CINTA YANG MENDEWASAKAN IMAN
مَدْرَسَةُ الإِيمَانِ
Tema: Rumah Tangga sebagai Madrasah Jiwa, Ibadah Bersama, dan Buah Kesabaran
-------------------------------------
inopsis Alur Kejadian:
Rumah tangga mereka menjelma menjadi oase ruhiyah. Setiap sepertiga malam, lentera kecil menyala. Ghufran mengimami shalat malam dengan bacaan surah Ar-Rahman yang bergetar, sementara Afra mengamini di belakangnya dengan air mata syukur. Keberkahan mulai merekah: usaha literasi Ghufran berkembang menjadi rintisan yayasan pendidikan anak dhuafa, dan kabar gembira yang telah lama dinanti akhirnya tiba: rahim Afra kembali dipercaya mengandung anugerah ilahi.
-------------------------------------
JEJAK UJIAN DAN OASE DI TENGAH SUNYI ]
Waktu: Menjelang Pukul 03.00 Dini Hari | Lokasi: Kediaman Sederhana Ghufran & Afra, Sudut Gang Asri
---o0o---
Ada waktu-waktu tertentu dalam kehidupan manusia ketika waktu seolah berhenti berdetik, memberi ruang bagi jiwa untuk menoleh ke belakang dan menyadari betapa panjang jalan terjal yang telah terlampaui. Rumah itu bukanlah bangunan megah berpilar marmer. Dindingnya hanya berbalut semen putih bersih dengan lis kayu jati tua peninggalan kakek Ghufran, beratap genteng tanah liat yang kerap menguarkan wangi basah tiap kali rintik gerimis singgah di pelataran. Namun, bagi Ghufran dan Afra Nailah, rumah berdinding sederhana di tepian kota itu adalah benteng suci tempat mereka menyembuhkan luka, membesarkan tekad, dan membangun madrasah jiwa yang paling hakiki.
Tiga tahun pertama pernikahan mereka bukanlah hamparan karpet permadani yang ditaburi kelopak mawar. Mereka pernah menapaki lorong-lorong kelam yang menguras air mata. Ada masa ketika usaha rintisan percetakan dan penerbitan buku literasi mandiri yang dirintis Ghufran dihantam badai krisis: pesanan dibatalkan sepihak, gudang sewa tergenang banjir luapan sungai, dan tabungan mereka terkuras hingga hanya menyisakan beberapa lembar uang kertas lusuh di dasar dompet. Namun ujian harta tidak sebanding dengan kepedihan yang menyayat batin pada tahun kedua: ketika rahim Afra yang sempat menyimpan benih kehidupan harus mengalami keguguran di usia dua belas pekan.
Malam itu, ruang kuretase rumah sakit kota begitu dingin dan hampa. Afra memejamkan mata dalam derai air mata yang tak kunjung surut, merasa tubuhnya gagal menjaga amanah yang amat dirindukan. Namun di samping pembaringannya, Ghufran tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Lelaki itu tidak mengeluh, tidak pula membiarkan keputusasaan meremukkan martabat istrinya. Dengan suara yang tertahan menahan getar tangis di tenggorokan, Ghufran berbisik di telinga Afra: 'Dinda, anak kita belum rezeki kita di bumi. Tapi Allah telah memilihkan satu tabungan terindah untuk menyambut kita di pintu surga kelak. Jangan merasa bersalah. Kita ridha pada ketetapan-Nya, agar Allah pun ridha merangkul kita.'
Kalimat itu menjadi benih yang menumbuhkan keteguhan baru. Alih-alih membiarkan kesedihan berubah menjadi kepahitan yang meretakkan keharmonisan, Ghufran dan Afra sepakat untuk menjadikan setiap kepedihan sebagai anak tangga menuju kedewasaan iman. Mereka mengubah ruang tengah rumah mereka—yang sebelumnya hanya berisi rak-rak buku tua yang berdebu—menjadi sebuah mihrab kecil, tempat di mana mereka meletakkan segala keluh kesah hanya di hadapan Allah Yang Maha Mendengar.
Kini, tahun berganti. Gerimis dini hari kembali menyapa dedaunan mangga di halaman depan. Aroma tanah basah meruap menembus celah kisi-kisi jendela kayu yang dibiarkan sedikit merenggang. Di dalam keheningan yang pekat itu, seberkas cahaya keemasan mulai berpendar, menandai dimulainya ritus cinta yang melampaui batas-batas kebendaan.
-------------------------------------
BAGIAN 1: MIHRAB KEHENINGAN DAN SENANDUNG AR-RAHMAN ]
Waktu: Pukul 03.30 Subuh — Sepertiga Malam Terakhir | Lokasi: Ruang Tengah yang Dijadikan Mushola Rumah
---o0o---
Pukul setengah empat dini hari. Ketika sebagian besar penghuni bumi masih terlelap dalam buaian mimpi, di sudut ruang tengah kediaman Ghufran dan Afra, sebutir lentera tembaga antik berukir dedaunan dinyalakan. Nyala apinya yang temaram memancarkan bias jingga keemasan pada hamparan lantai papan kayu jati yang berderit lembut menahan langkah kaki. Udara dingin pegunungan menyelinap lembut, membawa kesegaran embun yang menepis sisa-sisa kantuk.
