Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

PENOLAKAN YANG MENGHUJAM JIWA

Penolakan yang Menghunjam Jiwa

أَلَمُ الرَّفْضِ

Tema : Keputusan Pahit, Kehancuran Harapan, dan Air Mata Sajadah

-------------------------------------

Sinopsis Alur Kejadian:

Surat dan pesan resmi dari Haji Mansyur akhirnya tiba: lamaran Ghufran ditolak secara resmi. Alasan yang disampaikan disusun rapi dengan bahasa santun, namun sarat penolakan harga diri. Di kamarnya, Afra dikurung dan diminta mematuhi keputusan sang ayah untuk mempertimbangkan calon dokter spesialis pilihan keluarga. Bagi Ghufran, penolakan ini menguji apakah cintanya karena hawa nafsu atau keridhaan ilahi.

-------------------------------------


--- Bagian I: Surat Bersegel di Ambang Senja ---

Aroma Tanah Basah dan Keanggunan yang Membunuh Perlahan

---o0o---

Langit di atas kota kecil itu seperti sedang menumpahkan seluruh abu peraduannya ke pelataran bumi. Sejak tengah hari, mendung bergayut tebal di punggung bukit, merayap perlahan menyungkup genting-genting lumutan dan pepohonan mahoni tua yang berjejer di sepanjang jalan setapak. Hawa dingin merembes dari sela-sela dinding anyaman bambu dan papan kayu di serambi rumah Ghufran. Gerimis baru saja luruh, meninggalkan aroma petrikor yang pekat—bau humus dan debu jalanan yang terbasahi, aroma yang biasanya selalu menghadirkan ketenangan dalam rongga dadanya, namun sore ini terasa bagai firasat yang mencengkeram tenggorokan.

Ghufran duduk bersila di atas balai-balai kayu yang sudah dipelitur ulang oleh tangannya sendiri tiga pekan lalu. Tiga pekan yang lalu, di tempat yang sama, ia menatap bayang-bayang harapan dengan dada berdebar penuh doa. Hari ketika pamannya melangkah dengan pakaian terbaik, membawa niat suci yang digantungkan setinggi bintang: meminang Afra Humaira binti Mansyur. Sebuah ikhtiar yang ditempuh dengan segenap tata krama syariat, tanpa selubung dusta, tanpa janji materi yang melangit, hanya bermodalkan sebidang kejujuran dan seuntai komitmen menjaga kehormatan seorang muslimah.

Namun derit gerbang pagar bambu menyentakkan lamunannya. Seorang lelaki paruh baya berseragam batik halus melangkah masuk ke pekarangan. Itu bukan paman Ghufran. Lelaki itu adalah Pak Carik Sastro, orang kepercayaan sekaligus kerabat jauh Haji Mansyur yang kerap diserahi urusan-urusan diplomatik keluarga sang saudagar. Langkah kaki Pak Sastro terdengar tertata, tidak tergesa, namun sarat dengan beban formalitas yang dingin. Payung hitam di tangannya masih meneteskan air sisa hujan.

"Assalamu'alaikum, Nak Ghufran," sapa Pak Sastro seraya menundukkan kepala sedikit lebih rendah dari biasanya—sebuah gestur tata krama Jawa yang terlampau berhati-hati, yang biasanya hanya digunakan ketika seseorang hendak menyampaikan sebuah permohonan maaf atas luka yang disengaja.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Pak Sastro. Mari pinarak, silakan naik ke serambi," jawab Ghufran seraya bangkit berdiri, menyalami tangan orang yang lebih tua itu dengan takzim. Ghufran berusaha membaca riak di kelopak mata Pak Sastro, namun orang tua itu lekas membuang pandang ke arah meja kayu jati kecil.

