Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

BAYANG BAYANG MAHAR

Di Bawah Bayang-Bayang Mahar Dunia

Kandang Emas Sang Pewaris dan Warisan Nasihat Ghufran Al-Ghifari

-------------------------------------


--- Bagian I: Makan Malam yang Menjadi Penjara Suara ---

Dentang Porselen Meissen dan Ultimatum Senilai 1,2 Triliun

Lokasi: Ruang Makan Megah Kediaman Amal di Menteng, Jakarta Pusat

---o0o---

Di ruang makan seluas aula ballroom itu, keheningan memiliki berat yang mencekik. Lampu kristal Bohemia bergelantungan megah di langit-langit setinggi enam meter, membiaskan ribuan lidah cahaya keemasan ke atas meja marmer Carrara yang dingin. Sepanjang delapan meter bentangan marmer itu, tatanan sendok garpu perak Christofle dan porselen Meissen berjajar dengan simetri yang sempurna—tanpa cela, tanpa cacat, namun sekaligus tanpa setetes pun kehangatan jiwa.

Pak Fadhilul Amal memotong sepotong daging domba panggang rosemary dengan presisi seorang ahli bedah. Denting ujung pisaunya yang menyentuh piring porselen terdengar bagai dentang lonceng kematian di telinga Nashira. Di sisi seberang, Bu Fariha hanya mampu menundukkan kepala, jari-jemarinya yang berhias cincin berlian solitaire tampak saling meremas di balik serbet linen yang kaku. Tak ada yang berani membuka suara sebelum sang kepala keluarga meletakkan peralatannya.

"Dua pekan lagi, keluarga besar Bramantyo Wiryokusumo akan datang kemari membawa rombongan lengkap," suara Pak Fadhilul membelah udara. Nadanya datar, padat, dan tidak menyisakan sedikit pun ruang tawar-menawar. Pria berusia lima puluh delapan tahun itu menyeka bibirnya dengan sudut serbet, lalu menatap putrinya lurus-lurus. "Nota kesepakatan konsorsium pelabuhan logistik Selat Sunda sudah ditandatangani sore tadi. Nilai valuasinya satu koma dua triliun rupiah pada fase pertama. Pernikahanmu dengan Rayhan bukan sekadar penyatuan dua insan, Nashira. Ini adalah penyatuan dua dinasti ekonomi terbesar yang akan mengunci peta kekuasaan industri nasional hingga setengah abad ke depan."

Nashira tidak menyentuh hidangannya sejak menit pertama. Gadis berusia dua puluh empat tahun itu duduk tegak dengan balutan gamis wol halus berwarna abu-abu asap dan pasmina kashmir yang membingkai wajahnya yang pucat. Di balik kelembutan parasnya, ada sepasang mata cokelat gelap yang menatap ayahnya bukan dengan ketakutan seorang bawahan, melainkan dengan ketenangan yang lahir dari keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Nashira tidak akan menikah dengan Rayhan, Papa," ucapnya lirih. Suaranya tenang, namun gaungnya merambat di sepanjang dinding kayu mahoni berukir itu laksana retakan pada dinding bendungan.

Bu Fariha tercekat. Napasnya tertahan di kerongkongan. "Nashira, Nak... dengarkan Papamu dulu," bisik sang ibu dengan suara bergetar, mencoba meredam badai yang ia tahu pasti akan meledak.

Namun Pak Fadhilul telah meletakkan gelas kristal kristalnya ke atas tatakan marmer dengan hentakan keras. Air mineral berkilau di dalamnya beriak liar. Sorot matanya yang terbiasa menundukkan para direktur dan menteri kini menajam bagai mata elang lapar. "Apa katamu tadi? Ulangi kalimatmu di depan Papa!"

"Nashira tidak akan pernah bersedia menyerahkan hidup, kehormatan, dan masa depan agama Nashira kepada Rayhan Bramantyo," Nashira mengulanginya dengan artikulasi yang jernih, menolak untuk menundukkan pandangan. "Papa tahu persis siapa Rayhan. Seluruh Jakarta tahu bagaimana rekam jejak moralnya. Dia pria yang menghabiskan separuh malamnya di lantai dansa kelab SCBD, dikelilingi minuman keras dan wanita-wanita murahan. Jangankan menjaga shalat lima waktu, adab berbicara kepada orang yang lebih tua saja ia tidak punya. Bagaimana mungkin Papa meminta putri kandung Papa menjadikan lelaki fasik seperti itu sebagai nakhoda bahtera akhirat?"

"Fasik?!" Suara Pak Fadhilul meledak menggelegar, memantul kasar di langit-langit ruang makan. Wajahnya memerah padam, urat-urat di pelipisnya menonjol tegang. "Sejak kapan kau menjadi hakim moral di rumah ini, hah?! Siapa yang membiayai kuliah mastermu di London? Siapa yang membelikan mobil mewahmu? Siapa yang memastikan namamu dihormati di setiap perkumpulan elit negeri ini? Semua itu dibangun dengan uang, Nashira! Dengan modal! Bukan dengan ceramah-ceramah moral yang kau dengar dari majelis taklim pinggiran itu!"

