City of Wave Waveheaven Hero

After Future
Chapter #8

Peninggalan dari negeri yang mati

Levi lanjut menelepon Jenny. Ketika telepon diangkat dan terdengar suara binatang buas mengaum di seberang sana, Levi langsung panik.

"Apa itu? Kenapa ada suara singa?"

Sementara itu di rumah Jenny.

"Eh, apa? Itu cuma suara buatan kok. Kamu mau kesini?"

"Ke rumahmu... Untuk apa?"

"Kita bisa melakukan apa saja. Misalnya nonton TV, main ular tangga, ngobrol yang seru-seru, masak bareng, apa saja deh. Mumpung tanteku lagi di luar."

Levi menimbang-nimbang, tapi dia tidak bisa bohong soal jantung yang berdegup sangat kencang.

"Baiklah, aku kesana."

***

"Gila, ini rumah atau istana?"

Levi berdiri terpaku di depan gerbang emas setinggi lima meter yang otomatis terbuka begitu mendeteksi kehadirannya. Alih-alih melihat halaman rumah biasa, pandangan Levi langsung disambut oleh lanskap super mewah yang menghadap langsung ke Samudra Waveheaven.

Rumah Jenny berdiri kokoh di puncak tebing tertinggi kota, memadukan arsitektur modern minimalis dengan sentuhan dinding kaca antipeluru yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Dari luar, bangunan itu tampak seperti kristal raksasa yang berkilauan diterpa cahaya matahari pantai.

Kemewahan yang Tak Masuk Akal.

Jenny mengajak Levi room tour.

Saat melangkah masuk, Levi merasa seperti butiran debu. Ini beberapa hal gila yang langsung memanjakan—dan mengintimidasi—mata Levi:

Akuarium Raksasa sebagai Dinding: Bukan cuma akuarium ikan mas, Jenny menjadikan salah satu dinding ruang tamunya sebagai akuarium laut raksasa. Levi bahkan bisa melihat beberapa hiu karang kecil dan terumbu karang eksotis berenang dengan tenang.

Bioskop Pribadi IMAX: Ruang "nonton televisi" yang dimaksud Jenny ternyata adalah teater pribadi berkapasitas 30 kursi dengan layar melengkung sekelas IMAX dan sistem suara yang membuat dadanya bergetar.

Kolam Renang Infinity Bertingkat: Air kolamnya tampak menyatu langsung dengan garis laut Waveheaven di bawah sana, lengkap dengan air terjun buatan yang mengalir estetis di sela-sela bebatuan marmer putih.

Jenny tertawa kecil, lalu menjentikkan jarinya. Seketika, wujud singa raksasa yang tampak sangat nyata di tengah ruangan itu pecah menjadi partikel-partikel cahaya biru, lalu menghilang ke udara.

"Tuh, kan? Aku bilang juga apa, cuma televisi," ucap Jenny santai.

Levi melongo, melangkah mendekat sambil mengibas-ngibaskan tangannya di bekas tempat singa itu berdiri. "Cahaya? Bagaimana bisa cahaya membentuk fisik sejelas itu?"

"Ini namanya Hologram. Proyeksi cahaya tiga dimensi," jelas Jenny, berjalan mendekati sebuah pod logam kecil di lantai yang menjadi sumber cahaya tadi. "Ini teknologi dari Dunia Bagian Barat yang sudah ratusan tahun lalu tenggelam. Tanteku membelinya dari arkeolog yang berhasil membuat ulang. Keren, kan?"

Levi menelan ludah. Sebagai nelayan yang menghabiskan hidup di atas kapal derek raksasa untuk memburu monster laut, teknologi daratan seperti ini terasa seperti sihir baginya. Waveheaven memang kota perlindungan terbaik di dunia yang tersisa, tapi kemewahan Jenny berada di level yang berbeda.

Jenny kemudian menuntun Levi menuju sebuah taman kaca besar di tengah istananya. Di dalam ruangan ramah iklim itu, seekor burung berbulu indah layaknya untaian emas dan jingga sedang bertengger di dahan pohon buatan. Burung itu berkicau merdu, sangat kontras dengan atmosfer laut Waveheaven yang keras.

"Cantik, kan? Ini burung Cendrawasih," bisik Jenny. Sorot matanya yang tadinya ceria tiba-tiba meredup, digantikan oleh kengerian yang mendalam. "Ini... souvenir terakhir yang bisa diselamatkan dari sebuah negara bernama Indonesia."

Levi mengernyitkan dahi. "Indonesia? Negara kepulauan besar di selatan yang punya banyak daratan hijau itu?"

Jenny mengangguk pelan, wajahnya tampak agak pucat. Sebagai ahli kelautan, dia tahu persis data mengerikan di balik keindahan burung tersebut.

"Dua hari lalu, radar maritim tanteku menangkap sinyal darurat terakhir dari sana. Indonesia... sudah dilaporkan tenggelam sepenuhnya ke dasar laut. Permukaan air laut naik sepuluh meter hanya dalam semalam, melumat habis pulau-pulau mereka tanpa sisa." Jenny memeluk tubuhnya sendiri, bergidik ngeri. "Dunia kita sedang sekarat, Lev. Air terus naik, dan kita hanya menunggu waktu sampai Waveheaven jadi target berikutnya."

Suasana megah di sekeliling mereka mendadak terasa mencekam. Levi memandangi burung emas itu, lalu beralih menatap lengannya sendiri yang kekar akibat bertahun-tahun mengendalikan katrol derek raksasa di laut lepas.

"Jangan terlalu cemas," kata Levi tiba-tiba.

Jenny mengangkat wajah, matanya basah ingin menangis.

"Hah?"

Levi melanjutkan dengan nada yang lebih lembut. "Aku pernah dengar dari kapten Apache. Kita yang tinggal di Waveheaven adalah orang-orang terbaik. Kita akan dilindungi selama kita punya kemampuan yang bisa ditawarkan pada masa depan," ucapnya dengan bangga. "Aku punya keahlian dan pengalaman mengendalikan derek pancing raksasa serta keahlian memancing ikan raksasa. Sementara kamu punya pengetahuan mendalam mengenai lautan dan ikan. Kita berdua juga pernah mengalungi lautan yang berbahaya beserta badai ganasnya dan kembali dengan selamat. Kita juga memiliki hubungan yang baik dengan orang besar seperti kapten Apache. Aku yakin jika sesuatu terjadi, kita bisa saling bahu membahu demi keselamatan diri kita."

Jenny menatap Levi dengan pandangan rumit. Matanya terlihat bergetar, ada sesuatu yang ingin dia katakan.

Jenny menghela nafas, kemudian berkata, "Mungkin karena terlalu sering menaklukkan ikan besar, kamu jadi delusional."

"Apa?" Levi memicingkan mata.

"Apa ucapanku kurang jelas? Menurutku kamu terlalu percaya diri. Di negara yang sudah tenggelam itu pun ada banyak sosok seperti kapten Apache, juga kita. Mereka semua tidak selamat."

Levi terdiam.

"Tidak mungkin."

"Apanya yang tidak mungkin? Inilah kenyataannya. Semua orang itu mati. Mereka mati karena negara lain tidak menerima pengungsi, termasuk Waveheaven. Kapal-kapal yang mereka gunakan hancur tersapu ombak setelah dua jam berada di lautan," ungkap Jenny.

Lihat selengkapnya