
Perjalanan Membuktikan Cinta
Ghufran menerima tantangan tersebut.
---o0o---
Kabut fajar masih menggantung tebal di atas kubah-kubah marmer Rumah besar (mansion) Al-Hasyimi ketika derap langkah kuda Ghufran Al-Ghifari terhenti di pelataran utama. Udara pagi berhembus dingin menusuk tulang, membawa aroma kemenyan cendana dan basahnya tanah lembah yang baru disiram gerimis. Di serambi bertiang granit hitam, para pengawal berdiri tegak bagai deretan tombak tembaga, menatap sang penunggang kuda yang turun dengan ketenangan luar biasa. Ghufran melepaskan surban kelabunya, merapikan jubah wol kasar yang membungkus pundak tegapnya, lalu melangkah mantap menaiki undakan tangga batu berukir ayat-ayat perdamaian kuno.
"Berhenti di situ, wahai musafir dari Ghifar," tegur Qasim, perwira penjaga gerbang yang bertubuh gempal seraya menyilangkan tombaknya. "Sebutkan hajatmu melintasi batas kehormatan ini di saat matahari belum memecah cakrawala fajar."
Ghufran meletakkan tangan kanan di dada kirinya, menundukkan pandangan dengan takzim yang tulus. "Aku datang bukan sebagai musuh pembawa pedang terhunus, saudaraku. Aku datang memenuhi panggilan nurani, menepati undangan Tuan Malik Al-Hasyimi atas urusan ikatan sumpah dan kehormatan keluarga."
"Engkau terlambat jika hanya berniat mencari keping perak, wahai anak muda," balas Qasim dengan nada dingin mencibir. "Banyak bangsawan dari selatan telah pulang dengan tangan hampa dan muka tertunduk malu setelah diusir dari kediaman ini."
"Harta duniawi bukanlah bekal utama yang kubawa dari rumah orang tuaku," potong Ghufran tenang tanpa terpancing sedikit pun oleh tatapan curiga itu. "Tuntun aku ke ruang musyawarah, biarkan ketulusan nurani yang berbicara langsung di hadapan tuanmu."
Qasim mendengus pelan, namun wibawa hening di balik sorot mata pemuda itu membuatnya segan membantah lebih jauh. Daun pintu jati berlapis perunggu berderit membuka, memperlihatkan aula megah berlantai marmer putih bercorak urat zamrud. Di ujung ruangan, duduk sesepuh agung Malik Al-Hasyimi berjanggut putih salju, dikelilingi para tetua kabilah yang berbincang tegang. Namun, bukan singgasana sesepuh itu yang mencuri seluruh kesadaran Ghufran.
Di balik tirai sutra hijau lumut di samping singgasana kayu cendana, seorang wanita melangkah keluar dengan keanggunan menyentak sukma. Dialah Afra Nailah. Selubung hijab sutra gelap membingkai wajahnya yang bersahaja, namun sepasang matanya—cokelat pekat dengan kilatan setajam bilah belati damaskus—seketika menembus ruang hampa di antara mereka. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, dan tidak ada kepura-puraan di balik tatapannya. Langkah kakinya ringan hampir tanpa suara, namun auranya memenuhi seisi aula dengan gravitasi kepemimpinan yang dingin dan berjarak.
"Ayahanda," suara Afra mengalun jernih, merdu namun sarat ketegasan yang sanggup membungkam perdebatan para tetua. "Inikah pemuda pengembara yang ingin meminang kehormatan keluarga kita tanpa membawa sebutir pun permata di jemarinya?"
Malik Al-Hasyimi menghela napas panjang seraya mengelus janggutnya yang memutih. "Tenanglah, putriku tercinta. Ghufran Al-Ghifari bukan sembarang pengembara miskin. Namanya masyhur di lembah utara karena keberaniannya menolak suap saudagar zalim demi menegakkan hak anak yatim."
Afra melangkah maju, keluar dari balik bayangan tirai pualam. Jemari lentiknya menggenggam gulungan perkamen tua. "Nama baik di masa lalu adalah cerita usang, Ayahanda. Di hadapanku, setiap lelaki hanyalah tanah liat sampai ia membuktikan dirinya tidak hancur saat dipanggang api ujian."
Ghufran memandang wanita itu lekat-lekat, merasakan debaran aneh di dadanya. "Nona Afra Nailah, aku tidak datang menjual puji-pujian kosong di hadapan kemegahan istanamu. Kehormatanmu terlalu mahal untuk ditakar dengan emas yang bisa musnah ditelan zaman."
"Lalu dengan apa engkau menakar kesungguhanmu, Tuan Ghufran?" tukas Afra dengan senyum tipis menusuk kalbu. "Apakah dengan lidah manis dan janji-janji yang terbang terbawa angin gurun?"
