Di luar hiruk-pikuk pelabuhan Waveheaven yang mulai kembali tenang, sebuah jalan setapak berbatu menuntun langkah menuju kediaman Levi. Hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari dermaga.
Sebuah rumah kayu yang menakjubkan. Seluruh dinding, tiang, hingga langit-langitnya dibangun menggunakan kayu jati pilihan berukuran tebal yang terkenal akan kekuatannya menembus zaman.
Serat-serat alami kayunya yang eksotis dipoles dengan sangat halus hingga mengilat, memantulkan cahaya senja yang hangat ke dalam ruangan. Sentuhan akhir yang rapi itu tidak hanya membuat rumah terasa teduh, tetapi juga sangat nyaman untuk ditinggali.
Meskipun dari luar terlihat sederhana, bagian dalamnya cukup luas dan lapang. Tata ruangnya dirancang dengan efisien, memberikan ruang gerak yang lebih dari cukup bagi tiga pasang kaki yang menghuninya: Nenek Asula, Levi, dan Akai.
Di sinilah, di bawah naungan atap kayu jati yang kuat dan hangat ini, Levi berharap ia bisa melupakan sejenak ketegangan di laut.
Rumah kayu jati itu bukan sekadar bangunan biasa; ada jerih payah dan idealisme Nenek Asula di setiap sudutnya. Asula mendirikan rumah ini sepenuhnya dengan uang hasil keringatnya sendiri. Sebagai wanita yang mencintai ketenangan, ia sangat menyukai segala hal yang terbuat dari alam.
Namun, jangan terkecoh oleh material kayunya, sebab keamanan rumah ini terjamin mutlak. Asula telah merancangnya sedemikian rupa agar tahan dari gangguan orang jahat, dan yang paling penting, instalasi di dalamnya dibuat sangat aman dari risiko korsleting listrik yang rawan memicu kebakaran.
Pintu depan berderit pelan saat Levi, Akai, dan Asula akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah. Aroma khas kayu yang menenangkan langsung menyambut mereka.
Tanpa membuang waktu, Levi yang sudah kelelahan fisik dan batin langsung menjatuhkan dirinya ke atas sofa empuk di ruang tengah, melepaskan penat yang menumpuk sejak di kapal.
Namun, alih-alih membahas kekacauan di pelabuhan atau masalah basket adiknya, pikiran Levi justru melayang kembali pada sosok biolog laut berambut wolf cut yang sempat berinteraksi dengannya sebelum badai kepanikan tadi memisahkan mereka.
Sambil menatap langit-langit, Levi berdeham, mencoba memecah keheningan. "Nek... Akai... menurut kalian, Jenny bagaimana?"
Asula yang sedang menaruh tas belanjanya di meja dapur langsung menoleh. Alih-alih memberikan jawaban penuh haru atau keibuan seperti nenek-nenek pada umumnya yang lemah lembut, Asula justru mendengus geli.
"Bagaimana apanya? Nenek rasa kau menyihir gadis pintar itu sampai dia mau-maunya dekat dengan pemuda kaku sepertimu, hahahaha!" tawa Asula meledak, renyah dan blak-blakan.
Nenek Asula memang unik. Di usianya yang menginjak 60 tahun, dia adalah sosok yang tegas, bermulut ceplas-ceplos, suka bercanda, dan memiliki karisma yang kuat. Di seantero Kota Waveheaven, tidak ada yang tidak mengenal namanya. Asula adalah koki legendaris yang sangat disegani, pemegang takhta sebagai ahli masakan Cina (Chinese food) terbaik di kota ini.
Kemahirannya yang luar biasa itu didapat karena Asula menghabiskan sebagian besar masa mudanya dengan tinggal langsung di daratan Cina.
Ia baru memutuskan pindah ke Waveheaven bertahun-tahun lalu demi merawat kedua cucunya, Levi dan Akai, setelah orang tua mereka tiada. Namun, siapa sangka kalau keputusan itu justru menjadi gerbang keberuntungannya.
Warga lokal Waveheaven yang sebelumnya asing dengan cita rasa kuliner Tionghoa langsung jatuh cinta pada suapan pertama masakan Asula. Keberaniannya memadukan bumbu alami membawa namanya ke puncak tertinggi industri kuliner kota.
Mendengar tawa neneknya, Levi hanya bisa merona merah dan menutup wajahnya dengan bantal sofa.