Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

GEMERLAP YANG SUNYI

Gemerlap yang Sunyi

Pertemuan Antara Neraca Modal dan Keabadian Tanah Wakaf

-------------------------------------

Mencari tahu identitas arsitek masjid yang menolongnya, Nashira Salma mendatangi studio kerja Ghaffar Syarif dengan dalih izin sengketa lahan korporasi, hanya untuk menemukan perspektif hidup yang meruntuhkan kebanggaan materinya.

----

Landasan Spiritual: QS. Al-Hadid Ayat 7

"Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar."

-------------------------------------


--- Bagian I: Menelusuri Nama di Balik Lembar Blueprint ---

Lokasi: Kantor Pusat Amal Tower Lantai 42, Sudirman | Waktu: Pukul 09.30 WIB — Awan Kelabu Musim Hujan.

---o0o---

Dari balik dinding kaca tempered setinggi lima meter di lantai empat puluh dua Amal Tower, denyut metropolitan Jakarta terhampar menyerupai papan sirkuit raksasa yang kehabisan daya. Selimut kabut hujan menggantung rendah di atas cakrawala segitiga emas, mengaburkan puncak-puncak gedung pencakar langit lainnya hingga hanya menyisakan kerlip lampu navigasi pesawat yang berkedip monoton. Di dalam ruangan berhawa sejuk konstan dua puluh derajat Celsius ini, aroma parfum tuberose Prancis yang dikenakan Nashira Salma berbaur samar dengan wangi lapisan lilin kayu eboni dan pendingin udara sentral yang sunyi.

Nashira menyandarkan punggungnya pada kursi kulit aniline hitam rancangan Mies van der Rohe. Sepasang sepatu hak stiletto merah tua Christian Louboutin miliknya menyentuh lantai marmer Nero Marquina yang dipoles begitu mengilap, memantulkan bayangan dirinya yang sempurna: blazer tweed wol abu-abu arang dengan potongan bahu tegas, jam tangan Patek Philippe berbahan emas putih di pergelangan tangan kiri, serta tatanan rambut ikal sebahu yang rapi tanpa sehelai pun anak rambut yang berani melenceng.

Di hadapannya, terbentang berkas tebal berstempel merah menyala bertuliskan 'STRICTLY CONFIDENTIAL: ACQUISITION PROJECT B-14 — AMAL METROPOLITAN HUB'. Nilai investasi yang tertera pada lembar ringkasan eksekutif itu bukan angka main-main: 4,8 triliun rupiah. Sebuah megaproyek terintegrasi yang memadukan menara perkantoran Grade-A, apartemen privat, dan galeri perbelanjaan ultra-mewah yang digadang-gadang oleh ayahnya, H. Rasyid Amal, sebagai mahakarya penutup sebelum menyerahkan kendali konglomerasi sepenuhnya ke tangan Nashira.

Namun, di lembar ketujuh belas, rencana induk bernilai triliunan itu membentur dinding tebal. Sebuah petak tanah berbentuk huruf L seluas tiga ratus meter persegi di sudut barat daya—lokasi yang menurut studi kelayakan lalu lintas harus dipapas demi jalur masuk arteri underpass selebar delapan belas meter—tertahan dalam kebuntuan yuridis. Di atas petak itulah berdiri serambi terbuka sebuah masjid tua berdinding kapur putih dengan pelataran rumput gajah mini dan tiga makam keluarga tua pendiri kampung Rawamangun tempo dulu.

Para pengacara korporasi terbaik yang digaji Amal Group telah melayangkan tiga kali somasi penyesuaian tata ruang kota. Tim akuisisi lapangan bahkan telah menawarkan angka ganti untung tiga kali lipat dari Nilai Jual Objek Pajak kawasan komersial. Tetapi semua dokumen penawaran itu dikembalikan tanpa tanda tangan, disertai selembar surat balasan resmi yang ditulis dengan mesin tik manual di atas kertas berperekat air berlambang geometris delapan sudut.

Surat itu tidak memuat ancaman demonstrasi jalanan atau tuntutan angka rupiah tambahan. Surat itu hanya menyitir Pasal 40 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, ditutup dengan kutipan kaligrafi Arab yang ditulis tangan dengan ketelitian seorang maestro khat:

'Harta yang telah diikrarkan sebagai wakaf demi kemaslahatan sujud hamba-hamba Allah telah terlepas dari rantai kepemilikan manusia dan kembali mutlak menjadi hak milik Pencipta Semesta Alam. Tidak ada korporasi, modal, maupun undang-undang buatan manusia yang berhak memindahtangankan setapak pun tanah yang telah menjadi saksi air mata taubat para musafir.'

