Restoran Shanghai, 10 Juli 2026.
Lentera-lentera merah khas Tiongkok yang bergantung di langit-langit ruangan privat itu memendarkan cahaya keemasan yang temaram, menciptakan atmosfer yang begitu intim dan hangat. Aroma harum dari adas bintang, minyak wijen, dan jahe segar yang menguar dari dapur Nenek Asula seolah menjadi selimut tak kasat mata yang perlahan mengikis ketegangan dari pundak Levi. Di luar sana, badai berita tentang Kapten Apache sedang mengguncang kota, tetapi di dalam ruangan pojok belakang ini, waktu seolah berjalan lebih lambat.
Akai menggeser sebuah klakat bambu yang masih mengepulkan uap panas ke hadapan kakaknya. "Kakak, ayo makan. Kita makan banyak-banyak hari ini untuk melupakan semua masalah kita," ajak Akai, matanya berbinar tulus di bawah temaram lampu.
Mendengar bujukan adiknya, Levi mengalah. Ia mengulurkan tangan, mengambil satu bakpao berukuran besar yang permukaannya seputih salju dan selembut kapas. Begitu gigitan pertama menembus kulit bakpao dan mencapai isian daging ayam kecap yang manis nan gurih di dalamnya, mata Levi sedikit melebar.
"Enak," gumam Levi jujur. Rasa hangat dari makanan itu menjalar langsung ke perutnya, menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
"Tentu saja enak, Nenek yang masak khusus untuk kita!" sahut Akai riang, senyumnya terkembang lebar hingga matanya menyipit. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap Levi lekat-lekat. "Jangan terlalu memikirkan ucapan Kapten lagi, Kak. Kakak masih bisa mencari pekerjaan lain di daratan. Hidup di darat tidak seburuk itu, kok."
Levi mengunyah pelan, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar berat. "Itu sulit, Akai. Seumur hidupku, aku cuma tahu cara memancing dan bertahan hidup di tengah ombak."
Melihat gurat mendung kembali membayangi wajah kakaknya, Akai tidak tinggal diam. Dengan gerakan cepat, ia mengambil sebuah bakpao hangat lagi, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Levi. "Aaaa... buka mulutnya, Kak!" perintah Akai manja.
Mau tidak mau, Levi membuka mulut dan menerima suapan itu. Akai langsung nyengir puas, menepuk-nepuk kedua tangannya yang bersih.
"Jangan sedih lagi. Semua akan baik-baik saja," ucap Akai, nadanya mendadak melunak, berubah menjadi sangat dewasa dan menenangkan. "Aku yang... " Akai menghentikan ucapannya sejenak. Sorot matanya sempat meredup selama beberapa detik, menyiratkan bayang-bayang kelam tentang Tinari yang masih bersarang di sudut benaknya.
Namun, dengan ketangguhan mental seorang atlet, Akai langsung mengusir kabut itu. Ia mendongak, menatap mata Levi dengan binar tekad yang kuat. "Aku yang baru saja mengalami hal terburuk saja masih bisa tertawa sekarang. Itu semua karena ada Kak Levi di sisiku. Jadi, Kakak juga harus kuat, ya?"
Tanpa aba-aba, Akai langsung menghambur dan memeluk lengan Levi dengan sangat manja, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang kakak. Sentuhan fisik yang penuh kasih sayang itu terasa begitu hangat, menyalurkan kedamaian yang luar biasa di antara mereka berdua.
Namun, momen syahdu itu seketika membuat wajah Levi memerah padam karena malu. Ia baru ingat kalau saat ini, mereka tidak sedang berdua saja. Di sekeliling meja bundar besar itu, ada sepuluh orang teman atlet Akai yang sedang menonton mereka sambil mengunyah siomai.
"Cie, cie! Akai dan pacarnya romantis sekali ya siang-siang begini," celetuk salah satu teman tim volinya yang bertubuh jangkung, menyeringai jahil penuh godaan.
"Heh, sembarangan!" semprot Akai, langsung menjulurkan lidahnya. "Ini Kak Levi, kakak kandungku yang paling keren sejagat raya! Kamu belum tahu, ya?"
Gadis yang menggoda tadi langsung terbelalak, menutup mulutnya dengan telapak tangan karena salah sangka. "Eh, demi apa? Aku tidak tahu! Wah, maaf! Aku punya kakak laki-laki juga di rumah, tapi hubungan kami tidak sampai sedekat dan sehangat kalian. Isinya cuma bertengkar berebut remot TV setiap hari!"
Mendengar pujian dari temannya, ego Akai langsung meroket. Alih-alih melepaskan pelukannya karena malu, jiwa pamer gadis lima belas tahun itu justru membara. Ia sengaja mempererat gelayutan tangannya di leher Levi, memamerkan kedekatan mereka yang luar biasa.