"Matur nuwun, Nak. Saya tidak bisa berlama-lama. Hujan tampaknya akan semakin lebat menjelang Maghrib," kata Pak Sastro dengan nada suara yang sengaja direndahkan, seakan takut mengusik angin senja. Tangannya yang berkerut merogoh bagian dalam saku jas batiknya, mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna gading bertekstur linen mahal. Pada bagian sudut kanan atas, tertera cap lambang khas keluarga Haji Mansyur yang tertutup lilin merah marun utuh.

"Ini... amanah langsung dari Haji Mansyur. Beliau dan Ibu Hj. Salmah meminta saya menyerahkan ini langsung ke tanganmu, Nak Ghufran. Tanpa perantara. Dengan harapan, isi di dalamnya dipahami sebagai keputusan musyawarah keluarga besar yang paling bijaksana bagi semua pihak."

Ghufran menatap amplop itu sejenak sebelum kedua tangannya menyambutnya perlahan. Kertas itu terasa dingin dan kaku di telapak tangannya. Beratnya tidak seberapa, hanya beberapa gram kertas serat gading, namun di pergelangan tangannya, beban itu mendadak menjelma ratusan pikul batu gunung. Jarinya bergetar amat tipis di ujung lipatan kertas, sebuah getaran insani yang segera ia sembunyikan dengan merapatkan genggamannya.

"Matur nuwun, Pak Sastro. Terima kasih telah sudi mengantarkannya sendiri menembus hujan," bisik Ghufran, suaranya tetap terjaga rata dan santun, nyaris tanpa riak getar.

Pak Sastro menatap wajah pemuda itu. Ada keheningan panjang yang menggantung di antara mereka. Di mata Pak Sastro yang keruh oleh usia, terpancar sebersit rasa iba yang tulus, namun cepat-cepat dipadamkannya. Sebagai utusan, ia tidak memiliki hak untuk berpendapat. "Semoga Allah senantiasa melimpahkan kelapangan dada dan kebaikan yang luas untuk panjenengan sekeluarga, Nak. Saya mohon pamit sebelum azan berkumandang."

Ketika sosok Pak Sastro menghilang di balik kelokan rumpun bambu yang meliuk ditiup angin lembap, Ghufran masih berdiri terpaku. Angin dingin senja menyapu pelipisnya. Di tangannya, amplop gading itu tampak berkilat pucat di bawah temaram lampu templok yang baru dinyalakannya.

-------------------------------------


--- Bagian II: Sangkar Emas dan Isak yang Tertahan ---

Dinding Kamar Paviliun, Dinginnya Kaca, dan Kehormatan Gadis Pingitan

---o0o---

Di belahan lain kota itu, di dalam rumah gedong berdinding marmer dan berpagar besi tempa setinggi dua setengah meter milik Haji Mansyur, waktu seolah berhenti berdetak dalam kepiluan yang membeku. Di kamar sudut paviliun atas, Afra Humaira duduk bersimpuh di atas karpet Persia tebal. Pintu kayu jati berukir yang menjadi pembatas kamarnya telah dikunci dari luar sejak kemarin petang, atas perintah langsung sang ayah.

Jendela kaca berbingkai kayu jati dibiarkannya sedikit terbuka, membiarkan tempias air hujan menyentuh ujung jarinya yang dingin. Di luar sana, gerimis mengaburkan pucuk-pucuk pohon cemara dan menara masjid agung yang menjulang di kejauhan. Di pangkuan Afra, sebuah mushaf bersampul beludru hijau terbuka pada surah Ar-Rum. Namun pandangannya telah mengabur oleh lapisan bening air mata yang sedari tadi ia tahan agar tidak menetes mengenai lembaran ayat-ayat suci.

Derit anak kunci berputar di lubang pintu. Gagang pintu kuningan bergerak turun perlahan. Sosok Hj. Salmah melangkah masuk dengan langkah kaki yang teramat hati-hati. Di kedua tangannya, tertata sebuah nampan perak berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas susu jahe. Makanan itu mengepulkan asap tipis yang aromanya segera sirna, tertelan dinginnya udara kamar yang sunyi.

