Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

UJIAN KEHORMATAN DIRI

Ujian Periuk Nasi dan Kehormatan Diri

ضِيقُ العَيْشِ وَالقَنَاعَةُ

Tema: Krisis Ekonomi, Usaha Gulung Tikar, dan Belajar Qana'ah

--------------------------------------

Sinopsis Alur Kejadian:

Badai besar kehidupan ekonomi menghantam. Gudang penerbit buku rekanan Ghufran Al-Ghifari terbakar hebat, melenyapkan modal dan piutang yang menjadi gantungan hidup mereka. Di saat bersamaan, kontrakan rumah jatuh tempo. Ghufran merasakan kehancuran harga diri sebagai kepala keluarga saat dompetnya hanya menyisakan beberapa lembar uang ribuan. Tawaran bantuan uang cuma-cuma dari mertua diuji oleh integritas Ghufran Al-Ghifari.

--------------------------------------


--- Bagian I: Puing di Ujung Fajar ----

Pukul 05.45 WIB · Gudang Percetakan Cahaya Aksara, Pinggiran Kota.

---o0o---

Kabut tipis pagi itu tidak turun membawa kesegaran embun, melainkan menebarkan bau jelaga yang menyengat tenggorokan. Udara dingin bercampur asap pekat yang masih mengepul malas dari tumpukan seng yang ambruk melengkung. Di hadapan gerbang besi yang telah terkelupas menghitam, Ghufran berdiri mematung. Sepasang matanya menatap hampa ke tengah reruntuhan gudang buku rekanannya yang telah luluh lantak menjadi kuburan abu hitam.

Tiga mobil pemadam kebakaran terparkir lesu di tepi jalan berkerikil. Para petugas berseragam basah kuyup sedang menggulung selang air tebal yang berlumur lumpur arang. Suara gemercik sisa air pendinginan jatuh menimpa seng beradu dengan isak tangis tertahan Pak Darman, pemilik percetakan sekaligus sahabat karibnya, yang bersimpuh di atas tanah berdebu sembari meremas tanah dengan kedua tangannya yang gemetar.

Dua hari yang lalu, tiga ribu eksemplar buku terjemahan kitab adab, ensiklopedia akhlak keluarga, serta naskah kumpulan risalah fiqih muamalah baru saja selesai dijilid rapi. Setiap jilid sampul keras itu telah dibungkus plastik bening, siap dikirimkan ke puluhan toko buku di Jawa dan Sumatra. Untuk membiayai penerbitan besar itu, Ghufran telah mengerahkan seluruh simpanan tabungannya selama empat tahun, menjual cincin warisan mendiang ibunya, dan menanggung utang modal bahan kertas kepada tengkulak dengan janji pelunasan akhir bulan.

Kini, semua ikhtiar bertahun-tahun itu telah bermetamorfosis menjadi tumpukan debu kelabu yang diterbangkan angin subuh. Lembaran-lembaran kertas yang sebagian pinggirannya hangus kemerahan melayang di udara, seperti burung-burung patah sayap yang tak tahu hendak hinggap di mana. Ghufran melangkah pelan mendekati salah satu sudut gudang. Kakinya yang bersepatu kain usang menginjak genangan air pekat berjelaga. Ia membungkuk, meraih sobekan halaman buku yang belum sepenuhnya termakan api.

Tinta cetak pada serpihan kertas itu masih menyisakan sebaris potongan ayat Al-Baqarah yang dapat terbaca: '...Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan...' Tangan Ghufran bergetar hebat. Kertas rapuh itu hancur menjadi serbuk hitam di sela jari-jemarinya begitu ditiup angin. Kerongkongannya tercekat bagai disumbat segumpal duri beracun. Tak ada air mata yang menetes, sebab rasa kebas yang teramat dalam telah membekukan kelenjar dukanya.

"Habis, Ghufran... Habis semua..." rintih Pak Darman dengan suara serak parau, menatap Ghufran dengan pandangan bersalah yang menyayat hati. "Korsleting listrik di ruang mesin dini hari tadi. Penjaga malam sempat lari meminta tolong warga, tapi api merambat dalam hitungan menit lewat tumpukan kardus. Aku tidak tahu bagaimana harus mengganti modalmu... Aku sendiri sudah kehilangan seluruh bengkel kerjaku..."

Ghufran menarik napas panjang, memasukkan udara berbau sangit ke dalam rongga dadanya yang terasa dihimpit batu cadas seberat gunung. Sebagai sesama muslim, ia tahu Pak Darman tidak sengaja membakar nafkah mereka. Ia tidak mungkin menuntut ganti rugi kepada lelaki tua yang rumah petaknya pun ikut terancam disita bank. Namun kenyataan pahit itu tidak lantas meringankan beban yang kini bertumpu di pundaknya.

Kerugian itu bernilai ratusan juta rupiah—sebuah angka raksasa bagi pedagang buku kecil sepertinya. Namun yang jauh lebih mengerikan dari sekadar angka di atas kertas pembukuan adalah kenyataan harian yang langsung menganga di hadapannya: rekening tabungannya kosong melompong, piutang pembayaran toko buku batal cair karena barang tak kunjung sampai, dan di saku celananya saat ini, hanya tertinggal beberapa lembar uang kertas yang bahkan tak cukup untuk membeli bensin seminggu.

Bagaimana ia akan pulang menemui istrinya? Bagaimana ia akan menatap mata Afra Nailah, perempuan salihah yang baru dinikahinya delapan bulan silam, yang ia jemput dari rumah orang tuanya dengan janji sakral untuk menafkahi secara terhormat dan mencukupkan keperluannya dengan rezeki yang halal? Pikiran itu menghujam jantungnya lebih menyakitkan daripada pemandangan puing-puing abu yang kini terbengkalai di depan matanya.