"Dengan nyawaku, kehormatanku, dan setiap tetes darah yang mengalir atas nama kebenaran Ilahi," jawab Ghufran tanpa berkedip.
"Banyak orang bersumpah atas nama nyawa ketika leher mereka belum merasakan dinginnya mata pedang," balas Afra menimpali sinis. "Apakah keberanianmu tetap utuh manakala maut mengetuk kemahmu di tengah malam gulita?"
"Bila maut datang membela cinta suci dan janji yang benar," sahut Ghufran tegas, "maka kematian mulia itu adalah kemenangan hakiki bagi seorang hamba beriman."
Afra menatap pemuda itu beberapa jenak. Udara aula membeku saat ia perlahan membuka gulungan perkamen di tangannya. "Bagus sekali. Kata-katamu gagah bagai bait syair pujangga. Namun hari ini, aku tidak butuh kesatria pemimpi di istanaku. Aku butuh bukti nyata bahwa cintamu bukan fatamorgana yang membunuh musafir kehausan."
°˖✧✿✧˖°
Keheningan di aula agung itu terasa menekan hingga desah napas para tetua terdengar jelas. Afra Nailah mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Cahaya matahari pagi yang menerobos jendela kaca patri memantulkan bayangan zamrud di matanya yang berkilat tegas.
"Dengarlah baik-baik, Ghufran Al-Ghifari," ucap Afra lantang. "Banyak pelamar terpandang datang ke hadapan Ayahanda membawa seratus ekor unta merah, bejana minyak wewangian Yaman, dan surat kepemilikan tanah. Namun saat prahara musuh menerpa tiga tahun silam, mereka lari menyelamatkan kantong perak mereka sendiri."
Ghufran menyimak setiap patah kata itu dengan kepala tegak. "Luka masa lalumu dapat kupahami, Nona. Kepalsuan para pengejar mahar memang selalu menampakkan belangnya saat badai kesulitan tiba menguji ketulusan mereka."
"Oleh karena itu, aku tidak menetapkan mahar dari emas tambang," lanjut Afra dingin namun sarat kepedihan tersembunyi. "Tantanganku adalah perjalanan membuktikan cinta ke Ngarai Ash-Shakhra. Tempat di mana darah pertikaian antara Bani Shahr dan Bani Hasyim belum mengering selama dua dekade."
Seorang tetua beruban bernama Syeikh Zubair bangkit dari bantalannya dengan wajah pucat. "Afra! Ini kegilaan! Ngarai Ash-Shakhra adalah sarang serigala dan pembunuh berdarah dingin. Lelaki manapun yang melangkah ke sana tanpa seribu prajurit berkuda sama saja menyerahkan lehernya ke pedang musuh!"
"Duduklah kembali, Paman Zubair," potong Afra tegas. "Lelaki yang menginginkan diriku haruslah sosok yang mampu meredam api perselisihan, bukan sekadar memamerkan kemewahan di atas penderitaan rakyat."
Afra kembali mengarahkan sorot matanya kepada Ghufran, mengamati setiap jengkal reaksi pada raut muka pemuda tersebut. "Syarat mutlak dariku adalah: engkau harus pergi seorang diri melintasi Ngarai Ash-Shakhra. Bawa Piagam Perdamaian ini kepada tetua Bani Shahr, peroleh tanda sumpah mereka tanpa pertumpahan darah, dan kembalilah ke gerbang ini sebelum bulan purnama mencapai puncaknya."
Ghufran tersenyum tipis. "Hanya itu syarat berat yang kau minta untuk memenangkan hatimu, Nona Afra?"
"Hanya itu?" suara Afra meninggi, terkejut oleh ketenangan yang ia anggap sebagai kesombongan. "Tidakkah engkau mengerti puluhan kesatria utusan istana telah tewas di lereng cadas itu? Apakah engkau menganggap nyawamu memiliki pelindung ghaib yang kebal belati?"
"Nyawaku memang hanya satu, Nona," sahut Ghufran mantap dan tenang. "Tetapi jiwaku tidak gentar jika tujuan perjalanannya adalah menegakkan keadilan dan membela martabat wanita yang kucintai demi rida Ilahi."
"Keteguhanmu terdengar meyakinkan," ucap Afra seraya mengamati sorot mata sang musafir. "Namun tebing batu Ash-Shakhra tidak mempan oleh kata manis. Di sana, hanya kesabaran dan ketajaman pedang yang menentukan siapa yang pulang bernyawa."
"Keadilan lebih tajam daripada pedang tertajam, Nona Afra," balas Ghufran tak kalah tegas. "Dan aku membawa keadilan itu bersamaku."
°˖✧✿✧˖°