"Afra, Nduk... makanlah sedikit," bisik Hj. Salmah lembut, meletakkan nampan tersebut di atas meja rias rias berukir yang berhadapan dengan cermin oval. Sang ibu melangkah mendekati putrinya, lalu duduk bersimpuh di sampingnya di atas karpet. Tangannya yang halus mengusap pundak Afra yang terbungkus jilbab abu-abu tua.

Afra tidak menoleh. Bibirnya terkatup rapat, namun napasnya tersengal menahan getaran di tenggorokan. "Apakah Ayah sudah mengirimkan surat itu, Ummi?" tanya Afra. Suaranya serak dan parau, seperti kaca retak yang tergesek batu karang.

Hj. Salmah menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang sarat rasa bersalah namun tak berdaya. "Pak Sastro sudah berangkat setengah jam yang lalu, Nduk. Keputusan Ayahmu sudah bulat. Dan kau tahu persis watak Ayahmu... tak ada seorang pun di keluarga ini yang mampu membantah kata-katanya bila ia sudah mengetuk palu."

"Bahkan ketika keputusan itu diambil tanpa pernah mendengarkan apa yang dirasakan oleh darah dagingnya sendiri?" gumam Afra, kini menoleh menatap ibunya. Air matanya akhirnya jebol, mengalir menganak sungai di kedua pipinya yang pucat pasi.

"Ayahmu mencintaimu, Afra! Demi Allah, Ayahmu tidak berniat menzalimimu," potong Hj. Salmah cepat, suaranya bergetar menahan emosi yang berkecamuk. "Ayahmu memikirkan masa depanmu, Nduk. Kamu anak perempuan satu-satunya. Keluarga kita keluarga terpandang. Bagaimana mungkin Ayahmu tega membiarkanmu hidup serba kekurangan, mengontrak rumah petak, dan bergantung pada penghasilan seorang guru madrasah honorer yang tak menentu? Cinta saja tidak bisa membeli beras, Afra. Cinta tidak bisa menjaga martabat keluarga besar Mansyur di mata para kolega!"

"Ghufran bukan pemalas, Ummi!" suara Afra meninggi satu oktaf, meski ia segera menurunkan intonasinya kembali demi adab kepada orang tua. "Ghufran seorang pemuda yang menjaga kehormatan dirinya dan orang lain. Ia berilmu, bertakwa, dan tangannya tidak pernah lelah mencari rezeki yang halal. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpesan: jika datang kepadamu lelaki yang kau ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah! Mengapa kriteria kemuliaan agama itu selalu dikalahkan oleh status sosial dan kilau rupiah di mata Ayah?"

Hj. Salmah merengkuh kepala putrinya, menariknya ke dalam dekapan dadanya yang wangi minyak mawar. Sang ibu menitikkan air mata, namun kata-katanya tetap menjadi palu godam bagi harapan Afra: "Dokter Farhan adalah pemuda yang baik, Nduk. Agamanya pun terjaga, ia putra sahabat karib Ayahmu sejak zaman perintis usaha. Tahun depan ia selesai spesialis bedah anak. Masa depannya cerah, keluarganya sepadan, dan martabat kita akan terangkat. Lupakan Nak Ghufran. Belajarlah patuh pada orang tuamu. Ridha Allah ada pada ridha kami, Afra... jangan menjadi anak yang durhaka hanya karena angan-angan seorang pemuda miskin."

Kata 'durhaka' menghantam ulu hati Afra bagai belati bermata dua. Ia terdiam kaku dalam pelukan sang ibu. Ia tidak lagi membantah. Tangisnya berubah menjadi isak tanpa suara—tangisan seorang wanita mukminah yang merasa sayap-sayap harapannya dipatahkan atas nama kepatuhan dan status sosial. Dalam dekapannya, ia hanya mampu meremas mushafnya erat-erat, memohon perlindungan dari keputusasaan yang mengancam keimanannya.

Lihat selengkapnya