-------------------------------------


--- Bagian II: Neraca yang Terkoyak & Ujian Muru'ah ---

Pukul 11.30 WIB · Teras Rumah Kontrakan & Panggilan Telepon Mertua.

---o0o---

Matahari siang mulai memanggang atap seng rumah sewa berukuran empat kali enam meter di ujung gang sempit. Langkah kaki Ghufran terasa seperti menyeret balok timah ketika sampai di depan pintu kayu bercat hijau kusam yang sudah mengelupas. Langkahnya mendadak terhenti tepat di undakan semen teras.

Di bawah celah pintu kayu, terselip selembar amplop putih persegi panjang yang tak berperekat. Ghufran membungkuk mengambilnya. Di atas kertas bergaris di dalamnya, tertera tulisan tangan bertinta biru dengan goresan tegas milik Pak Warsito, pemilik kontrakan: 'Assalamu'alaikum Mas Ghufran. Mengingatkan sewa kontrakan jatuh tempo tanggal 30 lusa. Mengingat sudah lewat batas toleransi bulan lalu, mohon segera dilunasi Rp 1.200.000,- untuk perpanjangan tiga bulan ke depan. Jika belum ada, mohon maaf rumah akan dikosongkan untuk penyewa baru.'

Ghufran meremas amplop itu perlahan. Sejuta dua ratus ribu rupiah. Pada bulan-bulan yang lalu, nominal itu adalah perkara mudah yang disisihkannya dari laba penjualan grosir buku mingguan. Namun hari ini, uang sejumlah itu terasa laksana emas permata di dasar palung samudra yang mustahil disentuh jemari tangannya.

Tepat pada saat getar keputusasaan mulai menjalar di urat lehernya, ponsel tua di saku bajunya bergetar kencang. Layar monokrom yang retak halus itu menampilkan nama penelepon: 'Ibu Mertua'. Jantung Ghufran berdegup tak beraturan. Ia menelan ludah yang terasa pahit sebelum menekan tombol hijau dengan jemari yang dingin.

"Assalamu'alaikum, Ibu..." ucap Ghufran, berusaha sekuat tenaga menata suaranya agar tetap terdengar datar dan teduh.

"Wa'alaikumsalam, Ghufran. Kamu di mana?" Suara di seberang sana terdengar terburu-buru dengan nada cemas yang kental. "Pamanmu dari pasar baru saja menelepon Bapak. Katanya gudang buku rekananmu terbakar subuh tadi? Benar begitu, Ghufran? Apa semua buku-bukumu ada di sana?"

Kejujuran adalah benteng terakhir yang dipegang Ghufran. Ia tak dapat berdusta. "Benar, Ibu. Qadarullah wama sya'a fa'al. Terjadi musibah kebakaran dini hari tadi. Seluruh stok cetakan buku hangus terbakar."

Terdengar helaan napas panjang dan berat dari seberang telepon. Selama beberapa detik, hening menggantung. Kemudian, suara ibu mertuanya melunak, berubah menjadi intonasi iba yang justru terasa menusuk ulu hati Ghufran laksana sembilu.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... Sudah Ibu duga, usaha perbukuan zaman sekarang terlalu rentan, Ghufran. Dulu waktu kamu melamar Afra, Bapakmu sudah menawarkan modal untuk membuka toko kelontong atau ikut bisnis grosir tekstil keluarga di Tanah Abang. Tapi kamu bersikeras dengan idealisme bukumu itu... Sekarang kalau sudah begini, bagaimana nasib anak gadisku? Bagaimana kalian mau makan?"

Ghufran terdiam kaku. Tiap patah kata itu bukan makian kasar, namun justru karena diucapkan dengan nada kekhawatiran seorang ibu kandung kepada putrinya, kata-kata itu meremukkan harga dirinya sebagai seorang suami. Kejantanan dan muru'ah seorang lelaki runtuh berkeping-keping saat ia dinilai tak sanggup menjamin keselamatan periuk nasi keluarganya.

"Dengarkan Ibu, Ghufran," lanjut suara itu dengan desakan yang tak terbantahkan. "Bapakmu punya simpanan tiga puluh juta di rekening. Sebentar lagi Bapak akan ke bank untuk mentransfernya ke rekeningmu. Jangan kamu tolak! Ini bukan pinjaman, anggap saja hibah cuma-cuma demi Afra. Bayarkan kontrakanmu, tutupi kebutuhan kalian beberapa bulan ke depan, dan jangan biarkan anakku kelaparan. Nanti kita bicarakan pekerjaan baru yang layak untukmu di kantor pamanmu."

Tiga puluh juta rupiah. Tawaran itu melayang di telinganya laksana oase di tengah padang pasir Sahara yang tandus. Dalam sekejap mata, seluruh persoalan duniawinya bisa tuntas: sewa kontrakan Pak Warsito terbayar, isi dapur terpenuhi melimpah, dan ia tak perlu lagi menatap recehan logam dengan rasa cemas. Namun jiwa Ghufran memberontak.

Menerima uang cuma-cuma puluhan juta dari mertua atas dasar belas kasihan dan keraguan pada kesanggupannya memberi nafkah adalah lonceng kematian bagi integritas batinnya. Jika hari ini ia menyerahkan tanggung jawab nafkahnya kepada ayah mertua dengan cara cuma-cuma, maka hak kepemimpinan (qawwamah) di dalam rumah tangganya akan terlucuti selamanya. Rasa ketergantungan akan meracuni martabatnya di hadapan sang istri.

Lihat selengkapnya