Cinta Yang Mengubah Gender

Nur Lia Andriani
Chapter #1

Janji Terakhir Di Batas Nyawa

Ruangan itu terasa begitu pengap dan dingin, seolah udara di dalamnya telah tersedot habis oleh keputusasaan. Hanya suara desis napas yang berat dan terputus-putus yang memecah keheningan malam, diselingi bunyi tik-tok jarum jam yang seakan mempercepat detik-detik perpisahan diantara dua insan tersebut.


Di atas ranjang besar itu, terbaring lemah sosok Tessa. Wanita yang dulu begitu cantik dan mempesona kini tinggal kerangka berselimut kulit akibat penyakit kronis yang menggerogoti tubuhnya bertahun-tahun. Kulitnya pucat pasi, tulang-tulang rusuknya menonjol jelas, dan matanya yang dulu berbinar kini hanya menyisakan sorot kosong yang penuh penderitaan dan kesakitan.


Namun, di balik kelemahan fisik yang menyiksanya itu, ada satu hal yang tak pernah padam: Api kecemburuan dan ketakutan.


Liam duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan istrinya yang dingin dan kurus itu dengan lembut. Wajah tampannya tertunduk lesu, menahan air mata yang sejak tadi ia bendung. Liam tahu, hari ini cepat atau lambat akan tiba.


….Hari dimana perpisahan abadi akan mendorongnya menuju keputusasaan.


“Liam…” Suara Tessa terdengar serak dan lemah, namun nadanya tajam, penuh penekanan. “Jangan… jangan pernah lihat wanita lain… saat aku nggak ada…”


Liam mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jarinya, suaranya bergetar namun tetap tenang dan menenangkan. “Aku janji, Tessa. Hanya ada kamu di hatiku. Selamanya…”


“Bohong!” Tiba-tiba Tessa mencoba menggerakkan tubuhnya, matanya membelalak marah meski tenaganya tak cukup bahkan untuk mengangkat kepala.


“Kamu itu tampan, cantik dan sempurna, Liam!. Kamu juga sangat menarik perhatian!. Kamu pikir aku nggak tahu gimana pandangan wanita-wanita itu ketika mereka melirik-lirik kamu?!. Mereka pasti nunggu aku mati!, mereka cuma nunggu kesempatan untuk memasuki hidupmu!”.


Napas Tessa memburu, tubuhnya gemetar hebat karena emosi yang meledak. Ia benci keadaan tubuhnya ini, dan benci penyakit sialan ini!. Dan yang paling dia benci adalah kenyataan bahwa ia harus mati dan meninggalkan suaminya sendirian.


“Kenapa aku harus pergi?. Kenapa Tuhan begitu kejam?. Aku hanya ingin hidup!. Aku ingin terus memilikinya!”. Rasa benci dan enggan untuk meninggalkan dunia ini bercampur menjadi satu, membuat detik-detik terakhirnya terasa seperti siksaan neraka bagi Tessa.



“Tenang, sayang… jangan dipikirkan itu semua”. Liam membasahi bibir kering Tessa dengan kapas berisi air. “Aku di sini. Aku nggak akan ke mana-mana”.


Tessa menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara cinta yang membara, rasa posesif yang ekstrem, dan keputusasaan.


Semua emosi itu mengaburkan kilauan kehidupan dimata biru safirnya. Perlahan, dengan sisa kekuatan terakhirnya, tangan kanannya meraba-raba di bawah bantal.


Dengan lesu Tessa mengeluarkan sebuah botol kaca kecil yang terbuat dari kristal tebal. Di dalamnya, berisi cairan hitam pekat yang tampak kental dan misterius, berkilau aneh di bawah cahaya lampu kamar.


“Ambil ini…” bisik Tessa, matanya menatap tajam ke arah mata hitam legam Liam.


Liam menerima botol itu dengan ragu. “Apa ini, Tessa?. Obat?”.


Alih-alih menjawab, Tessa justru mendorong Liam untuk segera meminum cairan hitam itu.


“Minumlah… sekarang juga…” perintah Tessa, suaranya mendesak. “Minum, Liam!. Ini permintaan terakhirku!, agar setidaknya aku bisa mati dengan tenang..!!”.


Lihat selengkapnya