Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

KETIKA TUBUH LEMAH

Ketika Tubuh Lemah Diuji Sakit

صَبْرٌ عَلَى المَرَضِ

Tema: Ujian Fisik, Penyakit Menahun, dan Pengorbanan Tanpa Pamrih

-------------------------------------

Sinopsis Alur Kejadian:

Cobaan belum usai. Akibat kelelahan fisik dan beban psikologis yang berat, Afra mengalami keguguran kandungan pertamanya yang disusul komplikasi infeksi rahim parah yang mengharuskannya dirawat berbulan-bulan. Kesedihan kehilangan calon buah hati membuat Afra terpuruk dalam depresi emosional. Ghufran kini merangkap peran: mencari nafkah serabutan, merawat ibunya yang sepuh, dan tidur di lantai dingin rumah sakit menunggu istrinya.

--------------------------------------


--- Aroma Karbol dan Gerimis yang Membeku ---

Ketika Pukulan Hidup Datang Bertubi-tubi | Lorong Gedung Rawat Inap RSUD Kota · Pukul 01.15 Dini Hari

---o0o---

Malam di rumah sakit selalu memiliki bahasanya sendiri: desis roda brankar yang melindas lantai semen berabu, dengung pendingin udara tua yang berkarat di sudut langit-langit, dan aroma tajam karbol yang bercampur anyir obat luka. Tidak ada yang datang ke tempat ini untuk merayakan kemewahan dunia; setiap orang yang terdampar di bawah pendar redup lampu neon putih ini sedang belajar mengeja makna kerapuhan insani.

Bagi Ghufran AlGhifari, dinding-dinding kusam bercat krem kehijauan itu kini telah menjadi saksi bisu tapak-tapak kakinya yang lelah. Sudah hampir empat puluh hari ia tak lagi mengenali bagaimana rasanya tidur pulas di atas kasur kapuk rumahnya. Hidupnya terpangkas menjadi garis edar yang menyiksa: pagi memanggul karung beras dan peti sayur di pasar induk demi beberapa lembar uang kertas lecek, sore mencuci kain ompol dan menyuapkan bubur encer ke mulut ibunya yang renta lumpuh di rumah kontrakan sempit, lalu malam hingga fajar tiba, ia akan meringkuk di atas tikar pandan robek beralas lantai semen rumah sakit, tepat di kolong ranjang Afra.

Orang-orang sering berkata bahwa cinta diuji ketika dompet menipis atau ketika keriput mulai merayapi pipi. Namun bagi Ghufran, ujian cinta sesungguhnya baru saja dimulai ketika tubuh seorang istri yang paling ia agungkan lunglai tak berdaya, digerogoti demam yang menolak reda, dan dilumat rasa bersalah yang mengoyak jiwa hingga ke serpihan terdalam.

Semua bermula pada malam jahanam tiga pekan lalu, saat langit menumpahkan badai terburuk sepanjang tahun. Di kontrakan sempit beratap seng yang bocor di tiga sudut, jeritan tertahan Afra membelah kesunyian tengah malam. Kain sarung merah muda yang dikenakan istrinya mendadak berubah warna menjadi tembaga pekat. Darah segar mengalir deras tak terbendung dari sela-sela kedua kakinya, menghanguskan impian suci yang baru berusia empat belas pekan di dalam rahim mungil itu.

-----------------------------------


--- Bagian 1: Pintu Merah yang Menelan Harapan ---

Kabar Duka di Ruang Tindakan Darurat Kebidanan | Ruang Operasi Kebidanan IGD · Pukul 02.40 Dini Hari

---o0o---

Pintu besi ganda ruang operasi kebidanan itu berdebam menutup dengan dentang logam yang dingin. Lampu merah bertuliskan 'TINDAKAN BERLANGSUNG' menyala, menusuk retina mata Ghufran bagai bara api yang menyala di tengah kegelapan. Pemuda itu berdiri terpaku. Sepatu kanvasnya yang telah robek di bagian jempol basah kuyup oleh genangan air hujan bercampur lumpur selokan. Ia bahkan belum sempat mengenakan sandal saat tadi membopong Afra yang pingsan ke atas becak motor tetangga.

Napas Ghufran tersengal-sengal. Telapak tangannya gemetar hebat. Di sela-sela jemarinya dan di lipatan lengan kemeja lusuhnya, sisa-sisa darah Afra telah mulai mengering, meninggalkan bercak kecokelatan yang kaku dan berbau karat. Di dalam dadanya, detak jantung berdegup liar bagai genderang perang. Setiap detik penantian terasa laksana satu abad hukuman gantung.

"Ya Allah... selamatkan Afra. Selamatkan anak kami... Ya Hayyu Ya Qayyum... Jangan renggut keduanya dariku..." bisik bibir Ghufran berulang-ulang tanpa henti. Tasbih kayu di saku celananya ia genggam begitu erat hingga ujung-ujung jemarinya memutih pasi.

