Wanita paruh baya itu keluar bersama pengacara yang mengurus perceraian alot ini, hampir satu semester belakangan gadis Sekolah Menengah Pertama ini mendatangi Pengadilan Agama tempat orang tuanya mengurus perceraian.
“Alhamdulillah, semuanya sudah selesai. Gauri sudah lega?” tanya wanita paruh baya itu kepada putri semata wayangnya. Gadis dengan seragam putih biru itu mengangguk dan menanyakan apa yang bisa dia lakukan selanjutnya. “Seleksi yang serius untuk masuk SMA Punca Prawira sayang, cukup itu.”
“Tapi Bun, kita tinggal dimana?” matanya terlihat khawatir dengan putusan sidang.
“Rula, kalian tetap tinggal di rumah sekarang kok. Ibumu berhasil memenangkan hak-hak dan sebagian properti. Semangat ya seleksinya Rula Gaurimanohara! Biar belajar hukum dan bisa melindungi ibumu,” jelas pria yang mengenakan jas hitam dan sepatu pantofel. Gadis itu hanya bisa menatap dan mengangguk dengan mantap pertanda setuju dengan harapan pengacara ibunya.
Setelah menyelesaikan administrasi sidang, Rula dan Mauly berbincang sejenak dengan satpam untuk mengembalikan kalung penanda tamu persidangan. Retina remaja putri itu begitu jeli menatap pria yang berjalan ke arah sepeda motor bersama saudaranya. Ketika vespa jepang itu melaju, jari tengah dari pria yang dulu Rula panggil ayah ditujukan kepadanya. Rula mematung, tidak mengerti maksud ayahnya sendiri.
“Astaga! Dia anakmu!” teriak satpam yang berjaga dengan amarah. Mauly segera mengajak Rula yang pelupuk matanya dipenuhi cairan bening. Sepanjang perjalanan, Rula hanya bisa diam memikirkan apa maksud sang ayah memberikan kode tak pantas untuknya. Ketika memperhatikan pepohonan, dia ingat betul arah ini bukan menuju rumah mereka.
“Ngapain ke kantor Ayah?”
“Laporkan ke kepegawaian lah! Masa anak Bunda dikasih jari begitu?”
Rula dan Mauly menginjakkan kaki di halaman kantor yang dominan berwarna hijau dengan segala atribut unit pelaksana teknis daerah. Lapangan itu beberapa tahun lalu menjadi tempatnya berteman dengan anak-anak PNS lain. Ingatan Rula ditarik paksa saat dirinya mengikuti perlombaan internal bersama anak-anak lain. Kala itu, mereka hanya menangis karena terjatuh, berebut mainan, dan kalah dalam perlombaan.
“Rula mau ikut Bunda masuk?” tawaran Mauly dibalas gelengan oleh Rula. Mauly mengerti putrinya yang terkejut dengan sikap mantan suaminya dan meminta Rula menunggu di lobi kantor. Stiker dan poster satwa langka terpajang di sekeliling lobi dengan himbauan pelestarian tempat tinggal mereka.
“Aku gak bisa main kesini lagi nanti,” batin remaja itu berkecamuk melihat pahatan satwa air asin yang terkenal dengan tempurung dan sirip dayung yang terpajang di lemari bacaan. Ingatannya kembali ditarik paksa ketika dia dan ayahnya pergi bersama untuk pelepasan reptil laut kembali ke habitatnya setelah masa konservasi selesai. Ratusan tukik turut dilepaskan yang disambut sorak sorai para penjaga dan relawan melihat makhluk itu kembali ke habitat aslinya.
Matanya menelisik setiap sudut kantor, bahkan tempat biasa dia menunggu cinta pertamanya selesai rapat. Beberapa ruangan turut memancing memori masa kecil yang menjadi playground Rula kecil bersama para tunas rimbawan. Mungkin, ini hari terakhirnya menginjakkan kaki di kantor yang menjadi tempatnya bermain semasa kecil.
“Rula? Masyaallah sudah besar rupanya!” tegur seorang wanita yang terlihat lebih tua dari Mauly. Remaja itu terkejut dan segera salim kepada wanita dengan PDH hijau khas kantor ayahnya. Wanita itu menanyakan dengan siapa Rula datang ke kantor karena sudah lama tidak terlihat ke kantor.