City Of Evil : The Environmental Destroyer

Blarosara
Chapter #2

Chapter 2 | Unseen Toxins

Saat air mengguyur tubuhku, lagi-lagi hidungku mencium bau tak sedap. Perutku terasa mual, ditambah lagi aku hanya sarapan sedikit pagi tadi.

Tak tahan dengan aromanya, aku memutuskan untuk selesai lebih cepat. Bahkan harum sabun mandi pun tak bisa mengalahkan baunya.

Aku buru-buru keluar, rasanya percuma saja mandi, bukannya semakin wangi, malah tambah bau.

Ketika aku memasuki kamar, kulihat anak pendiam itu sudah selesai beres-beres. Dia berbaring di atas tempat tidur sambil memainkan gawainya.

"Bau airnya tak sedap," celetukku.

"Kau baru tahu? Apa kau pendatang?" tanyanya.

Aku menggosok-gosokkan rambut basahku dengan handuk, lalu bersimpuh di dekat koper. "Ya, aku berasal dari Kota Loston."

"Oh, kota kecil itu," sahutnya.

"Jadi, kau penduduk asli Densville?" Aku balik bertanya.

"Sebenarnya, bukan. Tapi, aku sudah cukup lama tinggal di sini."

"Apa air di Densville memang bau?" tanyaku.

"Ya, setidaknya sejak tiga bulan yang lalu."

"Apa kau tahu penyebabnya?"

"Ada sebuah pabrik besar tak jauh dari sini, kurasa mereka membuang limbahnya ke sungai, dan sumber air kota adalah sungai, jadi kau bisa bayangkan, bukan?"

Aku mengangguk paham, cukup masuk akal. Mungkin itu sebabnya ketika melintasi jembatan, aku merasakan bau yang sama.

Aku tak membalas lagi, fokus dengan pakaian yang harus dimasukkan ke lemari.


Keesokan harinya, mahasiswa tahun pertama diminta untuk berkumpul, karena harus mengikuti tour kampus, yang akan dipimpin oleh lima orang senior kami.

Aku berdiri di sebelah Austin dan teman sekamar yang sampai saat ini belum kuketahui namanya. Kami berbaris terlebih dahulu, hanya mahasiswa tahun pertama yang akan mengikuti tour kampus ini.

"Ian, kau lihat di sana?" kata Austin sambil menunjuk seorang gadis berambut pirang yang berada di barisan terdepan, "dia gadis yang kuceritakan semalam," imbuhnya.

"Oh, jadi, kau jatuh cinta pada pandangan pertama?" tanyaku.

Austin tersenyum menampakkan gigi-giginya. "Jika kau melihat wajahnya, aku berani bertaruh, kau tak akan bisa berpaling."

"Itu artinya, kau rela kalau aku rebut gadis itu darimu?"

"Bukan begitu maksudku, Ian. Aku hanya ingin kau tahu betapa cantiknya dia, dan sebagai teman, kau tidak boleh menikung teman sendiri!" ucapnya tegas. Siapa juga yang mau merebut. Aku sama sekali belum berminat untuk jatuh cinta.

"Baiklah, semuanya. Tetap berada di barisan walaupun kalian tak akan tersesat di sini. Kita mulai!" Seorang pemuda—senior kami—mulai memandu.

Kami diperkenalkan dengan gedung-gedung akademik seperti: Fakultas Ilmu Komunikasi—tempatku belajar nanti, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Seni dan Desain—Austin akan berada di sana, Fakultas Hukum dan Ilmu Politik, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Kedokteran atau Kesehatan, dan Fakultas Humaniora dan Ilmu Sosial.

Juga fasilitas pendukung seperti: Perpustakaan Pusat, Aula Universitas, Laboratorium dan Studio, lapangan dan area hijau, Student Center, juga dua kantin, yang satu terletak di dekat gedung akademik, dan yang lain dekat bangunan asrama.

Para senior memberikan penjelasan yang gamblang sehingga rasanya tak ada yang perlu ditanyakan lagi.

Pukul sepuluh pagi, tour kampus selesai. Kami beristirahat di kantin dekat asrama, memesan makanan dan minuman dingin.

"Ian, siapa teman sekamarmu?" tanya Austin sambil mengaduk-aduk minumannya.

"Itu, yang berkaos hitam lengan pendek," jawabku sambil menunjuk anak itu.

"Siapa namanya?"

"Aku juga belum tahu. Dia sedikit tertutup."

Tanpa kuduga, dengan santainya Austin memanggil teman sekamarku itu. "Hei, kau yang berkaos hitam!"

Lihat selengkapnya