Sementara Levi masih sibuk menelusuri sudut-sudut sekolah demi mengulik informasi, Akai sedang menikmati kemewahannya sendiri di rumah. Ia selonjoran dengan nyaman di atas sofa ruang tengah yang empuk. Kamar itu dipenuhi oleh aroma rumah kayu jati yang menenangkan, berpadu tipis dengan aroma khas garam laut yang menguar dari jaket milik kakaknya yang tersampir di dekat pintu—sebuah aroma yang selalu sukses membuat Akai merasa aman.
Ia merogoh ponselnya, membuka aplikasi Wavechat dengan riang, lalu mengetikkan beberapa pesan ke grup obrolan sahabatnya.
[Girls, aku punya kabar gembira! Kakakku pulang dari laut!!]
[Besok kita rayakan di Shanghai Restaurant. Pakai uang juara lomba kemarin, hihi..]
Setelah menekan tombol kirim, Akai melompat dari sofa. Semangatnya membumbung tinggi. Ia berlari ke kamar mandi untuk bersiap-siap, mengganti pakaian seragamnya dengan luar biasa cepat, seolah tidak ingin membuang satu detik pun waktu kebebasannya hari ini.
Sebelum bercermin, Akai menuangkan sedikit sabun cair khusus ke telapak tangannya. Sabun itu bukan komoditas sembarangan, melainkan sabun hasil sulingan murni dari kekayaan laut dalam yang dibawa oleh kapal-kapal pemburu seperti Leviathan. Sabun itu terbuat dari ekstrak alga bioluminesensi purba yang dicampur dengan minyak esensial ambergris dan garam mikro-kristal dari palung terdalam.
Hanya dengan setetes sabun tersebut, siapa pun bisa mendapatkan gambaran tentang betapa dahsyat dan ajaibnya lautan di dunia mereka. Saat teksturnya yang selembut sutra menyentuh kulit, ada sensasi dingin yang menyegarkan seolah ditiup angin samudra, sementara busanya memancarkan pendar cahaya biru redup yang magis di dalam kegelapan—sebuah bukti bahwa laut menyimpan energi kehidupan yang luar biasa pekat, mampu menghidupkan kembali sel-sel kulit yang lelah, sekaligus mengingatkan manusia betapa kecilnya mereka di hadapan rahasia samudra yang tak terbatas.
Setelah membasuh wajahnya dengan sabun ajaib itu, Akai mengeringkan kulitnya dengan handuk. Wajah remaja berusia 15 tahun yang minim make-up itu kini tampak jauh lebih segar, bersih, dan memancarkan kecantikan alami yang bersinar, siap untuk menyambut hari baru dan mimpi-mimpi besarnya sebagai seorang atlet dunia.
Nenek Asula yang kebetulan sedang libur memasak hari ini, berjalan keluar dari dapur dengan daster rumahannya yang santai. Begitu melihat Akai sedang selonjoran nyaman dengan wajah yang mendadak berseri-seri setelah mencuci muka, sang nenek langsung mendengus. Di mata wanita tua yang disiplin itu, cucu perempuannya ini jelas-jelas sedang bermalas-malasan.
"Akai, di mana kakakmu?" tanya Nenek Asula sembari melipat kedua tangannya di dada. "Tadi Levi menghubungi Nenek lewat Wavechat, katanya kau akan pulang ke rumah sendirian. Dia bilang kalau mau tahu lebih detail, Nenek harus tanya langsung padamu. Memangnya apa yang terjadi di sekolah?"
Akai memutar bola matanya pelan, lalu bangkit dari posisi selonjorannya. "Kak Levi sedang jalan-jalan di sekolahku, Nek. Katanya mau melihat-lihat sebentar," jawab Akai santai, sengaja menyembunyikan bagian dramatis tentang Kapten Apache dan ayah Cindy agar neneknya tidak mengomel lagi.
Melihat suasana hati Nenek Asula yang tampaknya sedang cukup tenang, otak cerdik Akai langsung berputar. Ini adalah kesempatan emas. Ia memasang wajah paling manis yang ia punya, lalu berjalan mendekati sang nenek dengan langkah berjingkat yang manja.
"Nek... Nenek yang paling cantik se-Waveheaven," rayu Akai sambil memijat pelan bahu wanita berusia 60 tahun itu. "Besok kan Kak Levi baru saja pulang dari pelayaran besar. Boleh tidak... aku membuat pesta penyambutan kecil-kecilan untuk Kak Levi di Restoran Shanghai?"
Restoran Shanghai adalah tempat Nenek Asula bekerja sebagai kepala koki masakan Cina. Akai tahu betul, jika sang nenek yang memberikan restu, mereka pasti akan mendapatkan meja terbaik dengan hidangan yang luar biasa lezat dari uang hadiah kemenangan lombanya kemarin.
Nenek Asula melepaskan tangan Akai dari bahunya, lalu mengembuskan napas panjang. Daripada pusing memikirkan tingkah cucunya yang satu ini, ia akhirnya mengangguk. "Ya sudah, boleh," ketus Asula.
Mata Akai langsung berbinar riang, namun sebelum ia sempat bersorak, jari telunjuk Nenek Asula sudah menunjuk tepat di depan hidungnya.
"Tapi ada syaratnya!" potong Nenek Asula tegas. "Kau cuma boleh membawa maksimal empat orang teman. Tidak boleh lebih! Kau tahu sendiri kan, Restoran Shanghai itu memakai konsep ketenangan dan keharmonisan alam. Pengunjung datang ke sana untuk menikmati makanan dengan damai. Artinya, kau dan teman-teman atletmu yang hobi teriak-teriak itu tidak boleh berisik!"
Mendengar syarat ketat itu, binar di mata Akai sedikit meredup. Ia agak kecewa karena itu berarti dia harus menyortir siapa saja sahabat dekatnya yang bisa ikut merayakan kepulangan Levi besok. Namun, Akai segera menghibur diri. Membawa empat orang teman di restoran mewah terbaik kota masih jauh lebih baik daripada tidak merayakannya sama sekali.
"Siap, Kapten Nenek! Empat orang saja, dan kami akan sediam ikan di dalam akuarium!" seru Akai sambil memberikan hormat jenaka, sebelum akhirnya melesat kembali ke kamarnya untuk menyusun daftar undangan.
Mendengar kata "besok" keluar dari mulut Akai, senyum di wajah Nenek Asula langsung lenyap, digantikan oleh kilatan amarah. Wanita tua itu menepis tangan Akai dengan gusar dan menggebrak pelan meja kayu jati di dekatnya.
"Besok?! Kau ini benar-benar keterlaluan ya, Akai! Selalu saja bertindak seenaknya tanpa pernah berpikir panjang!" omel Nenek Asula, suaranya meninggi membuat Akai tersentak mundur.