Kedekatan yang terlalu erat antara dua bersaudara itu—dengan Akai yang tak henti-hentinya memeluk lengan dan menyandarkan tubuhnya—mulai memancing tatapan aneh dari sang polisi tegap. Setelah mengamati gestur manja Akai yang terkesan berlebihan untuk remaja seusianya, polisi itu tertawa sinis, melipat tangan di dada.
"Kedekatan kalian berdua ini... agak tidak biasa," cetus polisi itu dengan nada yang menyiratkan prasangka buruk, terang-terangan mempertanyakan kesehatan hubungan mereka. "Kalian yakin cuma sebatas kakak dan adik? Atau ada hal lain yang tidak sehat di antara kalian?"
Tuduhan terselubung itu seketika menyenggol batas kesabaran Levi. Sorot mata pelaut itu menggelap, ada gurat nada tersinggung yang sangat jelas menembus keheningan ruangan.
"Akai adalah adik kandungku. Tidak lebih," pangkas Levi. Suaranya rendah, ketus, dan sarat akan emosi yang ditahan setengah mati. "Jangan berani-berani menyimpulkan hal yang tidak-tidak tentang keluarga kami."
Melihat tensi yang kembali memuncak dan aura Levi yang membahayakan, polisi paruh baya yang berada di sudut ruangan buru-buru menyela. Ia keluar sejenak dan kembali sembari membawakan nampan berisi dua cangkir teh hangat serta sepiring camilan kue tradisional Restoran Shanghai. Ia meletakkannya di meja interogasi sebagai upaya meredam suasana.
"Sudah, minum dulu. Ini bukan ruang persidangan," ujar polisi paruh baya itu menenangkan.
Levi menghela napas panjang, mencoba membuang sisa amarah yang sempat memancing emosinya tadi. Ia tahu ia tidak boleh lepas kendali di depan Akai. Untuk mencairkan suasana yang kaku dan menenangkan adiknya yang masih menempel erat di sisinya bak seekor koala, Levi mengambil sepotong kue hangat dari piring.
"Nih, makan dulu," bisik Levi lembut, menyodorkan kue itu ke hadapan wajah adiknya.
Akai yang paham usaha kakaknya untuk mencairkan suasana tidak menggunakan tangannya. Tanpa ragu, gadis itu langsung membuka mulut dan mencaplok kue tersebut langsung dari jemari Levi, mengunyahnya dengan pipi yang menggembung lucu.