Kunjungan yang Mengubah Segalanya
Ghufran mulai membuka niatnya kepada pihak keluarga.
---o0o---
Derai hujan senja itu menghantam genteng tanah liat rumah keluarga di lereng bukit dengan suara gemuruh yang rapat. Udara lembap membawa aroma tanah basah dan seduhan bunga melati dari arah dapur. Ghufran duduk mematung di atas kursi rotan ruang keluarga, kedua tangannya menggenggam cangkir teh yang uapnya perlahan menipis. Di atas meja kayu jati berpernis pudar, sebuah map kulit cokelat tergeletak setengah terbuka. Dari sela lembarannya, terselip catatan kurasi naskah kuno bertinta sepia dan selembar fotokopi biodata relawan filologi dengan sebuah nama yang membuat dadanya berdesir kencang: Afra Nailah.
Langkah kaki terdengar dari lorong belakang. Salwa, adiknya yang baru pulang dari kampus, meletakkan sepiring tempe mendoan panas di samping cangkir teh. Gadis itu memperhatikan gerak-gerik sang kakak yang tak biasa.
"Mas Ghufran melamun lagi?" tegur Salwa seraya menarik kursi kayu di seberangnya. "Sejak pulang dari kantor yayasan tadi sore, Mas cuma membolak-balik map itu tanpa membaca sebaris pun. Ada masalah pelik di proyek cagar budaya?"
Ghufran terperanjat kecil, lekas merapikan map cokelatnya ke tepi meja. "Tidak ada masalah, Salwa. Semuanya berjalan sesuai jadwal restorasi yang telah ditetapkan oleh tim kurator pusat."
"Bohong," balas Salwa seraya menyipitkan mata jahil. "Kalau tidak ada masalah, kenapa kening Mas berkerut sedalam jurang? Dan siapa nama yang tertulis di kertas itu? Afra... Nailah? Siapa dia sebenarnya, Mas? Rekan peneliti baru atau seseorang yang istimewa?"
Sebelum Ghufran sempat menjawab, suara deham berat terdengar dari arah pintu kamar tengah. Abi Mansyur melangkah pelan mengenakan baju koko abu-abu dengan sajadah tenun tersampir di bahu kirinya. Di belakang beliau, Umi Syarifah melangkah menyusul sambil merapikan ujung jilbab ungunya yang teduh. Suasana ruang tengah mendadak berubah hening dan berwibawa.
"Ada apa ini? Suara kalian berdua sampai terdengar ke tempat salat," tanya Abi Mansyur seraya duduk di kursi utama berlengan ukir. Tatapan matanya menatap Ghufran lurus-lurus.
Umi Hajjah Syarifah duduk di samping Abi, lalu tersenyum lembut memandang putra sulungnya. "Iya, Ghufran. Umi perhatikan sejak kemarin malam kau pulang lebih larut dari biasanya. Wajahmu tampak memikirkan sesuatu yang berat. Bicaralah pada Abi dan Umi, Nak. Jangan dipendam sendiri."
Ghufran menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi rongga dadanya. "Tidak ada beban pekerjaan yang mengkhawatirkan di kantor, Umi. Semua amanah di balai pelestarian naskah berjalan baik dan lancar."
"Lalu apa yang membuatmu tampak gelisah?" selidik Abi Haji Mansyur dengan nada baritonnya yang tenang. "Seorang laki-laki biasanya gelisah karena dua perkara: amanah hidup yang belum tertunaikan, atau ketetapan hati yang sedang menuntut sebuah keberanian besar."
Salwa menyenggol lengan kakaknya pelan. "Ayo katakan, Mas. Tadi Salwa jelas melihat ada selembar berkas biodata perempuan di map Mas Ghufran."
Mendengar ucapan putri bungsunya, kening Umi Syarifah sedikit terangkat penuh tanya. "Perempuan? Siapa yang Salwa maksud, Ghufran? Mengapa kau menyimpannya diam-diam?"
Ghufran memejamkan mata sejenak, mengumpulkan seluruh keberanian yang selama ini tersembunyi. Jari-jarinya menggenggam tepi map kulit itu lebih erat. Momen yang ia rencanakan berhari-hari kini tiba tanpa bisa diulur lagi di hadapan kedua orang tuanya tercinta.
