Hingga Pertemuan di Hadapan-Nya
مَوْعِدُنَا فِي الجَنَّةِ
Tema: Epilog Keabadian: Cinta yang Berharap Bertemu di Surga Tanpa Perpisahan
------------------------------------
Sinopsis Alur Kejadian:
Tahun-tahun berganti dekade. Usia telah memutihkan rambut dan melambatkan langkah kaki. Di pelataran Masjid Nabawi dalam perjalanan ibadah haji mereka berdua di usia senja, Ghufran dan Afra duduk berdampingan menatap kubah hijau di bawah langit Madinah yang teduh. Mereka tahu perpisahan fisik di dunia oleh kematian hanyalah perkara waktu. Namun di dada mereka, tidak ada lagi ketakutan akan kehilangan.
------------------------------------
Muqaddimah: Riak Waktu dan Rambut yang Telah Memutih
Ketika dunia menanggalkan kilaunya dan menyisakan yang hakiki
---o0o---
Waktu tidak pernah meminta izin ketika ia melipat tahun demi tahun. Ia berjalan tanpa derap tapak yang terdengar, namun jejaknya terpahat nyata pada setiap jengkal raga yang fana. Kulit yang dahulu kencang berseri di bawah binar mentari muda kini telah melipat menjadi kerutan-kerutan halus yang dalam—seperti alur sungai kering yang menjadi saksi betapa derasnya air kehidupan pernah mengalir melaluinya. Punggung yang dahulu tegak menantang badai dunia kini sedikit melengkung, tunduk dalam kepasrahan kepada gravitasi bumi, sekaligus tunduk kepada ketetapan Sang Pencipta yang menggilirkan setiap masa.
Namun anehnya, seiring dengan pudarnya kekuatan jasmani dan memutihnya setiap helai rambut di kepala, ada sesuatu yang justru semakin benderang di dalam dada. Seperti permata yang kian berkilau tatkala selubung debu tanah telah disapu bersih, cinta di antara dua manusia itu telah melepaskan hampir seluruh atribut keduniawiannya. Tiada lagi hasrat ingin menguasai, tiada lagi tuntutan ingin selalu dimengerti, dan tiada lagi ketakutan semu akan tatapan manusia lain. Yang tersisa hanyalah hening yang sarat dengan syukur, serta getar doa yang senantiasa mencari muara pada keridhaan Ilahi.
Ghufran menatap jemari kirinya yang sedang memegang butiran tasbih kayu zaitun hitam. Kayu itu telah mengilap, terpoles oleh gesekan kulit telapak tangannya selama berpuluh-puluh tahun dalam ribuan wirid, tahmid, dan istighfar. Di sampingnya, duduk seorang perempuan yang telah menemaninya melintasi gurun dan lembah kehidupan selama lebih dari setengah abad. Afra. Rambut perak di balik kerudung putihnya adalah mahkota kesabaran yang paling agung yang pernah disaksikan Ghufran di kolong langit ini.
Keduanya kini berada di tanah yang dijanjikan ketenangan bagi setiap jiwa yang letih: Madinah Al-Munawwarah. Kota tempat segala kerinduan bermuara, kota yang tanahnya pernah diinjak oleh sebaik-baik makhluk, Nabi Muhammad ﷺ. Dalam perjalanan ibadah haji di usia senja mereka—perjalanan yang dahulu mereka impikan saat masih mencicil rupiah demi rupiah dalam tabungan kaleng sederhana di sudut kontrakan sempit—keduanya akhirnya sampai. Mereka tiba bukan sebagai sepasang kekasih muda yang sedang membakar bara asmara, melainkan sebagai dua orang hamba tua yang datang untuk bersimpuh, menyerahkan lembaran-lembaran akhir catatan hidup mereka kepada Allah.
Di kota inilah mereka menyadari sepenuhnya: hidup di dunia ini hanyalah sekejap pandang. Masa muda hanyalah embun pagi yang menguap sebelum tengah hari. Namun cinta yang disemai di atas tanah takwa ternyata memiliki akar yang menembus batas-batas langit, siap bertunas kembali di kebun-kebun keabadian.
-------------------------------------
Bagian 01 : Pelataran Masjid Nabawi: Senja Ba'da Maghrib
Dua insan sepuh di bawah naungan payung raksasa dan teduhnya Kubah Hijau
---❦---
“Dinda, di dunia kita telah belajar saling menjaga, saling memaafkan, dan saling melepaskan ego. Nanti di hadapan Allah, berdirilah di dekatku. Aku akan memohon kepada-Nya agar kita tidak lagi dipisahkan oleh apa pun.” — Ghufran kepada Afra di Pelataran Masjid Nabawi
Salat Maghrib baru saja usai. Gemuruh langkah jutaan jamaah dari segenap penjuru bumi berangsur-angsur melunak, berbaur menjadi gumam zikir dan lantunan ayat-ayat suci yang mengalun dari ribuan bibir. Angin senja Madinah berhembus lembut melintasi pelataran marmer putih Thassos—marmer ajaib yang selalu memancarkan kesejukan dingin meski matahari gurun seharian membakar langit jazirah. Di udara, semerbak aroma minyak wangi gaharu, kasturi, dan tetesan air mawar bercampur dengan sejuknya hawa gurun Hejaz yang mulai meneteskan embun.
