BUKAN TUJUAN AKHIR, MELAINKAN TEMAN SEPERJALANAN
رَفِيقُ الدَّرْبِ إِلَى اللهِ
Tema: Kesadaran Filosofis Tertinggi: Manusia Bukan Muara Cinta
------------------------------------
Sinopsis Alur Kejadian:
Bab ini menjadi puncak pencerahan spiritual Ghufran AlGhifari. Menatap perjalanan hidupnya, ia sampai pada kesadaran hakiki yang dulu ia cari: ia tidak pernah benar-benar mencari seseorang untuk menjadi tujuan akhir cintanya. Afra bukanlah tempat berhentinya kerinduan jiwanya, melainkan kawan seperjalanan yang Allah utus untuk saling menguatkan langkah kaki mereka menuju keridhaan-Nya.
------------------------------------
Muqaddimah: Detak Jarum Jam dan Sepertiga Malam
Setting: Bilik Perpustakaan Pribadi & Sudut Kamar Rumah Sederhana | Waktu: Pukul 02.15 Dini Hari — Hening Sepertiga Malam Terakhir
---o0o---
Malam telah lama melipat selimut riuhnya, membiarkan semesta terlelap dalam pelukan keheningan yang khusyuk. Di luar jendela kayu berdaun ganda yang sedikit terkuak, kabut tipis turun perlahan dari punggung perbukitan, menyelimuti tajuk dedaunan pohon mangga dan atap-atap genting pemukiman dalam dingin yang menusuk kalbu. Di kejauhan, hanya sesekali terdengar desau angin menyapa reranting bambu, sebelum kemudian tenggelam kembali dalam kesenyapan sepertiga malam terakhir.
Jarum jam dinding kayu jati tua peninggalan kakek berdetik teratur di dinding perpustakaan—tik, tak, tik, tak—seolah menjadi satu-satunya muadzin waktu yang tak pernah lelah mengingatkan bahwa usia anak manusia sedang dikikis detik demi detik, tanpa pernah bisa dibeli kembali walau dengan seisi bumi dan perhiasannya.
Di sudut ruang perpustakaan sederhana yang beraroma wangi kertas lawas, kayu cendana, dan sisa seduhan herbal kering, Ghufran AlGhifari duduk bergeming. Seberkas cahaya kuning temaram dari lampu meja kuningan antik menyorot tepat ke atas permukaan meja mahoni yang telah melengkung halus dimakan usia. Di atas kayu itu, sekian banyak pergulatan pemikiran, torehan tinta pena, tumpahan air mata tobat, dan doa-doa sunyi telah terpahat menjadi saksi sejarah jiwanya.
Beberapa langkah di seberang partisi kayu berukir kaligrafi ayat kursi, pintu bilik kamar tidur terbuka sejengkal. Dari celah temaram itu, tampak siluet Afra yang tertidur pulas dalam kepasrahan yang begitu damai di samping sebuah keranjang tidur bayi yang berayun perlahan. Di dalam keranjang itu, putra kecil mereka—Fatih, anugerah mungil yang baru berusia beberapa purnama—bernapas dengan amat teratur. Dada kecilnya naik dan turun seirama dengan kepolosan fitrah malaikat yang belum tersentuh noda duniawi.
Ghufran menatap pemandangan itu dalam keheningan yang amat pekat. Ada gelombang kehangatan yang merambati rongga dadanya, mengalir hangat hingga ke ujung-ujung jemarinya. Namun kehangatan malam ini terasa sangat berbeda bila dibandingkan dengan letupan api asmara masa mudanya dahulu. Di masa lalu, cinta baginya adalah kobaran api yang menuntut kepemilikan mutlak, gejolak yang dipenuhi kecemasan akan perpisahan, dan rasa lapar emosional yang selalu menuntut pemuasan seketika.
Malam ini, rasa cinta itu telah bermutasi menjadi telaga yang hening. Airnya jernih tak beriak, dasarnya dalam tak terukur, dan permukaannya memantulkan ketenangan langit ketuhanan. Tidak ada lagi ketakutan yang mencekam akan hilangnya sosok yang dicintai, karena ia telah menemukan di mana muara cinta itu sesungguhnya bersemayam.
