Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

KETIKA RENCANA BERANTAKAN

Ketika Rencana Berantakan

Rencana masa depan Ghufran mengalami kegagalan.

---o0o---

Gemuruh guruh membelah langit senja Jakarta yang kelam. Hujan deras turun seolah menumpahkan seisi samudra ke atas genting tembikar Kafe Selasar Tua di bilangan Cikini. Butiran air berderai menghantam kaca jendela, melukis lelehan cair yang memburamkan kerlip lampu jalanan ibu kota. Di sudut paling temaram, Ghufran duduk mematung. Jemarinya yang dingin mencengkeram cangkir porselen berisi sisa espresso yang telah kehilangan uap hangatnya sejak satu jam lalu.

Di atas meja kayu trembesi, selembar surat berkop resmi Yayasan Pelestari Pusaka Nusantara tergeletak kaku. Di sudut kanan atasnya, cap stempel berona merah menyala tampak begitu kejam: DIBATALKAN DAN DILEPAS DARI KONSORSIUM.

Ghufran memejamkan mata rapat-rapat. Urat-urat di pelipisnya berdenyut nyeri. Proyek Arunika Heritage—megaproyek revitalisasi cagar budaya seluas empat hektare yang ia perjuangkan selama empat tahun tanpa jeda libur—telah musnah dalam sekejap mata. Seluruh tabungan hidupnya yang ia tanamkan sebagai modal kerja, jaminan sertifikat tanah milik mendiang ayahnya di bank, hingga martabatnya di depan keluarga besar yang selama ini meragukan profesinya sebagai arsitek independen, ambruk tanpa sisa.

Layar ponselnya menyala liar di samping cangkir. Nama Arga, asisten studionya, berkedip panik. Ghufran menggeser ikon hijau dengan tangan gemetar lalu menempelkan benda itu ke telinga.

“Mas Ghufran? Demi Tuhan, tolong jawab, Mas!” Suara Arga terdengar tersengal di ujung sambungan, diselingi derak kertas berhamburan dan suara gaduh staf studio. “Rekening operasional konsorsium resmi dibekukan pihak kurator sore ini! Bank menolak mencairkan termin ketiga!”

Ghufran menarik napas panjang, berusaha menahan getaran pita suaranya yang tercekat. “Arga, tenangkan dirimu dulu. Jangan buat kepanikan di studio.”

“Bagaimana saya bisa tenang, Mas?!” jerit Arga histeris. “Pihak sponsor utama mencabut dana komitmen empat belas miliar secara sepihak! Mereka mengirim surat somasi pembatalan kontrak kerja sama! Katanya ada audit investigasi darurat atas dugaan manipulasi laporan kelayakan tanah! Mas, bagaimana dengan gaji belasan staf kita akhir bulan ini? Bagaimana dengan tagihan vendor marmer di Surabaya?”

“Aku tahu, Arga. Aku memegang salinan surat pembatalan itu di tanganku sekarang,” bisik Ghufran perih menatap kertas itu.

“Lalu apa yang harus kami katakan kepada para arsitek junior, Mas?” desak Arga dengan nada putus asa. “Semua rencana kita… peluncuran bulan depan di balai kota, pameran maket di Galeri Nasional, bahkan janji Mas ke keluarga calon mertua Mas… semuanya berantakan tak bersisa!”

“Kututup teleponnya sekarang. Kunci pintu studio, jangan keluarkan pernyataan apa pun kepada pihak luar. Biar aku yang memikul ini,” ucap Ghufran tegas sebelum memutus panggilan secara sepihak.

Ia melempar ponsel ke atas meja. Dadanya sesak seperti dihimpit batu granit. Tiga minggu lagi adalah hari pertunangannya dengan Nadia. Ayah Nadia, seorang pensiunan pejabat terpandang, hanya memberi satu syarat mutlak: proyek Arunika harus mengantongi izin konstruksi dan kepastian dividen, bukti bahwa Ghufran bukan pemimpi kere yang memperjudikan masa depan putrinya. Kini, rencana itu menjadi abu berserakan.

“Kau tampak persis seperti seorang pria yang baru saja menyaksikan seluruh istana khayalannya runtuh ke dasar jurang.”

Sebuah suara perempuan yang tenang, jernih, dan bernada dingin tiba-tiba memecah denting gemercik hujan di dekatnya.

