200 kilometer dari daratan, ombak laut di sini bagaikan setan yang muncul dari mimpi terburuk. Ombak setinggi bukit muncul sesering hembusan napas. Laut yang tenang hanyalah dongeng anak-anak di tempat ini. Langit gelap pekat menyempurnakan dunia horor yang mencekam.
Levi sedang berjuang mengangkat ikan terbesar yang pernah ia pancing. Zirah nelayannya setebal baju pelindung astronot, namun tetap terguncang hebat setiap kali ombak raksasa menghantam kapal.
Meski perutnya sudah seperti mau meledak dan pandangannya berkunang-kunang, Levi tidak gentar sedikit pun.
Semua awak kapal berjuang sekuat tenaga demi mendukung Levi, sang ujung tombak kapal Leviathan.
"Semangat, Lev! Jangan sampai lepas!" teriak Murkov, anggota tim medis yang sudah siap membawa Levi ke rumah sakit begitu pertarungan ini usai.
Kapal pemancing raksasa "Leviathan" kini justru ditarik oleh monster yang mereka pancing. Posisi predator dan mangsa telah bertukar.
"UHHH!" Levi menahan kemudi derek dengan segenap tenaga hingga urat-urat di lengannya menonjol. "Kau mau membawa kami ke mana?!" pekiknya penuh amarah.
Aeroc berteriak panik dari samping, "Lepaskan kailnya, Lev! Kau mau membuat kapal ini terbalik?!"
Levi mulai bimbang. Tiba-tiba, dengan langkah terseok-seok di tengah gelombang yang mengguncang, datanglah Kapten Apache — kapten tua yang bijaksana.
"Ahoy, anak muda," katanya dengan suara serak. "Mau kuberitahu cara mengalahkan makhluk ini?"
Belum sempat Levi menjawab, badai tiba-tiba menjadi semakin ganas. Angin menderu bagai ribuan jeritan, hujan deras menyabet wajah seperti cambuk, dan petir menyambar-nyambar di langit hitam pekat. Seolah-olah langit dan laut bersatu mendukung monster di kedalaman.