Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

BADAI MENGHANTAM MENARA

BADAI MENGHANTAM MENARA GADING

Amarah Sang Konglomerat dan Ujian Integritas di Bawah Tekanan

-------------------------------------

Mengetahui ta'aruf putrinya, Pak Fadhilul mengamuk, menyekap Nashira di rumah, dan menggunakan koneksi politiknya untuk menyegel proyek masjid wakaf serta mengancam memenjarakan Ghaffar atas tuduhan penipuan izin.

Landasan Hikmah Spiritual: QS. Al-Ankabut: Ayat 2 - 3

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta."

--------------------------------------


BAGIAN I: BOCORNYA RAHASIA DAN AMUK DI MENTENG

Setting: Ruang Kerja Utama Kediaman Fadhilul Amal, Kawasan Menteng, Jakarta Pusat (Malam Hari, Pukul 20.30 WIB)

---o0o---

  Aroma asap cerutu Kuba berpadu dengan dinginnya pendingin udara di ruang kerja seluas seratus meter persegi itu. Dindingnya dilapisi panel kayu ek tua berukir gaya kolonial, dihiasi piagam penghargaan bisnis internasional, dan sebuah lukisan cat minyak raksasa yang menampilkan potret diri Fadhilul Amal dengan tatapan menaklukkan dunia. Lampu gantung kristal Bohemia berpendar redup di atas meja kerja mahoni solid yang mengilat bagai permukaan cermin tanpa noda. Namun, ketenangan yang angkuh itu seketika pecah berkeping-keping ketika sebuah map kulit hitam dijatuhkan dengan dentuman berat ke atas meja.

  Rayhan Bramantyo berdiri bersandar santai di samping pilar marmer. Pria muda itu mengenakan setelan jas tailored Savile Row berwarna abu-abu arang dengan dasi sutra Italia. Senyum tipisnya yang dingin menyiratkan kemenangan seorang pemburu yang baru saja membawakan bangkai mangsa ke hadapan tuannya. Dengan ujung jari telunjuknya yang mengenakan cincin berlian monokrom, ia menggeser isi map tersebut hingga lembaran-lembaran foto beresolusi tinggi berserakan di atas kayu mahoni.

  "Saya rasa Om Fadhilul perlu melihat sendiri bagaimana putri kesayangan Om menghabiskan akhir pekannya di luar kota," bisik Rayhan dengan intonasi rendah yang terukur, penuh racun yang diracik secara cermat. "Bukan menghadiri simposium tata kota internasional sebagaimana yang tercatat dalam agenda keluarga, melainkan duduk bersimpuh di sebuah saung terpencil di Baranangsiang, Bogor. Ditemani seorang ustadz kampung dan bibinya yang bermulut besar... serta seorang pemuda gembel berpeci lusuh yang berani-beraninya meminang calon istri saya."

  Fadhilul Amal membeku. Jemari tangannya yang mengenakan cincin jamrud hijau tua perlahan mengambil salah satu foto. Dalam foto itu, Nashira—putri tunggal yang ia gadang-gadang sebagai pewaris tunggal imperium bisnis Amal Group—tampak duduk dengan kepala tertunduk anggun di balik jilbab lebarnya. Di seberang meja kayu sederhana itu, duduk Ghaffar. Wajah pemuda itu bersih, sorot matanya teduh namun sarat keteguhan, dengan kemeja katun bersahaja. Tidak ada kontak fisik, tidak ada tawa genit. Itu adalah pemandangan ta'aruf syar'i yang suci dan menjaga batas kehormatan. Namun bagi kacamata Fadhilul, pemandangan itu adalah racun penghinaan yang menginjak-injak harga dirinya hingga ke dasar lumpur.

  "Kurang ajar! Biadab!" Suara Fadhilul menggelegar menggetarkan kaca-kaca jendela Prancis yang memandang ke arah kolam renang Menteng. Telapak tangannya menghantam meja dengan kekuatan yang begitu dahsyat hingga asbak kristal di sudut meja terlonjak dan pecah berderai ke lantai marmer. Abu cerutu panas berhamburan mengotori dokumen-dokumen penting. Pembuluh darah di pelipis dan leher Fadhilul menonjol merah padam, matanya menyala liar seperti binatang buas yang terpojok dalam sarangnya sendiri.

  "Panggil Nashira ke mari! Sekarang!" raungnya ke arah interkom ruangan.

  Pintu ganda ruang kerja terbuka dengan gemetar. Bu Fariha melangkah masuk mendahului putrinya. Wajah wanita paruh baya itu pucat pasi bagai mayat, kedua tangannya saling meremas ujung selendang batiknya. Di belakangnya, Nashira melangkah masuk dengan tenang. Tidak ada getaran ketakutan di kakinya, meski ia tahu persis badai macam apa yang sedang menunggunya di dalam ruangan ini. Gamis cokelat buminya menyapu lantai marmer dengan irama yang tenang, mencerminkan ketenteraman hati yang berakar pada tawakal.

  "Jelaskan ini, Nashira!" Fadhilul melempar segenggam foto ke wajah putrinya. Lembaran-lembaran kertas itu berhamburan di udara, beberapa di antaranya mengenai pundak Nashira sebelum jatuh berserakan di kakinya. "Kotoran apa yang sedang kau lakukan di belakang ayahmu?! Kau menjatuhkan martabat trah Amal demi seorang pemuda kere yang bahkan tidak sanggup membeli sepetak tanah di halaman belakang rumah ini?! Kau tahu siapa ayahnya Ghaffar itu? Almarhum ayahnya dulu hanyalah buruh aduk semen lepasan di proyek ruko pertamaku tiga puluh tahun lalu! Seorang anak tukang semen berani bermimpi menjadi menantuku?!"

