Restu Yang Mengalir Bersama Air Mata
دُمُوعُ الرِّضَا (Dumu'ur Ridha)
Tema: Keruntuhan Ego, Taubat Orang Tua, dan Pintu yang Terbuka
-------------------------------------
Sinopsis Alur Kejadian:
Haji Mansyur mendatangi kontrakan sederhana Ghufran Al-Ghifari tanpa pengawalan dan tanpa kemewahan. Pertemuan kedua ini berbanding terbalik 180 derajat. Sang pensiunan pejabat memeluk Ghufran dan meminta maaf atas kesombongan matanya di masa lalu. Ia melihat langsung bagaimana Ghufran menyuapi ibunya yang lumpuh dengan penuh kasih sayang. Pintu yang dulu terkunci rapat kini diketuk oleh sang pemilik pintu itu sendiri.
-------------------------------------
Bagian 1 • Langkah-langkah Penyesalan di Atas Tanah Becek
Lorong Gang Kontrakan Ghufran • Waktu Ashar Menjelang Senja
---o0o---
Sinopsis: Mobil tua Haji Mansyur berhenti di mulut gang sempit. Tanpa pengawal dan tanpa kemewahan, sang pensiunan pejabat menyusuri lorong berlumpur, menanggalkan lapis demi lapis keangkuhan masa lalunya.
Langit di atas langit-langit atap seng pinggiran kota perlahan meredup, menyisakan semburat jingga tembaga yang tertahan tirai awan kelabu. Hujan gerimis yang turun sejak usai salat Ashar menyisakan genangan-genangan air payau di atas jalanan beraspal retak. Suasana sore itu dingin, namun di dalam kabin sebuah mobil sedan tua keluaran belasan tahun silam, udara terasa begitu pekat dan menghimpit dada.
Di balik kemudi, sepasang tangan yang mulai keriput dan dihiasi urat-urat kebiruan mencengkeram lingkar setir dengan gemetar. Haji Mansyur menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan melalui bibir yang bergetar. Tidak ada lagi sopir berseragam dinas yang membukakan pintu. Tidak ada lagi mobil pengawal berpelat istimewa dengan raungan sirine arogan yang biasa membelah kemacetan ibu kota. Tidak ada lagi ajudan muda yang sigap memayungi kepalanya dengan payung hitam bermerek.
Semua kilau fatamorgana itu telah musnah. Jabatan direktur jenderal di kementerian strategis yang dulu dipangkunya dengan penuh jumawa telah berpindah tangan semenjak masa purnatugas tiba dua tahun lalu. Parahnya lagi, lingkaran pertemanan semu para pengusaha penjilat yang dulu mengerumuninya laksana lalat pemburu gula, sirna tanpa jejak begitu sebuah pusaran investasi bodong menguapkan seluruh tabungan hari tuanya.
Rumah mewah bergaya Mediterania di kawasan elite Menteng telah dilego untuk menuntaskan kewajiban, digantikan rumah petak sewaan di pinggir kota. Mobil-mobil mewah Eropa telah ditarik pihak pembiayaan. Namun, dari segala kehilangan materiil yang menyayat harga dirinya, tiada kehancuran yang lebih mengoyak sanubari Haji Mansyur melebihi tatapan layu putri semata wayangnya, Nuha.
Setahun penuh, Nuha tidak pernah membantah sepatah kata pun. Gadis itu tidak pernah menjerit, tidak pernah memprotes keputusan ayahnya yang dulu dengan pongah mencampakkan pinangan seorang pemuda bersahaja bernama Ghufran Al-Ghifari. Nuha hanya diam. Namun, dalam diamnya, Nuha meleleh. Setiap malam di sepertiga akhir, dari balik tirai tipis kamar putrinya, Haji Mansyur kerap menyaksikan siluet gadisnya bersujud di atas sajadah mori, terisak tanpa suara hingga bahunya terguncang.
Di sisi lain, pemuda kaya bergelar ningrat korporasi yang dulu dipaksakan Haji Mansyur untuk mendekati Nuha—anak seorang kolega taipan yang dipuji-pujinya setinggi langit—terbukti hanyalah pemuda culas yang terjerat skandal asusila dan lari meninggalkan utang miliaran rupiah. Kenyataan itu menghantam kepala Haji Mansyur laksana godam godaan iblis yang dihempaskan ke batu karang.
“Ya Allah... betapa butanya mata dan mata hatiku selama puluhan tahun ini,” gumam Haji Mansyur lirih. Suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya yang cekung menatap kaca depan yang dibasahi titik-titik gerimis.
Di hadapannya membentang sebuah gang sempit selebar kurang dari dua meter. Papan penunjuk jalan yang telah berkarat bertuliskan 'Gang Salak III'. Di ujung gang itulah, menurut alamat yang diperolehnya dengan susah payah dari seorang marbot masjid agung, Ghufran tinggal bersama ibunya.
Haji Mansyur mematikan mesin mobil tua yang menderu kasar. Ia melirik bayangan dirinya di kaca spion tengah. Wajahnya yang dulu selalu licin terawat dan congkak kini tampak tirus, dengan gurat penuaan yang menonjol dan rambut putih yang tak lagi disemir hitam. Ia mengenakan baju koko katun putih sederhana yang warnanya telah sedikit menguning di bagian kerah, serta peci beludru hitam yang ujungnya telah berbulu halus karena sering tergesek saat bersujud.