"Agama bukan sekadar ceramah moral pinggiran, Papa! Agama adalah satu-satunya benteng yang tersisa ketika nyawa dicabut dari tenggorokan!" bantah Nashira, getaran dalam suaranya kini bercampur dengan air mata yang ia tahan sekuat tenaga agar tidak tumpah di hadapan keangkuhan itu. "Harta satu koma dua triliun yang Papa banggakan itu tidak akan bisa membeli satu helai pun kain kafan tambahan di liang lahat!"

PRAAAK!

Piring porselen Meissen di hadapan Pak Fadhilul terlempar ke lantai marmer, hancur berkeping-keping menjadi serpihan tajam bersama sisa daging dan saus yang berceceran. Bu Fariha memekik tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Beberapa pelayan berseragam yang berdiri di sudut ruangan sontak menunduk dalam ketakutan yang mencekam, tak seorang pun berani bergerak bahkan untuk sekadar bernapas.

Pak Fadhilul berdiri, mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menunjuk wajah putrinya dengan telunjuk yang kaku bagai baja. "Cukup! Kau dengarkan baik-baik, anak durhaka! Kau lahir dari darah Amal, kau besar dari kekayaan Amal, dan kau akan tunduk pada garis keputusan keluarga ini!"

Napas pengusaha itu memburu, matanya memancarkan kedurjanaan ambisi yang telah menelan seluruh kepekaan rasa sebagai seorang ayah. "Mulai malam ini, paspormu ditahan di brankas Papa. Seluruh rekening pribadimu, kartu kredit korporat, dan akses investasimu dibekukan. Sopir dan pengawal akan mengawasi setiap jengkal langkahmu. Kau dilarang keluar gerbang Menteng kecuali untuk urusan persiapan pernikahan dengan keluarga Bramantyo! Dan camkan ini di kepalamu: jika sampai tanggal tiga puluh kau masih berani membangkang, namamu akan Papa coret dari seluruh akta waris Amal Group! Kau akan keluar dari rumah ini tanpa sepeser pun uang, tanpa nama keluarga, sebagai gelandangan tak berharga!"

Keheningan kembali jatuh, kali ini lebih pekat daripada racun. Puing-puing porselen di lantai marmer menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah kepatuhan buta di mata seorang tiran. Nashira memandang kepingan piring yang pecah itu, lalu perlahan mengangkat wajahnya menatap pria paruh baya yang melahirkannya.

Tidak ada air mata kemarahan. Yang tampak di mata gadis itu hanyalah duka yang teramat dalam—duka seorang anak yang menyaksikan ayahnya sendiri telah menukar surga yang abadi dengan setumpuk kertas perjanjian dunia yang fana.

"Coretlah nama Nashira dari seluruh akta waris itu, Papa," bisik Nashira dengan bibir bergetar namun hati yang kokoh laksana bukit batu. "Ambillah semua kemewahan yang Papa agungkan. Namun jangan pernah bermimpi Papa bisa membeli iman di dalam dada Nashira dengan satu koma dua triliun rupiah sekalipun."

Tanpa menunggu balasan lagi, Nashira bangkit dari kursinya, merapikan ujung jilbabnya, dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan yang kini terasa lebih dingin daripada kuburan purba.

------------------------------------


--- Bagian II: Air Mata Sang Ibu di Sejadah Kamar Tamu ---

Rintihan Jiwa di Balik Jendela Kaca dan Hancurnya Berhala Kemewahan

Lokasi: Kamar Tidur Nashira dan Ruang Doa Bu Fariha di Lantai Dua Kediaman Menteng

---o0o---

Hujan di luar kamar telah mereda menjadi gerimis tipis, namun di dalam dada Nashira, badai itu belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Gadis itu duduk memeluk lututnya di sudut balkon kamar lantai dua, beralaskan karpet tebal berbulu domba. Dari balik dinding kaca tempered yang membentang dari lantai hingga langit-langit, panorama metropolis Jakarta terhampar laksana hamparan permata yang berserakan di atas kain beludru hitam: lampu-lampu pencakar langit di kawasan Sudirman, kilau kendaraan yang merayap di jalan layang, serta siluet menara-menara telekomunikasi yang angkuh.

Pemandangan itu adalah representasi dari seluruh mimpi ayahnya—sebuah kota yang tak pernah tidur, memuja angka, transaksi, dan akumulasi materi tanpa akhir. Namun bagi Nashira, seluruh pemandangan itu terasa tak ubahnya sangkar jeruji emas yang dipoles mengilap. Udara di dalam kamar terasa sesak, seolah pendingin udara sentral menyemburkan ion-ion kehampaan yang membekukan darah.

Lihat selengkapnya