Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

BUAH KESABARAN

BUAH KESABARAN DAN KELAPANGAN HATI

حَصَادُ الصَّبْرِ

Tema: Kedamaian Setelah Badai, Rekonsiliasi Sempurna Keluarga Besar

-------------------------------------

Sinopsis Alur Kejadian:

Kelahiran anak pertama mereka yang dinamai Muhammad Salman AlGhifari membawa kehangatan yang mencairkan segala sisa kebekuan masa lalu. Haji Mansyur kini sering datang bukan lagi sebagai tokoh arogan, melainkan sebagai kakek yang tawadhu, menggendong cucunya sambil mendengarkan kajian sunnah. Ibu Ghufran tersenyum bahagia melihat putranya berhasil membuktikan bahwa luka masa lalu keluarga telah terputus dan digantikan rantai kesalehan.

--------------------------------------


BAGIAN 1: TANGISAN PERTAMA DI AMBANG SUBUH

فَجْرُ البِشَارَةِ

Waktu : Pukul 04.15 WIB (Menjelang Fajar Shadiq). Tempat : Ruang Bersalin Rumah Sakit Bersalin As-Syifa

---o0o---

Malam itu, dingin kota belum tuntas menguap ketika jarum jam dinding di lorong rumah sakit berdetak pelan menyentuh angka empat lewat seperempat. Angin sejuk dari lereng bukit berembus menyapu dedaunan angsana di pekarangan luar, membawa aroma tanah basah sisa gerimis dini hari. Di dalam ruang persalinan bernuansa hijau pualam, aroma antiseptik yang pekat perlahan tersamarkan oleh kehangatan keringat perjuangan seorang ibu muda yang baru saja melewati gerbang maut demi menyambut sebutir jiwa baru.

Ghufran masih berdiri terpaku di sisi ranjang bersalin. Jemari tangannya yang kokoh namun basah oleh keringat dingin masih digenggam erat oleh Afra—sebuah genggaman yang beberapa menit lalu mencengkeram begitu kuat seiring kontraksi hebat yang mengoyak sekujur tubuh istrinya. Rambut hitam Afra yang basah menempel di pelipisnya yang pucat pasi, tetapi di balik keletihan yang luar biasa itu, terpancar binar ketenteraman yang belum pernah disaksikan Ghufran seumur hidupnya.

Lalu, keheningan ruangan yang mencekam itu pecah seketika.

Sebuah pekikan nyaring, murni, dan melengking memenuhi setiap sudut dinding ruangan. Suara tangisan bayi itu bukan sekadar tanda berfungsinya paru-paru kecil yang baru pertama kali menghirup udara bumi, melainkan dentang lonceng pembebasan yang meruntuhkan segala beban tak kasat mata yang selama bertahun-tahun menindih pundak Ghufran. Suara itu begitu bersih, memecah kesunyian fajar yang sedang bersiap menyambut azan subuh.

"Alhamdulillah... Selamat, Mas Ghufran, Mbak Afra. Bayinya laki-laki, sehat, sempurna tanpa kurang suatu apa pun," suara bidan senior paruh baya itu terdengar bergetar hangat saat mengangkat tubuh mungil kemerahan yang masih diselimuti verniks putih pelindung. Handuk flannel hangat beraroma minyak telon segera membungkus tubuh ringkih itu sebelum diletakkan perlahan di atas dada Afra untuk proses inisiasi menyusu dini.

Air mata yang sedari tadi ditahan Ghufran di pelupuk matanya akhirnya runtuh tak terbendung. Ia mencium kening istrinya yang hangat dengan getaran bibir yang sarat oleh doa tak berkesudahan. 'Jazaakillahu khayran, Afra... Jazaakillahu khayran ya zaujati,' bisik Ghufran di telinga istrinya. Afra hanya mampu mengangguk lemah, tersenyum dengan kelopak mata yang basah oleh tetesan air mata bahagia. Setiap denyut rasa sakit yang menderanya selama sembilan jam terakhir seketika luruh tanpa bekas saat pipi mungil putranya menyentuh kulit dadanya.

Ketika dokter dan bidan selesai membersihkan tali pusat dan membimbing tahapan awal perawatan, bidan tersebut menoleh ke arah Ghufran dengan senyuman ramah. 'Silakan, Pak Ghufran. Sambutlah putra pertama Anda dengan kalimat termulia di alam semesta.'

