Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

MENGETUK PINTU RUMAH

Ketika Realita Mengetuk Pintu Rumah

(وَاقِعُ البَيْتِ)

Tema: Penyesuaian Awal, Benturan Kebiasaan Kecil, dan Menundukkan Ego.

--------------------------------------

Sinopsis Alur Kejadian:

Masa bulan madu yang manis segera berganti realita kehidupan di rumah kontrakan dua kamar. Dua pribadi dengan latar belakang yang amat berbeda mulai berbenturan dalam rutinitas harian: kebiasaan Afra yang terbiasa dengan standar keteraturan keluarga berada, cara berpakaian, kebiasaan belanja, hingga ritme kerja Ghufran yang tak menentu. Mereka menyadari bahwa kesalehan sebelum menikah tidak otomatis meniadakan gesekan watak.

--------------------------------------


Gemerlap pesta walimah dan manisnya bulan madu perlahan surut, digantikan oleh aroma semen basah dan dentang jam dinding kontrakan yang tak lagi mengenal jeda.

Ada masa di mana aroma bunga melati yang disematkan di sanggul pengantin masih tercium samar, namun wangi itu kini terdesak oleh uap minyak jelantah dan aroma apek sudut tembok kontrakan yang belum sempat dicat ulang. Tiga pekan telah berlalu sejak ijab kabul diucapkan dengan lantang di bawah kubah masjid agung yang megah. Tiga pekan yang singkat itu mulanya terasa laksana mimpi di atas permadani sutra: saling melempar senyum malu-malu di sepertiga malam, bisikan doa yang lembut di ujung sujud, dan tatapan penuh takzim antara dua manusia yang merasa telah menemukan belahan jiwa paling sempurna di muka bumi.

Namun, waktu di dunia fana tidak pernah membeku dalam bingkai foto pernikahan berukir keemasan. Gerbang bulan madu yang manis itu perlahan menutup, bukan dengan dentuman keras yang mengagetkan, melainkan dengan derit engsel berkarat yang menandai tibanya kenyataan. Realita hidup tidak mengetuk pintu dengan ketukan sopan seorang tamu asing; ia mendobrak masuk lewat tagihan listrik prabayar yang mendadak berbunyi nyaring di tengah malam, lewat cucian seragam yang belum kering terhembus mendung, dan lewat ruang sempit berukuran enam kali delapan meter yang kini menampung dua kepala dengan isi semesta yang teramat berbeda.

Afra Nabila berdiri mematung di ambang pintu kamar tidur yang sempit. Jarum jam dinding plastik berwarna biru pudar di ruang tengah baru saja menunjuk pukul 05.15 pagi. Udara subuh masih menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang, tetapi di balik kerudung instannya, pelipis perempuan berusia dua puluh lima tahun itu sudah dibasahi bulir-bulir keringat dingin.

Inilah rumah mereka. Sebuah paviliun kontrakan petak dua kamar di ujung gang buntu, di mana suara deru knalpot motor tetangga dan tangisan bayi di seberang dinding tripleks menjadi melodi pembuka fajar. Bagi Ghufran AlGhifari, kontrakan ini adalah kemewahan yang patut disyukuri dengan sujud panjang; sebuah istana yang berhasil disewanya dengan jerih payah tabungan dakwah dan usaha percetakan kecilnya. Namun bagi Afra, yang selama seperempat abad hidupnya terbiasa melangkahkan kaki di atas marmer dingin kediaman orang tuanya di bilangan pemukiman teduh Jakarta Selatan, kontrakan ini adalah arena pertarungan batin yang tidak pernah diajarkan di bangku fakultas kedokteran maupun forum-forum kajian pra-nikah.

Keduanya sama-sama mencintai Allah. Keduanya sama-sama menghafal ayat-ayat tentang hak dan kewajiban suami istri. Namun pagi itu, di hadapan kompor gas satu tungku yang apinya kerap berdesis merah tak beraturan, kesalehan teori itu mendadak laksana sehelai daun kering yang tersapu angin prahara.

-------------------------------------


--- Bagian 1: Dapur Kontrakan ---

Aroma Hangus di Pagi yang Mengoyak Waktu. Dapur petak berukuran 1,5 x 2 meter, lantai semen berlapis karpet vinil | Waktu: Pukul 05.30 - 06.15 Pagil

---o0o---

Afra kerepotan menyiapkan sarapan sebelum dinas shift pagi rumah sakit. Minyak memercik, nasi liwet di wajan seng gosong pekat, dan air ceret tumpah menggenangi lantai.

