[partImg:[0]]
Cinta yang Berlabuh di Ridha-Nya
Akad Suci di Selasar Masjid Wakaf dan Pelayaran Bahtera Menuju Surga
-------------------------------------
Landasan Ayat Al-Qur'an: QS. Ar-Rum: 21
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
------------------------------------
--- MUQADDIMAH: Riak Rintik dan Cahaya Fajar di Pelataran Wakaf ---
Ketika debu kepedihan masa lalu terbasuh oleh air suci tawakkal
---o0o---
Kabut tipis fajar belum sepenuhnya beranjak dari pucuk-pucuk pohon tanjung yang berjajar di tepian jalan kampung. Udara pagi itu membawa hawa sejuk yang merasuk hingga ke pori-pori terdalam, bercampur aroma basah tanah lempung yang semalam suntuk disiram gerimis berkah. Di sudut persimpangan yang beberapa bulan silam masih dipenuhi timbunan pasir kasar dan rangka bambu lapuk, kini berdiri megah sebuah bangunan yang memancarkan aura keteduhan tiada tara: Masjid Al-Ikhlas, rumah Allah yang dibangun dari cucuran keringat wakaf warga dan keikhlasan jiwa-jiwa yang haus akan ampunan.
Kubah tembaga barunya yang berbentuk kuncup melati mulai menangkap bias sinar mentari pertama. Semburat jingga keemasan memantul lembut di atas permukaannya yang dipahat manual oleh para perajin lokal, menciptakan pendar temaram yang seolah menaungi seluruh lembah dengan kedamaian samawi. Bagi siapa pun yang melintas, masjid itu bukan sekadar perpaduan bata terakota dan semen bertulang. Ia adalah monumen kebangkitan; sebuah altar taubat bagi mereka yang pernah tersesat dalam gemerlap fatamorgana dunia, dan kini bersujud menyerahkan segala sisa usia di haribaan Sang Maha Pengasih.
Di selasar barat, ubin-ubin terakota merah bata yang dulu dingin dan berdebu kini telah terpasang rapi, berkilau bersih disapu kain basah bercampur perasan air mawar. Tempat inilah yang setahun lalu menjadi saksi bisu runtuhnya pertahanan jiwa seorang gadis muda. Di sudut pilar terakota itulah Nashira Salma pernah tersedu-sedu meratapi kehancuran nama baik keluarganya, memeluk lututnya sendiri dalam ketakutan ketika fitnah keji dunia mencabik-cabik martabat sang ayah. Betapa ingatan itu kini menjelma menjadi getaran tasbih di dalam dadanya. Di lantai yang sama, di mana air matanya pernah tumpah dalam rasa malu yang tak terperi, kini terbentang permadani hijau zamrud yang disiapkan menyambut langkah sucinya menuju sebuah ikatan yang diridhai langit.
Wangi dupa gaharu perlahan mengepul dari cawan kuningan antik yang diletakkan di dekat undakan pintu utama. Asap putih kebiruan meliuk perlahan di udara, merayap di antara kisi-kisi kayu jati berukir ayat kursi, lalu membaur dengan keharuman ronce melati segar yang dirangkai jemari ibu-ibu pengajian semalam suntuk. Tidak ada dekorasi pelaminan mewah berlapis kristal impor, tidak ada karpet merah berbahan wol Eropa, dan tak ada gemerlap lampu sorot yang menyilaukan mata fana. Kesederhanaan yang dihadirkan di selasar masjid wakaf pagi itu justru menghadirkan wibawa ruhani yang begitu agung—sebuah kemewahan batiniah yang tak sanggup dibeli dengan emas berkarat sedunia.
------------------------------------
--- BAGIAN I: Embun Pagi di Atas Kubah Tembaga yang Baru ---
Kawasan Masjid Al-Ikhlas yang Telah Selesai Direnovasi
---o0o---
Langkah kaki para tetangga mulai terdengar berderap ramah di jalan setapak bertabur kerikil putih. Sejak selepas salat Subuh berjamaah tadi, suasana di pekarangan samping masjid telah berdenyut oleh kehangatan persaudaraan yang tulus. Kaum ibu dengan celemek kain katun bergaris sibuk menata bakul-bakul bambu berisi hidangan prasmanan sederhana di bawah kanopi terpal bambu. Ada uap mengepul dari ketan uli yang baru saja ditumbuk hangat, aroma gurih kelapa sangrai serundeng yang menggugah selera, serta irisan ayam kampung ungkep bumbu lengkuas yang dimasak di atas tungku kayu bakar.
Tidak ada katering komersial berbintang lima yang mengenakan tarif puluhan juta rupiah. Segala jamuan yang tersaji pagi itu adalah buah dari tangan-tangan tulus yang mencintai keluarga Ghufran Al-Ghifari dan menghormati kesungguhan hijrah Pak Fadhilul Amal. Pak RT bersama para pemuda karang taruna tampak sigap menyusun kursi-kursi kayu jati lawas yang dipinjamkan dari balai warga, menyekanya hingga mengkilap tanpa mengeluh sedikit pun.
"Lihatlah kubah itu, Kang," bisik salah seorang pemuda kampung sambil menunjuk ke puncak masjid yang berkilauan diterpa fajar. "Dulu saat Pak Fadhilul pertama kali datang kemari dengan kursi rodanya, membawa sisa tabungannya yang halal untuk menyelesaikan atap ini, banyak yang menyangka beliau tak akan bertahan hidup. Sakitnya begitu parah, bicaranya terbata-bata. Namun lihatlah hari ini... Allah bukan hanya menyembuhkan raganya, tetapi mengangkat kembali derajatnya di rumah wakaf ini."
