
Jejak di Pelataran Basah
Pertemuan Dua Cakrawala yang Bersilang dalam Lindungan Hujan
-------------------------------------
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." — QS. Al-Baqarah: 216
--------------------------------------
--- Bagian I: Gaun Satin yang Robek dan Pelarian Malam ----
Lokasi: Ballroom Grand Hyatt Amal Tower & Jalan Raya Berkabut
---o0o---
Dentang garpu perak yang berdenting pelan di atas piring porselen Limoges tidak pernah terdengar semenyakitkan malam ini. Di dalam Grand Ballroom lantai tiga puluh dua Amal Tower, udara terasa begitu pekat oleh aroma parfum tuberose impor, cerutu Kuba berharga puluhan juta, dan senyuman yang terbuat dari kalkulasi persentase saham. Nashira Salma menegakkan punggungnya yang letih di balik gaun satin sutra berwarna hijau zamrud karya perancang Paris ternama—sebuah busana yang dipilihkan bukan atas dasar selera jiwanya, melainkan agar serasi dengan kartu undangan berlapis serbuk emas.
Tiga ratus pasang mata kalangan elite finansial ibu kota sedang menatap ke podium utama. Di sana, Fadhilul Amal—lelaki yang darahnya mengalir dalam urat nadi Nashira, namun yang jiwanya tak pernah ia kenali lebih dalam daripada laporan tahunan perseroan—tengah mengangkat gelas sampanye kristal dengan wibawa seorang maharaja monarki korporat.
"Malam ini, para pemegang saham dan sahabat terkasih," suara Fadhilul menggema melalui tata suara berkelas dunia, berat dan penuh kepastian yang tak menerima bantahan, "bukan sekadar penutupan merger akbar antara Amal Group dan Adhitama Global Syndicate. Malam ini adalah peneguhan masa depan. Dengan penuh rasa bangga, saya persembahkan pertunangan putri tunggal saya, Nashira Salma, dengan saudara Rayhan Adhitama."
Tepuk tangan bergemuruh memekakkan telinga. Lampu blitz kamera puluhan juru warta meledak serentak, menembus pupil mata Nashira laksana serpihan kaca tajam. Di samping ayahnya, Rayhan tersenyum miring—senyuman seorang pemuda parlente pewaris dinasti tambang yang memandang perempuan tidak lebih dari sekadar aksesoris pelengkap jam tangan Patek Philippe miliknya. Ia melangkah mendekati Nashira, mengulurkan tangan yang dihiasi cincin berlian tujuh karat berbingkai platinum.
Namun di dada Nashira, sesuatu yang selama dua puluh empat tahun tertimbun di bawah tatanan tata krama ningrat bisnis mendadak meledak. Itu bukan sekadar rasa kaget; itu adalah jeritan parau jiwa yang menolak mati lemas. Nafasnya tercekat di pangkal tenggorokan. Selama ini ia mematuhi segala kurikulum kehidupan yang dirancang sang ayah: lulus magna cum laude dari jurusan finansial London, memimpin yayasan sosial pencuci citra perusahaan, dan menghadiri pesta-pesta hampa tanpa pernah mendebat. Namun menjadikannya segel transaksi senilai triliunan rupiah di hadapan sorak-sorai manusia munafik ini adalah garis batas kehormatannya.
"Nashira, berikan tanganmu," bisik ayahnya dengan senyum yang tak pudar, namun sorot matanya sedingin mata belati yang mengancam.
"Tidak, Ayah," desis Nashira. Suaranya pelan, namun bergetar hebat oleh gelombang ketakutan yang bercampur amarah suci.
"Jangan membuat skandal di depan dewan direksi, Salma!" bisik Fadhilul kembali, giginya bergemeretak halus.
Tanpa sepatah kata lagi, Nashira memundurkan langkahnya. Matanya nanar menatap lautan jas tuksedo dan senyuman artifisial yang kini mulai berubah menjadi kerutan heran. Rayhan melangkah maju hendak mencengkeram pergelangan tangannya, "Nashira, tenanglah, ini hanya formalitas—"
"Lepaskan aku!" pekik Nashira. Ketika tumit sepatu stiletto dua belas sentimeter miliknya tersangkut pada lipatan keliman gaun panjangnya, ia tidak ragu. Dengan kedua belah tangannya yang gemetar, ia menyentak kain sutra zamrud itu sekuat tenaga. Bunyi robekan kain terdengar nyaring di dekat meja VIP. Keliman gaun mewahnya terbelah hingga ke atas betis, membebaskan langkah kakinya.
Diiringi tatapan terperangah para konglomerat dan kilatan blitz yang kian beringas, Nashira berlari kencang menerobos pintu darurat. Gaun malamnya yang sobek berkibar liar saat ia menuruni tangga beton menuju basemen parkir khusus. Air mata panas akhirnya tumpah, membakar pipinya dan melunturkan riasan wajah yang memakan waktu tiga jam pengerjaan.
Ia menyalakan mesin roadster dua pintu miliknya dengan jemari yang dingin beku. Raungan mesin empat silinder turbo itu memecah kesunyian basemen saat pedal gas diinjak tanpa ampun. Mobil sport itu melesat keluar, menabrak tirai hujan badai yang baru saja menenggelamkan ibu kota ke dalam kekelaman pekat.
Jalan protokol yang basah berkilau memantulkan cahaya lampu merkuri kuning yang temaram. Wiper mobil menyapu kaca depan dengan kecepatan maksimum, namun pandangan Nashira tetap kabur—sebagian oleh derasnya badai tropis akhir September, sebagian lagi oleh kabut air mata yang tak kunjung reda. Ponsel pintarnya di atas konsol tengah terus bergetar tanpa henti: belasan panggilan masuk dari ayahnya, sekretaris pribadi, dan Rayhan. Dengan satu gerakan penuh muak, ia menyambar gawai mahal itu dan melemparnya ke kursi penumpang belakang.
Nashira tidak tahu ke mana ia hendak pergi. Ia hanya ingin menjauh sejauh mungkin dari perimeter gedung-gedung pencakar langit yang terasa seperti pilar-pilar penjara berlapis marmer. Di dalam benaknya yang berkecamuk, satu pertanyaan purba mengaum tanpa ampun: *Jika Tuhan benar-benar ada dan Maha Adil sebagaimana yang selalu diajarkan guru mengaji masa kecilku dulu, mengapa Dia membiarkanku hidup dalam kepalsuan yang begitu menyesakkan? Apakah aku hanyalah seonggok daging tak berharga yang boleh dilelang di pasar keserakahan manusia?*
Mobilnya terus meluncur meninggalkan jalan tol lingkar luar, menembus jalan raya pinggiran kota yang kian menyempit, gelap, dan berliku. Kabut tebal turun dari lereng perbukitan purba di batas kota, menyelimuti aspal retak dalam kesenyapan yang mencekam. Nashira Salma sendirian di tengah badai, sementara malam menelan segala jejak kemewahan yang pernah ia miliki.
-------------------------------------
--- Bagian II: Selasar Beraroma Hujan dan Kayu Tua ---
Lokasi: Jalanan Pinggiran Kota & Pelataran Luar Masjid Al-Ikhlas
---o0o---