Tembok Perbedaan yang Menjulang
جِدَارُ الفُرُوْقَاتِ
Tema: Kesenjangan Sosial Ekonomi dan Kriteria Duniawi
--------------------------------------
SINOPSIS:
Pertemuan berubah menjadi interogasi terselubung. Paman dan tante Afra melontarkan pertanyaan tajam tentang latar belakang pekerjaan Ghufran, rumah tinggal, kendaraan, dan rencana masa depannya. Di balik tirai ruang tengah, Afra mendengarkan dengan hati teriris. Ayah Afra membandingkan Ghufran dengan kerabat pengusaha muda yang telah lama mengantre untuk melamar putrinya.
--------------------------------------
--- Bagian I: Denting Dingin di Ruang Marmer ---
Dua Dunia yang Dipisahkan oleh Kilau Kemewahan & Prasangka
---o0o---
Lantai marmer Carara putih berurat kelabu itu memantulkan pendar dingin dari lampu gantung kristal Bohemia yang menjuntai anggun di langit-langit setinggi empat setengah meter. Di ruangan seluas aula kecil itu, udara beraroma semerbak kayu cendana bercampur minyak wangi oud mahal asal Timur Tengah—sebuah aroma yang bukan sekadar pengharum ruangan, melainkan penegas kasta dan pernyataan tak kasat mata tentang siapa yang berkuasa di dalam dinding-dinding kokoh berplester emas ini. Setiap sudut ruangan dirancang untuk mengintimidasi siapa pun yang datang dengan modal pas-pasan; lukisan kaligrafi khat tsuluts berlapis prada emas murni berbingkai jati ukir, vas keramik dinasti Ming imitasi setinggi pinggang orang dewasa, dan karpet Persia tenunan tangan yang begitu tebal hingga setiap langkah kaki seolah tenggelam dalam kesunyian tanpa jejak.
Ghufran duduk di atas sofa tunggal berlapis beludru hijau zamrud. Posturnya tegak lurus namun luwes dan santun; ia tidak menyandar angkuh ke sandaran kursi yang empuk, tetapi juga tidak menundukkan bahu layaknya seorang pesakitan yang sedang menanti ketukan palu algojo. Di atas kedua lututnya, sebuah tas jinjing kanvas sederhana berwarna cokelat tanah diletakkan dengan sangat hati-hati. Tas itu berisi sebuah proposal jejaring literasi wakaf dan dua jilid kitab terjemahan adab penuntut ilmu yang baru saja selesai dicetak oleh penerbitan independen yang ia kelola.
Kemeja batik tulis katun halus lengan panjang bermotif parang klithik bernuansa cokelat sogan yang ia kenakan tampak bersih dan disetrika rapi tanpa cela kerutan. Meski demikian, bahan katun itu tentu tidak memancarkan kilau sutra Italia seperti kemeja linen berkerah kaku yang dikenakan pria paruh baya di hadapannya. Kesederhanaan Ghufran adalah kesederhanaan yang terjaga; ia datang bukan dengan compang-camping kepura-puraan, melainkan dengan kehormatan seorang pemuda berpendidikan yang menghargai dirinya sendiri dan menghormati tuan rumah yang mengundangnya.
Pria di hadapannya adalah Haji Mansyur. Duduk bersila santai di kursi utama berkepala ukiran singa jati Jepara, wajahnya tenang namun menyimpan aura kepemimpinan yang dingin—aura seorang mantan perantau tangguh yang selama empat dekade telah menundukkan kerasnya rimba bisnis logistik, armada truk antar-pulau, dan kepemilikan puluhan ruko di sentra perdagangan kota. Di samping kirinya, Paman Bahri duduk dengan kedua tangan bersidekap di dada, mengenakan arloji emas Swiss yang sesekali berkilau tertimpa sorot lampu downlight. Sementara di sebelah kanan, Tante Rosma duduk sedikit condong ke depan, matanya tajam menyapu setiap jengkal penampilan Ghufran dari ujung rambut yang tersisir rapi hingga sepatu pantofel kulit lokal yang warnanya mulai memudar di bagian ujung lipatan.
Tatapan Tante Rosma bukanlah tatapan seorang calon bibi yang menyambut tamu keluarga, melainkan tatapan seorang juru taksir pegadaian yang sedang menguji kadar karat sebuah perhiasan titipan. Ia mencari celah, menakar harga pakaian, dan menghitung estimasi tabungan pemuda di depannya hanya dalam tiga kali kedipan mata.
"Minumlah tehnya, Ghufran," suara Haji Mansyur akhirnya memecah keheningan yang sejak lima belas menit lalu menggelayut kaku di antara mereka. Suaranya berat, dalam, dan mengalun datar tanpa riak keramahan yang berarti. Telunjuknya yang mengenakan cincin batu kecubung wulung mengisyaratkan cangkir porselen putih bertulang emas halus di atas meja marmer bundar. "Teh melati ini dipetik khusus dari pucuk perkebunan dataran tinggi Jawa Barat, kiriman langsung dari relasi bisnis ekspor saya. Jarang beredar di pasar bebas. Rasanya sepat lembut, khas teh kelas satu."
"Terima kasih banyak, Om Mansyur. Jazakallahu khairan," jawab Ghufran lembut. Suaranya jernih, bergema dengan kesantunan yang lahir dari ketenangan hati yang terlatih berzikir. Ia sedikit mencondongkan badan, mengangkat cangkir porselen itu dengan dua tangan yang kokoh, menyesap cairan hangat beraroma harum itu dengan penuh adab, lalu meletakkannya kembali perlahan tanpa menimbulkan denting sedikit pun pada lepek porselennya.