Pria itu menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan. Jarinya meraba sampul kulit buku catatan pribadinya yang sudah kusam di sudut-sudutnya. Ujung pena tinta celupnya masih menggantung di udara, meneteskan setitik tinta hitam pekat pada sudut halaman kosong. Ia menyadari sepenuhnya: malam ini adalah puncak dari sebuah metamorfosis spiritual panjang yang telah ia tempuh berdarah-darah selama belasan tahun.
----------------------------------
Bagian 1: Meja Kerja Kayu Perpustakaan (Risalah Larut Malam)]
Setting: Meja Kerja Kayu Mahoni Perpustakaan Pribadi | Waktu: Larut Malam Sunyi — Antara Pukul 02.30 Menjelang Fajar
---o0o---
Di bawah tudung lampu meja berkilau tembaga, Ghufran membuka halaman demi halaman buku catatan lamanya. Lembaran-lembaran itu bagaikan lorong waktu yang mempertemukannya kembali dengan dirinya di masa silam. Ada masa ketika ia menuliskan puisi-puisi melankolis penuh ratapan, masa ketika ia mengira kebahagiaan hidupnya baru akan genap jika ia menemukan seorang wanita jelita yang sempurna budi pekertinya, tanpa cacat, tanpa cela, dan mampu memahami seluruh isi kepalanya tanpa perlu diucapkan sepatah kata pun.
Ghufran tersenyum kecut mengingat betapa kekanak-kanakannya ia waktu itu. Seperti jutaan pemuda lainnya yang terpapar oleh ilusi roman picisan dan dongeng-dongeng sekuler modern, ia pernah memperlakukan pernikahan sebagai garis akhir dari segala pencarian batin. Ia mengira bahwa kalimat akad nikah adalah mantra ajaib yang akan seketika melenyapkan seluruh kekosongan eksistensial dalam dirinya.
"Betapa zalimnya aku di masa lalu," bisik batin Ghufran seraya menatap ujung pena tintanya. "Betapa zalimnya seorang manusia yang menuntut sesama makhluk yang sama-sama papa untuk memikul beban kebahagiaan hidupnya."
Jemari Ghufran mulai menggoreskan pena ke atas kertas bertekstur kasar. Tinta hitam mengalir deras, merumuskan risalah pemikiran yang telah lama mengendap di palung kesadarannya:
"Tragedi terbesar dalam relasi cinta anak manusia bukanlah karena mereka saling mengkhianati, melainkan karena mereka saling mendewakan. Mereka menaruh mahkota ketuhanan di atas kepala orang yang mereka cintai, lalu merasa terpukul dan patah arang ketika mendapati bahwa sosok di hadapan mereka hanyalah tanah liat yang rapuh, mudah letih, bisa keliru, dan memiliki tumpukan ketakutan yang sama besarnya."
Ghufran berhenti sejenak, menghela napas panjang seraya menyimak desah angin di luar. Ia memandang ke arah bilik kamar di mana Afra tertidur pulas.
Dalam remang temaram itu, wajah istrinya terpampang tanpa kepalsuan riasan kosmetik dunia. Tidak ada gaun indah atau senyum manis yang dipaksakan untuk menyenangkan mata publik. Yang ada hanyalah raut seorang perempuan bersahaja yang kelelahan setelah seharian penuh mencurahkan baktinya: menyusui si kecil, membersihkan rumah, memasak makanan halal yang berkah, dan menyempatkan diri mengajar anak-anak mengaji di teras sore tadi. Di bawah kelopak mata Afra, terlihat bayang-bayang gelap akibat tidur yang terpotong-potong. Di dahinya, tergores garis-garis halus keletihan.
