Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

RISALAH DALAM KERAHASIAAN DOA

RISALAH DALAM KERAHASIAAN DOA

Ta'aruf yang Suci dan Pengakuan di Balik Tabir Rahasia

-------------------------------------

Landasan Syariat: QS. An-Nur: 30-31

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."

Konflik Jiwa: Nashira merasa rendah diri dan dihantui rasa bersalah atas masa lalunya yang jauh dari hijab dan naungan syariat. Ia mencemaskan bahwa pemuda berakhlak mulia seperti Ghaffar akan berpaling dengan rasa kecewa begitu menatap lembar kejujuran jiwanya yang compang-camping.

Konflik Nyata: Detak jarum jam bergerak bagai algojo tanpa ampun. Dalam tempo kurang dari empat hari, Pak Fadhilul dan keluarga konglomerat Bramantyo telah menyewa aula hotel bintang lima serta mengundang jajaran media nasional guna mengumumkan pertunangan bisnis yang akan membelenggu hidup Nashira selamanya.

-------------------------------------


--- Bagian I: Langkah Berani Sang Ibu ---

Menembus Kabut Bogor Menuju Rumah Peristirahatan Bibi Maryam

Latar: Paviliun Kayu Jati Kediaman Bibi Maryam, Lereng Gunung Salak, Bogor — Dini Hari yang Berkabut

Fokus Syar'i: Keberanian Membela Kehormatan Fitrah & Adab Menghubungi Perantara Syar'i (Wasilah)

---o0o---

Kabut tebal yang merayap turun dari lereng Gunung Salak menyapu dinding-dinding kaca paviliun kayu jati di pinggiran Bogor. Udara subuh meresap dingin, membawa aroma tanah basah sehabis hujan lebat semalam suntuk dan wangi getah pinus yang menusuk rongga dada. Jam dinding kayu di sudut ruangan berdentang lirih sebanyak empat kali, menorehkan luka ketergesaan yang tak kasatmata. Di luar sana, jalanan aspal masih lengang, namun di dalam dada Bu Fariha, dentuman kecemasan bergemuruh laksana deburan ombak pasang yang hendak meruntuhkan tanggul penahan.

Selama dua puluh enam tahun mengarungi biduk pernikahan bersama Fadhilul Al-Kadzim—sang penguasa tunggal imperium bisnis Amal Group—Fariha terbiasa menelan suaranya sendiri. Di mata lingkar jetset ibu kota, ia adalah siluet permaisuri yang sempurna: tersenyum anggun dalam balutan adibusana berbahan sutra impor, mendampingi sang suami menandatangani nota kesepahaman triliunan rupiah di hotel-hotel mewah, dan hadir sebagai ornamen pelengkap prestise keluarga. Namun di balik pintu marmer rumah megah mereka di Menteng, Fariha tak ubahnya tawanan emas yang menyaksikan bagaimana setiap inci kebahagiaan rumah tangga ditakar dengan laba rugi neraca keuangan.

Kini, ketika suaminya berniat menumbalkan darah dagingnya sendiri—Nashira—ke dalam altar pernikahan politik bersama Rayhan Bramantyo, sang pewaris tunggal Bramantyo Energy, sesuatu di dalam relung jiwa keibuan Fariha pecah berantakan. Berita acara konferensi pers telah dicetak secara rahasia oleh tim humas perusahaan; empat hari lagi, di hadapan puluhan kamera wartawan nasional, pertunangan bisnis itu akan diresmikan ke seantero negeri tanpa pernah meminta kerelaan hati putrinya.

"Bismillahir-rahmaanir-rahiim... Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, jangan biarkan putriku terjerembap ke dalam neraka yang sama seperti yang kuhadapi puluhan tahun," bisik Bu Fariha dengan bibir bergetar seraya merapatkan selendang kasmir tebal di pundaknya. Matanya memandang ke ujung meja kayu jati berpelitur gelap. Di sana, duduk seorang lelaki paruh baya dengan sorot mata teduh dan janggut yang mulai memutih terawat: Ustadz Salman Al-Bughuri, guru ngaji keluarga adik kandungnya, Maryam.

Ustadz Salman meletakkan secangkir teh seduhan serai hangat yang mengepulkan uap tipis. Gerakannya tenang, memancarkan wibawa ilmu yang tak silau oleh nama besar klan Al-Kadzim. Di samping beliau, Maryam—bibi kandung Nashira yang sengaja menyediakan rumah peristirahatannya sebagai tempat suci yang terlindung dari radar para pengawal kiriman Pak Fadhilul—menggenggam erat jemari sang kakak yang terasa dingin bagai es batu.

