Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

AFRA DALAM PENANTIAN

Afra dalam Penantian

Afra menunggu tanpa menuntut kepastian.

---o0o---

Matahari petang perlahan merosot di balik rerimbun pucuk kamboja putih di pekarangan rumah joglo, menumpahkan semburat cahaya keemasan hangat ke lantai serambi kayu berpelitur gelap. Di sudut serambi yang terlindung dari embusan angin jalanan desa, beralas tikar pandan wangi beranyam halus, Afra Nailah duduk bersimpuh dengan ketenangan yang ganjil bagi perempuan berusia dua puluh tiga tahun. Jemarinya yang ramping, bersih, dan lentik bergerak dengan irama yang luar biasa ajek, menarik seutas benang sutra sewarna gading menembus pori-pori kain blacu putih pada lingkaran pemidang kayu sonokeling tua. Sehelai kelopak bunga teratai mekar perlahan di bawah kelincahan jarumnya, simetris dan anggun tanpa terburu-buru, menyerupai hembusan napas sang penyulam yang tak pernah memburu kepastian masa depan fana.

"Bagaimana mungkin kamu masih bisa duduk setenang batu pualam di sini, Mbak Afra? Apakah darah di dadamu terbuat dari air es perigi? Seluruh kedai kopi di pasar bawah sedang mendidih membicarakan hal ini, dan kamu justru asyik menghitung helai benang sulaman seolah tidak ada peristiwa besar yang sanggup mengguncang hidupmu dan kehormatan keluarga besar kita!"

Rania, adik sepupu tiri yang baru berusia sembilan belas tahun, menghempaskan tubuhnya ke kursi rotan berlengan lengkung dengan bunyi derit tajam yang memecah keheningan serambi joglo. Napas gadis belia itu tersengal-sengal, gaun katun berbunga birunya dipenuhi debu jalan setapak dermaga hilir, dan sepasang matanya membelalak lebar memancarkan perpaduan antara kepanikan dan kejengkelan yang meluap-luap kepada ketenangan kakak sepupunya yang tak tergoyahkan.

"Duduklah yang tenang lebih dahulu, Rania. Tarik napasmu dalam-dalam dan minumlah air seduhan bunga telang dengan serai wangi ini selagi hangat di cangkirmu. Napasmu berkejaran seperti rusa betina yang baru saja lolos dari sergapan pemburu di lereng bukit jagung perbatasan desa kita."

Afra berkata dengan nada yang teramat lembut, tanpa menghentikan kelincahan tusukan jarumnya. Suaranya jernih dan teduh, mengalir bagai pancuran bambu di mata air pegunungan yang hening, sanggup meredam letupan amarah siapa pun yang mendengarnya. Kerudung pasmina katun abu-abu asap yang membingkai wajah tirusnya tersemat rapi dengan peniti perak kecil bermata mutiara warisan neneknya. Di wajahnya terpancar kedewasaan sunyi yang lahir dari laku tirakat panjang menahan diri dari keluh kesah duniawi.

"Aku tidak butuh seduhan bunga telang, Mbak! Mas Danu dan rombongan pedagang tembakau baru saja sandar di hilir sungai setelah menumpang kapal uap dari seberang pulau. Mereka bersumpah melihat Mas Ghufran Al-Ghifaru di dermaga kota dua hari yang lalu! Mas Ilham sudah menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahiran ini setelah tiga tahun menghilang tanpa kabar berita resmi untukmu!"

Gerakan jarum perak Afra tertahan sekejap di udara. Hanya sekejap mata, sebuah jeda yang nyaris tak tertangkap oleh pandangan orang lain, namun cukup untuk menggetarkan lubuk terdalam dadanya. Tiga tahun berlalu semenjak pemuda itu berpamitan di bawah temaram lentera gardu batas desa tanpa ikatan janji resmi. Namun, keteguhan hati yang ditempa bertahun-tahun segera memulihkan kendali dirinya.

"Alhamdulillah jika Ghufran telah tiba kembali di tanah kelahirannya dengan selamat sentosa, adikku. Menyeberangi selat berombak ganas di musim angin barat bukanlah perkara yang mudah bagi pelaut mana pun yang mengarungi samudra luas."

Semilir angin petang menerbangkan sehelai kelopak kamboja putih yang layu, menjatuhkannya tepat di pangkuan kain blacu Afra. Perempuan muda itu mengangkat pandangan matanya yang.

"Hanya ucapan syukur itu yang keluar dari bibirmu? Demi langit, dia turun di pelabuhan tanpa mengirim kurir untukmu, dan orang-orang di kedai kopi pasar mulai tertawa sinis mencemoohmu! Mengapa kamu tidak menyuruh paman kita mencarinya ke penginapan dermaga sekarang juga untuk meminta kejelasan hubungan dan pertanggungjawaban janjinya?"

