"Selamat malam, Tuan Hui. Apa Anda sudah mencicipi Fish Cake saya?"
Orang di seberang sana menjawab, "Selamat malam, Chef Asula. Anda selalu membuat saya terkejut. Tetapi, Fish Cake adalah menu yang terlalu sederhana dan tidak sesuai dengan standar restoran kita."
"Kita lanjutkan obrolan ini besok pagi di restoran ya, Chef," lanjut Tuan Hui, bersiap mematikan panggilan.
"Tunggu, Tuan!" teriak Asula cepat.
"Iya, Chef?"
"Saya mendengar rumor buruk tentang daging ikan baru itu. Bisakah Anda tidak menggunakannya untuk masakan apa pun terlebih dahulu?"
"Baiklah, kalau Chef inginnya begitu."
Asula menutup telepon, akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya untuk saat ini.
Kembali ke Levi dan Akai. Keduanya terpaksa membobol rumah tetangga mereka bak pencuri di malam buta.
Begitu keduanya menginjakkan kaki di dalam rumah, senter dari gawai masing-masing langsung dinyalakan. Akai berjalan tepat di belakang Levi. Bukan karena takut, melainkan bersiap untuk melindungi punggung kakaknya.
Akai tidak tahu kalau di dalam sepatu bot Levi saat ini tersembunyi sebuah belati lipat. Senjata itu selalu bersamanya, dan senjata itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Levi selalu berani bertindak sejauh ini. Selain belati tersebut, master key (kunci utama) juga menjadi salah satu andalan favorit Levi.
Kilatan cahaya senter menerobos masuk ke sebuah ruangan yang pintunya terbuat dari kaca. Pintu itu tidak bisa dibuka dengan master key karena dikunci ganda dengan terali besi. Hal ini memaksa mereka mengambil jalan memutar dan membobol pintu belakang.
Dapur rumah itu terlihat berantakan. Perhatian Akai langsung tertuju pada sebuah panci di atas kompor listrik yang berisi saus tomat merah. Ketika Akai menyorotkan cahaya senternya ke bagian dalam panci, dia menemukan sebuah potongan daging berukuran sangat besar yang tidak lain adalah daging ikan mutasi.
Setelah yakin kalau daging itu berasal dari ikan mutasi tangkapan, Levi langsung berniat membuangnya ke tempat sampah. Namun, usahanya segera dihentikan oleh Akai.
"Daripada dibuang, lebih baik diteliti kan?" usul Akai.
"Kamu benar juga. Maaf, aku terlalu tergesa-gesa," gumam Levi menyesal.
Akai mengusap punggung kakaknya, mencoba menenangkan. "Tidak apa-apa. Kakak sering kerja di laut yang keras dan berisik, jadi aku tidak heran kalau kebiasaan bertindak cepat di sana terbawa sampai ke sini."
"Terima kasih. Awas, jangan jauh-jauh dari Kakak."
Keduanya sama-sama menahan napas, penasaran dengan apa lagi yang akan muncul di balik kegelapan rumah ini. Mereka berjalan dengan sangat pelan, menelusuri setiap ruangan dengan hati-hati.
"Ayo kita cari ke kamar tidur," ajak Akai.
Levi agak ragu, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar. "Oke. Tapi ingat, kita hanya akan mengecek situasi mereka, lalu segera pergi membawa sampel ikan yang tadi kita ambil di dapur."
Akai membuat tanda "Oke" dengan jari telunjuk dan jempolnya, lalu keduanya melanjutkan langkah mengendap-endap ke lantai dua.
Sesampainya di depan pintu kamar tidur utama, Levi berbisik memperingatkan. "Ingat alibinya. Jangan sampai salah bicara kalau kita ketahuan dan dituduh maling."
"Iya, iya," sahut Akai sambil menahan senyum tipis.
Wah, seru sekali menyelidiki misteri dengan Kak Levi. Aku harus ajak Kakak ke wahana rumah hantu kalau sensasinya seseru ini, bisik Akai riang di dalam hati.
Levi memasukkan master key ke lubang kunci. Pintu kamar pun terbuka tanpa suara. Senter langsung diarahkan lurus ke depan ranjang.
"Mereka sedang tidur. Tampaknya semuanya baik-baik saja," bisik Akai lega saat melihat Tuan dan Nyonya Tixona terlelap tenang di atas ranjang mereka.
"Tidak. Justru ini aneh," sanggah Levi yang langsung menyadari sesuatu yang ganjil.
"Hah?"
Levi melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menyentuh ujung kaki Tuan Tixona. Saat itulah, Akai baru menyadari kejanggalan tersebut.
"Keākenapa dia tidak bereaksi sama sekali?" tanya Akai gugup.
Levi langsung mencubit kaki Tuan Tixona, pelan namun seharusnya cukup untuk membangunkan seseorang dari mimpi indahnya. Namun sayangnya, mimpi indah yang dialami Tuan Tixona sepertinya memang tidak akan pernah berakhir.
Dengan tangan sedikit gemetar, Levi mulai mengecek napas mereka.
Sejak dulu, manusia selalu mencari makan dari perairan. Ratusan hingga ribuan generasi umat manusia telah memburu ikan habis-habisan sampai berbagai jenis spesies laut punah. Bahkan di zaman modern pun, manusia berlomba-lomba menciptakan mesin dan alat pembunuh canggih yang membuat perburuan massal para leluhur terlihat seperti sekadar permainan anak-anak.
Dibutakan oleh ilusi dominasi dan warisan keyakinan turun-temurun bahwa laut tidak bisa melawan, manusia akhirnya menjadi buta akan evolusi diam-diam dari samudra.