Di bawah tulisan tangan bertinta cina hitam pekat itu, tertera sebuah nama yang membuat denyut nadi Nashira seketika berdegup tak beraturan: Ghaffar Syarif, S.T., M.T. — Sakinah Rancang, Studio Arsitektur & Pelestarian Ruang Wakaf.

Nashira Salma menghembuskan napas pelan, meraba liontin giok kecil di balik kerah kemeja sutranya. Memori yang coba ia kubur selama tujuh hari terakhir menyeruak kembali dengan ketajaman yang menyakitkan.

Selasa sore pekan lalu, di bawah guyuran hujan badai tropis yang melumpuhkan kawasan bypass Rawamangun, sedan Mercedes-Maybach yang ia tumpangi mengalami pecah ban ganda setelah menghantam lubang galian utilitas yang tak bertanda. Sopirnya panik, sambungan internet ponselnya lenyap tertelan badai, dan Nashira—yang panik karena terlambat menghadiri gala dinner dengan para konsorsium perbankan Singapura—terpaksa turun menembus tempias air berlumpur dengan payung lipat yang seketika patah dihantam angin kencang.

Dalam ketidakberdayaan yang memalukan bagi seorang pewaris dinasti Amal, seorang pemuda berpayung kain terpal hijau tua melangkah keluar dari serambi masjid di seberang jalan. Pemuda itu tidak bertanya siapa dirinya, tidak terpesona oleh lambang bintang tiga sudut di kap mobilnya, dan sama sekali tidak menghiraukan gaun adibusana Nashira yang terciprat lumpur kecokelatan.

Dengan ketenangan seorang ahli bedah yang bekerja di ruang operasi darurat, pemuda itu membungkuk di bawah hujan lebat, memasang dongkrak hidrolik cadangan, dan mengganti kedua roda mobil dengan gerak jemari yang terlatih serta tangkas. Ketika pekerjaan kotor itu selesai dan Nashira—dengan refleks seorang borjuis metropolitan yang terbiasa melunasi setiap utang budi dengan kekayaan—menyodorkan segepok uang kertas pecahan seratus ribu rupiah dari dalam dompet kulit buayanya, pemuda itu hanya menggeleng pelan.

Nashira masih ingat betul tatapan mata pemuda itu saat gerimis menetes dari ujung topi pet kanvasnya. Pemuda itu tidak menatap langsung ke matanya, menjaga pandangannya dengan kesantunan yang ganjil bagi laki-laki zaman sekarang, seraya berucap dengan suara berat yang menembus gemuruh guntur:

'Simpan kembali uangmu, Nona. Menolong sesama manusia yang terdampar di depan pintu rumah Allah bukanlah komoditas jasa yang memiliki label harga. Doakan saja agar serambi masjid ini senantiasa dilindungi dari keserakahan duniawi.'

Kini, nama pemuda itu—Ghaffar Syarif—tertera persis di hadapannya sebagai satu-satunya batu sandungan yang mengancam peluncuran proyek terakbarnya.

'Ghaffar Syarif,' bisik Nashira lirih, jemarinya mengetuk permukaan marmer meja kerjanya. Suaranya dingin, namun rongga dadanya bergetar oleh campuran rasa tak terima dan rasa penasaran yang teramat dalam. 'Kau menolak uangku di bawah hujan, dan sekarang kau berani menentang imperium ayahku di atas kertas legal?'

Ia menekan tombol interkom di sudut meja. 'Sekretaris Rini, batalkan semua agenda pertemuan komite investasi siang ini. Siapkan berkas peta kontur Kavling B-14 dan mobil. Aku sendiri yang akan mendatangi kantor Sakinah Rancang di Rawamangun. Jangan ada pengacara yang ikut.'

**Nashira Salma (Batin)**: "Bagaimana mungkin pemuda dengan jemari berkulit kecokelatan dan kemeja katun lusuh itu adalah duri paling tajam dalam proyek flagship konsorsium kami?"

-------------------------------------


--- Bagian II: Studio Bersahaja Tanpa Pendingin Udara Mewah ---

Lokasi: Studio Arsitektur Sakinah Rancang, Gang Kenanga, Rawamangun | Waktu: Pukul 11.45 WIB — Menjelang Azan Zuhur

Lihat selengkapnya