Lorong lantai satu rumah sakit umum daerah itu begitu lengang. Hanya ada suara jarum jam dinding raksasa yang berdetik acuh tak acuh dan desah napas seorang bapak tua di seberang bangku yang tengah menunggui istrinya bersalin. Jam menunjukkan pukul 02.40 dini hari. Suhu udara anjlok drastis setelah hujan lebat mengguyur kota, namun peluh dingin mengalir deras membasahi kening dan leher Ghufran.

Tiba-tiba, gerendel pintu besi berputar. Lampu merah di atas kusen padam seketika. Seorang dokter pria paruh baya mengenakan gaun bedah hijau bersimbah bercak cairan keluar, masker bedahnya tergantung di bawah dagu. Kerutan di dahi sang dokter dan matanya yang tampak sangat letih seketika mengirimkan firasat buruk yang menohok ulu hati Ghufran.

Ghufran tersentak maju dua langkah. "Dokter... bagaimana istri saya? Bagaimana bayi kami, Dok?"

dr. Hendrawan menarik napas panjang, menatap pemuda kurus berwajah tirus di hadapannya dengan tatapan iba yang berusaha disembunyikan di balik profesionalitas medis. Ia menepuk pundak Ghufran yang basah oleh sisa gerimis.

"Saudara Ghufran, tenangkan diri Anda dulu. Istighfar," suara dokter itu terdengar berat dan lirih. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dengan seluruh peralatan yang ada. Namun... pendarahan hebat itu terjadi akibat lepasnya plasenta secara total. Janin di dalam kandungan istri Anda... tidak dapat kami selamatkan. Usianya baru empat belas minggu, organnya masih sangat rentan, dan ia telah berpulang sebelum tindakan kuretase sempat kami selesaikan."

Kata-kata itu menghantam rongga dada Ghufran bagai gada godam seberat ton. Telinganya berdenging panjang. Kakinya mendadak kehilangan seluruh daya topang tulang dan sendi. Tubuhnya luruh ke lantai semen lorong yang dingin. Lututnya mencium lantai ubin kotor. Kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri.

Gugur. Malaikat kecil yang baru saja mereka rencanakan namanya, yang setiap malam sebelum tidur selalu ia elus melalui permukaan perut Afra sembari membacakan surah Maryam dan Luqman, kini telah tiada. Tidak akan pernah ada tangis bayi di rumah petak mereka. Tidak akan pernah ada sepatu rajut kecil yang melangkah di tanah becek gang kontrakan.

Namun ketukan palu duka belum berakhir di situ. Dokter Hendrawan berjongkok di samping Ghufran, suaranya kini semakin serius dan sarat kegetiran.

"Bukan hanya itu, Mas Ghufran. Cobaan ini sangat berat. Akibat keterlambatan penanganan dan robekan dinding jalan lahir yang terinfeksi bakteri ganas—kemungkinan besar komplikasi dari kelelahan fisik ekstrem dan anemia akut yang telah dideritanya berbulan-bulan—istri Anda mengalami endometritis akut parah yang kini menyebar ke rongga panggul. Terjadi peradangan hebat dengan risiko sepsis sistemik."

Dokter itu menatap lurus ke dalam pupil mata Ghufran yang basah bersimbah air mata. "Dinding rahimnya mengalami infeksi supuratif. Suhu tubuhnya mencapai empat puluh derajat Celsius dan tensinya merosot tajam. Kita harus merawatnya secara intensif berminggu-minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan, dengan antibiotik kombinasi dosis tinggi dan perawatan drainase berkala. Jika infeksi ini tidak dijinakkan, infeksi bisa masuk ke peredaran darah, dan nyawa Bu Afra... berada di ujung tanduk."

Tangis Ghufran pecah seketika. Pemuda yang selama ini dikenal sebagai sosok pendiam dan pantang mengeluh itu terisak-isak di lorong sepi. Ia menyembunyikan wajahnya di lipatan lutut, bahunya berguncang hebat laksana dedaunan ditiup angin lesus. Di lorong rumah sakit yang asing dan dingin itu, air matanya tumpah ruah membasahi lantai ubin semen.

Tetapi di tengah hancurnya dunia fana di sekelilingnya, ketika pintu operasi terbuka kembali dan brankar dorong mengeluarkan tubuh Afra yang pucat pasi bagai mayat dengan selang infus dan selang kateter terpasang di tubuhnya, Ghufran segera bangkit. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. Ia menghampiri brankar itu, meraih jemari Afra yang lunglai tak berdaya, mencium punggung tangan yang terasa sedingin es itu dengan segenap jiwanya.

"Dinda... dengarkan suamimu," bisik Ghufran di dekat daun telinga Afra yang setengah sadar terbius obat penenang. "Anak kita telah menjadi burung kecil di taman surga. Tapi kau... kau adalah nyawaku di bumi ini. Bertahanlah, demi Allah, bertahanlah. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sedetik pun."

"Anak kita telah dipanggil pulang oleh Yang Punya, Dinda... Tapi nyawamu, napasmu, adalah amanah yang harus kupertahankan sampai embusan napas terakhirku." — Ghufran Al-Ghifari. Di depan pintu besi ruang operasi saat brankar Afra didorong keluar dalam keadaan kritis.

Lihat selengkapnya