City of Zombies

Bramanditya
Chapter #2

Chaos


Pesawat dari Jakarta mendarat sore hari di Bandar Udara Internasional Adi Soemarmo saat langit Jawa mulai berubah jingga.

Andi menempelkan dahinya ke kaca jendela kecil di samping kursi.

Indonesia.

Sudah tiga tahun sejak terakhir kali ia menghirup udara negaranya sendiri.

Tiga tahun bekerja di negeri orang. Tiga tahun musim dingin. Tiga tahun berbicara dengan bahasa yang bukan miliknya.

Dan hari ini— ia pulang dalam keadaan hidup.

Itu saja sudah terasa seperti mukjizat.

Pria di sebelahnya masih tertidur saat lampu kabin menyala perlahan. Suara pramugari terdengar lembut mempersilakan penumpang bersiap turun.

Andi menarik napas panjang.

Dadanya sedikit nyeri.

Tenggorokannya terasa kering sejak pagi.

Namun ia memilih mengabaikannya.

Mungkin hanya kelelahan.

Mungkin tubuhnya belum terbiasa dengan udara panas Indonesia.

Ia sudah terlalu dekat dengan rumah untuk memikirkan rasa sakit.

Perjalanan menuju Karanganyar terasa singkat.

Mobil yang dikendarai sepupunya melaju melewati sawah-sawah yang mulai gelap, warung angkringan di pinggir jalan, dan deretan motor yang memenuhi lampu merah.

Andi memandangi semuanya seperti seseorang yang baru kembali dari dunia lain.

“Aku kira Jepang lebih keren dari sini,” kata sepupunya sambil tertawa.

Andi ikut tersenyum kecil.

“Enggak ada yang ngalahin rumah.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun entah kenapa membuat matanya terasa panas.

Rumah orangtuanya sudah ramai saat ia tiba.

Lampu teras menyala terang. Suara televisi bercampur tawa keluarga terdengar sampai halaman depan.

Pintu terbuka bahkan sebelum ia mengetuk.

“ANDIIII!”

Ibunya menangis lebih dulu sebelum memeluknya erat.

Adik perempuannya tertawa sambil merekam dengan ponsel.

“Woi, orang Jepang pulang!” teriak pamannya.

Semua orang bicara bersamaan.

Tentang:

Jepang seperti apa

gajinya berapa

kapan menikah

apakah salju benar-benar seputih kapas

Andi hanya tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu hidup di bawah lampu rumah sakit dan bau antiseptik— ia merasa benar-benar hidup.

Malam itu meja makan penuh.

Ayam goreng. Sate. Es teh. Sambal terlalu pedas yang bahkan membuatnya hampir batuk.

Semua terasa hangat.

Normal.

Dan mungkin itu alasan mengapa tak seorang pun menyadari sesuatu yang aneh pada Andi.

Bahwa beberapa kali tangannya gemetar kecil saat memegang gelas.

Bahwa matanya sesekali kehilangan fokus.

Bahwa ia mulai berkeringat padahal udara malam cukup dingin.

“Andi, kamu pucat,” kata ibunya pelan.

“Cuma capek perjalanan.”

Ia tersenyum lagi.

Dan semua orang mempercayainya.


Lihat selengkapnya