Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

JANJI SUCI DI BAWAH SAKSI LANGIT

Janji Suci di Bawah Saksi Langit

مِيثَاقًا غَلِيظًا

Tema: Akad Nikah Khidmat, Mitsaqan Ghalidha, dan Getar Amanah.

-------------------------------------

Sinopsis Alur Kejadian:

Pernikahan diselenggarakan dengan khidmat dan sederhana di Masjid Baabussalam sesuai sunnah, jauh dari kemewahan pesta yang biasa digelar kaum elit. Saat ijab kabul diucapkan dalam satu helaan nafas yang mantap, arsy bergetar oleh perjanjian yang kokoh (mitsaqan ghalidha). Untuk pertama kalinya, jemari mereka bersentuhan dalam bingkai halal saat Ghufran meletakkan tangannya di atas ubun-ubun Afra dan melantunkan doa keberkahan.

--------------------------------------


--- Bagian 1: Ruang Wudhu Masjid Baabussalam ---

Gemericik Air Fajar, Refleksi Diri, dan Getar Amanah. Pagi Hari Menjelang Pukul 07.45 WIB • Ruang Wudhu Masjid Baabussalam.

---o0o---

Gemericik air yang jatuh dari keran tembaga tua itu terdengar seperti irama detak jantung yang berkejaran. Di ruang wudhu sisi timur Masjid Baabussalam, hawa dingin sisa embun subuh masih bergelayut di pori-pori dinding pualam abu-abu. Udara pagi terasa menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dari pelataran masjid yang baru saja disapu marbot, bercampur dengan wangi samar bunga melati liar yang tumbuh merambat di pagar kisi-kisi besi.

Ghufran AlGhifari berdiri tegak di depan deretan wastafel batu pualam. Lengannya tergulung rapi hingga melewati siku, menampakkan urat-urat kokoh di balik kulit sawo matang seorang pria yang terbiasa bergulat dengan kerja keras dan disiplin. Ketika ia memutar keran, air yang bening mengalir deras, menyapa kedua telapak tangannya dengan dingin yang mengejutkan. Perlahan, ia berkumur, membersihkan rongga hidungnya, lalu meraup air segar itu ke wajahnya.

Air menetes dari ujung dagu dan bulu matanya, jatuh beriak di permukaan cekungan wastafel. Ghufran tidak langsung mengeringkannya. Ia mengangkat wajah, menatap lurus ke arah cermin berbingkai kayu jati kusam yang tergantung di dinding di hadapannya. Pantulan dirinya di cermin tampak begitu nyata, namun di balik tatapan matanya yang pekat dan dalam, ada samudra kegelisahan yang tengah bergemuruh hebat.

Hari ini. Pagi ini. Kurang dari empat puluh menit lagi, kehidupannya tidak akan pernah sama lagi.

Bagi kebanyakan pemuda di lingkar pergaulan modern ibu kota—bahkan bagi mereka yang berasal dari trah keluarga terpandang—pernikahan kerap dimaknai sebagai panggung glorifikasi. Hari di mana jas rancangan desainer ternama berpadu dengan ribuan tangkai mawar impor di ballroom hotel berbintang lima, diiringi denting gelas kristal dan kilatan lampu sorot fotografer yang merekam senyum-senyum artifisial. Pernikahan telah direduksi menjadi pesta komsumtif untuk memamerkan status sosial, memuaskan dahaga prestise, dan menuntut decak kagum dari tatapan mata manusia yang fana.

Namun tidak bagi Ghufran. Baginya, langkah kaki yang akan ia ayunkan menuju ruang utama masjid sebentar lagi bukanlah perjalanan menuju panggung pertunjukan. Itu adalah perjalanan menuju mihrab pertanggungjawaban di hadapan Penguasa Semesta Alam.

Pikirannya melayang pada sepotong frasa agung yang sejak semalam tak henti-hentinya mendengung di sanubarinya: Mitsaqan Ghalidha. Perjanjian yang amat kokoh lagi berat.

Ghufran menarik nafas dalam-dalam, merasakan dinginnya udara pagi mengisi rongga dadanya. Di dalam kitab suci Al-Qur'anul Karim, kata 'mitsaqan ghalidha' hanya disematkan pada tiga peristiwa yang mahadahsyat. Pertama, ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala mengambil sumpah setia dari para nabi pilihan, Ulul Azmi—Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam—untuk menegakkan risalah tauhid di muka bumi. Kedua, ketika Allah mengangkat Bukit Thursina di atas kepala Bani Israil sebagai saksi atas perjanjian kepatuhan yang menggetarkan. Dan yang ketiga... tidak ada yang lain selain ikatan suci pernikahan antara seorang lelaki dan seorang perempuan.

