Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

SEBUAH SYARAT

Sebuah Syarat

Ghufran harus membuktikan kesungguhannya melalui tindakan nyata.

---o0o---

Derak anak tangga kayu jati di serambi belakang berderit pelan di bawah tekanan langkah yang ragu-ragu. Kabut tebal bulan September merayap turun dari lereng bukit kapur, memeluk dahan-dahan pohon kenanga yang baru saja menggugurkan kelopak basahnya. Di serambi temaram itu, Afra Nailah tengah menuangkan seduhan daun teh putih ke dalam cangkir porselen beralas tatakan perak kuno. Tangannya yang ramping bergerak tenang, tanpa getar sedikit pun, meski ia tahu siapa pemilik sepasang sepatu bot kulit yang kini terhenti tepat tiga langkah di ambang kisi-kisi bambu serambi.

Aroma tembakau basah dan wangi tanah menguar dari mantel wol abu-abu yang dikenakan sang tamu. Sudah hampir tujuh purnama beranda itu lengang dari bayang-bayang lelaki itu, tepatnya sejak perselisihan sengit di aula kadipaten yang meretakkan hubungan keluarga besar mereka.

"Afra," bisik sebuah suara berat yang serak tertahan oleh dinginnya hawa pegunungan senja ini. "Pintu pagar pekarangan terbuka separuh. Aku melangkah masuk tanpa menunggu Bi Inah memanggilmu ke depan."

Afra meletakkan poci tembikar dengan ketukan halus di atas baki perak. Ia tidak langsung menoleh ke arah sumber suara. Sepasang matanya yang cokelat gelap menatap uap panas dari cangkir, sebelum akhirnya berpaling perlahan ke arah pintu serambi. Tatapannya teduh, namun berpagar dinding dingin yang kokoh tak tertembus.

"Pintu pagar sengaja tidak dikunci, Mas Ghufran," suara Afra terdengar bening, tanpa getar kegelisahan yang diharapkan lelaki itu. "Para buruh baru selesai mengangkut gabah kering ke lumbung belakang. Namun rumah Abi selalu memiliki adab bagi siapa pun yang hendak bertamu menjelang magrib."

Ghufran menelan ludah dengan getir. Wajahnya yang tirus tampak letih, dengan garis rahang tegas yang dicengkeram kecemasan mendalam. Rambutnya lembap oleh rintik gerimis yang kian menderu di luar pekarangan, dan di tangan kanannya tergantung sebuah kotak kayu jati berukir sulur melati yang terkunci gembok kuningan.

"Maafkan kekasaranku sore ini," Ghufran melangkah satu tapak maju, lalu bersimpuh di atas lantai ubin terakota demi menebus rasa canggung yang mencekik batinnya. "Aku sadar diriku tak lagi berhak melangkah di rumah ini. Namun jika aku tidak datang sore ini, aku khawatir seluruh sisa umurku dihabiskan dalam penyesalan yang membakar dada."

Afra menyandarkan jemarinya pada pegangan kursi rotan. "Penyesalan adalah perhiasan murah yang kerap dikenakan seseorang saat badai telah reda, Mas. Kau datang membawa kotak itu seolah waktu bisa diputar kembali seperti jarum jam di pendopo."

"Ini bukan sekadar bingkisan hampa, Afra!" tukas Ghufran tergesa-gesa dengan tatapan memohon. "Di dalamnya ada surat penjelasan, permohonan restu yang kutulis setiap malam, serta liontin zamrud pusaka ibuku. Aku ingin kau menyimpannya, sebagai jaminan bahwa hatiku tidak pernah berpaling darimu."

"Simpan kembali jaminanmu itu ke dalam saku mantelmu," tolak Afra tegas, nada bicaranya setenang sumur tua namun menusuk dingin. "Sejak kapan sebutir liontin mati menjadi jaminan atas kehormatan janji yang pernah kau biarkan patah di hadapan sesepuh desa kami?"

Ghufran memegang tepi kotak kayu itu hingga buku jarinya memutih. "Aku khilaf, Afra! Waktu itu situasinya begitu mendesak bagi keluargaku. Aku terjepit di antara tuntutan kongsi dagang pamanku dan kepatuhan pada keluargamu. Aku sungguh tak berniat mempermalukan nama besar Nailah!"

"Tetapi kau melakukannya dengan sadar, Mas," potong Afra, tatapannya menghunjam pupil mata Ghufran. "Kau memilih menandatangani akta penyerahan lahan itu tanpa pernah berunding dengan kami. Kau memilih selamat di hadapan Tuan Baskoro, lalu membiarkan ayahku menanggung aib dan jatuh sakit hingga embusan napas terakhirnya di kamar itu."

"Demi Allah, aku tidak pernah tahu jika Paman Baskoro berniat sekejam itu pada almarhum Abi!" seru Ghufran dengan napas memburu.

