[partImg:[0]]
Ketika Hati Bersujud di Sepertiga Malam
Kepasrahan Total, Pengkhianatan Sekutu, dan Serangan Jantung di Menara Kaca
------------------------------------
Landasan: QS. At-Talaq: 2-3
Logline: Di saat Ghaffar Syarif dan Nashira Salma sama-sama bersujud dalam kepasrahan total melepaskan takdir cinta mereka kepada Allah, badai tak terduga menghantam Fadhilul: keluarga Bramantyo menikamnya dari belakang dengan melarikan dana konsorsium, memicu serangan jantung fatal sang taipan.
-------------------------------------
--- BAGIAN 1: MIHRAB RUMAH GHUFRAN DAN SUJUD YANG PANJANG
03.15 WIB | Mihrab Sudut Rumah Sederhana Al-Ghifari, Pinggiran Jakarta Timur
---o0o---
Jarum jam dinding kayu di ruang tengah berdetak lambat, mengiris kebisuan sepertiga malam dengan ketukan yang teramat dingin. Jam menunjukkan pukul tiga lebih lima belas menit. Di luar jendela kayu berjeruji yang terbuka separuh, angin dini hari berembus membawa aroma tanah basah sisa gerimis semalam, menggetarkan tirai kelambu putih kusam di sudut rumah sederhana keluarga Al-Ghifari. Di sekeliling gang sempit perkampungan itu, seisi kota Jakarta masih terlelap dalam selimut kelelahan duniawi, namun di bilik sempit berukuran dua kali tiga meter ini, sebuah pertempuran jiwa paling dahsyat tengah berlangsung dalam sunyi.
Ghaffar masih terpaku dalam sujudnya. Dahi pemuda itu menempel erat pada sajadah tenun bermotif masjid tua—selembar kain kusam warisan mendiang kakeknya yang serat-serat benangnya telah menipis dimakan usia. Telapak tangannya merapat ke lantai semen yang dingin, menahan gemetar tubuh yang sejak tadi diguncang isak tertahan. Tidak ada suara ratapan yang lolos melewati bibirnya; hanya deru napas yang patah-patah dan desau kepasrahan yang mendidih di rongga dada. Air matanya telah merembes deras, melunakkan jalinan benang wol di bawah keningnya hingga membentuk lingkaran gelap yang basah kuyup.
Berhari-hari lamanya, dada Ghaffar bagaikan dihimpit cadas runcing. Kabar lamaran resmi keluarga konglomerat Bramantyo terhadap Nashira Salma telah tersiar layaknya gelombang pasang yang menenggelamkan seluruh harapan insani. Fadhilul Amal, sang taipan properti yang memandang kemuliaan hanya dari neraca aktiva dan rekening giro, telah menetapkan harga mati: putrinya hanya akan diserahkan kepada penerus dinasti finansial yang setara, bukan kepada seorang guru ngaji muda yang tak berharta seperti Ghaffar. Bagi sang taipan, kehadiran Ghaffar tak ubahnya sebutir debu di pelataran istananya—sebuah pengganggu yang tak layak dipandang sebelah mata.
Namun malam ini, di kedalaman tahajud yang membasuh segala kesombongan fana, badai kecamuk rasa itu tiba-tiba luruh. Rasa ngilu yang semula meremukkan ulu hati Ghaffar perlahan bermutasi menjadi ketenangan gaib yang agung. Dalam rukuk yang tegak dan sujud yang teramat panjang, pemuda itu menyadari kepongahan terbesarnya: ia sempat mengira bahwa cintanya kepada Nashira adalah miliknya sendiri, seolah-olah ia berhak menuntut Sang Pencipta untuk menuruti skenario bahagia yang dirancang oleh hawa nafsunya.
“Subhana Rabbiyal A'la wa bihamdih... Subhana Rabbiyal A'la wa bihamdih...” bisik lidahnya berulang kali, melafalkan tasbih dengan getaran sukma yang semakin dalam. Setiap kata yang terucap bukan lagi sekadar zikir lisan, melainkan proklamasi pembebasan diri. Di hadapan kebesaran Rabb Yang Maha Tinggi, betapa kerdilnya rencana seorang hamba. Siapakah dirinya yang berani memaksakan takdir, jika sesungguhnya hati manusia berbolak-balik sepenuhnya di antara jemari Ar-Rahman?
Ghaffar tidak lagi memanjatkan doa-doa egois yang mendesak Tuhan untuk menyatukan mereka. Tidak ada lagi permohonan agar pernikahan megah antara Nashira dan Rayhan Bramantyo dibatalkan demi kepentingan cintanya. Dalam sujud yang melampaui batas ruang dan waktu itu, Ghaffar menanggalkan seluruh klaim kepemilikan. Ia telah mencapai derajat kepasrahan total—sebuah maqam di mana cinta insani lebur ke dalam cinta Ilahi yang tanpa syarat.