Betapa menggetarkannya hakikat itu! Allah menyejajarkan sumpah seorang suami dalam akad nikah dengan bobot perjanjian para rasul agung-Nya. Bukan sekadar kalimat pemindah wali, bukan formalitas administrasi catatan sipil, melainkan penyerahan amanah sebuah jiwa dari tangan seorang ayah kepada seorang lelaki asing yang bersumpah atas nama Allah.

"Mampukah aku?" bisik Ghufran sangat lirih. Suaranya serak, bergetar di antara pantulan ubin keramik yang sepi.

Ia menatap kedua telapak tangannya yang basah. Tangan inilah yang sebentar lagi akan menjabat erat tangan Ayah Afra. Tangan inilah yang akan menandatangani akad perjanjian paling agung dalam garis hidupnya. Dan di pundak inilah, seluruh hisab perbuatan seorang wanita yang bernama Afra Maryam Az-Zahra akan berpindah.

Jika selama dua puluh empat tahun ini ayah Afra yang menanggung dosa anak perempuannya apabila auratnya terbuka, apabila shalatnya lalai, apabila langkah kakinya melenceng dari syariat—maka mulai hari ini, saat kata 'Qabiltu' terlontar dari lisannya, pintu surga dan neraka wanita itu berada dalam genggaman pertanggungjawaban Ghufran. Jika ia lalai membimbingnya, jika ia hanya mampu memberinya makan duniawi namun membiarkan jiwanya terbakar api neraka, maka Ghufran-lah yang pertama kali akan diseret oleh malaikat di Padang Mahsyar kelak.

Getaran itu merayap dari telapak tangannya hingga ke relung hatinya yang paling dasar. Ada rasa gentar yang begitu suci. Bukan rasa takut mundur, melainkan kesadaran penuh akan hinanya diri seorang hamba yang hendak mengemban tugas langit.

Ghufran kembali membasuh kedua tangannya hingga siku, menyapu ubun-ubun kepalanya dengan telapak basah, mengusap kedua telinganya, lalu menunduk membasuh kedua kakinya hingga mata kaki dengan sangat teliti. Ia memastikan air wudhu itu merata ke sela-sela jemari kakinya, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Setiap basuhan ia sertai doa dan penghambaan, memohon agar Allah membersihkan lahir dan batinnya dari segala riya, kesombongan, dan niat yang menyimpang.

Selesai menyempurnakan wudhu, Ghufran berdiri menghadap kiblat di sudut ruang wudhu, menengadahkan tangannya yang basah ke langit-langit, dan melantunkan doa purnawudhu:

"Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Allahummaj'alni minat tawwabin, waj'alni minal mutathahhirin, waj'alni min 'ibadikas shalihin."

Ghufran mengusapkan tangannya ke wajah. Ia mengambil kain handuk kecil putih yang bersih dari sakunya, menepuk-nepuk lembut sisa air di wajahnya tanpa menghilangkan sepenuhnya kesejukan wudhu itu. Ia merapikan pakaian yang dikenakannya pagi ini.

Tidak ada jas wol mewah pesanan butik luar negeri. Tidak ada kain sutra berharga puluhan juta. Ghufran mengenakan setelan baju kurung koko putih bersih berbahan katun pintal alami yang halus dan jatuh dengan anggun di tubuhnya. Kerahnya tegak bersahaja tanpa hiasan bordir gemerlap. Celana kain berwarna gelap potongan rapi menggantung pas tepat di atas mata kakinya. Di kepalanya tersemat peci hitam beludru yang tegak dan bersih, warisan doa dari mendiang kakeknya.

Satu-satunya aroma yang tercium dari tubuhnya adalah wangi minyak gaharu kasturi asli yang ia oleskan setitik di pergelangan tangannya—aroma yang hangat, tenang, dan mengingatkan jiwa pada keabadian ziarah Nabawi.

Ghufran menarik nafas panjang, memejamkan mata sejenak, lalu meletakkan tangan kanannya di dada kirinya yang berdegup kencang.

"La hawla wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim," bisiknya mantap.

Dengan langkah yang mantap dan hati yang berserah seutuhnya, Ghufran memutar kenop pintu kayu ruang wudhu. Cahaya fajar yang telah berubah keemasan menyambutnya di lorong beranda, menuntun langkahnya menuju ruang utama Masjid Baabussalam.

"Betapa menggetarkannya hakikat itu! Allah menyejajarkan sumpah seorang suami dalam akad nikah dengan bobot perjanjian para rasul agung Ulul Azmi.

Perenungan Batin Ghufran AlGhifari. Menyadari beban mitsaqan ghalidha sebelum melangkah ke hadapan wali nikah.