"Sebenarnya... kepulangan Ghufran ke rumah sore ini bukan sekadar kunjungan akhir pekan biasa, Abi, Umi," ucap Ghufran mantap, menatap kedua orang tuanya bergantian. "Ada sebuah niat suci yang sudah lama Ghufran timbang dalam salat istikharah, dan malam ini Ghufran ingin menyampaikannya kepada pihak keluarga secara terbuka dan jujur."
Abi Mansyur meletakkan sajadahnya di sandaran kursi. Beliau mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sorot mata menyelidik yang penuh kesungguhan mendalam. "Katakan dengan jujur tanpa ragu, Ghufran. Niat apa yang kau bawa pulang ke rumah ini?"
"Niat untuk menyempurnakan separuh agama, Abi," jawab Ghufran lirih namun berwibawa. "Ghufran telah menemukan seorang wanita yang ingin Ghufran pinang sebagai pendamping hidup sejati."
Umi Syarifah tertegun haru, pandangannya beralih dari cangkir teh ke wajah putranya. "Kau sudah mantap, Nak? Siapa wanita beruntung yang berhasil mencuri perhatianmu setelah sekian lama kau menutup pintu hati dari pembicaraan jodoh?"
"Namanya Afra Nailah, Umi. Gadis yang membuat Ghufran mengerti arti kesabaran, kemuliaan ilmu, dan keikhlasan budi pekerti yang sesungguhnya di hadapan Allah," tutur Ghufran dengan tatapan teduh penuh pengharapan tulus yang sangat mendalam.
°˖✧✿✧˖°
Ruang tengah mendadak senyap, hanya menyisakan derai air hujan yang menghempas kaca jendela berbingkai kayu jati tua. Umi Syarifah meletakkan cangkir porselennya perlahan di atas tatakan, menimbulkan denting halus yang memecah keheningan. Sorot mata keibuan wanita itu memancarkan rasa terkejut bercampur haru yang mendalam. Selama dua puluh delapan tahun membesarkan Ghufran, baru kali ini putranya menyebut sebuah nama wanita dengan getaran suara sehidup dan seyakin ini di hadapan keluarga besar kita. Udara ruangan terasa semakin dingin menusuk kulit, namun kehangatan rasa ingin tahu menjalar begitu nyata di antara mereka berempat.
"Afra Nailah?" ulang Umi Syarifah lirih, mengeja nama asing itu seperti mencari jejak ingatan di benaknya. "Umi rasa belum pernah mendengar nama itu di antara sanak kerabat kita ataupun rekan pengajian keluarga besar. Dari mana asal usulnya, Ghufran?"
Salwa yang duduk di sebelah Ghufran langsung mendekatkan kursi dengan mata berbinar penasaran. "Wah, Mas Ghufran diam-diam sudah punya pilihan hati! Jangan-jangan dia rekan sekantor di balai pelestarian cagar budaya ya, Mas? Sejak kapan kalian saling mengenal sedekat ini?"
"Bukan sekadar rekan kerja santai, Salwa," tukas Ghufran seraya menoleh pada adiknya, lalu kembali mengarahkan pandangan kepada sang ayah. "Afra adalah filolog muda yang diperbantukan oleh lembaga arsip naskah kuno provinsi. Kami sering berdiskusi mengenai pemugaran manuskrip dakwah abad kedelapan belas."
Abi Mansyur merapatkan jemarinya di atas paha. Tatapan sang ayah menguliti kesiapan mental putranya hingga lapisan terdalam. "Ghufran, membicarakan pernikahan bukan sekadar memuji kepandaian seseorang saat bekerja sama dalam sebuah proyek riset keilmuan. Pernikahan adalah perjanjian agung, mitsaqan ghalizha. Apakah kau menyebut namanya karena desakan emosi sesaat, atau kau sudah benar-benar meneliti agamanya?"
"Demi Allah tidak ada ketergesa-gesaan dalam hal ini, Abi," sanggah Ghufran mantap. "Hati Ghufran telah menimbang berbulan-bulan. Setiap kali Ghufran memohon petunjuk di sepertiga malam terakhir, nama Afra Nailah yang selalu menghadirkan ketenangan dalam jiwa Ghufran, bukan kecemasan ataupun keraguan duniawi."