Namun ketenangan Ghufran tampaknya tidak meredakan ketegangan yang sengaja dipelihara di ruangan itu. Sejak ia melangkahkan kaki melewati pintu gerbang besi tempa bermotif sulur daun yang menjulang tiga meter di depan jalan protokol perumahan elite ini, udara sudah dipenuhi dengan penghakiman diam. Sepeda motor bebek Supra tua buatan Jepang tahun 2008 miliknya tadi terparkir canggung di samping deretan mobil sedan Eropa, Alphard hitam berplat nomor pilihan, dan dua SUV bongsor yang berjejer mengilap di terowongan garasi berpilar marmer kembar. Kontras itu terlalu mencolok untuk diabaikan, dan di rumah ini, kontras semacam itu dianggap sebagai sebuah anomali yang mengganggu pemandangan.
--------------------------------------
--- Bagian II: Di Balik Tirai Bordir Sutra ---
Pergulatan Batin Afra Mendengar Timbangan Duniawi
---o0o---
Hanya berjarak lima langkah dari ruang tamu megah itu, di balik sekat ukiran kayu tembus pandang yang ditutupi tirai bordir sutra krem tebal, Afra Khairunnisa berdiri mematung. Telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin meremas ujung khimar panjang berwarna abu-abu lavender yang membalut tubuhnya. Kain sutra itu tergenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Detak jantungnya berdegup kencang di rongga dada, bertalu-talu seperti derap langkah kuda yang dipacu kencang di tepi jurang curam.
Sebagai seorang perempuan yang baru saja menyelesaikan masa ko-asisten dan resmi mengucap sumpah dokter umum dua bulan lalu, Afra terbiasa menghadapi situasi kritis di ruang gawat darurat. Ia pernah menatap langsung mata pasien yang sekarat di bawah lampu operasi, pernah menjahit luka robek yang mengucurkan darah segar dengan tangan stabil tanpa gemetar, dan terbiasa mengambil keputusan klinis cepat di bawah tekanan waktu yang mencekik. Namun malam ini, di rumah megah tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dan dimanjakan dengan segala fasilitas nomor satu, ketegangan yang mencekam jiwanya berkali-kali lipat lebih menyiksa daripada malam-malam jaga terberat di bangsal rumah sakit daerah.
Afra bergulat batin melihat ayahnya. Selama dua puluh lima tahun hidupnya, ia memandang Haji Mansyur sebagai figur panutan yang kokoh: seorang ayah yang taat beribadah, muazin kehormatan di masjid agung komplek, donatur utama pembangunan madrasah tahfiz, dan pria yang di setiap tausiyah keluarga selalu menekankan bahwa hakikat kemuliaan anak cucu Adam terletak pada ketakwaan dan amal saleh. Namun kini, ketika seorang pemuda shalih datang mengetuk pintu untuk menggenapkan separuh agama melalui jalan syar'i yang suci dan bermartabat, sang ayah mendadak bertransformasi menjadi seorang juru lelang yang dingin dan penuh perhitungan untung-rugi.
Semua ayat tentang sakinah, mawaddah, dan rahmah yang bertahun-tahun didengungkan di meja makan keluarga mendadak lenyap tanpa bekas, tergilas oleh deretan kalkulasi angka likuiditas, kepemilikan aset riil, jaminan saldo rekening giro, dan kekhawatiran semu akan jatuhnya gengsi marga keluarga di hadapan perkumpulan saudagar kota. Apakah seluruh jerih payahnya menembus malam-malam tanpa tidur mempelajari farmakologi dan patologi, menghafal ribuan dosis terapi, serta merawat pasien dhuafa dengan penuh cinta, pada akhirnya hanya dinilai sebagai stempel kelayakan harga pada etalase perjodohan keluarga terpandang?
"Apakah aku disekolahkan setinggi ini hanya agar ayah punya alasan memasang banderol mahar yang lebih mahal di hadapan relasi bisnisnya?" batin Afra menjerit perih. Sudut matanya terasa panas, menahan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk kelopak matanya.
Ia teringat mendiang ibunya yang wafat empat tahun silam. Sang ibu selalu berpesan dengan suara lembut di beranda belakang: *'Afra, jika kelak ada lelaki yang datang melamarmu, jangan kau pandang seberapa tinggi istana yang ia janjikan, melainkan pandanglah seberapa gigih ia membawamu bersujud di hadapan Allah saat dunia sedang mencampakkan kalian.'* Pesan itu tertanam abadi di dasar sukmanya.
Melalui celah halus benang bordir tirai sutra yang sedikit tersibak, Afra menatap punggung Ghufran. Punggung pemuda itu tampak kokoh, tenang, dan tidak menunjukkan kepanikan barang sedikit pun. Ghufran duduk bagai batu karang di tengah deburan ombak berbusa racun yang siap menghantamnya dari segala penjuru mata angin.
-------------------------------------
--- Bagian III: Interogasi Terselubung & Sindiran Sang Tante ---
Ketika Pilihan Hidup Diuji di Bawah Sorot Ketamakan
---o0o---
Paman Bahri berdeham panjang, suara parau yang sengaja dikeluarkan untuk memecah sunyi dan membuka panggung pengadilan informal tersebut. Ia menyandarkan siku kirinya ke lengan kursi, memutar cincin safir birunya perlahan, lalu menatap Ghufran dengan tatapan seorang pejabat penilai risiko kredit perbankan.