Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

MASA LALU YANG MENGHAKIMI

BAYANG-BAYANG MASA LALU YANG MENGHAKIMI

مَاضِي العَائِلَةِ

Tema Utama: Stigma Masa Lalu, Fitnah Keluarga, dan Ujian Prasangka

------------------------------------

Sinopsis Alur Kejadian:

Ujian semakin bergolak ketika keluarga Afra mencari tahu silsilah keluarga Ghufran. Mereka mendapati fakta bahwa ayah kandung Ghufran dahulu pernah terjerat utang kelam dan meninggalkan ibunya dalam perceraian yang memilukan. Fakta itu dijadikan amunisi oleh kerabat dekat Afra untuk mencap Ghufran "membawa benih kegagalan keluarga" yang tidak pantas bagi keluarga terhormat mereka.

------------------------------------


--- Bagian I: Desau Beracun di Ruang Tamu Berukir ---

*Aroma Gaharu yang Tercemar Prasangka dan Investigasi Silsilah*

---o0o---

Aroma dupa gaharu yang menguar dari perapian tembaga di sudut ruang tengah itu biasanya sanggup menenangkan setiap jengkal kegelisahan di dada siapa pun yang melangkah masuk. Dinding-dinding kayu jati berukir kaligrafi ayat kursi peninggalan kakek buyut Afra berdiri kokoh, memancarkan wibawa sebuah keluarga yang telah berakar selama tiga generasi sebagai keluarga terpandang, berpendidikan, dan dijunjung tinggi kesalehannya di kota ini. Namun sore itu, wangi gaharu yang semerbak seolah tercekik oleh hawa dingin yang tak kasat mata—hawa dingin dari sebuah desas-desus yang menyusup laksana racun perlahan.

Di atas meja marmer bundar berkaki kuningan, secangkir teh melati milik Ummi Khadijah telah mendingin tanpa sempat tersentuh. Di hadapannya, duduk Om Mansyur dan istrinya, Tante Farida. Keduanya datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, membawa map kulit berwarna cokelat kusam dan senyum yang terlalu dibuat-buat untuk disebut sebagai silaturahmi yang tulus. Cara mereka meletakkan map itu di atas meja—sedikit digeser dengan ujung jari telunjuk seolah benda itu menyimpan bangkai yang menjijikkan—sudah cukup membuat dada Ummi Khadijah berdegup cemas.

"Khadijah, kami ini bukan orang luar. Mansyur ini kakak kandung suamimu, Luqman," ujar Tante Farida dengan suara mendesis halus, intonasi khas seorang kerabat yang merasa dirinya adalah penjaga gerbang kehormatan keluarga besar. Ia menyandarkan punggungnya pada bantalan sofa beludru, pandangannya menyapu sekeliling ruangan dengan sorot menghakimi. "Kalau kami diam saja melihat anak gadis keluarga ini terancam diseret ke dalam jurang kehinaan, kami yang akan berdosa di hadapan arwah para sesepuh kita."

Ummi Khadijah meremas ujung gamis sutranya, bibirnya bergetar pelan. "Ada apa sebenarnya, Mbak Farida? Mas Mansyur? Bukankah selama ini kita sudah sepakat bahwa pemuda yang datang berniat baik kepada Afra itu pemuda yang santun? Dia rajin ke masjid, lulusan terbaik, dan tutur katanya selalu menyejukkan hati..."

"Santun di depan mata, Khadijah!" potong Om Mansyur dengan nada berat yang ditekan kuat-kuat, membuat denting sendok perak di tatakan porselen berdenting ngilu. Pria paruh baya berkumis tebal dan berkemeja batik sutra mahal itu menatap tajam ke arah adiknya. "Dunia luar itu tidak sesederhana tatap muka satu dua jam di ruang tamu ini! Kamu dan Luqman terlalu silau dengan kesalehan semu. Zaman sekarang, siapa saja bisa meminjam peci putih dan menghafal beberapa potong hadits untuk menutupi borok garis keturunannya!"

