Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

JARAK YANG MENYUCIKAN NIAT

JARAK YANG MENYUCIKAN NIAT

البُعْدُ الطَّاهِرُ

Tema: Ujian Pemisahan, Puasa dari Komunikasi, dan Pemurnian Niat

-----------------------------------------------------

Sinopsis:

Keduanya memasuki fase keheningan mutlak. Tidak ada telepon, tidak ada percakapan digital, tidak ada perjumpaan tersembunyi. Bagi dunia, cinta mereka dianggap telah karam. Namun di alam ruhani, jarak ini justru menjadi tungku api yang menyucikan niat mereka dari kotoran ego dan pamrih. Ghufran mendedikasikan seluruh waktunya untuk berikhtiar memperbaiki ekonomi dan merawat ibunya, sementara Afra menenggelamkan rindunya dalam pengabdian di bangsal anak dhuafa. Di ujung sepertiga malam, dua sajadah terbentang menghadap kiblat yang sama, mengadu kepada Rabb yang sama tanpa saling mengetahui nama siapa yang paling khusyuk dilangitkan dalam tasyahud akhir.

--------------------------------------------------


MUQADDIMAH: AL-BU'D ATH-THAHIR

Filosofi Keheningan yang Menjaga Marwah : Hamparan Sunyi dan Waktu yang Terhenti.

  Ada keheningan yang lebih bergemuruh daripada ledakan mesiu di medan perang. Ia adalah keheningan dari dua jiwa yang memutuskan untuk berhenti saling menyapa, bukan karena api benci telah menyala di bilik dada, melainkan karena mereka teramat takut jika sepercik rasa yang belum berpagar syariat akan menghanguskan bangunan iman yang telah dipahat bertahun-tahun.

  Bagi manusia yang mengukur kehidupan dari lalu lintas pesan digital dan dering telepon yang bersahut-sahutan, jeda tanpa kabar adalah lonceng kematian sebuah hubungan. Dunia yang bising ini senantiasa menuntut kepastian kasat mata: swafoto yang diunggah, kalimat manis yang dipertontonkan, atau janji-janji yang diikrarkan di bawah remang lampu kota. Ketika semua itu lenyap tanpa sisa, dunia dengan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kisah itu telah karam, terkubur bersama puing-puing keputusasaan.

  Namun, di kedalaman alam ruhani yang hanya disaksikan oleh para malaikat pencatat amal, perpisahan ini mengambil wujud yang teramat agung: Al-Bu'd Ath-Thahir—jarak yang menyucikan. Ia bukan jurang pemisah yang memutus persaudaraan, melainkan tungku api yang menyala marak untuk melebur bijih besi niat yang masih bercampur dengan karat keakuan, riya, dan syahwat kepemilikan.

  Cinta sebelum ijab kabul sesungguhnya adalah tamu yang rapuh. Jika ia disambut dengan kebebasan tanpa batas, ia akan menjelma menjadi berhala kecil yang menuntut sesembahan berupa perhatian tak henti, kecemburuan buta, dan angan-angan kosong yang melalaikan dari mengingat Allah. Maka, menempuh puasa komunikasi—sebuah keheningan mutlak tanpa panggilan suara, tanpa baris pesan singkat, bahkan tanpa intipan rahasia pada jendela maya—adalah ikhtiar tertinggi untuk mengembalikan cinta kepada Pemilik Hakiki.

  Keduanya sepakat melangkah mundur ke balik tabir ketaatan. Tidak ada perjumpaan sembunyi-sembunyi di sudut kedai temaram. Tidak ada perantara sahabat yang disuruh membawakan kabar burung. Biarlah takdir Allah dirajut di atas kanvas waktu yang sunyi. Sebab jika memang ada suratan jodoh di Lauhul Mahfuzh, gunung yang menjulang dan samudra yang membentang takkan pernah sanggup menahan langkah dua insan untuk bersatu dalam mahligai berkah. Dan jika sebaliknya ketetapan berkata tidak, maka keheningan ini telah menyelamatkan kehormatan mereka dari luka maksiat hati yang tak termaafkan.

--------------------------------------------------


BAGIAN I: Siang Berdebu di Gudang Distribusi Buku

Keringat Halal, Peluh Kesabaran, dan Teguran Ziyad. Gudang Distribusi Literatur Islam, Pinggiran Kota • Pukul 13.15 WIB (Siang Berdebu)

---o0o---

  Matahari siang membakar atap seng gelombang dengan keganasan yang tak mengenal ampun. Udara di dalam gudang distribusi buku itu terasa pekat, menguapkan aroma khas kertas tua, lem jilid yang mengering, dan butiran debu cokelat yang beterbangan dalam berkas sinar yang menembus celah ventilasi kusam. Di lorong sempit di antara tumpukan kardus setinggi tiga meter, seorang pemuda bertubuh tegap tampak membungkuk, menumpukan kedua tangannya pada sebuah peti kayu berisi kitab-kitab tafsir tebal.

