Mendung menemani perjalanan kami, pulang dari Villa tempat kami liburan. Aku, Ana dan Andre. Kami bertiga tidak balik ke tempat indekos kami di Bandung. Tetapi, kami melanjutkan liburan kami di Jakarta. Ana dan Andre kebetulan juga dari Jakarta. Sudah empat tahun kami berteman, aku belum pernah tahu di mana tempat tinggal mereka di Jakarta.
Awal pertemuan, kami tepat saat masa orientasi mahasiswa baru. Perkenalan pertama kali aku dengan Andre. Dan Andre juga langsung mengetahui tentang penyakitku. Saat itu, kita sedang touring keliling lingkungan kampus. Karena tiba-tiba tali sepatuku terlepas, maka aku menepi dulu untuk mengikat kembali tali sepatuku. Aku yang terkenal pendiam dan tidak pandai bergaul, belum mengenal seorang pun, walaupun dalam rombongan yang sama.
Posisi tempat aku berada dalam rombongan, berada paling belakang. Jadi, saat aku melipir tidak ada yang sadar dengan keberadaanku. Saat rombongan terakhir lewat, aku masih terduduk di pinggir jalan. Seorang kakak senior pun sempat menegurku agar segera bergerak, supaya tidak tertinggal dengan rombongan.
Namun, saat akan mengejar rombongan. Tiba-tiba lewat di depan ku rombongan para gadis. Dan itu menghentikan gerakan langkahku. Bukan karena takut wanita, tapi emang takut wanita. Dan yang lebih sialnya lagi, perempuan zaman sekarang memang banyak yang agresif.
“Sendirian aja? Ayo bareng sama rombongan kita,” kata salah satu perempuan yang juga mahasiswa baru.
Aku tahu, mereka tidak ada niat buruk dengan ajakan itu. Hanya ingin mengajak aku, supaya tidak ketinggalan sendirian di sini. Tapi karena penyakit yang aku derita, serta pempunyai kelainan lainnya. Itulah yang membuatku harus menjaga jarak dari lawan jenis.
Tiba-tiba, dari arah belakang salah satu perempuan lain mendorongku masuk ketengah-tengah kerumunan rombongan para perempuan. Kakiku tidak sengaja tersandung dan aku jadi memegang salah satu tangan anak perempuan yang ada di rombongan itu. Aku tidak memperhatikan wajahnya. Dengan reflek, aku menarik paksa tanganku.
“Santai aja dong mas, kita enggak gigit kok,” kata salah satu perempuan itu dengan sinis.
“Ya udah kalo enggak mau bareng, yuk guys,” lanjutnya mengajak semua rekannya untuk melanjutkan perjalanan.
Tinggallah aku sendiri, di tengah jalan yang belum aku kenal sebelumnya. Walaupun, ini masih kawasan kampus. Tetapi, ini berada di kawasan paling belakang yang sangat jarang dilalui oleh orang.
“Jika aku mengikuti jalan pasti aku sampai di salah satu titik kumpul,” aku menyemangati diri sendiri untuk berusaha berjalan.
Sayangnya, karena kejadian barusan membuat alergiku kumat secara cepat. Badanku langsung berubah menjadi sangat panas. Air minum yang ku bawa sebagai bekal perjalanan juga sudah habis, tegukan terakhir aku habiskan saat aku mengikat tali sepatu tadi. Belum sempat, aku memasukan obat yang aku ambil dari saku celanaku ke dalam mulutku. Tiba-tiba, aku sudah terbaring di tanah.