Om Mansyur mengetukkan jari telunjuknya ke atas map cokelat itu tiga kali. Bunyinya seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati di ruang sidang yang dingin. "Kalian tahu siapa nama ayahnya? Darman Basri! Nama itu mungkin tidak berbunyi di telinga kalian yang tinggal di perumahan asri ini. Tapi pergilah ke kawasan pasar lama, tanyakan pada pedagang-pedagang tua di sana siapa Darman Basri! Dua puluh tahun lalu, lelaki itu adalah pecandu judi berkedok bisnis komoditas, terjerat utang rentenir miliaran rupiah, dikejar-kejar preman penagih utang hingga rumah lamanya disita paksa, lalu kabur mencampakkan istrinya dalam perceraian yang paling memalukan!"

Kata-kata itu meluncur bagaikan pecahan beling yang dilemparkan langsung ke wajah Ummi Khadijah. Wanita paruh baya itu tersentak ke belakang, wajahnya memucat seketika. Dadanya naik turun menahan guncangan kabar yang belum pernah terlintas dalam bayangan terburuknya sekalipun.

"Perceraian kelam... utang riba... rentenir?" bisik Ummi Khadijah dengan suara yang nyaris hilang, matanya nanar menatap map cokelat di depannya. "Tapi... Ghufran... anak itu tidak pernah..."

"Buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya, Khadijah!" desis Tante Farida, memajukan tubuhnya dengan binar mata penuh kepuasan terselubung. "Darah yang mengalir di pembuluh pemuda bernama Ghufran itu adalah darah ayahnya. Darah lelaki yang tidak punya rasa tanggung jawab, darah pembawa sial dan kemelaratan. Apakah kau rela nama besar keluarga Luqman, yang suci dari noda aib, dicemarkan oleh benih dari keluarga yang cacat moral seperti itu? Bayangkan apa kata majelis taklim, apa kata kerabat di klan kita kalau tahu Afra dinikahi oleh anak seorang buronan utang?"

Di balik tirai kayu pembatas antara ruang tengah dan koridor dalam, sepasang telinga telah menyerap setiap racun kata yang dihamburkan itu. Tangan Afra Nailah yang memegang nampan kayu berisi piring kue nastar bergetar hebat. Jantungnya bergemuruh laksana laut lepas dihantam badai. Ia memejamkan mata rapat-rapat, bukan karena takut pada aib yang dituduhkan, melainkan karena perihnya sebuah prasangka yang tengah disembelih di atas altar kesombongan manusia.

> "Buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya! Apakah kau rela nama besar keluarga kita dicemarkan oleh benih dari keluarga yang cacat moral?" — **Tante Farida**

-------------------------------------


--- Bagian II: Luka Lama yang Menganga di Bilik Tua ---

*Ghufran dalam Gelombang Trauma, Derit Mesin Jahit, dan Doa Ibu*

---o0o---

Di sudut kontrakan petak sempit berlantai semen dingin di gang sempit pinggiran kota, bunyi derit pedal mesin jahit tua bermerek Singer berirama konstan, menembus hening senja yang perlahan merambat turun. Ibu Maryam, dengan kacamata berbingkai kawat yang sudah diikat benang di sudut engselnya, masih membungkuk tekun di atas selembar kain katun kelabu. Jemari tangannya yang berkapalan dan bergetar halus karena usia menuntun mata jarum menembus kain dengan ketelitian seorang ibu yang telah menambal lubang-lubang kepedihan hidup selama puluhan tahun.

Ghufran Maulana berdiri di ambang pintu bilik kecil itu, menatap punggung ibunya yang semakin hari semakin melengkung. Kemeja putih yang dikenakannya masih berbau sisa keringat kerja keras seharian di kantor konsultan arsitektur tempatnya merintis karier dari nol. Di tangannya, sebuah bungkusan kecil berisi martabak manis kesukaan ibunya terasa menghangat, namun hatinya sendiri digelayuti beku yang menusuk tulang sumsum.

Beberapa jam lalu, sebuah panggilan telepon dari seorang rekan yang kebetulan mengenal jaringan keluarga besar Abi Luqman telah merobek ketenangan jiwanya. Kabar bahwa orang-orang suruhan Om Mansyur telah mendatangi bekas tetangga masa kecilnya, mengorek-ngorek dokumen perceraian ibunya, dan menelusuri jejak kelam almarhum ayahnya, telah sampai ke telinganya. Apa yang selama ini paling ia takuti—bukan kemiskinannya, bukan peluh perjuangannya—kini berdiri tegak di depan matanya: bayang-bayang masa lalu sang ayah yang kembali datang untuk menuntut tebusan dari hidupnya.