  Otot-otot lengannya mengencang kaku saat ia mengangkat peti itu ke atas pundaknya. Kain kemeja katun lusuh yang dikenakannya telah basah kuyup oleh peluh, menempel erat di punggungnya yang tegap. Butir-butir keringat mengalir deras dari keningnya, melewati pelipis yang kecokelatan terpapar terik, lalu jatuh menetes ke atas lantai semen yang berdebu. Napas Ghufran memburu teratur, berat namun mantap. Telapak tangannya yang dulu halus ketika membolak-balik lembaran manuskrip pesantren kini mulai menebal, mengeras, dan dipenuhi guratan kapalan di pangkal jemari.

  Namun, tak ada keluh kesah yang meluncur dari sepasang bibir yang kering itu. Setiap kali rasa ngilu menusuk persendian bahunya, Ghufran justru membisikkan istighfar dan tasbih di dalam hati. Ia mencintai rasa perih ini. Baginya, setiap tetes keringat yang jatuh ke lantai berdebu adalah air pembasuh dosa-dosa masa lalu, dan setiap rupiah yang dihasilkan dari membanting tulang adalah batu bata halal yang sedang ia susun untuk menegakkan kembali martabat keluarganya yang sempat terpuruk.

  Bruuk! Peti kayu itu mendarat dengan aman di atas tumpukan palet kayu di dekat pintu pemuatan barang. Ghufran menegakkan pinggangnya, menyeka dahinya dengan punggung tangan yang berdebu, lalu mengembuskan napas panjang yang sarat rasa syukur.

  "Minumlah dulu, Ghufran. Kalau kau terus memaksa tubuhmu seperti ini, kau bisa tumbang sebelum sore tiba," suara serak mengagetkannya. Ziyad, rekan kerjanya sekaligus sahabat sejak masa remaja di pondok pesantren, melangkah mendekat sambil melempar sebotol air mineral dingin. Ziyad memegang gulungan tali rafia dan gunting besar, wajahnya merah padam menahan gerah.

  Ghufran menangkap botol itu dengan sigap. Ia tersenyum tipis, membuka tutupnya, lalu membaca basmalah sebelum meneguk air itu perlahan dalam tiga tegukan sunnah. Kesegaran air membasahi kerongkongannya yang bagai gurun pasir kering.

  Ziyad menyandarkan punggungnya pada tumpukan kardus bertuliskan 'Kamus Al-Munawwir'. Matanya menatap Ghufran dengan pandangan yang bercampur antara kagum, cemas, dan kejengkelan yang tak tertahankan lagi. Sudah berbulan-bulan Ziyad memendam pertanyaan ini, menyaksikan sahabatnya yang cerdas dan alim itu memilih pekerjaan fisik yang menguras tenaga, bekerja lembur hingga larut, menyisihkan hampir seluruh upahnya, dan menolak semua ajakan untuk sekadar duduk santai di warung kopi.

  "Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu seperti ini, kawan?" Ziyad akhirnya membuka suara, nadanya mendadak berubah berat dan tajam.

  Ghufran menoleh seraya mengelap lehernya dengan handuk kecil yang melingkar di bahu. "Menyiksa apa, Ziyad? Bukankah mencari rezeki yang halal adalah jihad bagi seorang pemuda? Aku hanya sedang menunaikan kewajibanku pada ibu."

  Ziyad mendengus, mengibaskan tangannya ke udara berdebu. "Jangan berlindung di balik kata jihad bila hatimu masih dirantai oleh bayang-bayang masa lalu! Aku sahabatmu sejak kita masih menghafal Jurumiyyah, Ghufran. Aku tahu isi kepalamu. Kau masih menunggunya, bukan? Kau masih menunggunya, Ghufran! Satu tahun penuh tanpa sepatah kata pun darinya! Satu tahun tanpa telepon, tanpa pesan, tanpa kabar angin sekalipun!"

  Hening seketika merayap di lorong gudang. Suara kipas angin dinding yang berderit tua di kejauhan seolah menjadi pengisi jeda yang menegangkan. Tatapan mata Ghufran tidak bergeming, tetap jernih dan tenang bagai air telaga di tengah hutan pinus.