"Ibu Fariha," suara Ustadz Salman mengalir rendah, berbobot, dan sarat takzim. "Langkah yang Ibu ambil pagi ini bukanlah langkah maksiat, melainkan ikhtiar seorang mukminah untuk menyelamatkan anak gadisnya dari jurang kedzaliman pernikahan tanpa landasan takwa. Syariat Islam memberikan hak kepada seorang wanita untuk memilih imam yang shalih, dan syariat melarang keras pemaksaan kehendak (ijbar) yang mengorbankan kebaikan agama seorang muslimah. Namun, jalan yang hendak kita tempuh bukanlah pelarian sembunyi-sembunyi seperti pergaulan anak muda yang durhaka. Kita akan menapaki jalan ta'aruf yang mulia, sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW, dengan tirai adab dan perantara yang sah menurut fiqh."

Bu Fariha menyeka sudut pelupuk matanya dengan ujung kerudung. "Ustadz... waktu kami tinggal sembilan puluh enam jam. Suami saya telah menyewa ballroom hotel di kawasan Senayan. Gaun pengantin rancangan desainer Paris bahkan telah dikirim ke rumah kemarin sore tanpa izin Nashira. Anak saya mengurung diri di kamar, menangis hingga bengkak matanya di atas sajadah. Nashira baru saja mengenal indahnya Islam dua tahun ini, Ustadz. Ia sedang berjuang keras membenahi hijabnya, menghafal firman-firman Rabb-nya, dan ia mendambakan seorang suami yang bisa membimbingnya ke jannah, bukan seorang lelaki hedonis yang bahkan tak pernah tahu cara bersujud dengan khusyuk."

Ustadz Salman mengangguk perlahan. Beliau memahami peta persoalan rumit ini. Mengarungi badai melawan dinasti Amal Group bukanlah perkara remeh. Namun, hukum Allah senantiasa berdiri melampaui segala tahta duniawi.

"Mengenai pemuda yang Ibu tanyakan tempo hari... anak muda bernama Ghaffar Raihan Al-Ghifari," Ustadz Salman membuka seberkas map kulit cokelat tua yang terletak di samping mushaf kecilnya. "Saya telah mengenalnya sejak ia masih mahasiswa tingkat pertama di IPB. Ia bukan keturunan ningrat niaga, bukan pula anak konglomerat. Ayahnya hanya seorang pengajar madrasah di pedalaman Cianjur yang telah berpulang ke rahmatullah tiga tahun silam. Namun, demi Allah, selama sepuluh tahun membimbingnya, saya bersaksi bahwa anak muda ini adalah salah satu dari sedikit hamba yang menjaga lisan, memelihara pandangan mata, dan menundukkan hawa nafsu di era fitnah ini."

Fariha mendengarkan setiap patah kata itu laksana musafir di padang tandus yang mendengarkan gemericik mata air. "Apakah... apakah anak muda itu bersedia, Ustadz? Tidakkah ia akan gentar mengetahui siapa ayah Nashira? Dan apakah ia tidak akan menolak putri saya yang memiliki masa lalu kelam sebelum berhijrah?"

"Kemarin malam, selepas shalat Isya di masjid pesantren, saya telah mengabarkan sinyal awal kepadanya tanpa menyebutkan kekayaan keluarganya secara vulgar," jawab Ustadz Salman tersenyum bijak. "Saya katakan kepadanya: ada seorang hamba Allah, seorang muslimah yang sedang berhijrah di tengah ujian keluarga yang berat, mendambakan seorang qawwam yang sanggup melindunginya karena Allah. Ghaffar tidak bertanya berapa warisan gadis itu. Pertanyaan pertamanya justru mengguncang nurani saya: 'Ustadz, apakah sang wanita siap hidup dengan rezeki yang sedikit namun berkah, dan apakah ia ridha bersabar bersama seorang fakir yang mengabdi pada urusan wakaf umat?'"

Mendengar penuturan itu, air mata Bu Fariha menetes deras membasahi pangkuannya. Di tengah gemerlap Jakarta yang memuja nominal dan pangkat, masih tersisa seorang pemuda yang bertanya tentang keberkahan di atas tumpukan permata. Maka di paviliun Bogor yang sunyi berkabut itulah, janji suci pengawalan syariat ditegakkan. Bukan untuk merancang konspirasi dosa, melainkan menenun tabir pelindung bagi kehormatan seorang anak gadis sebelum martabatnya dilelang di bursa keangkuhan manusia.

--------------------------------------


--- Bagian II: Lembar-Lembar Kejujuran ---

Pertukaran Proposal Ta'aruf di Ruang Hening Tanpa Topeng Kemunafikan

Latar: Ruang Tengah Asri Bernuansa Kayu Mahoni, Rumah Aman Bogor — Menjelang Siang yang Sejuk

Fokus Syar'i: Prinsip Ash-Shidq (Kejujuran Mutlak) & Penelanjangan Aib Masa Silam di Hadapan Amanah

---o0o---

Lihat selengkapnya