Selama enam hari berikutnya, kapal Leviathan membelah lautan, melaju memotong jarak menuju peradaban. Hingga akhirnya, di suatu sore yang berkabut, siluet magis mercusuar Kota Waveheaven perlahan menyembul di kaki langit. Kilauan lampunya memantul di permukaan air, memicu sorak-sorai lirih dari para kru yang rindu rumah.
Di atas anjungan tertinggi, Levi berdiri memandang hamparan laut luas, berdampingan dengan Jenny. Keduanya memegang amplop berwarna sapphire laut berisi gaji mereka selama satu bulan.
Levi bersandar pada pagar besi pengaman kapal yang dingin. Matanya menatap lurus ke pelabuhan Waveheaven yang kian dekat. "Aku tidak sabar ingin memberikan uang ini kepada ibuku, dan melihat adik perempuannya yang nakal, Akai," gumam Levi dengan nada penuh kerinduan. "Sudah sebulan penuh kita terisolasi di laut. Badai kemarin benar-benar memutus seluruh sinyal komunikasi ke dunia luar. Kita seperti ditelan lubang hitam, Jen. Terputus sepenuhnya dari peradaban. Untungnya... kapal ini tidak pernah gagal membawa krunya pulang."
Jenny tertegun, tangannya yang memegang amplop agak bergetar. Selama ini, dia terlalu larut dan asyik di dalam laboratorium kapal yang super lengkap, sampai-sampai tidak menyadari kengerian nyata dari pelayaran ini.
"Kau sendiri, Jen? Apa tidak ada seseorang yang kau rindukan di daratan?" tanya Levi, menoleh.
Jenny menghela napas, tatapannya melembut. "Aku tinggal bersama tanteku. Dia orang yang sangat baik. Tentu aku merindukannya, tapi aku selalu memaksa diriku untuk tidak terlalu khawatir agar bisa fokus bekerja. Aku ingin pulang dengan kepala tegak." Jenny menjeda kalimatnya, matanya perlahan bergulir menatap manik mata Levi. "Tapi sayangnya... di tengah perjalanan ini, ada sesuatu yang mendadak membuatku sempat hilang fokus."
Levi berkedip, terdiam bodoh. Ia tidak menyadari sama sekali kalau kalimat terakhir Jenny adalah sebuah kode halus yang tertuju padanya.
Melihat respons Levi yang kaku, Jenny mengembuskan napas berat. Kesadaran baru bahwa mereka baru saja selamat dari risiko "hilang selamanya di lautan" tiba-tiba menghantam logikanya. "Levi... jika risiko berlayar sekengerian yang kau katakan tadi, kurasa aku tidak akan pernah mau naik ke kapal ini lagi. Ini... mungkin akan menjadi pelayaran pertama dan terakhirku."
Deg.