"Masakan ini enak karena dibuat oleh tangan yang sedang belajar mencintaiku karena Allah. Terima kasih telah berlelah-lelah untuk rumah kita, Dinda." — Ghufran AlGhifari

Bunyi desis minyak panas terdengar seperti letupan peluru kecil di dapur sempit yang hanya berjarak tiga jengkal dari pintu kamar mandi. Afra memegang spatula kayu dengan cengkeraman kaku, seolah-olah benda itu adalah pisau bedah yang sedang mengancam keselamatan pasien di meja operasi. Matanya perih oleh asap tebal yang tidak segera keluar karena kontrakan itu hanya memiliki satu ventilasi kecil berterali besi yang terhalang jemuran tetangga.

"Astaghfirullahal 'adzim... ya Allah, kenapa lengket begini?" gumamnya tertahan, menelan ludah yang terasa getir di pangkal tenggorokan.

Di dalam wajan aluminium tipis hadiah tetangga gang, dua butir telur ceplok dan potongan tempe yang semestinya menjadi lauk sarapan bergizi kini telah bertransformasi menjadi gumpalan hitam arang yang mengerikan. Pinggiran tempe itu mengerut kaku, melekat erat pada dasar wajan yang kekurangan minyak. Niat hati ingin berhemat dan mengurangi kolesterol—seperti prinsip higienitas kedokteran yang selalu ia pegang teguh—ternyata berujung bencana kuliner. Di sebelahnya, periuk penanak nasi manual mendidih terlalu cepat, memuntahkan busa kanji putih ke atas tungku kompor hingga mematikan separuh nyala api dengan suara mendesis tajam.

Afra panik. Tangan kanannya buru-buru menyambar lap kain yang tergantung di dinding paku, tetapi lap itu justru menyenggol ceret seng berisi air teh manis hangat yang baru saja diseduh. Dalam satu detik yang fatal, air teh berwarna cokelat kemerahan itu tumpah ruah, mengalir deras dari meja dapur kayu lapuk, merembes ke celah karpet vinil, dan membasahi ujung kaos kaki putih bersih yang sudah ia kenakan di dalam flat shoes kerjanya.

"Astagfirullah!" jerit Afra pelan, setengah tercekik oleh rasa malu dan amarah yang mendidih bersamaan.

Pukul 06.00 pagi. Tepat empat puluh lima menit lagi ia harus sudah melakukan absensi sidik jari di bangsal rawat inap bedah Rumah Sakit Umum Daerah. Di rumah sakit itu, ia adalah dokter muda yang disegani para koas junior; tangannya cekatan memasang infus pada vena yang kolaps, suaranya tenang menjelaskan diagnosis rumit kepada keluarga pasien yang histeris. Namun di sini, di bilik dapur kontrakan berukuran satu setengah kali dua meter ini, ia merasa menjadi makhluk paling dungu dan tidak berdaya.

Air matanya jatuh tanpa permisi. Mula-mula hanya setitik hangat yang membasahi pipi, lalu disusul isakan tertahan yang membuat pundaknya berguncang. Di rumah orang tuanya di Tebet, jam segini meja makan marmer sudah tersaji omelet jamur dengan keju mozarella leleh, roti gandum hangat, dan jus jeruk segar yang disiapkan oleh Mbak Sri, asisten rumah tangga yang telah mengabdi puluhan tahun. Afra hanya tinggal duduk manis, mengenakan blazer rapi yang telah disetrika licin beraroma lavender, lalu meminum kopinya sebelum diantar supir pribadi. Kini? Baunya adalah bau asap arang, jelantah hangus, dan minyak tanah yang mengendap di serat bajunya.

"Afra? Ada apa, Sayang? Bau apa ini yang gosong?"

Langkah kaki bergegas terdengar dari arah ruang depan. Ghufran muncul di ambang dapur. Pria itu baru saja selesai merapikan tumpukan berkas proposal kemanusiaan dan mengenakan kemeja katun abu-abu yang tampak sedikit kusut di bagian kerah—karena semalam listrik padam dan setrika tidak bisa digunakan.

Melihat kondisi dapur, Ghufran tertegun di tempatnya. Pandangannya menyapu genangan air teh manis di lantai vinil, ceret yang terguling, kepulan asap hitam pekat dari atas kompor, dan istrinya yang berdiri bersandar pada dinding semen sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangan yang belepotan noda jelantah.


