Jawaban dari Keluarga
Keluarga memberikan kesempatan, tetapi belum memberikan restu penuh.
---o0o---
Asap tipis mengepul lambat dari bibir cangkir porselen kembang seruni peninggalan kakek di atas meja kayu jati berpelitur gelap. Udara sore di ruang tamu kediaman keluarga Hamdan terasa dingin, kontras dengan teriknya hawa Cipete yang baru saja tergelincir di balik pucuk pohon mahoni tua. Di sanalah Afra Nailah duduk bersimpuh tegak di kursi beralas beledu hijau lumut, merapikan ujung selendang katun abu-abu keperakannya dengan gerakan yang begitu halus, tenang, dan terjaga rapi.
Afra Nailah bukanlah perempuan yang mudah diintimidasi oleh ketegangan ruangan. Pada usianya yang menginjak dua puluh lima tahun, ia memadukan ketenangan telaga pedalaman dengan ketajaman intelektual seorang kurator arsip naskah kuno. Matanya cokelat jernih berbulu lentik, memancarkan sorot teduh yang tidak pernah terburu-buru menghakimi, namun sanggup menembus lapisan kepura-puraan orang lain. Ia terbiasa menyentuh lembaran manuskrip rapuh abad ketujuh belas dengan kelembutan penuh adab. Jemarinya terbiasa mengurai benang kusut sejarah peradaban tanpa pernah merobek helai kertasnya yang lapuk. Dan sore ini, naskah hidupnya sendirilah yang sedang digelar di hadapan mahkamah keluarga besarnya.
Ayahnya, Kiyai Haji Usman, meletakkan kacamata baca berbingkai tanduk di atas meja kayu dengan ketukan pelan yang sarat wibawa. Bunyi itu bergaung pelan, serupa genta pengadilan bagi siapa pun yang berhati rapuh. Namun, Afra hanya menarik napas panjang melalui hidungnya, menjaga detak jantungnya tetap tenang. Di seberangnya, Ibu Maryam memilin ujung taplak renda dengan jemari dingin dan pucat.
"Keluarga Gufran Al-Ghifari baru saja melewati pagar depan sepuluh menit yang lalu," suara Pak Hamdan membuka keheningan, berat dan menggetarkan dinding kayu jati. Matanya menatap tajam ke arah putri sulungnya. "Mereka datang membawa niat baik, membawa bingkisan berharga, dan yang terpenting, membawa permohonan resmi agar anak perempuan kebanggaan ayah diserahkan ke tangan keluarga mereka."
Afra mengangkat pandangannya tepat ke manik mata sang ayah, tanpa sedikit pun rasa gentar atau tatapan menentang. Ada rasa hormat mendalam dalam setiap inci posturnya. "Afra mendengarkan setiap patah kata yang disampaikan oleh pamannya Rayyan tadi dari balik tirai ruang tengah, Ayah. Afra sangat menghargai kesantunan keluarga mereka saat menyampaikan maksud kedatangan itu."
"Menghargai kesantunan itu mudah sekali, Nailah," sela Ibu Maryam dengan nada cemas yang tertahan di tenggorokan. Suaranya serak bergetar halus. "Tetapi menerima seorang lelaki ke dalam seluruh sisa hidupmu bukan sekadar membalas salam dan menyuguhkan kue lapis legit. Apakah kamu sungguh-sungguh yakin pemuda itu mengerti siapa dirimu sebenarnya? Kamu bukan gadis yang bisa diperlakukan seperti pajangan rumah mewah!"
"Ibu tahu bagaimana Afra menjaga harga diri dan prinsip selama ini," sahut Afra lembut, tetapi sorot matanya berkilau penuh ketegasan moral. "Ghufran tidak pernah memandang Afra sebagai boneka pameran. Dalam tiga kali pertemuan bersahaja yang selalu didampingi oleh Kak Rian, pemuda itu selalu menghargai ruang riset dan kebebasan berpikir Afra. Dia tidak pernah sekalipun memotong kata-kata Afra saat kami membicarakan komitmen keilmuan dan batas adab."
"Masa depan pernikahan tidak bisa dibangun di atas percakapan sopan di kedai teh, Afra!" tukas Pak Haji Usman seraya bersedekap dada, sorot matanya menuntut pertanggungjawaban nurani. "Dunia luar penuh lelaki yang pandai bersolek akhlak di depan calon mertua. Tetapi begitu badai nafkah dan benturan watak datang, banyak janji manis rontok seperti dedaunan kering. Ayah tidak mau melihat air matamu tumpah sia-sia hanya karena kita tergesa-gesa menerima pinangan saudagar kaya raya itu!"
"Lalu, apa yang membuat Ayah masih menaruh keraguan terbesar terhadap keluarga Ghufran?" tanya Afra lugas. Ia tidak membelokkan perkara dengan tangisan atau rajukan emosional. Itulah ciri khas Afra Nailah: menatap masalah tepat pada hulunya, menjabarkan kenyataan secara objektif tanpa prasangka.