Lonceng kuningan di atas pintu masuk kafe baru saja berhenti berayun, namun langkah kaki perempuan itu sama sekali tak berbunyi di atas tegel klasik. Ghufran tersentak menegakkan punggungnya yang kaku.

Seorang wanita muda berdiri anggun tepat di tepi mejanya. Ia mengenakan pashmina pasir lembut yang membingkai paras lonjong bergaris rahang tegas, dipadukan blazer abu-abu arang berpotongan rapi di atas kemeja putih bersih tanpa cela. Di tangan kirinya, ia mendekap map kulit cokelat tua berpelat perak, sementara tangan kanannya menggenggam payung lipat hitam yang masih meneteskan sisa air hujan ke lantai kafe itu.

Sepasang bola matanya berwarna cokelat gelap pekat, memancarkan ketenangan yang nyaris mengintimidasi—tatapan seorang penilai yang tak terbiasa dipengaruhi oleh kepalsuan duniawi.

“Siapa kau?” tegur Ghufran dengan nada defensif, alisnya bertaut rapat. “Dan atas hak apa kau mengomentari urusan pribadiku di tempat ini?”

Wanita itu tersenyum tipis, jenis senyum berjarak yang menjaga batas kesopanan secara mutlak. “Namaku Afra Nailah. Dan sayangnya untukmu, Ghufran, kehadiranku di sini bukan untuk mengomentari urusan pribadimu, melainkan menuntut pertanggungjawaban nyata dari puing-puing rencanamu yang berantakan.”

°˖✧✿✧˖°

Ghufran tertegun sesaat mendengar namanya diucapkan begitu lugas oleh perempuan yang sama sekali asing baginya. Rasa curiga berbaur dengan amarah yang mendidih di rongga dadanya. Ia mendorong kursinya sedikit ke belakang, menatap sosok Afra Nailah dari ujung kerudung pasirnya hingga ujung sepatu pantofel kulitnya yang bersih tanpa noda lumpur sedikit pun.

“Afra Nailah?” ulang Ghufran dengan nada sinis, bibirnya berkedut getir menahan emosi. “Aku tidak pernah membuat janji temu dengan wartawan ataupun kurator asing sore ini. Jika kau datang hanya untuk memotret kekalahanku dan menjadikannya santapan berita sensasional, sebaiknya kau keluar dari kafe ini sekarang juga.”

Tanpa memedulikan usiran ketus itu, Afra menarik kursi kayu di seberang meja Ghufran dengan gerakan anggun dan sangat terukur. Suara gesekan kaki kursi terdengar tegas di atas lantai ubin. Ia menyandarkan payung basahnya di samping dinding, lalu meletakkan map kulit cokelatnya tepat di samping berkas pembatalan konsorsium milik Ghufran.

“Aku bukan wartawan pencari sensasi murahan, Ghufran,” ucap Afra dengan nada tenang yang berwibawa, membuka kait perak map kulit itu dengan denting pelan yang khas. “Aku adalah auditor forensik independen yang ditunjuk langsung oleh Dewan Pengawas Cagar Budaya dan Konsorsium Perbankan sejak tiga pekan lalu.”

Ghufran membeku di tempat duduknya. Darahnya mendesir dingin seketika. “Auditor independen? Jadi kau… kau orang yang menandatangani rekomendasi penangguhan dana Arunika?”

“Tepat sekali,” jawab Afra tanpa keraguan sedikit pun, kedua matanya menatap lurus ke dalam manik mata Ghufran yang mulai memerah saga. “Laporan kelaikan arsitektur dan struktur geologis yang biromu ajukan mengandung manipulasi data tanah seluas seribu meter persegi di bantaran situs cagar budaya. Kalian mengklaim zona resapan itu aman untuk dibangun plaza komersial bertingkat, padahal lapisan tanahnya merupakan formasi aluvial rapuh yang membahayakan pondasi artefak abad ke-17 di bawahnya.”

“Itu tuduhan fitnah yang keji!” sergah Ghufran, suaranya meninggi hingga beberapa pengunjung di seberang ruangan menoleh heran. “Kajian geoteknik itu dilakukan oleh tim ahli bersertifikat resmi! Kami menghabiskan ratusan jam pengujian lapangan demi menjaga keutuhan cagar budaya itu!”

Afra menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, sama sekali tak gentar menghadapi kemarahan lelaki itu. Jemarinya yang lentik mengetuk pelan permukaan kertas dokumen auditnya.

Lihat selengkapnya