"Jangan dilihat, Mas! Tolong jangan dilihat!" suara Afra pecah, getir dan sarat oleh rasa harga diri yang runtuh berkeping-keping. "Aku tidak bisa... aku memang tidak becus mengurus rumah! Menggoreng telur saja hangus, menanak nasi saja mentah di atas tapi gosong di bawah! Aku mau berangkat dinas saja, Mas beli sarapan sendiri di luar!"

Ego seorang perempuan terdidik dan bangsawan keluarga merasa ditelanjangi oleh kegagalan domestik yang sepele. Afra membungkuk dengan panik, mencoba mengelap genangan air teh dengan tisu makan murahan yang langsung hancur menjadi bubur kertas basah, memperparah pemandangan yang sudah kacau balau.

Ghufran tidak berkata-kata sejenak. Alih-alih melontarkan komentar mencela atau mengeluhkan bau sangit yang menyesakkan dada, ia segera melangkah mendekati kompor dan memutar kenop api hingga padam. Kemudian, ia berlutut di atas lantai vinil yang basah, tanpa memedulikan ujung celana bahan abu-abunya terkena tumpahan teh manis.

Tangan kokoh Ghufran yang terbiasa memegang cangkul di desa binaan dan menggotong kardus sembako itu terulur lembut, menyentuh pergelangan tangan Afra yang gemetar.

"Dinda... sudahlah. Berhenti dulu," bisik Ghufran dengan nada suara yang begitu rendah, tenang, dan tidak membawa sedikit pun getaran kemarahan.

"Bajumu basah, Mas! Nanti kamu terlambat ke kantor yayasan!" tangis Afra makin kencang, enggan menatap mata suaminya karena diliputi rasa bersalah yang amat dalam. "Aku ingin jadi istri shalihah seperti ibumu, seperti ummahatul mukminin... tapi aku bahkan tidak bisa menyiapkan sebutir telur pun untuk sarapan suamiku!"

Ghufran menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. Ia mengambil spatula dari tangan Afra dan meletakkannya di atas tatakan. Dengan ujung jempolnya yang sedikit kasar, ia mengusap lelehan air mata di pipi istrinya yang sehalus pualam.

"Siapa yang menuntutmu menjadi ibuku dalam tiga pekan, Afra?" tanya Ghufran lembut. "Siapa pula yang menyuruhmu membandingkan dirimu dengan ibunda Khadijah dan 'Aisyah dalam urusan dapur kontrakan ini? Rumah tangga ini bukan lomba cerdas cermat, bukan pula ujian stase bedahmu."

Ghufran bangkit berdiri, lalu mengambil piring seng kecil. Menggunakan sendok, ia mencungkil bagian telur dan tempe yang masih berwarna kuning kecokelatan di tepi wajan, menyisihkan arang hitam di tengahnya. Di hadapan mata Afra yang terbelalak tak percaya, Ghufran menyuapkan sesendok nasi yang agak keras itu bersama secuil telur goreng ke dalam mulutnya sendiri.

Ia mengunyahnya pelan-pelan. Suara kriuk renyah yang agak pahit terdengar di keheningan dapur.

"Mas... jangan dimakan! Itu pahit dan karsinogenik!" sergah Afra dengan naluri medisnya yang spontan.

Ghufran menelan makanan itu, lalu meneguk sisa air putih dari gelas di rak gantung. Wajahnya berseri-seri, senyuman tulus mengembang dari kedua sudut bibirnya yang teduh.

"Masakan ini enak karena dibuat oleh tangan yang sedang belajar mencintaiku karena Allah," kata Ghufran, matanya menatap lekat ke dalam manik mata Afra yang basah. "Terima kasih telah berlelah-lelah untuk rumah kita, Dinda. Sekarang, ambil wudhu, ganti kaos kakimu yang basah. Mas pesankan ojek daring agar kamu tidak terlambat sampai rumah sakit. Soal dapur ini, biar Mas yang bersihkan sebelum Mas berangkat."

Afra terpaku. Kalimat itu laksana air zam-zam yang diguyurkan ke atas dadanya yang terbakar kecemasan. Tidak ada caci maki. Tidak ada sindiran tentang statusnya sebagai anak orang kaya yang manja. Yang ada hanyalah penghormatan yang begitu luhur terhadap ikhtiarnya yang compang-camping.

Namun, rasa lega di pagi itu rupanya hanyalah jeda singkat dari ujian kedewasaan yang sesungguhnya. Realita belum selesai mengetuk pintu rumah mereka; ia baru saja menguji engsel paling luar.

Lihat selengkapnya