“Duhai Dzat yang menggenggam ubun-ubun semesta,” bisik kalbunya di kedalaman bumi, “aku kembalikan seluruh rasa ini ke haribaan-Mu. Aku tak lagi memohon agar Nashira menjadi pendamping hidupku. Aku hanya memohon, selamatkanlah keimanan gadis itu dari gemerlap fitnah dunia. Lindungilah kehormatan keluarganya, dan muliakanlah ayahnya dengan hidayah-Mu sebelum ajal menjemput. Bila kebahagiaannya dan keselamatan dakwah ini tertulis di pelaminan orang lain, maka aku ikhlas, ya Rabb. Ridhakanlah hatiku atas setiap inci qadha-Mu, dan cukupkanlah Engkau saja sebagai pelindung dan kekasih jiwaku.”
Saat kata 'ridha' terpatri di dinding hatinya, sebuah kehangatan lembut menyusup ke seluruh aliran darahnya. Beban seberat gunung Uhud yang selama ini menindih pundaknya seolah terangkat seketika, menguap ke angkasa malam. Air mata yang masih menetes di sudut pelupuk matanya kini bukan lagi lelehan kepedihan anak manusia yang patah hati, melainkan air mata kelegaan seorang hamba yang telah menyerahkan seluruh bekal pengembaraannya kepada nahkoda sejati kehidupan.
Ghaffar perlahan mengangkat kepalanya dari sujud. Wajahnya yang basah oleh air mata kini memancarkan ketenangan yang tak terusik oleh riak dunia. Ia duduk bertasyahud dengan punggung tegak bersahaja, menatap dinding mihrab yang berpendar samar oleh cahaya lampu minyak teplok di atas rak kitab kuning. Di sana, di antara barisan mushaf Al-Qur'an dan tumpukan kitab hadits yang berdebu tipis, ia menemukan kembali hakikat dirinya: seorang musafir yang tiada memiliki apa pun, dan karena itulah, ia tak pernah benar-benar kehilangan apa pun.
------------------------------------
--- BAGIAN 2: KAMAR TERTUTUP DAN MUKENA YANG BASAH ---
03.40 WIB | Kamar Tidur Utama Lantai 42 Penthouse Menteng, Jakarta Pusat
---o0o---
Tiga puluh kilometer ke arah barat laut, di puncak menara hunian paling eksklusif di kawasan Menteng, waktu seakan membeku dalam kehampaan yang dingin. Di kamar tidur seluas seratus lima puluh meter persegi di lantai empat puluh dua penthouse keluarga Amal, Nashira Salma duduk bersimpuh di atas hamparan karpet beludru abu-abu. Di hadapannya, dinding kaca raksasa setinggi lima meter membentang tanpa sekat, memperlihatkan panorama belantara beton Jakarta yang bertabur jutaan kerlap-kerlip lampu merkuri—gemerlap yang dingin, angkuh, dan tak bernyawa.
Di atas meja rias marmer Carrara di sampingnya, gaun pengantin sutra brokat buatan desainer ternama Paris tergeletak dingin di samping kotak beludru merah maroon. Kotak itu terbuka, memperlihatkan kalung berlian potongan zamrud dan cincin pertunangan platinum puluhan karat bernilai miliaran rupiah—seserahan resmi dari keluarga besar Bramantyo yang sore tadi dipamerkan di hadapan para pejabat dan relasi bisnis papan atas ayahnya. Namun bagi Nashira, permata-permata itu tak ubahnya belenggu rantai besi yang dipanaskan di api neraka, dirancang khusus untuk mengikat leher dan jiwanya ke dalam transaksi komersial berkedok mahligai rumah tangga.
Dengan jemari gemetar, Nashira melepaskan anting-anting mutiara Laut Selatan dari daun telinganya, lalu mencopot gelang emas putih bertabur safir dari pergelangan tangannya. Satu demi satu perhiasan itu ia letakkan tanpa gairah di atas meja rias, seolah menanggalkan kepingan-kepingan racun yang nyaris mencekik fitrahnya. Ia mengenakan mukena katun putih polos tanpa bordir emas—sehelai kain sederhana yang ia beli diam-diam saat mengunjungi sebuah bazar pesantren di pinggiran kota, jauh dari jangkauan mata para pengawal pribadi sang ayah.
Nashira melangkah mendekati kaca jendela, lalu bersimpuh di atas sajadah kecilnya. Di dadanya, ia mendekap erat sebuah mushaf Al-Qur'an saku dengan sampul kulit yang telah memudar—satu-satunya peninggalan almarhumah ibunya sebelum sang bunda dipanggil menghadap Ilahi sepuluh tahun silam. Mushaf itulah yang selalu menjadi lentera penuntun tatkala rumah megah ini berubah menjadi rimba keserakahan yang menyesakkan dada.
Air mata Nashira tumpah membasahi kain mukena putih yang membalut pipinya. Napasnya tersengal di balik keheningan ruang tidur berpendingin sentral itu. Siang tadi, ayahnya berdiri di hadapannya dengan tatapan membaja yang tak terbantahkan. Fadhilul Amal telah menandatangani kesepakatan konsorsium mega-proyek delapan ratus miliar dengan konsorsium Bramantyo, dan pernikahan Nashira dengan Rayhan adalah stempel penjamin yang tak boleh dinegosiasikan. Sang ayah bahkan mengancam akan menghancurkan yayasan dakwah dan pesantren tempat Ghaffar mengajar jika Nashira berani mempermalukan keluarga dengan menolak pinangan tersebut.