Cinta Yang Kembali Kepada-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

RUNTUHNYA KESOMBONGAN

RUNTUHNYA KESOMBONGAN, HADIRNYA KETULUSAN

Saat Menara Keangkuhan Luluh di Ranjang ICU dan Penebusan Silaturahmi

-------------------------------------

Landasan Hikmah: QS. Fussilat [41]: 34

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia."

--------------------------------------

MENARA YANG BERDERAK

Ketika Denyut Emas Terhenti di Puncak Kejayaan

Setting: Penthouse Lantai 45 Amal Tower, Kawasan Segitiga Emas Jakarta, Pukul 22.15 WIB

---o0o---

Hujan lebat membungkus belantara kaca dan baja Jakarta dengan selubung kelam yang dingin. Di lantai empat puluh lima Amal Tower—sebuah menara pencakar langit prestisius yang namanya dipahat dengan lempengan kuningan berlapis emas—Fadhilul Amal berdiri memandang bentangan metropolis. Selama tiga dasawarsa, pria berusia lima puluh delapan tahun itu memandang gemerlap lampu kota di bawah kakinya bukan sebagai kumpulan manusia yang bernyawa, melainkan deretan angka, dividen saham, dan peta ekspansi imperium propertinya. Baginya, manusia di dunia ini hanya terbagi menjadi dua golongan kaku: mereka yang berkuasa karena memiliki modal berlimpah, dan mereka yang tersingkir karena tak sanggup bersaing dalam rimba kapital.

Namun malam itu, keheningan ruang kerjanya yang mewah berderak mengerikan. Jam dinding antik berlapis mahoni baru saja berdentang sepuluh kali ketika layar tablet di genggamannya berkedip panik. Satu demi satu warta transaksi obligasi jatuh tempo runtuh bagai kartu domino. Dari Singapura, kabar buruk merembes cepat laksana racun sianida: konsorsium Bramantyo, rekan kongsi yang selama lima tahun dipuja Fadhilul sebagai arsitek keuangan genius berdarah ningrat, telah mengosongkan rekening escrow di DBS Bank dan melarikan diri ke Zurich dengan menumpangi penerbangan carteran pribadi. Obligasi subordinasi senilai enam ratus miliar rupiah yang diterbitkan Amal Corp kini ditinggalkan tanpa penjamin, sementara surat somasi sita eksekusi dari sindikat kurator Jakarta Barat telah meluncur menuju meja hijau.

Dada Fadhilul mendadak dihantam godam tak kasatmata. Udara di dalam ruang kerja berpendingin sentral itu terasa tersedot habis dalam hitungan detik. Ia terhuyung, jemari gemetarnya berusaha menopang tubuh di atas meja marmer Italia, namun keseimbangannya binasa. Berkas-berkas berharga, piagam penghargaan 'Pengusaha Properti Terbaik Dekade Ini', dan botol kristal minuman mineral impor tumpah berserakan ke lantai karpet Persia. Otot-otot jantungnya mengalami serangan iskemik akut; bilik kirinya menolak memompa darah dengan ritme semestinya. Dalam kegelapan yang mulai menyelimuti pandangannya, Fadhilul mencoba berteriak memanggil sekretaris dan ajudannya, tetapi yang keluar dari kerongkongannya hanyalah erangan tercekik. Dunia yang kemarin ia genggam dengan keangkuhan mutlak seketika runtuh sebelum punggungnya sempat menyentuh dinginnya lantai marmer.

------------------------------------


BAGIAN 1: LORONG RUMAH SAKIT YANG SEPI DARI KARANGAN BUNGA

Runtuhnya Mitos Persahabatan Kaum Konglomerat

Setting: Koridor Ruang ICU Rumah Sakit Jantung Metropolitan, Pukul 02.30 WIB

---o0o---

Bau tajam desinfektan dan udara berkarbol dingin menusuk hidung Nashira saat ia menyandarkan keningnya pada dinding ubin koridor lantai tiga Rumah Sakit Jantung Metropolitan. Jarum jam digital di dinding berkedip merah kusam, menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Di balik pintu kaca ganda bertuliskan 'ICU - Hanya Petugas', ayahnya, Fadhilul Amal, terbaring kaku dengan selang ventilator melintang di tenggorokan, dikelilingi belasan kabel elektroda yang mendesingkan irama kehidupan yang rapuh. Suara denging mesin pemantau hemodinamik itu terdengar bagai lonceng kematian yang menanti ketukan terakhir.

