El Wisnu

Ismahayati
Chapter #7

Rumah Ana

Setelah pertemuan Ana dan ayah pagi tadi, perubahan sikap Ana terlihat sangat jelas. Di wajahnya tidak terlihat senyuman dan cahaya berseri, yang biasa terpancar di sana. Entah kenapa, aku merasa Ana menjadi sangat diam dan muram. Ada rahasia apa sebenarnya, sehingga membuat Ana begitu tidak senang melihat ayahku.

Aku yang sibuk menghapalkan jalan daritadi. Sehingga, aku tidak sempat mengajak Ana untuk mengobrol. Apalagi sepertinya, Ana juga tidak mau aku ganggu. Bahkan, Andre yang biasanya cerewet, dalam perjalanan kali ini, dia hanya terdiam seribu bahasa dan hanya fokus pada jalanan saja.

Beberapa saat tadi, kami baru saja keluar dari jalan tol. Sekarang, kami sedang ada di dalam perjalanan menuju rumah Ana. Aku berharap di rumah itu, aku bisa menemukan rahasia yang selama ini disembunyikan oleh Ana.

"Udah sampai kita, ndre?" tanyaku sewaktu mobil kita masuk ke pekarangan sebuah rumah.

Rumah itu sangat indah dengan pepohonan yang masih sangat banyak, tumbuh di halaman depan rumah. Halaman rumahnya cukup luas dan asri, membuat kita yang melihatnya merasa sangat tenang. Dan perasaan apa ini, yang tiba-tiba datang. Sepertinya aku merasa, jika aku pernah berada di rumah ini.

"Ya, kita udah sampai, Bro," kata Andre. Kemudian, dia mematikan mesin lalu keluar dari mobil. Aku pun ikut keluar dari mobil. Dan melihat segala penjuru, dengan perasaan yang tidak asing terhadap tempat yang baru pertama ini aku datangi.

Rumah yang sangat indah dan nyaman. Pagar bagian depan sengaja tidak dibuat tinggi. Bahkan, jika kita duduk di depan teras rumahnya, kita masih bisa melihat orang yang lalu lalang. Halaman rumah bagian depan juga cukup luas, dengan berbagai macam tanaman yang tumbuh di setiap sudut taman, yang sengaja di buat petak untuk bercocok tanam. Sebuah pohon yang sangat besar dan sudah tua juga ada tidak jauh dari teras tempat saya duduk sekarang.

Ana dan Andre sudah masuk ke dalam. Tinggallah, aku seorang diri yang sedang memandangi pemandangan seperti di pedesaan. Namun, berada di pinggiran kota Jakarta. Ini masih masuk kawasan Jakarta Timur, tetapi bagian pinggirnya. Ternyata masih banyak pepohonan daerah sini. Aku pikir semua sudah menjadi kota dan sudah tidak ada lagi pohon yang masih tumbuh.

Cukup lama Ana dan Andre masuk ke dalam, meninggalkan aku sendiri di sini. Sedang apa ya mereka?

Ingin rasanya, aku diam-diam masuk ke dalam dan mencari tahu. Tetapi, tidak sopan sebagai seorang tamu, kita masuk tanpa sepengetahuan orang rumah.

“Sorry, Bro. Gua tinggalin lama, ya?” kata Andre yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah. Tetapi Ana tidak ikut keluar.

“Gua tadi nyariin orang rumah dulu, keliling dulu cari orang, tapi kayaknya lagi pada keluar, sepi banget,” kata Andre menjelaskan kenapa dia lama berada di dalam.

“Ana kayaknya, dia mau mandi dulu. Katanya biar segeran dikit,” lanjut Andre.

“mandi….” Kataku di dalam hati. Pikirku entah membayangkan ke arah mana.

“Ndre, gua boleh nginep hari ini kan?” tanyaku.

“Gua kan udah bilang tadi ke Ayah, kalo gua enggak balik hari ini,” sambungku lagi.

“Kenapa ga mau balik hari ini?” tanya Andre.

“Pengen aja….. Supaya Ayah bisa ngerasain juga gimana rasanya nungguin di rumah seorang diri,” kataku sambil menjatuhkan punggungku ke belakang.

Emang dasar, anak yang durhaka sama orangtua. Tetapi memang, aku sudah terlanjur sangat kesal dengan Ayah. Gimana tidak! Setiap tahun, aku selalu menunggu kepulangan dia. Tetapi, giliran aku sudah mulai punya kesibukan sendiri. Sekarang, dia malah menginginkan aku ada di rumah untuk menemani dia.

“Lu emang enggak penasaran, apa yang bakalan Bokap lu omongin?” tanya Andre.

“hmmmm….. gimana ya?” kataku pura-pura tidak penasaran dengan semuanya. Padahal, dalam otakku sudah campur aduk.

“Gimana, kalo lu di suruh gantiin posisi Bokap lu, Bro?” tanya Andre lagi.

“Kalau itu, enggak usah ngomong seserius itu juga bisa. Tahun kemarin aja, Ayah udah nelpon. Waktu kita ada di Bandung, dia nyuruh gua nyusul ke Singapura bantuin kerjaan dia di sana,” kataku dengan santai.

“Trus, lu enggak mau?” tanya Andre lagi.

“Kita lagi UTS waktu itu, Bro” kataku, mengikuti gaya bicara Andre selama ini. Andre heran dan tersenyum melihat aku bicara seperti itu.

Lihat selengkapnya