Ghufran melangkah dengan langkah yang bergetar. Tangannya yang biasanya tegap memegang kitab dan alat pertukangan kayu kini terasa seringan kapas, berhati-hati melingkari punggung dan kepala mungil itu. Ia mengangkat bayi itu mendekat ke dada kirinya, merasakan degup jantung kecil yang berdegup cepat seirama dengan denyut nadinya sendiri.

Tepat ketika kilau keemasan fajar shadiq mulai merayap di ufuk timur, membelah kegelapan malam di jendela kamar, Ghufran mendekatkan bibirnya ke telinga kanan putranya. Dengan suara berat, merdu, dan penuh penghayatan batin yang mendalam, ia melantunkan kalimat panggilan suci:

"Allahu Akbar... Allahu Akbar..."

Setiap penggalan lafaz adzan itu mengalir bukan hanya dari kerongkongan, melainkan dari sumur kesabaran yang digalinya selama bertahun-tahun di lembah penghinaan. Setiap 'Asyhadu alla ilaha illallah' menjadi benteng kokoh yang ia ikrarkan untuk melindungi bayi ini dari racun keangkuhan dunia. Tangisan bayi itu berangsur mereda, berganti menjadi hembusan nafas teratur yang tenang seolah mengenali ketenangan ruh ayahnya.

Di sudut ruangan, di balik pintu kaca geser yang sedikit terbuka, tampak berdiri seorang pria tua berpeci putih dengan janggut keperakan yang dipangkas rapi. Haji Mansyur berdiri bersandar pada kusen pintu, kedua tangannya terkatup di depan dada, dan pundaknya naik-turun menahan isak tangis yang tertahan. Lelaki yang dulu terkenal bertitah tanpa bantahan itu kini menunduk begitu dalam, menyeka sudut matanya dengan sapu tangan katun putih yang telah basah.

"Di ambang fajar yang membelah gulita, sebuah tangisan suci mengabarkan bahwa kepedihan kemarin hanyalah rahim gelap tempat Allah menenun kemuliaan hari ini."— Ghufran (Munajat Batin) (Saat mendekap sang putra pertama di dada dan mengumandangkan adzan di telinga kanannya.)

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا • إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh: 5-6)

Refleksi: Kesulitan yang dihadapi Ghufran dan Afra tidaklah datang untuk menghancurkan, melainkan untuk melipatgandakan manisnya karunia ketika saatnya tiba. Fajar kelahiran Salman adalah perwujudan janji Allah bahwa badai terhebat pun akan tunduk pada ketetapan fajar yang membawa ketenangan.

--------------------------------------


BAGIAN 2: PEMBERIAN NAMA DAN MENCAIRNYA TABIR KEASINGAN

سَلْمَانُ الأَمَانَةِ

Waktu : Pukul 07.00 WIB (Pagi Hari Kelahiran). Tempat : Ruang Rawat Inap As-Syifa

---o0o---

Cahaya pagi telah menyiram pekarangan rumah sakit dengan warna kuning tembaga yang lembut saat Afra dipindahkan ke ruang rawat inap. Aroma bunga melati yang diletakkan dalam vas porselen di atas meja nakas menghadirkan semerbak kesegaran. Di samping ranjang Afra, sebuah boks bayi berbalut kain katun putih menampung napas tenang sang jabang bayi yang terlelap dengan jemari mungil terkepal di samping pipi merahnya.

Pintu kamar terbuka perlahan. Suara ketukan pelan mendahului langkah kaki yang amat hati-hati. Bukan langkah tegas berderak seperti masa lalu, melainkan langkah seorang musafir tua yang sadar akan dosanya. Haji Mansyur melangkah masuk, diikuti oleh istrinya, Hajjah Romlah, yang membawa rantang enamel berisi sup ayam kampung hangat dan sari kurma.

"Assalamualaikum warahmatullah..." ucap Haji Mansyur dengan suara parau yang nyaris menyerupai bisikan santun.

"Waalaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh, Ayah, Ummi... Silakan masuk," Ghufran segera berdiri tegak, menyongsong mertuanya itu dengan senyum tulus yang tidak sedikit pun memuat memori penolakan masa silam. Ghufran meraih tangan kanan Haji Mansyur, lalu mencium punggung tangan tua yang berurat menonjol itu dengan penuh khidmat dan takzim.