Di balik jendela kayu berjeruji di bilik serambi samping, Nashira Salma mendengarkan sayup-sayup percakapan itu dengan mata berkaca-kaca. Jantungnya berdegup dalam irama yang ganjil—percampuran antara debar kecemasan yang fitrah dan rasa syukur yang begitu meluap hingga meremukkan seluruh keangkuhan masa lalunya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin rias sederhana berbingkai kayu jati peninggalan almarhumah neneknya.
Wajahnya pagi ini terbebas dari sapuan bedak tebal maupun riasan mencolok yang lazim menghiasi pengantin borjuis metropolitan. Tidak ada bulu mata palsu yang memberatkan kelopak matanya, tidak ada gincu merah menyala yang menutupi rona bibir aslinya. Sentuhan bedak tipis dan polesan minyak zaitun alami justru memancarkan kejernihan kulit seorang wanita yang gemar membasahi wajahnya dengan air wudhu di sepertiga malam. Kerudung syar'i putih salju berbahan katun sutra jatuh menjuntai anggun menutupi dada dan punggungnya, disematkan hanya dengan satu bros perak bermotif daun semanggi sederhana.
Pintu bilik berderit pelan. Dua wanita mulia melangkah masuk dengan senyum yang menyejukkan pandangan. Bu Fariha, ibunda tercinta yang rambutnya kini mulai memutih namun memiliki keteduhan tatap yang tiada tara, melangkah mendekat seraya membawa seuntai ronce melati putih yang masih berembun. Di sampingnya, berdiri Ummi Afra Nailah—ibunda dari Ghaffar Syarif—wanita yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai lambang kesabaran dan cinta sejati di samping suaminya, Ghufran Al-Ghifari.
"Masya Allah, cantiknya putri Ummi..." bisik Bu Fariha dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Air matanya menggenang di pelupuk mata, namun ia segera menyekanya dengan ujung selendang agar tak menetes ke atas kerudung putrinya. "Dulu Ibu selalu bermimpi melihatmu berdiri di ballroom hotel termewah di ibu kota dengan gaun pengantin ratusan juta rupiah. Namun melihatmu duduk bersahaja di selasar masjid wakaf ini, dengan pakaian takwa yang diridhai Allah, Ibu baru menyadari... inilah kemuliaan sejati yang sesungguhnya kami dambakan selama ini."
Afra Nailah tersenyum teduh, melangkah maju lalu merengkuh pundak Nashira dengan kehangatan seorang ibu yang menyambut kelahiran kembali sang anak. "Anakku, Nashira..." ucap Afra dengan suara bergetar penuh kasih. "Pagi ini bukan hanya anak lelakiku, Ghaffar, yang menyambutmu sebagai teman hidupnya. Aku dan Abah Ghufran pun menyambutmu seutuhnya ke dalam relung hati kami. Jangan pernah takut akan masa depan. Menikah dengan penuntut ilmu dan pemuda yang mencintai Al-Qur'an mungkin tidak menjanjikan istana megah bertahtakan permata, namun insya Allah, Ghaffar telah kami didik untuk tidak pernah membiarkan perutmu lapar dari rezeki yang halal, dan tidak akan membiarkan jiwamu dahaga dari ilmu yang mendekatkan ke surga."
Nashira tak kuasa menahan haru. Ia menundukkan kepalanya, mencium punggung tangan kedua wanita perkasa itu secara bergantian. Kehangatan kulit tangan mereka yang wangi air wudhu menghapus segala sisa bayang-bayang kelam tentang masa lalu saat ia dicampakkan oleh pergaulan kawan-kawan sosialitanya pasca bangkrutnya sang ayah. Di sini, di bawah naungan atap masjid wakaf yang sederhana ini, ia merasa menjadi wanita paling berharga di kolong langit.
-------------------------------------
--- BAGIAN II: Ijab Kabul Tanpa Harta Mewah, Bermodalkan Hafalan Surah ---
Ruang Utama Masjid di Depan Mihrab Kayu Jati
---o0o---
Matahari pagi telah merangkak naik setinggi tombak, membiaskan berkas cahaya emas yang masuk menembus kisi-kisi ventilasi kayu jati di ruang utama masjid. Di hadapan mihrab yang dihiasi kaligrafi surah Al-Baqarah ayat 255 yang dipahat timbul dengan tinta emas prada, suasana hening menyelimuti ruangan. Tidak ada alunan musik orkestra modern; yang terdengar hanyalah desau angin pagi yang menyusup di antara daun-daun jendela terbuka dan detak jam dinding kayu tua yang berdetik dengan ketukan khusyuk.
Sebuah meja kayu jati berkaki pendek beralaskan taplak katun putih bersih telah ditata di tengah saf terdepan. Di sisi utara meja, duduk Pak Fadhilul Amal. Penampilannya pagi ini sungguh menyentak kalbu siapa pun yang mengenalnya di masa jaya dahulu. Pria yang dulunya selalu mengenakan setelan jas impor bermerek ternama dengan jam tangan arloji berlapis emas itu, kini duduk bersila dengan busana takwa linen putih polos yang longgar. Di samping kirinya tersandar sebuah tongkat kayu jati berukir sederhana—penopang setia kakinya yang masih sedikit pincang pasca serangan stroke yang meruntuhkan keangkuhan raganya dua tahun silam.
Kendati tubuhnya tampak lebih ringkih dan wajahnya telah dipagari garis-garis keriput penderitaan, sorot mata Pak Fadhilul memancarkan cahaya yang jauh lebih bening daripada masa-masa ia bergelimang miliaran rupiah. Ada ketenangan taubat nasuha yang begitu dalam di sana. Napasnya teratur, dan jemarinya yang sempat kaku akibat kelumpuhan kini menggenggam erat tasbih kayu zaitun di pangkuannya.