Saat bangkai ikan raksasa itu akhirnya berhasil ditarik ke atas geladak yang basah, Levi menyipitkan mata. Di balik sisa-sisa air laut dan darah yang membasahi tubuh makhluk itu, ia melihat sesuatu yang ganjil: sebuah mata ketiga berkedip di bagian yang sama sekali tidak lazim—tepat di pangkal sirip sampingnya.
Napas Levi masih memburu, tangannya yang gemetar karena kelelahan mencengkeram erat pagar pembatas kapal.
"Apa... nama ikan ini, Jenny? Jangan bilang kita baru saja mempertaruhkan nyawa demi menangkap makhluk aneh lagi," tanya Levi, menoleh ke arah sang biolog laut dengan nada suara yang masih menyisakan sisa ketegangan dan kekhawatiran.
Jenny bukanlah tipe orang yang menyembunyikan isi pikirannya, dan hal itu terpancar jelas dari garis wajahnya yang selalu tampak serius. Tatapannya tajam, membingkai sepasang mata yang seolah selalu sedang menganalisis keadaan di sekitarnya. Penampilannya kian mencolok berkat rambut cokelatnya yang ditata dengan potongan wolf cut. Potongan rambut yang berlayer acak dan sedikit berantakan itu membingkai wajah tegasnya dengan sempurna, memberikan kesan tomboi sekaligus rebel. Saat ia sedang berpikir keras, beberapa helai poni cokelatnya akan jatuh menyapu dahi, menambah kesan dingin namun sangat berkarisma bagi siapa saja yang memandangnya.
Bukannya takut, mata Jenny justru berbinar penuh gairah ilmiah. "Leedsichthys!" serunya penuh antusiasme, seolah baru saja menemukan harta karun paling berharga di samudra.
Lidah Levi nyaris kelu saat berusaha mengeja nama asing itu dalam hati. Sementara itu, Jenny dengan cekatan langsung berlutut di geladak yang licin, menusukkan jarum suntik raksasa untuk mengambil sampel darah dan menyayat sedikit daging makhluk purba tersebut.
"Biar gampang dibayangkan, Leedsichthys itu bisa dibilang sebagai 'Hiu Paus' versi zaman dinosaurus, Levi," lanjut Jenny tanpa mengalihkan pandangannya dari sang monster laut. "Dia adalah ikan raksasa yang seharusnya sudah punah sekitar 165 juta tahun yang lalu!"
Levi terpana. Dunianya seakan berhenti berputar sejenak. Pertama, karena ia tidak percaya makhluk mitos seperti ini benar-benar nyata dan baru saja mereka taklukkan setelah badai hebat menembus lambung kapal. Kedua—dan yang paling membuat jantungnya berdegup kencang—adalah karena ia selalu terpesona oleh kecerdasan Jenny yang luar biasa di tengah situasi segenting apa pun.
Menyadari tatapan intens Levi, Jenny bangkit berdiri. Ia melangkah mendekat, lalu memukul pelan lengan Levi dengan manja—sebuah kontras yang manis setelah pertarungan hidup dan mati yang baru saja mereka lewati. "Kau ini benar-benar mengerikan, tahu. Bisa-bisanya strategi gilamu berhasil menangkap raksasa seperti ini."
Wajah Levi seketika merona merah, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Itu... bukan aku saja. Itu berkat usaha dan kerja keras semua orang."
"Oyy, duo bucin! Cepat masuk ke dalam! Dasar, saking dimabuk asmaranya sampai sisa-sisa badai sedahsyat ini pun tidak kalian rasakan lagi!" teriakan melengking kapten kapal dari arah anjungan seketika memecah keheningan di antara mereka.