Haji Mansyur sempat tertegun sesaat. Ia menatap wajah menantunya—wajah yang dulu pernah ia usir dari beranda rumah joglonya, pemuda yang dulu ia cemooh miskin dan tak sepadan dengan trah keluarganya yang terpandang. Namun di wajah Ghufran hari ini, Haji Mansyur tidak menemukan setitik pun kilatan dendam atau rasa jumawa karena kini posisi moralnya jauh lebih tinggi. Yang ada di wajah pemuda itu hanyalah keteduhan samudra yang menampung segala sampah masa lalu dan mengubahnya menjadi mutiara.

Haji Mansyur melangkah menuju boks bayi dengan langkah tertatih. Ia membungkuk, menatap lekat-lekat raut wajah cucu pertamanya. Alis bayi itu tebal, hidungnya mancung mewarisi garis wajah ibunya, sementara bentuk dagu dan ketenangan garis bibirnya mencerminkan keteguhan ayahnya.

"Masha Allah... Tabarakallah... cucuku..." bisik Haji Mansyur. Tangannya yang gemetar terulur, menyentuh pipi bayi itu dengan ujung jari telunjuknya yang kasar selembut mungkin, takut melukai kulit sehalus sutra itu. Butiran bening jatuh dari pelupuk mata sang kakek, menetes ke selimut bayi.

Afra yang bersandar pada tumpukan bantal memandang ayahnya dengan haru. 'Ayah... gendonglah cucu Ayah. Dia sudah menunggu kakeknya sejak fajar tadi.'

Haji Mansyur mendongak ragu. 'Bolehkah, Afra? Tangan Ayah ini... tangan yang dulu banyak berlumur kesombongan harta. Apakah tangan ini pantas menggendong amanah suci ini?'

Ghufran tersenyum hangat, lalu melangkah maju dan mengangkat bayinya dengan mantap. Ia menyerahkan bungkusan mungil itu ke dalam rengkuhan tangan mertuanya. 'Ayah adalah wali dari istri saya, kakek dari putra kami, dan pintu surga bagi kami. Bismillah, Ayah.'

Saat bayi itu berpindah ke dekapannya, Haji Mansyur mendekapnya erat ke dada. Sebuah getaran hangat menjalar ke seluruh relung hatinya, menghancurkan sisa-sisa kerak kesombongan duniawi yang puluhan tahun membelenggunya. Di hadapan makhluk sekecil ini, segala tanah berhektare-hektare miliknya, deretan toko kain di pasar besar, dan silsilah keluarga ningrat terasa tak lebih berharga dari sebutir debu.

"Siapa... siapa nama anak saleh ini, Ghufran?" tanya Haji Mansyur seraya menatap Ghufran dengan pandangan penuh penghormatan yang tulus.

Ghufran menatap Afra sejenak, bertukar pandang penuh makna dengan sang istri, lalu menjawab dengan suara tegas dan bening: "Kami menamainya Muhammad Salman Al-Ghifari, Ayah. Muhammad, agar ia senantiasa meneladani akhlak agung Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Salman, terinspirasi dari Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu—sang pencari kebenaran sejati yang rela meninggalkan kemewahan demi menjemput hidayah Islam. Dan Al-Ghifari, mengingatkan kami pada Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu yang zuhud, jujur, serta senantiasa memohon ampunan Allah Al-Ghaffar."

Haji Mansyur mengulang nama itu berulang kali dalam desah napasnya. 'Muhammad Salman Al-Ghifari... Salman... cucuku... Nama yang sarat doa penakluk kebatilan. Semoga engkau tidak meniru kekerasan hati kakekmu di masa lalu, Nak. Jadilah seperti ayahmu yang hatinya seluas padang sahara.'

"Harta dan gelar ningrat hanyalah debu yang tertiup angin; kemuliaan sejati manusia berakar pada sejauh mana hatinya tunduk di hadapan kebenaran Rabb-nya."— Haji Mansyur Pengakuan ketawadhuan saat pertama kali menggendong cucunya di ruang rawat rumah sakit.

-------------------------------------

Lihat selengkapnya