Ghufran melangkah masuk perlahan, meletakkan bungkusan itu di sudut meja kayu yang lapuk. "Ibu... istirahatlah sejenak. Sudah azan Maghrib berkumandang dari musala depan."

Ibu Maryam mengangkat wajahnya yang dipenuhi garis-garis kerutan ketabahan. Senyum wanita itu selalu sama: teduh bagaikan telaga di tengah gurun gersang. "Alhamdulillah, anakku sudah pulang. Bagaimana pekerjaanmu hari ini, Ghufran? Desain jembatan dan masjid yang kau garap itu, apakah disetujui klien?"

Pertanyaan sederhana itu justru menghantam ulu hati Ghufran dengan rasa nyeri yang tak terperikan. Ia menatap mata ibunya yang mulai rabun. Di mata itulah, dua puluh tahun silam, ia menyaksikan air mata yang mengalir tanpa henti ketika pintu rumah mereka digedor dengan kasar oleh segerombolan pria bertubuh kekar. Ia masih berusia delapan tahun kala itu, bersembunyi di balik rok ibunya yang robek, menggigil ketakutan saat piring-piring dibanting, perabotan diangkut paksa, dan ayahnya—sosok yang seharusnya menjadi perisai dan pelindung—melarikan diri lewat pintu belakang, meninggalkan tumpukan surat tagihan bunga berbunga dan aib yang menodai nama keluarga mereka selamanya.

"Ghufran? Ada apa, Nak? Wajahmu pucat sekali," tanya Ibu Maryam, melepaskan kacamatanya dan meraih telapak tangan putranya yang kokoh. Telapak tangan yang kini kasar karena bertahun-tahun mengangkat bata saat ia kuliah sambil menjadi kuli bangunan, tangan yang kini halal dan bersih dari sepeser pun uang haram.

Ghufran berlutut di samping kursi kayu ibunya, menenggelamkan kepalanya di atas pangkuan perempuan suci itu. Bahunya berguncang pelan, menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Beban rasa bersalah yang telah ia kubur dalam-dalam kini menyeruak bagai lahar dingin yang membakar kewarasannya.

"Ibu... apakah seorang anak akan selamanya menjadi pesakitan atas dosa ayahnya?" bisik Ghufran dengan suara parau yang remuk. "Apakah setiap peluh halal yang kuperas dari fajar hingga petang ini tidak pernah cukup untuk membasuh noda yang ditinggalkan ayah? Mengapa orang-orang yang mengaku mulia itu tidak memandang amalku hari ini, melainkan menimbangku dengan neraca kehancuran orang tuaku?"

Ibu Maryam terdiam sejenak. Tangannya yang hangat mengusap rambut putranya dengan kelembutan yang sanggup meruntuhkan segala kepahitan dunia. Ia tidak perlu bertanya dari mana luka itu berasal; firasat seorang ibu yang telah menelan racun penghinaan separuh usianya langsung memahami gelombang apa yang tengah menghantam bahtera cinta putranya.


"Dengarkan Ibu, Ghufran," bisik Ibu Maryam perlahan, namun setiap patah katanya terpatri dengan wibawa langit. "Ayahmu telah pergi menghadap Pengadilan Yang Maha Adil dengan segala catatannya. Kita tidak berhak menghakimi, namun kita pun tidak diwajibkan memikul sesendok pun dari dosanya. Kau adalah anak yang lahir dari rahim doa dan air mata, kau tumbuh dengan suapan nasi yang dibeli dari jerih payah benang dan jarum yang halal. Jika ada manusia yang menolak kebaikanmu hanya karena bayang-bayang orang lain, maka ketahuilah, Nak... pandangan manusia itu sempit dan fana. Yang kau cari adalah rida Allah, bukan tepuk tangan manusia yang sombong dengan silsilahnya."

Lihat selengkapnya