"Latar belakang keluarga mereka terlampau berbeda dengan tradisi zuhud keluarga kita, Nailah," jawab Pak Haji Usman jujur. "Mereka pengusaha terpandang yang terbiasa mengukur segala perkara dengan angka dan prestise duniawi. Ayah belum melihat bukti nyata bahwa Rayyan sanggup berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bantuan ayahnya."
"Afra memahami kekhawatiran Ayah dan Ibu," timpal Afra tenang. "Oleh sebab itu, sore ini Afra menunggu ketetapan Ayah. Apakah pinangan Ghufran akan Ayah tolak mentah-mentah hari ini, ataukah ada pintu ujian yang Ayah izinkan untuk dia lewati demi kebaikan bersama kita semua secara bijaksana?"
°˖✧✿✧˖°
Pak Haji Usman bangkit berdiri dari kursi jatinya, melangkah perlahan ke arah jendela samping yang menghadap ke rimbun kebun belakang. Hembusan angin sore menerbangkan helai gorden tipis, mengiringi derak lantai kayu tua yang berderit pelan. Afra tetap duduk tenang, menjaga punggungnya tegak lurus seolah keteguhan itu telah dipatrikan ke dalam jiwanya sejak ia masih kanak-kanak. Suasana hening sejenak merambati setiap sudut ruangan.
"Kami tidak menolak pemuda itu, Nailah," kata Pak Haji Usman akhirnya, membalikkan badannya perlahan dengan raut muka yang mengeras tetapi terselip kehangatan kasih sayang. "Tetapi jangan sekali-kali kamu mengira bahwa sore ini kami telah memberikan restu penuh untuk kalian berdua melangkah langsung ke jenjang pelaminan suci."
Alis Afra terangkat sedikit, menatap teduh ke arah ayahnya. "Maksud Ayah, keluarga besar kita memberikan lampu kuning bersyarat bagi niat Ghufran?"
"Tepatnya, kami memberikan masa pembuktian tiga bulan penuh," potong Ibu Maryam cepat seraya menghela napas panjang dan meletakkan cangkirnya. "Keluarga kita sepakat membuka kesempatan agar kalian saling mengenal prinsip hidup dalam koridor yang terjaga rapi, bukan dalam kebebasan tanpa batas moral. Ghufran harus membuktikan bahwa ia memilihmu karena akhlak dan kemuliaan akalmu, bukan sekadar terpukau oleh gelar sarjanamu atau nama besar kakekmu."
"Dan selama masa itu," sambung Pak Haji Usman tegas, mengetuk daun meja satu kali dengan bunyi mantap berwibawa, "tidak boleh ada ikrar janji pernikahan, tidak boleh ada cincin pertunangan di jarimu, dan tidak boleh ada pengumuman kepada siapa pun di luar lingkaran keluarga inti kita. Jika dalam sembilan puluh hari ke depan ada cacat adab atau arogansi harta dari pemuda itu, pintu rumah ini akan langsung ditutup rapat-rapat tanpa kompromi!"
Afra memandang kedua orang tuanya bergantian, menimbang setiap konsekuensi berat ini. Kesempatan tanpa restu penuh adalah titian tipis; jika ia tergelincir, bukan hanya hatinya yang terluka, melainkan juga martabat kehormatan dirinya sebagai anak perempuan terdidik.
"Apakah Ghufran sudah mengetahui syarat berat ini sebelum meninggalkan pagar rumah kita, Ayah?" tanya Afra dengan nada suara yang tetap anggun mempesona.
"Ayah sendiri yang mengatakannya di teras depan," jawab Pak Haji Usman lugas. "Ayah menantangnya secara jantan: 'Pintu rumah kami buka sedikit, tetapi gerendelnya belum kami lepaskan. Masuklah sebagai tamu yang diuji kesungguhannya, bukan sebagai tuan yang berhak menuntut restu.'"
"Lalu, apa jawaban yang keluar dari lisan Ghufran saat Ayah menyampaikan hal itu?" desak Afra, menahan debar di dadanya.
"Pemuda itu menundukkan kepala dan berkata dia siap membuktikan kelayakannya dan kesabaran jiwanya di hadapan Allah dan keluarga kita," bisik Ibu Maryam, tersenyum tipis mengenang ketegangan di beranda.
°˖✧✿✧˖°
Belum sempat Afra meresapi kalimat ibunya, pintu ruang tengah berderit terbuka lebar dengan hentakan keras yang mengejutkan seisi ruangan. Langkah kaki yang tergesa-gesa memecah kesunyian rumah tua itu. Paman Rasyid, adik kandung ayahnya yang terkenal berlidah tajam dan selalu menaruh curiga pada orang dari luar kalangan keluarga mereka, melangkah masuk seraya membawa sebuah map cokelat tebal berisi berkas di tangannya.
"Kak Hamdan terlalu lunak kepada keluarga konglomerat Al-Ghifari itu!" seru Paman Rasyid tanpa basa-basi pembuka, melemparkan pandangan penuh ketidakpuasan ke arah Afra. "Seharusnya pinangan tadi langsung ditolak mentah-mentah di muka gerbang! Jangan biarkan keponakanku yang cemerlang ini tergiur oleh kilau nama besar orang kaya ibukota yang belum teruji kesalehannya!"