  Bu Fariha terisak pelan, maju mendekati suaminya dengan suara bergetar. "Mas Fadhilul, istighfar, Mas... demi Allah, dengarkan penjelasan anak kita dulu... jangan biarkan amarah membutakan mata hatimu..."

  "Diam kau, Fariha!" bentak Fadhilul tanpa menoleh sedikit pun kepada istrinya. "Semua ini terjadi karena kelalaianmu mendidik dia! Kau biarkan dia bergaul dengan pengajian-pengajian kumuh itu hingga otaknya dicuci dengan dongeng-dongeng kezuhudan yang menjijikkan! Di dunia ini hanya ada dua hukum: uang dan kuasa! Dan anakmu ini sedang berusaha menghancurkan aliansi merger kita dengan keluarga Bramantyo!"

  Nashira menarik napas panjang. Udara di ruangan itu terasa begitu mencekik, namun di dalam rongga dadanya bersemayam keteguhan yang tak tergoyahkan. Ia menatap lurus ke dalam pupil mata ayahnya yang menyala murka. Suaranya terdengar lembut, jernih, namun memiliki denting keteguhan laksana baja.

  "Nashira tidak pernah berzina, Ayahanda. Nashira tidak pernah bermaksiat di belakang Ayahanda," ujar Nashira pelan namun mantap. "Pertemuan di Bogor itu adalah ta'aruf yang terhormat. Ada Tante Salma sebagai mahram, ada Ustadz Hilman yang menjadi saksi amanah. Mas Ghaffar adalah pemuda yang menjaga salat lima waktunya di saf terdepan, menjaga kehormatan pandangannya, dan hidup dari rezeki yang halal. Nashira memilih dia karena agamanya, karena ketakwaannya, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."

  "Cukup omong kosong munafikmu itu!" Fadhilul bangkit berdiri, menunjuk wajah putrinya dengan telunjuk yang bergetar hebat. "Kau tidak akan pernah menikah dengan gembel itu! Kau akan menikah dengan Rayhan bulan depan, suka atau tidak suka! Mulai malam ini juga, seluruh akses duniamu diputus!"

  Fadhilul menoleh ke arah dua petugas keamanan internal bersafari hitam yang telah bersiaga di ambang pintu. "Seret dia ke kamar lantai tiga! Sita seluruh ponsel, laptop, dan kartu aksesnya! Kunci pintunya dari luar dan tempatkan dua penjaga di depan pintunya selama dua puluh empat jam! Jangan biarkan dia keluar walau hanya satu langkah tanpa izin tertulis dariku!"

  "Mas Fadhilul, jangan kurung anak kita! Dia bukan narapidana!" Bu Fariha menjerit histeris sambil memeluk pinggang putrinya, namun tangisan sang ibu diabaikan dengan dingin oleh suaminya.

  Nashira melepaskan pelukan ibunya dengan penuh kasih, mencium punggung tangan ibunya yang basah oleh air mata, lalu berbalik menatap ayahnya untuk terakhir kali sebelum digiring pergi. "Ayahanda boleh mengurung jasad Nashira di lantai tiga. Ayahanda boleh memutus nafkah dan menyita seluruh benda duniawi ini. Tetapi Ayahanda tidak akan pernah memiliki kuasa untuk menjual iman dan ridho Allah yang bersemayam di dalam dada Nashira demi saham dan gedung-gedung bertingkat kalian."

  Setelah langkah kaki Nashira menghilang menaiki tangga di bawah kawalan ketat para pengawal, Fadhilul kembali menoleh ke arah Rayhan yang masih tersenyum sinis di sudut ruangan. Napas sang konglomerat masih memburu berat.

  "Dan kau, Trisno!" teriak Fadhilul ke arah sopir keluarga yang berdiri tertunduk gemetar di lorong luar. "Kau yang mengantar Nashira ke Bogor, bukan?! Kau bajingan pengkhianat! Malam ini juga kemasi barang-barangmu, kau kupecat tanpa pesangon sepeser pun! Pergi dari tanahku sebelum kupenjarakan kau!"

  Pak Trisno tersungkur mencium lantai marmer, menahan tangis kehancuran keluarganya, lalu merangkak pergi dalam keheningan yang menyayat hati.

  Fadhilul kemudian menatap Rayhan dengan mata yang dingin membeku, mencerminkan racun dendam yang kini beralih sepenuhnya ke luar dinding rumah. "Rayhan, hubungi relasi kita di dinas tata kota dan kepolisian daerah. Aku tidak mau menunggu besok siang. Malam ini juga, segel proyek masjid wakaf yang sedang dibangun anak gembel itu. Cari celah perizinannya, buatkan surat penetapan pelanggaran, dan kerahkan orang-orangmu. Aku ingin melihat studio Sakinah Rancang miliknya rata dengan tanah. Aku ingin melihat Ghufran Al-Ghifari merangkak mencium kakiku di lobi Amal Tower!"

-------------------------------------


BAGIAN II: GARIS KUNING SEGEL DAN PREMAN BERPAKAIAN RAPI

Setting: Area Konstruksi Masjid Wakaf Al-Ikhlas, Pinggiran Jakarta Timur (Pagi Hari, Pukul 07.15 WIB)

---o0o---

Lihat selengkapnya