Dulu, pada tahun pertama pernikahan mereka, hal-hal semacam itu sempat menjadi pemicu riak batin bagi Ghufran. Ia teringat betapa pernah ada hari-hari di mana ia merasa kecewa ketika mendapati Afra bangun tidur dengan wajah kusut dan tidak sempat menyambutnya dengan senyuman bidadari sebagaimana yang ia bayangkan dalam kitab-kitab teori rumah tangga ideal. Pernah ada saat di mana ia merasa jengkel ketika masakan Afra keasinan, atau ketika istrinya itu menangis tersedu hanya karena merasa kewalahan dengan tumpukan tugas harian.
Dan sebaliknya, Afra pun pasti pernah memendam kecewa padanya. Afra mendapati bahwa Ghufran bukanlah pahlawan super yang kebal terhadap rasa takut. Ghufran bisa terserang demam hingga menggigil di bawah selimut, bisa merasa gamang ketika keuangan yayasan sedang menyusut, bisa lupa pada tanggal-tanggal penting, dan bisa kehilangan kesabaran saat beban dakwah terasa menghimpit dadanya.
"Kami sama-sama manusia fana yang compang-camping," gumam Ghufran pelan. Matanya terasa hangat oleh genangan air mata rasa syukur.
Allah dengan segala kelembutan takdir-Nya sengaja memecahkan bejana ekspektasi mereka berdua agar mereka tidak terjebak dalam syirik mahabbah—syirik cinta yang menempatkan makhluk di singgasana Khaliq. Allah menyingkap kelemahan Afra di depan mata Ghufran, dan memperlihatkan kerapuhan Ghufran di hadapan mata Afra, semata-mata agar keduanya sadar: manusia bukanlah tempat bergantung!
Ghufran menundukkan kepalanya, kembali mengarahkan mata pena ke atas lembaran risalahnya. Tulisan tangannya mengalir dengan ketegasan yang lahir dari kepasrahan:
"Kini aku paham seutuhnya, wahai Rabb-ku... Jika aku mencintaimu, Afra, sebagai tujuan akhir hidupku, maka aku pasti akan menuai kecewa saat ragamu menua dan rapuh. Aku akan mengutuk waktu saat uban pertamamu muncul memutih di antara helai rambut hitammu. Aku akan mencela kerutan di pelipismu, dan aku akan merasa jemu ketika langkah kakimu tak lagi lincah menyertaiku. Lebih pedih dari itu, jika engkau kujadikan muara cintaku, maka ketika maut kelak merenggut napasmu mendahuluiku, seluruh duniaku akan hancur lebur dan aku akan menjadi orang gila yang mengutuki takdir-Nya."
Tinta hitam meresap kuat ke serat kertas, menghunjamkan kebenaran yang tak terbantahkan:
"Namun karena aku mencintaimu sebagai teman melangkah kepada Allah, setiap kerut di wajahmu bukanlah tanda pudarnya kecantikan, melainkan prasasti suci saksi perjalanan kita pulang. Setiap helai ubanmu adalah kilau cahaya yang mengingatkanku bahwa perjumpaan dengan Rabb kita kian mendekat. Setiap kelelahanmu dalam mendampingiku adalah tasbih tak bersuara yang sedang dicatat malaikat Raqib. Dan setiap kekurangan yang ada pada dirimu adalah ladang pahala bagiku untuk menyuburkan pohon kesabaran dan keikhlasan di dalam dada."
Ghufran menyandarkan punggungnya, menatap kalimat-kalimat itu dengan dada yang lapang seringan kapas. Beban berat berupa tuntutan agar orang lain membahagiakannya telah terangkat tuntas dari pundaknya. Ia tidak lagi menuntut Afra menjadi surga baginya; karena surga itu milik Allah, dan tugas mereka hanyalah bergandengan tangan menembus onak duri dunia untuk bersama-sama mengetuk pintunya.
Kutipan: "Jika aku mencintaimu sebagai tujuan, aku akan kecewa saat kau menua dan rapuh. Namun karena aku mencintaimu sebagai teman melangkah kepada Allah, setiap kerut di wajahmu adalah saksi perjalanan kita pulang."
------------------------------------
Bagian 2: Taman Yayasan Binaan (Tausiyah Senja bagi Para Pemuda)