Pertanyaan-Pertanyaan Sulit
Ghufran diuji dengan pertanyaan tentang pekerjaan, masa depan, agama, dan tanggung jawab.
---o0o---
Udara lembap sisa hujan ashar masih menggelayut di atas kanopi dedaunan mahoni tua ketika langkah kaki Ghufran menapaki undakan pualam kediaman Al-Ghazi. Jantungnya berdegup laksana genderang perang yang ditabuh kencang, namun punggungnya ia paksa tetap tegak di balik kemeja tenun abu-abu bersahaja. Di sampingnya, Ustadz Ridwan menepuk pundaknya dua kali secara mantap—sebuah isyarat tanpa suara yang bermakna ganda: kendalikan napasmu, serahkan takdir pada Pemilik semesta.
Ruang tamu itu lapang, bernuansa kayu jati berukir sulur dedaunan khas pesisir utara, berpadu dengan rak-rak buku menjulang tinggi yang memuat deretan kitab tafsir bertinta emas bersanding dengan literatur riset sosial perkotaan modern. Harum seduhan teh melati berpadu cengkih samar-samar merayapi indra penciuman. Di hadapan Ghufran, duduk Abi Salman—pria paruh baya berwibawa dengan janggut keperakan rapi dan sorot mata elang yang mampu menelanjangi kepura-puraan siapa saja yang bertamu.
"Minumlah dulu, Nak Ghufran," suara Abi Kiyai Haji Usman rendah, tenang, tetapi memiliki bobot wibawa yang menuntut takzim. "Hujan di luar lebat, dan jalanan panjang dari kotamu pasti menguras tenaga serta pikiran."
Ghufran menundukkan kepala sejengkal dengan sopan. "Alhamdulillah, terima kasih banyak, Abi Usman. Perjalanan tadi berjalan lancar, dan gerimis sore ini insya Allah menjadi selimut berkah bagi silaturahmi kita."
"Teh hangat selalu menjadi pembuka yang adil sebelum kita membuka lipatan-lipatan pikiran," sahut Abi Usman seraya tersenyum tipis tanpa melunturkan ketegasannya. "Namun, seorang pemuda yang mengetuk pintu seorang ayah dengan niat meminang anak perempuannya tentu tidak datang hanya untuk menikmati seduhan wedang, bukan begitu, Sahabatku Ridwan?"
Ustadz Ridwan tertawa kecil seraya mengangguk takzim. "Tentu saja, Kiyai Usman. Ghufran tahu betul bahwa rumahmu bukan tempat singgah main-main. Ia datang membawa ketukan niat yang lurus demi mencari keridhaan Allah Ta'ala."
"Niat yang baik selalu membutuhkan pengujian yang jernih," timpal Abi Usman lugas.
Tepat saat kalimat itu tuntas, gesekan halus kayu pada rel pintu partisi terdengar merayap. Ruangan seketika dibasuh kesenyapan baru. Dari balik tabir kayu jati kisi-kisi, sosok itu melangkah masuk dengan langkah teratur.
Itulah Afra Nailah.
Ghufran menahan napas sesaat, lalu segera menundukkan pandangannya demi menjaga adab. Namun, siluet pertama itu telah tertanam begitu kuat di benaknya. Afra mengenakan gamis bersahaja berwarna lavender pudar berpadu jilbab sage yang menjuntai rapi menutupi dada. Tak ada gemerlap perhiasan yang berlebihan, tak ada riasan tebal yang menutupi kejernihan kulit sawo matang khas perempuan timur. Di tangannya, sebuah nampan tembaga antik menopang teko porselen dan cangkir-cangkir mungil bermotif kaligrafi. Di lengan kirinya, terselip sebuah buku catatan bersampul kain linen abu-abu tua dengan sebatang pena kuningan.
Langkah kakinya anggun tanpa kesan tergesa, memancarkan wibawa seorang cendekiawan muda yang sadar penuh akan marwah dirinya. Pandangan matanya lurus, teduh, tetapi menyimpan kilat kecerdasan yang menuntut kesungguhan.
"Assalamu’alaikum warahmatullah," suara Afra mengalun jernih, bagai gemerincing air di telaga batu pualam.
"Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh," jawab Ghufran dan Ustadz Ridwan hampir berbarengan.
Afra meletakkan nampan di atas meja dengan gerakan sangat teratur tanpa dentang porselen. Saat menuangkan teh, tatapannya menyapu sekilas ke arah Ghufran—tatapan analitis yang tenang sekaligus penuh selidik, seolah sedang membaca naskah manuskrip yang belum pernah diterjemahkan.
"Duduklah di samping Ummimu, Afra," titah Abi Usman dengan sorot mata penuh kasih sayang.
