El Wisnu

Ismahayati
Chapter #6

Tamu tak terduga

Hujan sangat deras, saat kami hampir masuk daerah perbatasan. Waktu sudah menunjukan jam 22.15 WIB. Andre yang sedang mengendari mobil, juga sudah terlihat sangat lelah. Andre duduk dengan santai, sambil menopang dagunya dengan tangan kanan dan bagian siku menempel di pinggir jendela pintu mobil. Sedangkan, tangan sebelahnya lagi sedang memegang stir dengan santai. Lagu yang diputarkan di radio sangat mengajak orang untuk segera memejamkan mata. Jam segini biasanya, lagu-lagu yang diputar di radio kebanyakan adalah lagu melankolis. Sebagai lagu pengantar tidur.

Ana yang duduk di sebelah Andre sudah terlelap dalam mimpinya. Aku selalu berharap, jika aku tidak bisa masuk ke dalam hidupnya, setidaknya aku bisa masuk dalam mimpinya. Sebelum kita berangkat, Andre memang menyuruh Ana untuk tidur di sebelahnya. Karena tahu, aku baru saja mendingan dari alerginya. Jika Ana duduk di sampingku, entah apa yang akan terjadi dalam perjalanan ini.

Jalanan terlihat sangat padat merayap di depan pintu tol Cikampek. Terlihat lampu-lampu mobil mewarnai sepanjang jalan. Bahkan, ada beberapa mobil yang lebih memilih menepi untuk istirahat. Dan melanjutkan perjalanan mereka besok pagi.

“Kalian nginep di rumah gua aja, udah malam,” kataku.

“Kalian mau nyampek rumah jam berapa, kalau jam segini masih di sini,” lanjutku.

“Oke aja, Ana juga sepertinya sudah lelah,” kata Andre terus fokus ke depan.

“Besok gua anterin kalian ke pulang, jadi tidak usah order mobil online” kataku.

Aku sudah sangat penasaran di mana sebenarnya tempat tinggal mereka. Jika mereka balik ke Jakarta, mereka hanya mengantar aku sampai rumah. Walau, terkadang mereka mau mampir dulu sebentar di rumahku. Lalu, mereka memesan taksi atau mobil online. Mereka tidak pernah mengizinkan aku tahu mereka tinggal di mana. Ada apa dengan tempat tinggal mereka. Apa hubungan mereka berdua. Bayangan itu terus menghantuiku.

“Ni, Bro,” kata Andre sambil melemparkan kunci mobil ke aku.

“Oke kalian istirahat deh, gua juga lelah,” kataku sambil berjalan meninggalkan mereka di belakang. Mereka sudah tidak perlu ditunjukan mana kamar tamunya, karena mereka pernah sesekali menginap di sini.

“Malam, Bro,” kata Andre menuju kamar tamu. Dan Ana yang mengikutinya, masih berjalan dalam setengah sadar dari tidurnya.

***

Ana Prov

Aku akhirnya tidur lagi di rumah ini. Sebenarnya sangat tidak nyaman tidur di sini, rumah yang pernah meninggalkan kenangan yang tidak nyaman buatku. Rasa kantukku yang aku rasakan tadi di dalam perjalanan, tiba-tiba mendadak menghilang. Disaat aku tahu, kalau harus menginap di rumah ini lagi. Apalagi, hari ini hari jum’at dan artinya besok adalah akhir pekan.

Saat yang paling tidak inginkan adalah secara tidak sengaja akan bertemu dengan pemilik rumah ini, Handoko Nugraha.

Aku sudah sering mendengar tentang orang ini. Orang yang sangat maju di dunia bisnis. Bukan hanya bidang industri pangan saja yang dia kembangkan. Tetapi dia juga menguasai bisnis di bidang industri tekstil. Entah sekarang, dia sedang mengembangkan industri apa lagi setelah ini. Wajah dia sudah sering terpampang di majalah-majalah bisnis yang sering beredar.

Dunia bisnis yang sangat maju, juga mempunyai banyak rahasia di dalamnya. Dan aku salah satu sisi gelap dari Handoko Nugraha. Aku harus merasakan sisa hidupku seperti sekarang ini. Tetapi, aku sudah mulai terbiasa dengan kehidupan ini. Aku bisa melalui hari-hariku sebagian besar karena bantuan dari Andre.

“hfff….. Aku harus segera tidur, agar besok pagi bisa segera pergi dari rumah ini,” kataku sambil menghembuskan napas sekuat kuatnya, seperti membuang angin sebanyak-banyaknya dari dalam paru-paruku.

“Semoga saja, aku tidak bertemu dengan Handoko,” lanjutku sambil mulai merebahkan diri di kasur.

Handoko adalah orang yang sangat tidak ingin aku temui. Tapi pertemanan aku dengan Wisnu murni tidak ada sangkut pautnya dengan Handoko. Aku selalu mengajak Wisnu untuk tidak terbiasa dengan kehidupan mewahnya sekarang. Aku tidak mau Wisnu menjadi Handoko selanjutnya, yang menghalalkan semua cara untuk mengembangkan bisnisnya.

Wisnu tidak sama dengan Handoko. Saat pertama kali aku mengenal Wisnu, terus terang saja aku tidak tahu jika dia anak dari Handoko Nugraha. Aku melihat dia sosok yang sangat darmawan. Mungkin, sifatnya turun dari mamanya. Tidak terlihat sifat ambisus dan egois di diri Wisnu. Walupun, masih ada sifat sombong yang terkadang terlihat di dirinya tetapi itu masih bisa dihilangi.

Tiga tahun kami menjadi teman dekat, sifat sombong yang terlihat pertama kali kenal dia sudah mulai menghilang. Tetapi sekarang, yang muncul di dirinya sifat playboy. Mulutnya yang gampang mengeluarkan kata-kata sayang. Di otak mulai berputar kembali kata-kata sayang yang pernah wisnu ucapkan.

“Andai dulu tidak ada kejadian yang menyakitkan, akankah kita seperti sekarang ya?” tanyaku sambil mengenang masa laluku bersama Wisnu.

“Kita pasti masih saling kenal dan akrab seperti sekarang, tapi pasti jalurnya tidak sama,” kataku dan tidak terasa air mata sudah membasahi pipiku karena mengenang masa-masa indah sekaligus menjadi masa-masa yang menyedihkan. Kututupi wajahku dengan bantal agar suara tangisku tidak terdengar. Dan aku mencoba untuk mulai memejamkan mata ini, walaupun sangat sulit aku lakukan.

***

Lihat selengkapnya