"Mengapa aku harus mengirim orang untuk memburu dan menagih sesuatu yang belum pernah dipinjamkan, Rania? Hati manusia bukan surat utang piutang yang jatuh tempo di hari pasaran. Jika seseorang berniat menemuiku, ia akan melangkah dengan kesadaran jiwanya sendiri tanpa perlu diseret oleh tuntutan keluarga kita."

"Tetapi penantian tanpa kepastian ini mencelakakan dirimu sendiri, Mbak Afra! Orang banyak di luar sana menganggap diammu ini sebagai kebodohan yang memalukan keluarga besar kita di hadapan seluruh penduduk kawedanan!"

"Biarlah orang menilai apa pun yang mereka kehendaki, Rania. Aku menunggu tanpa menuntut kepastian."

°˖✧✿✧˖°

Langkah kaki tergesa-gesa terdengar menghentak lantai papan dari arah ruang tengah berdaun pintu jati tebal. Nyai Hajjah Maryam ibunda Afra yang berwajah teduh namun selalu didera gundah, melangkah keluar ke serambi seraya mengibaskan selendang lurik cokelat tuanya. Sorot matanya mencerminkan luka batin seorang ibu yang lelah menanggung bisik-bisik tetangga perihal anak gadisnya yang belum juga bersanding di pelaminan pernikahan.

"Ibumu mendengar jeritan suara Rania dari pelataran, Afra. Dan kali ini ibumu tidak sanggup lagi menutup telinga. Kita harus mengambil tindakan tegas sebelum martabat keluarga kita hancur diinjak cemooh orang kampung!"

Afra segera berdiri menyambut ibunya, membimbing tangan perempuan tua yang penuh urat-urat kasar itu menuju kursi rotan berpelindung kain lembut. Sikap baktinya mengalir wajar, penuh ketundukan tulus tanpa secuil pun jejak bantahan kasar.

"Duduklah dengan tenang, Ibu. Jangan biarkan kabar angin yang belum jelas pangkalnya menguras kesehatan lambung Ibu yang sering kumat di kala senja merebak."

Nyai Salimah menatap mata putrinya dengan sepasang mata yang mulai berkaca-kaca, mencemaskan masa depan anak gadisnya di tengah masyarakat yang kejam menghakimi kesendirian seorang perempuan dewasa di pedesaan.

"Bagaimana hatiku bisa tenang, Nduk? Tiga tahun penuh kamu menolak pinangan Mas Mantri dan juragan penggilingan padi! Seluruh desa tahu jiwamu tertambat pada Ghufran. Jika dia sudah berada di kota, izinkan pamanmu mengutus orang menanyakan kepastian niatnya!"

Di hadapan tatapan putrinya yang kokoh laksana dinding karang itu, Nyai Maryam hanya sanggup menghela napas panjang, menyadari keteguhan jiwa Afra tak mungkin lagi goyah oleh desakan duniawi karena ketulusan dan kemurnian cinta sejati selalu menjaga martabat jiwa manusia dalam kesucian yang hakiki sepanjang perjalanan hidup di dunia ini hingga ketetapan terbaik datang mengetuk sanubari kita semua dengan penuh keberkahan dan keanggunan rasa yang tak tertandingi oleh apa pun juga di bawah naungan kehendak Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

"Demi Allah, Ibu yang sangat Afra muliakan, jangan pernah mengirim utusan demi menagih kejelasan. Menagih janji kepada lelaki yang belum melangkah sama saja dengan mengemis belas kasihan di tengah pasar. Afra tidak sudi mempermalukan Ayah dengan cara rendahan seperti itu."

"Tapi sampai kapan kamu membiarkan hidupmu terkatung-katung tanpa pegangan pasti seperti daun kering ditiup pusaran angin, anakku tercinta?"

"Pegangan Afra adalah kepasrahan kepada Pemilik Kehidupan, Bu. Menunggu tanpa menuntut kepastian adalah jalan menjaga kesucian rasa. Jika Mas Ghufran adalah takdir Afra, langkahnya akan dimudahkan ke rumah ini. Jika bukan, Afra akan menerima kehendak Tuhan dengan dada lapang karena ketulusan dan kemurnian cinta sejati selalu menjaga martabat jiwa manusia."

°˖✧✿✧˖°

Deru roda bendi kayu berpadu derap dua ekor kuda jantan memecah ketenangan pekarangan rumah joglo saat senja kian menua. Dari dalam bendi, turunlah Paman Amal Salim, adik bungsu almarhum ayah Afra, mengenakan jas wol berkancing kuningan dengan tongkat jalan berhulu perak. Di sampingnya, melangkah turun seorang pemuda tambun berbusana sutra putih bernama Faris, putra saudagar kain terkaya di kawedanan, tersenyum pongah seraya memainkan rantai arloji saku emasnya.

Lihat selengkapnya