Di atas kepala mereka, payung-payung hidrolik raksasa yang menaungi pelataran Masjid Nabawi mulai bergerak perlahan. Dengan derit mekanis yang halus dan ritmis, lipatan kain tebal berwarna pasir gurun itu merapat satu per satu, menguncup layaknya kelopak teratai raksasa yang menutup diri menyambut datangnya malam. Saat kain payung itu terlipat sempurna, langit Madinah terbentang luas tanpa tabir: kanvas raksasa bertabur rona lembayung ungu, jingga keemasan, dan birunya safir gelap yang perlahan menelan sisa-sisa mega barat.
Dan di sanalah ia berdiri tegak dengan keanggunan yang melumpuhkan segala kata: Al-Qubbah Al-Khadhra—Kubah Hijau yang menaungi peristirahatan manusia paling agung yang pernah berjalan di muka bumi. Di bawah siraman lampu-lampu sorot pelataran yang keemasan, warna hijau zamrud kubah itu tampak berpendar teduh, memancarkan kedamaian yang seolah membasuh setiap kepedihan yang pernah hinggap di dada manusia.
Di salah satu sudut pelataran selatan, beralaskan sehelai sajadah tenun hijau tua yang tepian benangnya sudah agak bertiras, Ghufran dan Afra duduk berdampingan. Keduanya mengenakan pakaian serba putih sederhana. Bagi siapa pun yang melintas bergegas, mereka hanyalah dua orang kakek dan nenek tua berwajah Nusantara yang sedang beristirahat melepas lelah setelah tawaf dan sa'i yang menguras sendi-sendi renta mereka. Namun bagi Malaikat yang mencatat, mungkin keduanya adalah pemandangan yang amat dicintai: dua hati yang telah menyelesaikan ujian kesetiaan di dunia.
Napas Afra terdengar sedikit berat namun teratur. Penyakit persendian yang menggerogoti lututnya sejak satu dekade silam membuat perempuan itu kini harus lebih banyak bersandar. Namun matanya—mata yang dahulu pernah ditatap Ghufran dengan rasa malu-malu saat akad nikah di sebuah musala kampung yang sederhana lima puluh tahun lalu—masih memancarkan kejernihan yang sama. Mata itu tenang bagai telaga pegunungan yang tak lagi tergoncang oleh riak angin.
Ghufran menoleh pelan. Lehernya yang kaku mengeluarkan bunyi halus saat ia memutar pandang. Ia menatap wajah istrinya. Kerutan di dahi Afra, garis-garis halus di sudut matanya yang tersenyum, dan bibirnya yang kering namun tak henti-hentinya bergerak mengucap selawat. Betapa banyak pengorbanan yang telah dipersembahkan oleh perempuan ini. Ia mengingat tangan itu—tangan yang dahulu mencuci pakaian dengan papan kayu di waktu fajar, tangan yang merawat anak-anak mereka saat demam menggigil di malam buta, tangan yang menadah doa tatkala mereka tak tahu beras apa yang bisa dimasak esok hari.
Dengan kelembutan yang sangat hati-hati, seolah takut melukai pualam yang rapuh, Ghufran mengulurkan tangan kanannya. Jemarinya yang berbintik-bintik cokelat karena usia menyentuh punggung tangan Afra yang diletakkan di atas pangkuan. Afra menoleh, lalu membalas sentuhan itu dengan senyuman yang menyunggingkan kedamaian tiada tara.
Ghufran menggenggam jemari Afra yang telah berkeriput di pelataran Masjid Nabawi selepas salat Maghrib itu. Butiran tasbih zaitun di antara jemari mereka beradu pelan. Tenggorokan lelaki sepuh itu tercekat oleh haru yang membuncah. Dengan suara serak yang bergetar namun sarat kepastian jiwa, Ghufran berbisik lembut:
"Dinda... di dunia kita telah belajar saling menjaga, saling memaafkan, dan saling melepaskan ego. Perjalanan kita di bumi ini sudah mendekati batas tepiannya. Nanti di hadapan Allah, berdirilah di dekatku. Aku akan memohon kepada-Nya agar kita tidak lagi dipisahkan oleh apa pun."
Mendengar kalimat itu, setitik air mata bening luruh dari sudut mata Afra. Air mata itu membelah kerutan pipinya yang tirus, jatuh tepat di punggung tangan suaminya yang masih menggenggam erat. Itu bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan seorang musafir yang setelah berjalan puluhan tahun menembus badai pasir, akhirnya melihat pintu gerbang kampung halaman yang abadi terbentang di depan mata.
"Kanda," suara Afra terdengar lirih seperti desir angin gurun yang menyapu marmer. "Jika Allah mengizinkan seorang perempuan fakir sepertiku masuk ke dalam pintu rahmat-Nya, tidak ada nama lain yang akan kubisikkan selain namamu. Demi Allah yang telah menyatukan kita dalam kalimat tauhid, aku telah meridhai seluruh detik hidupku bersamamu."
Kedua tangan yang renta itu saling mengunci erat di pelataran Masjid Nabawi. Di sekeliling mereka, ratusan burung merpati Madinah melintas rendah mengepakkan sayap di bawah langit senja, seakan menjadi saksi atas sebuah janji yang melompati sekat-sekat kubur.
------------------------------------