Namun yang terasa jauh lebih dingin dari pendingin ruangan rumah sakit adalah kekosongan mutlak di sepanjang lorong itu. Biasanya, setiap kali Fadhilul Amal hanya sekadar menderita flu musiman atau memeriksakan tekanan darah di paviliun VVIP, lobi rumah sakit swasta akan langsung disesaki ratusan karangan bunga papan. Bunga anggrek bulan impor, mawar beludru dari para menteri, ucapan lekas sembuh dari gubernur bank, deretan karangan bunga dari direktur utama BUMN, dan kerumunan asisten pribadi pejabat yang mengantre membawakan keranjang buah berlabel puluhan juta rupiah. Telepon ajudan Fadhilul biasanya tak henti-hentinya berdering dari para kolega yang berebut menunjukkan rasa peduli semu.

Kini, di malam saat Fadhilul benar-benar terancam sakaratul maut, lorong itu sunyi senyap laksana pemakaman tak bertuan. Tak ada satu pun karangan bunga. Tak ada satu pun aroma wangi lili. Yang ada hanyalah derit roda brankar perawat yang lewat sesekali, dan isak tertahan Bu Fariha di kursi tunggu plastik bercat biru pudar.

Bu Fariha, yang malam itu masih mengenakan selendang sutra abu-abu yang kusut masai, memegang ponsel pintarnya dengan jemari yang tak henti berguncang. Layar ponselnya menampilkan riwayat panggilan keluar yang semuanya bernasib sama: tanda seru merah atau sambungan yang langsung dialihkan ke kotak suara operator. Selama empat jam terakhir, wanita paruh baya itu telah menelepon lebih dari tiga puluh orang yang selama puluhan tahun menyebut diri mereka 'sahabat karib keluarga Amal'.

'Semuanya mematikan nomor telepon mereka, Nashira...' bisik Bu Fariha dengan suara yang nyaris musnah oleh keputusasaan. Air matanya menetes merusak riasan bedak tipis yang belum sempat ia basuh. 'Om Bramantyo, Tante Cynthia, Pak Danubroto yang bulan lalu kita undang makan malam mewah di kapal pesiar Labuan Bajo... semuanya raib. Sekretaris Pak Danu bahkan berkata dengan nada dingin bahwa bosnya sedang berada di luar negeri dan tidak ingin dikaitkan dengan skandal gagal bayar obligasi papa kandungmu. Mereka... mereka memperlakukan kita seperti penderita kusta yang menular!'

Nashira menghela napas panjang, menelan kepahitan yang menyengat tenggorokannya. Gadis itu menatap pintu kaca ICU dengan tatapan nanar. Di layar tabletnya sendiri, notifikasi berita daring terus bergulir deras dengan tajuk-tajuk bombastis: 'Amal Corp Terancam Pailit!', 'Sindikat Bramantyo Kabur, Kurator Siap Sita Aset Keluarga Amal', 'Rumah Mewah di Menteng Dikepung Kreditur Besok Pagi'. Para wartawan dan pemburu utang sudah mulai berkemah di gerbang rumah utama mereka, menunggu mangsa yang terluka parah untuk dicabik-cabik.

'Dunia yang selama ini Papa puja ternyata hanyalah panggung sandiwara rapuh, Ma,' gumam Nashira lirih, suaranya sarat dengan duka yang matang. 'Saat Papa berdiri di atas tumpukan emas, mereka semua berebut mencium tangan Papa dan memanggil Papa dermawan agung. Tetapi ketika pilar emas itu patah dan Papa terbaring hampir mati di sini, mereka bahkan takut mengirim sepucuk doa, khawatir nama mereka terseret dalam daftar sita kurator. Betapa menjijikkannya harga sebuah persahabatan yang dibeli dengan uang.'

-------------------------------------


BAGIAN 2: DUA SOSOK BERSAHAJA DI BALIK PINTU KACA

Ketika Duri Masa Lalu Dibalas Zamzam Ketulusan

Setting: Pintu Masuk Ruang Tunggu ICU, Pukul 03.45 WIB

---o0o---

Langkah kaki yang teratur di atas lantai porselen koridor memecah keheningan dini hari yang mencekam. Nashira mengangkat kepalanya yang berat, mengira bahwa kurator pengadilan atau gerombolan penagih utang berbaju safari hitam telah berhasil menerobos penjagaan pos keamanan rumah sakit. Namun pandangan matanya seketika terpaku pada dua sosok yang melangkah pelan dari ujung lorong temaram.

Lihat selengkapnya