"Ketidaktahuan bukan tameng bagi kelalaian seorang lelaki yang mengaku berilmu," sahut Afra datar. "Kau duduk di situ mengemis maaf, seolah luka di dada kami terhapus hanya dengan untaian kata-kata puitis yang kau rangkai indah di surat-surat itu."

Ghufran menatap lantai serambi dengan pandangan nanar. "Aku rela menerima segala cercaanmu, Afra. Hukumlah aku, asalkan kau sudi membuka pintu maaf untukku kembali."

Afra menggelengkan kepala perlahan, tatapannya menyapu kabut di luar beranda. "Pintu maaf tidak memiliki kunci bernama belas kasihan palsu, Mas Ghufran. Hati yang tulus hanya berbicara melalui tindakan nyata hidup."

°˖✧✿✧˖°

Ghufran meletakkan kotak kayu jati itu ke atas meja marmer bundar di antara mereka berdua dengan gerakan hati-hati. Bunyi benturan kayu dan batu terdengar tajam memecah kesunyian serambi. Di kejauhan lembah bukit kapur, suara guruh berdentum pelan mengiringi gemersik air hujan lebat yang terus membasahi dedaunan kenanga di pekarangan rumah tua itu.

"Aku tidak sekadar datang untuk meminta maaf, Afra," tutur Ghufran dengan nada rendah yang dipenuhi getaran tekad baru. "Aku datang untuk meminangmu secara resmi. Aku ingin membawa seluruh keluargaku pekan depan, mempersembahkan mahar terbaik yang pantas bagi putri tunggal almarhum Tuan Guru Nailah."

Afra menatap wajah lelaki di hadapannya seakan sedang menatap lembaran kertas usang yang tintanya telah luntur diterpa banjir bandang. Senyum samar yang getir melintas di sudut bibirnya yang tenang bersahaja. Kedua tangannya tertaut rapi di atas pangkuan gaun panjangnya.

"Meminangku?" tanya Afra pelan, setiap kata meluncur jernih dan berjarak. "Atas dasar apa kau berani melafalkan kata pinangan suci di beranda ini, Mas Ghufran?"

"Atas dasar cintaku yang tak pernah padam!" jawab Ghufran cepat seraya mencondongkan badannya ke depan. "Aku bersedia bersujud di hadapan paman-pamanmu dan mengulang sumpah setia di masjid agung. Katakan apa yang harus kuucapkan, maka akan kuucapkan seribu kali di hadapan khalayak ramai demi membuktikan kesungguhan cintaku padamu tanpa keraguan sedikit pun, dengarkanlah ketulusan kejujuran sejati suara hatiku, Afra!"

Afra mengangkat tangannya ke udara, sebuah isyarat dingin yang membuat kalimat Ghufran terhenti seketika di tenggorokan. Udara di serambi terasa kian menusuk dingin menembus kulit mereka berdua.

"Cukup, Mas!" tegas Afra dengan wibawa tajam. "Berhentilah menjual kata-kata di hadapan perempuan yang kenyang menelan kepalsuan janjimu."

Ghufran terperangah menatap sepasang mata Afra yang tak berkedip sedikit pun. "Apakah ucapan seorang lelaki yang bersumpah atas nama Tuhan kini kau anggap kepalsuan belaka?"

"Bukan nama Tuhan yang palsu, melainkan lidah manusia yang memperalatnya demi menutupi kerapuhan nyali," jawab Afra tenang. "Di kota kau pandai berpidato, tetapi di rumah Nailah harga seorang pria dihitung dari jejak tapak kakinya di bumi kebajikan."

Lelaki itu tertunduk lesu di lantai ubin terakota, memandang bayangannya sendiri yang temaram di bawah lentera dinding serambi. "Lalu apa yang kau inginkan dariku, Afra? Haruskah aku mati di depan gerbangmu agar kau percaya penyesalanku?"

Afra berdiri tegak dari kursinya, merapikan selendang sutra warna gading di bahunya seraya menatap lelaki itu tanpa ragu. "Kematianmu tak berguna bagi siapa pun, Mas Ghufran. Yang dibutuhkan adalah keberanian meluruskan apa yang telah bengkok oleh tanganmu sendiri secara nyata sekarang juga."

°˖✧✿✧˖°

Afra melangkah anggun menuju tepi pagar beranda serambi, memunggungi Ghufran seraya menatap hamparan lembah luas yang mulai pekat ditelan kegelapan malam. Di kejauhan, kelap-kelip lentera minyak dari perkampungan buruh Karang Anyar tampak redup menyerupai kunang-kunang yang sekarat di tengah guyuran hujan lebat. Dinginnya hembusan angin senja menyusup di sela tiang kayu jati berukir, membawa aroma tanah basah lembap serta sisa bau pembakaran jerami para petani miskin di sekeliling desa pegunungan.

"Tahukah kau nasib para penggarap sawah di lembah itu setelah akta kongsimu disahkan tahun lalu?" tanya Afra tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Lihat selengkapnya