Pukul empat lewat dua belas pagi.
Langit masih gelap ketika Tomo membuka matanya perlahan.
Kamar kos itu sempit. Dindingnya lembap di beberapa bagian. Kipas angin tua di sudut ruangan berputar malas sambil mengeluarkan bunyi berdecit pelan.
Tomo duduk di tepi kasur tanpa bergerak beberapa detik.
Tubuhnya masih lelah.
Kemarin ia baru berhenti narik ojek online hampir tengah malam. Dan tiga jam lagi nanti ia harus kembali bekerja membersihkan sampah kota.
Hidup memang lucu.
Penjara mengajarinya bahwa manusia bisa kehilangan segalanya hanya dalam satu malam.
Tapi dunia luar mengajarinya hal lain: kadang hidup setelah bebas jauh lebih melelahkan.
Ia meraih ponsel di dekat bantal.
Wallpaper layarnya sebuah foto lama: dirinya, seorang perempuan, dan anak kecil yang tersenyum sambil memegang balon warna merah.
Sudah hampir dua tahun ia tidak bertemu mereka.
Istrinya memilih pergi setelah kasus narkoba itu.
Tidak ada drama besar. Tidak ada pertengkaran.
Hanya sebuah kalimat pendek:
Aku capek hidup begini, Mo.
Lalu selesai.
Tomo mengusap wajah kasar penuh bekas lelah itu pelan.
Kemudian berdiri.
Ia mengenakan seragam oranye petugas kebersihan kota yang mulai pudar warnanya. Di atasnya, ia memakai jaket ojol hijau tua yang resletingnya sudah rusak sebagian.
Jaket itu usang.
Namun cukup hangat untuk udara subuh.
Ia mengambil earphone kabel kusut dari atas meja kecil.
Satu sisi kadang mati sebelah. Tapi Tomo terlalu miskin untuk membeli yang baru.
Pintu kamar dibuka perlahan.
Kos-kosan itu masih gelap dan sunyi.
Empat kamar berjajar menghadap selatan dan teras keramik untuk memarkir motor penghuninya.
Satu kamar menghadap teras juga dan pintu gerbang besi yang menjulang tinggi, hanya sedikit lubang memanjang diatas untuk cahaya dan udara masuk.
Tak ada suara.
Tak ada lampu.
Ia berjalan pelan melewati kamar penghuni lain.
Takut membangunkan mereka.
Gerbang besi dibuka sedikit demi sedikit agar tidak berderit terlalu keras.
Klek.
Udara dingin langsung menyentuh wajahnya.
Sepedanya terparkir di dekat tembok.
Tomo mengeluarkannya pelan.
Lalu menutup gerbang kembali.
Biasanya pada jam seperti ini suara azan subuh mulai terdengar dari masjid-masjid sekitar.
Saling bersahutan.
Mengisi udara pagi Karanganyar yang dingin.
Namun pagi ini tidak ada apa-apa.
Sunyi.
Tomo berdiri sebentar di depan gang kecil itu.
Keningnya mengernyit.
Aneh.
Ia menoleh ke kanan dan kiri.
Tetap tidak ada suara.
Mungkin listrik mati, pikirnya.
Atau pengeras suara masjid rusak.
Ia terlalu lelah untuk peduli.
Earphone dipasang ke telinga.
Beberapa detik kemudian, intro gitar Numb milik Linkin Park mengalun pelan.
Tomo mulai mengayuh sepeda.
Gang tempat kosnya sempit dan jarang dilewati orang.
Lampu jalan sebagian mati. Bayangan pohon-pohon bergerak pelan tertiup angin.
Ia melewati perempatan pertama.
Kosong.
Perempatan kedua.