Suara gemercik air wudhu dari kamar mandi belakang terdengar berirama teratur. Air sumur yang dingin membasuh wajah, tangan, kepala, hingga kedua kaki, menghidupkan setiap saraf yang letih. Ghufran melangkah keluar terlebih dahulu. Ia mengenakan baju koko putih polos dari bahan katun berserat alami yang wangi kasturi lembut, serta menyampirkan sehelai sorban tenun bermotif kotak hitam-putih di bahu kanannya. Tak berselang lama, Afra menyusul dengan balutan mukena putih bersih berenda halus tanpa motif berlebih. Wajah perempuan itu tampak bersih berseri, berkilau oleh butir-butir air wudhu yang belum sempat diseka.
Dua helai sajadah beludru berwarna hijau lumut terbentang berdampingan—sajadah imam sedikit condong ke depan, dan sajadah makmum berjarak tepat satu saf di belakangnya. Tidak ada percakapan duniawi yang memecah keheningan. Bagi mereka berdua, sepertiga malam adalah waktu diplomasi tertinggi antara hamba dengan Penciptanya. Ketika Ghufran melangkah ke sajadah depan dan mengangkat kedua tangannya sejajar telinga, seluruh isi ruangan seakan turut tertunduk khusyuk.
'Allahu Akbar...'
Takbir itu diucapkan dengan suara rendah, bulat, dan bergetar dari kedalaman dada. Seketika itu pula, dunia dengan segala hiruk-pikuknya runtuh di luar batas mihrab kecil tersebut. Di belakangnya, Afra merapatkan kedua telapak tangan di atas dada, menundukkan pandangan ke titik sujud dengan hati yang luluh. Di tempat inilah, segala rasa letih setelah seharian mengurus rintisan usaha literasi dan mengajar anak-anak kampung diserahkan bulat-bulat tanpa reservasi.
Setelah tuntas melafalkan Surah Al-Fatihah dengan keheningan jeda di setiap ujung ayat, Ghufran menarik napas perlahan. Dadanya membusung lembut sebelum melantunkan surah yang selalu menjadi oase penyejuk batin mereka berdua: Surah Ar-Rahman.
'Ar-Rahmaan. 'Allamal-Qur'aan. Khalaqal-insaan. 'Allamahul-bayaan...'
Lantunan tilawah Ghufran tidak bernada tergesa-gesa. Ia membacanya dengan tartil yang penuh penghayatan, menjaga setiap mad, menekan makhraj huruf dengan presisi, dan membiarkan getaran suaranya mengisi rongga-rongga udara malam. Ketika ia sampai pada ayat yang berulang bagai dentang lonceng peringatan bagi nurani:
'Fa bi-ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukadzdzibaan... (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)'
Suara Ghufran bergetar halus. Ada nada haru yang tertahan di kerongkongannya. Ayat itu bukan sekadar bacaan ritual, melainkan cermin telanjang yang menyoroti perjalanan hidup mereka. Betapa seringnya manusia menuntut hal-hal yang belum diberikan Allah, seraya melupakan jutaan helaan napas, kesehatan mata, detak jantung, dan pendamping hidup yang setia mendampingi dalam kesempitan. Di saf belakang, air mata Afra menetes tanpa dapat dibendung. Pipinya basah. Bulir air mata itu jatuh menyerap pada serat beludru sajadah. Pertanyaan retoris ilahi itu menghunjam tepat di ulu hatinya: nikmat manakah yang masih sanggup ia dustakan? Bukankah nikmat iman dan suami yang membimbingnya menuju surga ini sudah lebih dari cukup untuk memenuhi relung syukurnya?
Rukuk mereka panjang dan tenang. Sujud mereka lebih panjang lagi, seakan kedua dahi itu enggan beranjak dari tanah tempat mereka berasal. Dalam sujud terakhir, Ghufran memanjangkan permohonannya dalam bisikan doa: memohon ampunan, memohon penjagaan hati dari riya dan sombong, serta menitipkan keselamatan bagi umat yang tengah dilanda derita.
Salam ke kanan dan ke kiri mengakhiri shalat sebelas rakaat itu. Ghufran memutar duduknya menghadap sang istri. Telapak tangannya terulur. Afra meraih tangan suaminya dengan kedua belah tangannya yang mungil, mencium punggung tangan Ghufran yang berurat kokoh dengan takzim, lalu menempelkannya ke kening dan kedua matanya yang basah. Ghufran meletakkan tangan kirinya di atas ubun-ubun kepala Afra, membisikkan untaian doa keberkahan yang tak pernah putus sejak malam pertama mereka diikat akad.
'Semoga Allah melembutkan hatimu, merahmati langkahmu, dan mengumpulkan kita hingga ke telaga Al-Kautsar, Dinda,' ucap Ghufran lirih.
'Aamiin ya Rabbal 'alamin, Mas,' jawab Afra pelan, tersenyum dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Mereka berpindah ke amben kayu dekat jendela dapur. Langit di timur mulai menyisakan semburat ungu keperakan yang menandakan fajar shadiq kian dekat. Di atas meja bundar kecil, Afra menyajikan dua cangkir tembikar berisi wedang rimpang jahe, serai, dan sedikit perasan madu hutan. Uap harum rempah menguar di udara pagi, menghangatkan jemari mereka yang dingin.
Ghufran menyeruput minumannya perlahan, lalu menatap wajah istrinya lekat-lekat. Ada keteduhan yang luar biasa di sana. Meski beberapa hari terakhir Afra kerap terlihat lekas lelah dan pucat saat menyiapkan modul bacaan untuk yayasan, senyum di bibirnya tak pernah pudar.
'Mas perhatikan beberapa malam ini tidurmu gelisah, Dinda. Dan pagi ini rona wajahmu berbeda. Apakah lambungmu kambuh lagi?' tanya Ghufran dengan nada cemas yang lembut.