"Baik, Abi," jawab Afra patuh, lalu duduk bersimpuh anggun di samping Ummi Maryam. Tangannya menaruh buku catatan linen di pangkuan, jemarinya yang lentik mengetuk pelan tepi buku itu seraya bersiap membuka lembaran musyawarah.
"Apakah Mas Ghufran sudah siap?" tanya Afra tiba-tiba, suaranya tenang menatap lurus.
"Bismillah, saya siap mendengarkan dan menjawab dengan sejujur-jujurnya," sahut Ghufran tegas.
°˖✧✿✧˖°
Abi Usman berdeham lembut, membetulkan letak songkok hitamnya sebelum kembali memusatkan pandangannya kepada Ghufran. Suasana di ruang tamu kembali memadat, diiringi irama gerimis yang berdetak konstan pada kaca jendela berukir.
"Ghufran," ujar Abi Salman dengan nada terukur, "kami telah membaca berkas ta'aruf yang kau titipkan lewat Ridwan. Rekam jejakmu sebagai sarjana arsitektur dan kontraktor mandiri cukup memberi gambaran tentang caramu mencari nafkah di tengah dunia yang bising ini."
"Alhamdulillah, Abi," jawab Ghufran singkat, berusaha menjaga agar getar di pita suaranya tidak bocor ke permukaan.
"Namun, selembar kertas biodata hanyalah benda mati," lanjut sang ayah seraya menepuk lututnya. "Ia bisa dipercantik dengan diksi manis. Hari ini, aku tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang mengujimu. Rumah tangga yang akan kau bangun adalah masa depan putriku, bukan hidupku. Maka, biarlah Afra sendiri yang mengurai apa yang menjadi kegelisahan di kepalanya."
Afra membuka buku catatan bersampul linen itu. Desau kertas yang berbalik terdengar begitu kontras di keheningan ruang. Ia menegakkan tubuhnya, memandang lurus ke arah Ghufran tanpa keraguan, namun tetap dalam batas hijab rasa malu yang luhur.
"Bismillah," ucap Afra pelan, jemarinya memegang pena kuningan dengan kokoh. "Mas Ghufran, saya membaca bahwa Anda merintis studio rancang bangun sendiri selama empat tahun terakhir. Sektor konstruksi sangat akrab dengan tender fiktif, komisi bawah meja, dan pemangkasan spesifikasi material demi melipatgandakan laba. Pertanyaan saya lugas: jika studio Anda terancam bangkrut, lalu ada tawaran proyek bernilai miliaran rupiah dengan syarat Anda wajib menyetor uang pelicin, apa keputusan Anda?"
Ghufran tertegun sesaat. Pertanyaan ini langsung membidik integritas moralnya tanpa tedeng aling-aling.
"Saya akan menolaknya, Mbak Afra," jawab Ghufran mantap, menatap meja di antara mereka dengan keteguhan yang tak goyah. "Dan itu bukan sekadar teori di atas bibir. Dua tahun lalu, studio kecil saya kehilangan proyek revitalisasi pasar kecamatan karena saya menolak membagi persentase keuntungan haram kepada panitia lelang."
Afra mengangkat sebelah alisnya yang teratur. "Lalu apa dampaknya bagi Anda saat itu? Apakah prinsip itu tidak membuat dapur Anda berhenti mengepul?"
"Dampaknya nyata dan sangat menyakitkan," aku Ghufran jujur tanpa menutup-nutupi kepahitannya. "Saya harus merumahkan dua orang drafter muda yang menjadi tanggung jawab saya, menjual sepeda motor satu-satunya demi membayar sewa kantor, dan bertahan lima bulan hanya dengan proyek renovasi teras rumah tetangga. Tapi saya tidur dengan nyenyak setiap malam tanpa takut malaikat maut mencium aroma khianat di piring saya."
Afra terdiam sejenak seraya mencatat beberapa patah kata di buku linennya. "Integritas adalah harga mati, Mas Ghufran. Tetapi banyak laki-laki berubah menjadi pengecut ketika anak-anak mereka menangis meminta susu. Apakah Anda yakin tidak akan goyah saat perut keluarga Anda yang menjadi taruhannya?"
"Saya percaya rezeki sudah tertakar rapi oleh Allah, Mbak Afra, sementara kehormatan iman kitalah yang menentukan apakah rezeki itu dijemput lewat pintu yang halal atau comberan yang kotor," tandas Ghufran teguh.
°˖✧✿✧˖°
Keheningan yang pekat kembali merayapi ruang tamu keluarga Al-Ghazi. Ummi Maryam menuangkan sedikit air putih ke cangkir tembaga Ghufran, seolah memberi ruang bagi pemuda itu untuk membasahi tenggorokannya yang mulai kering.Maryam Halimah dengan tatapan keibuan yang menyejukkan. "Afra memang terbiasa lugas sejak aktif di dunia penelitian."