kering di tenggorokan. Dari balik kemudi, Ziyad melirik lewat kaca spion tengah. Sahabat karibnya itu melempar senyum tipis yang sarat dorongan moril.
“Kita sudah sampai di depan nomor dua puluh tujuh, Akhi,” bisik Ziyad seraya menginjak pedal rem perlahan. “Lihat gerbang itu. Masya Allah, tingginya hampir menyentuh dahan pohon mangga di sampingnya.”
Mobil berhenti tepat di hadapan gerbang besi tempa bercat hitam legam dengan aksen tombak keemasan di puncaknya. Dari balik jeruji besi, terlihat sebuah rumah bertingkat dua dengan pilar-pilar kokoh bergaya kolonial modern. Tiga buah mobil keluaran terbaru terparkir rapi di bawah garasi bertiang marmer. Kontras itu menampar batin Ghufran seketika. Bayangan rumah kayu peninggalan orang tuanya di tepi lembah hijau—dengan lantai papan yang kerap berderit ramah dan angin perbukitan yang leluasa menerobos kisi-kisi jendela—melintas bagai kilatan petir.
‘Ya Rabb,’ desah batin Ghufran dalam ketundukan yang paling sunyi, ‘jika langkah ini adalah kebaikan bagi agamaku dan kehormatan seorang hamba, maka kuatkanlah sendi-sendi lututku.’
Kutipan Bagian: "Yang membedakan derajat manusia saat memasuki pekarangan orang lain bukanlah isi kantongnya, melainkan niat yang ia bawa di hadapan Allah Ta’ala."
------------------------------------
--- BAGIAN II: Aroma Cendana dan Dinginnya Marmer ---
Langkah Pertama Memasuki Ruang Tamu Megah Bernuansa Jati Ukir
---o0o---
Seorang penjaga keamanan berseragam safari abu-abu membukakan pintu gerbang kecil setelah Ziyad menyebutkan maksud kedatangan mereka. Bunyi tapak sepatu pantofel kulit Ghufran yang sederhana beradu dengan lantai granit teras depan yang dingin dan mengilat bagai permukaan danau tenang. Setiap langkah terasa menguji ketahanan mental pemuda itu.
Pintu utama berbahan kayu jati utuh setebal telapak tangan terbuka perlahan. Mereka disambut oleh seorang kerabat keluarga Afra, seorang pria paruh baya bernama Fikri yang mengenakan batik sutra lengan panjang. Mata pria itu sekilas menyapu sosok Paman Salim, lalu beralih menatap Ghufran dari ujung peci hingga ujung sepatu. Ada jeda sepersekian detik—sebuah tatapan menyelidik yang menyiratkan keheranan terselubung. Di tangannya, Ghufran membawa sebuah bingkisan sederhana yang dibungkus kain belacu krem bertali rami: setandan pisang raja pilihan, dua botol madu hutan murni hasil panen perbukitan, serta sebuah mushaf tafsir bertinta emas yang dirawatnya bertahun-tahun.
“Silakan masuk, Pak Salim, Mas Ghufran,” ujar Fikri dengan nada suara yang tertata sopan, kendati ada getar keangkuhan aristokratik yang tak sepenuhnya mampu disembunyikan. “Bapak Haji Mansyur dan Ibu Hajjah Maryam sedang bersiap di ruang dalam.”
Langkah kaki mereka membawa mereka masuk ke ruang tamu utama. Ruangan itu begitu luas, berplafon tinggi dengan lampu gantung kristal Bohemian yang membiaskan cahaya temaram keemasan. Dinding ruangan dilapisi panel kayu jati Jepara bermotif sulur daun yang diukir halus tanpa sambungan kasar. Di dinding tengah, terpampang pigura besar berkaligrafi Ayat Kursi berpelat kuningan murni, memancarkan wibawa dan kekayaan yang terpelihara lintas generasi.
Udara di dalam ruangan beraroma dupa cendana berpadu harum kesegaran melati basah. Hawa sejuk dari pendingin ruangan menyapa kulit, namun justru membuat telapak tangan Ghufran kian membeku. Di sudut ruangan, duduk dua orang kerabat wanita keluarga Afra yang sedang menata cangkir-cangkir porselen bertepi sepuhan emas. Bisik-bisik halus sempat tertangkap oleh pendengaran Ghufran yang peka.
“Itu pemuda yang diceritakan Afra tempo hari?” bisik seorang wanita berkerudung organza ungu kepada rekannya. “Kukira putera pejabat rekan dinas ayahnya. Datang hanya bertiga... tanpa iring-iringan keluarga besar dan serahan kotak hantaran perhiasan?”
Kata-kata itu bagai duri halus yang menyusup ke telinga Ghufran. Rasa kerdil dan canggung sempat merayap di dadanya. Apakah ia terlalu lancang? Apakah ia seorang pemimpi yang tidak tahu diri, berani mendatangi istana seorang mantan pejabat tinggi daerah dengan bekal yang begitu bersahaja? Namun sebelum bisikan minder itu sempat berakar dan melumpuhkan tekadnya, jemari Paman Salim menyentuh pergelangan tangannya. Sentuhan itu hangat, mantap, dan penuh tuah doa seorang tetua.
“Duduklah dengan adab, Ghufran. Jangan membungkuk melebihi takaran hormat, dan jangan membusung meniru sifat kesombongan. Kita berada di rumah hamba Allah,” bisik Paman Salim lirih.
Kutipan Bagian: "Jangan membungkuk melebihi takaran hormat, dan jangan membusung meniru sifat kesombongan. Kita berada di rumah hamba Allah."
--------------------------------------
--- BAGIAN III: Wibawa Sang Wali ---
Haji Mansyur Melangkah Masuk dan Mengheningkan Ruangan
---o0o---
Keheningan ruang tamu mendadak semakin pekat ketika bunyi langkah kaki berirama mantap terdengar dari lorong penghubung ruang keluarga. Seketika, Fikri dan kerabat lainnya menghentikan pembicaraan dan berdiri tegak dengan sikap takzim.