  Ziyad melangkah maju satu tindak, menatap lekat-lekat kedua manik mata sahabatnya. Suaranya ditekan rendah namun sarat desakan realitas: "Gadis itu mungkin sudah dipinang orang lain, Ghufran! Sadarlah! Afra itu putri seorang dokter senior yang dihormati, keluarganya terpandang di kota ini, dan sekarang dia sendiri sudah menjadi dokter muda dengan masa depan yang gilang-gemilang. Sementara kau? Kau berdiri di sini dengan kemeja robek di ketiak, debu menempel di rambutmu, menghitung lembar ribuan untuk membeli obat asma ibumu dan menyicil sewa rumah kontrakan. Hari ini dunia tidak lagi berjalan di atas metafora cinta sufi yang kau baca di kitab-kitab itu! Bangunlah dari mimpimu sebelum kau hancur berkeping-keping!"

  Kata-kata Ziyad tidak kasar, melainkan teramat jujur—kejujuran yang menyakitkan dari seorang sahabat yang tidak ingin melihat kawannya tenggelam dalam penantian tanpa ujung. Realitas yang disodorkan Ziyad adalah cermin telanjang yang tidak bisa disangkal oleh nalar manusia biasa.

  Ghufran menarik napas panjang. Udara gudang yang hangat masuk memenuhi rongga dadanya. Ia tidak marah, tidak pula tersinggung. Di bibirnya justru tersungging senyum yang teramat damai, senyum seorang musafir yang telah selesai bertarung dengan badai nafsunya sendiri.

  "Ziyad, saudaraku..." suara Ghufran terdengar begitu teduh, meredam desau angin panas di sekeliling mereka. "Jika Afra memang ditakdirkan untuk bersanding dengan orang lain, maka demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, doaku di setiap sujud adalah agar ia mendapatkan pendamping yang jauh lebih bertakwa, lebih berilmu, dan lebih sanggup memuliakannya daripada diriku yang fakir ini. Hatiku telah lama mengikhlaskannya jika itu yang terbaik menurut pandangan Rabbul 'Alamin."

  Ziyad tertegun, bibirnya sedikit terbuka namun suaranya tertahan di tenggorokan.

  Ghufran melanjutkan bicaranya dengan ketenangan yang menghunjam: "Dan jika Allah telah menetapkan namanya tertulis di samping namaku di Lauhul Mahfuzh sebelum bumi dan langit diciptakan, maka sejauh apa pun jarak memisahkan kami hari ini, dan sebanyak apa pun pinangan para saudagar dan bangsawan yang datang mengetuk pintunya, takkan ada satu kekuatan pun di alam semesta ini yang sanggup membelokkan ketetapan takdir-Nya. Jalan takdir tidak bergantung pada sinyal ponsel kita, Ziyad."

  Ghufran meletakkan tangannya yang kasar di atas bahu Ziyad. Tatapannya menembus ke dalam sanubari sahabatnya.

  "Ketahuilah, Ziyad. Keringat yang membasahi kemejaku ini bukan semata-mata kupersembahkan untuk mengejar seorang anak manusia. Aku tidak sedang memenjarakan hidupku dalam angan-angan kosong. Keringat ini adalah bukti kepada Allah bahwa aku tidak menyerah pada kemiskinan. Keringat ini adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa ibuku bisa berobat tanpa harus menadahkan tangan meminta belas kasihan manusia. Dan jika kelak Allah mengizinkan aku melangkah kembali untuk meminang seorang wanita—siapa pun wanita itu, entah Afra atau yang lain—aku ingin berdiri di hadapan wali nikahnya sebagai lelaki yang telah membuktikan kesanggupannya memikul amanah nafkah, bukan pemuda cengeng yang hanya bermodalkan rayuan manis di bibir."

  Mendengar penuturan itu, Ziyad terdiam seribu bahasa. Ketegaran dalam suara Ghufran bukanlah kepongahan, melainkan ketundukan mutlak kepada qadha dan qadar. Ziyad menundukkan kepala, menarik napas panjang, lalu menepuk punggung Ghufran dengan rasa hormat yang mendalam.

  "Semoga Allah meneguhkan langkahmu, Ghufran. Maafkan ketidaksabaranku," bisik Ziyad lirih.

  Ghufran tersenyum, lalu kembali membungkuk meraih ikatan kardus berikutnya. Di dalam dadanya, keheningan itu kembali merajai: sebuah keheningan yang bersih dari ambisi duniawi, disiram oleh peluh yang halal dan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Lihat selengkapnya