------------------------------------


--- Adegan 2: Ruang Utama Masjid Baabussalam ---

Detik-Detik Ijab Qabul yang Menggetarkan Arasy. Pukul 08.15 - 08.45 WIB • Di Bawah Kubah Utama Masjid Baabussalam

---o0o---

Ruang utama Masjid Baabussalam diselimuti keheningan yang agung. Tidak ada dekorasi pelaminan megah yang menghabiskan ratusan juta rupiah, tidak ada panggung berundak dengan bunga-bunga artificial yang menjemukan, dan tidak ada musik hingar-bingar yang merampas kekhusyukan ibadah. Keindahan ruangan itu lahir dari arsitektur masjid itu sendiri: pilar-pilar batu marmer putih yang kokoh menjulang, kubah bundar berlukiskan kaligrafi kufi Surah Ar-Rum ayat 21 berwarna emas di atas dasar biru kobalt, serta hamparan karpet hijau zamrud tebal yang memancarkan aroma wangi kayu gaharu dan karpet yang bersih.

Cahaya matahari pagi pukul delapan lewat lima belas menit menerobos masuk melalui jendela-jendela busur berkisi kayu jati berukir geometris Islam. Berkas-berkas sinar keemasan itu membelah udara pagi, menari-nari di atas debu mikroskopis yang melayang tenang, menciptakan pilar-pilar cahaya alami yang jatuh tepat di tengah ruangan masjid.

Di sana, di atas karpet hijau di hadapan mihrab, sebuah meja kayu jati rendah berpelitur cokelat tua beralaskan kain putih bersih telah disiapkan. Di sekeliling meja tersebut, duduk melingkar beberapa orang dengan keteduhan wajah yang terpancar dari sujud-sujud panjang mereka.

Di sisi utara meja, duduk Ayahanda Afra, Bapak H. Usman Maryam. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja putih dan jas sederhana dengan peci haji di kepalanya. Kerutan di wajahnya menceritakan puluhan tahun jerih payah mendidik dan membesarkan putri sulungnya dalam keteguhan aqidah dan adab. Di mata Pak Usman, hari ini adalah ujian paling berat sekaligus paling membanggakan dalam hidup seorang ayah: melepaskan mutiara yang selama dua puluh empat tahun ia jaga dalam dekapan kasih sayangnya kepada seorang lelaki lain.

Di sebelah Pak Usman, duduk penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) setempat, seorang ustadz berwajah ramah dengan kacamata berbingkai tipis dan map berkas nikah hijau di hadapannya. Di sisi kanan dan kiri, duduk dua orang saksi nikah: dua orang sesepuh masyarakat yang dikenal lurus akhlaknya, tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah, dan adil dalam kesaksiannya.

Ghufran melangkah masuk dengan tenang. Setiap gesekan langkah kakinya di atas karpet masjid terasa begitu berbobot. Ia menundukkan pandangannya dengan tawadhu, menyapa para tamu dengan salam lembut, lalu mengambil tempat duduk bersila tepat di seberang Pak Usman.

Beberapa meter di belakang Ghufran, terhalang oleh partisi kayu ukir (hijab) yang terhormat, duduk pihak keluarga perempuan. Di balik partisi berongga lembut itu, Afra Maryam Az-Zahra duduk bersimpuh didampingi ibundanya. Afra mengenakan gamis kurung berwarna putih gading dari bahan serat sutra madinah yang tidak menerawang, longgar dan anggun, dipadukan dengan khimar panjang senada yang menutup dadanya dengan sempurna tanpa payet berkilau. Wajahnya dibiarkan natural tanpa riasan tebal; hanya ada air wudhu yang membasahi kulitnya dan rona merah muda alami di kedua pipinya akibat debaran jantung yang tak berkesudahan.

Jemari Afra saling meremas lembut di atas pangkuannya. Di balik cadar tipis dan selendangnya, bibirnya tak henti melafalkan istighfar dan shalawat. Ia mendengar langkah kaki Ghufran yang baru saja duduk. Pria yang selama masa ta'aruf hanya ia pandang sekilas dalam koridor syar'i berbatas mahram, pria yang tidak pernah mengajaknya mengobrol sia-sia, pria yang menjaga kehormatannya bahkan sebelum mereka saling memiliki—kini berada beberapa depa di depannya, bersiap mengikat janji suci di hadapan Allah.

Acara dibuka oleh Ustadz Manshur, ustadz sepuh yang diminta memberikan khutbah nikah. Beliau berdeham pelan, lalu memulai khutbahnya dengan suara bariton yang lembut namun menggetarkan dinding-dinding kalbu setiap orang yang hadir.

"Innal hamda lillahi nahmaduhu wa nasta'iinuhu wa nastaghfiruh... Saudaraku Ghufran Al-Ghifari, dan ananda Afra Nailah Almaira... Ketahuilah bahwa kalian berkumpul di rumah Allah ini bukan untuk merayakan sebuah pencapaian duniawi, bukan pula untuk memuaskan hasrat mata manusia yang gemar menilai dari kulit terluar kemegahan. Akad yang akan kalian ikrarkan sebentar lagi adalah 'Mitsaqan Ghalidha'—sebuah sumpah yang membuat Arasy Allah berguncang karena keagungan nilainya."

Lihat selengkapnya