Dengan gerakan pelan dan agak kaku, kakek berusia enam puluh enam tahun itu membuka pintu mobil. Udara lembap langsung menyergap pori-pori kulitnya. Butir-butir air gerimis jatuh menyentuh kening dan pipinya yang hangat. Ia tidak membawa payung. Kakinya yang beralaskan sepatu pantofel kulit tua—sisa peninggalan masa jabatannya yang kini solnya telah menipis—menapak ke atas aspal basah, lalu melangkah memasuki gang.
Setiap langkah kakinya di atas tanah gang yang becek dan berlubang terasa seperti prosesi penanggalan sehelai demi sehelai baju kecongkakan duniawinya. Sepatu pantofelnya terperosok ke dalam genangan air comberan yang berwarna kecokelatan, memercikkan noda lumpur ke ujung celana kainnya. Dulu, sepercik kotoran saja pada pakaian mahalnya akan membuat ia memaki-maki stafnya dengan kemarahan meluap. Namun sore ini, ia bahkan tidak menunduk untuk membersihkannya.
Lumpur itu justru terasa bagai obat penawar yang menyadarkannya bahwa ia diciptakan dari tanah liat yang hina, dan kepada tanah pulalah ia kelak akan dikembalikan tanpa secuil pun lambang kepangkatan.
Di kanan dan kiri gang, deretan rumah kontrakan petak berdiri berdempetan dengan dinding-dinding bata tanpa plester yang menghitam karena lumut. Dari ventilasi rumah-rumah itu, tercium aroma kehidupan rakyat jelata: bau minyak jelantah dari wajan yang menggoreng tempe, desis kompor minyak tanah yang sumbunya mulai aus, tawa riang bocah-bocah bertelanjang dada yang mengejar bola plastik di bawah gerimis, serta suara batuk rejan orang tua yang renta.
Setahun silam, ketika Ghufran datang bertamu ke rumah dinas megahnya di Menteng dengan menaiki sepeda motor bebek tua dan membawa setoples kue buatan ibunya, Mansyur bahkan menolak menjabat tangannya secara utuh. Ia hanya memberikan ujung dua jarinya dengan wajah berkerut jijik, lalu melempar kata-kata berbisa yang di kemudian hari menjadi duri paling beracun yang merajam nuraninya sendiri.
“Anak muda,” kata Mansyur kala itu sambil menyandarkan punggungnya di sofa kulit impor dari Italia, “kamu ini tahu diri sedikit. Nuha ini anak seorang pejabat eselon satu. Dia terbiasa hidup berkecukupan. Kamu mau kasih makan apa putriku? Hafalan ayat dan idealisme gombalmu itu? Sadar dirilah tentang bibit, bebet, dan bobot! Dunia ini butuh uang, butuh kedudukan, bukan air liur!”
Kala itu, Ghufran tidak membalas dengan bentakan. Pemuda itu tidak membanting toples kuenya. Ghufran hanya menunduk dengan punggung tegap, tersenyum begitu syahdu hingga matanya berkaca-kaca, lalu berkata: 'Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah, kesehatan, dan keberkahan bagi Bapak dan keluarga.' Setelah itu, ia melangkah keluar dari rumah megah itu dengan langkah tenang seorang kesatria sejati.
Kini, ingatan itu mencambuk punggung batin Haji Mansyur hingga lututnya terasa bergetar hebat. Dadanya serasa dihimpit gunung batu.
Ia terus menyusuri lorong berliku hingga tiba di depan sebuah rumah kontrakan bercat kapur biru muda yang telah banyak terkelupas di sudut-sudutnya. Nomor 7 tertulis di atas sebilah kayu triplek yang dipaku di atas kusen pintu kayu rengasdengklok yang termakan rayap.
Di depan pintu itu tidak ada beranda luas. Hanya ada sebuah keset sabut kelapa yang dipasang rapi dan sepasang sandal jepit karet berwarna hijau yang bersih tersusun di atas undakan semen. Dari lubang angin di atas pintu yang ditutup kawat kasa, sayup-sayup terdengar suara bariton yang amat merdu dan tenang. Suara itu sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an surah Yusuf dengan cengkok yang begitu menyayat jiwa:
قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٨٦
qâla innamâ asykû batstsî wa ḫuznî ilallâhi wa a‘lamu minallâhi mâ lâ ta‘lamûn (Q.S. Yusuf, ayat 86)
Dia (Ya‘qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.“
Mendengar lantunan ayat tentang kepasrahan Nabi Ya'qub yang mengadukan duka nestapanya hanya kepada Allah, pertahanan batin Haji Mansyur seketika runtuh. Air matanya merebak, tumpah membasahi pipinya yang basah oleh sisa gerimis sore. Tangan tuanya yang gemetar terangkat ke udara, ragu-ragu di depan daun pintu yang rapuh itu.
-------------------------------------
Bagian 2 • Keruntuhan Mahligau Ego di Atas Semen Dingin
Ruang Tamu Kontrakan Ghufran • Waktu Menjelang Maghrib
---o0o---
Tok... tok... tok...