Suara notifikasi ponsel membuat Andre terbangun.
Matanya terbuka setengah.
Lalu menutup lagi.
Tubuhnya terasa seperti baru dihantam batu besar berkali-kali.
Nyeri di pundak. Pinggang pegal. Kepala berat.
Ia menghela napas panjang sambil menatap langit-langit kamarnya yang remang-remang.
Kipas angin di atas kepalanya berputar lambat.
Ceklek. Ceklek. Ceklek.
Jam dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga belas pagi.
Andre memejamkan mata lagi.
Rasanya baru beberapa menit lalu ia merebahkan tubuh.
Namun kehidupan anak koas memang seperti itu. Waktu kehilangan bentuknya.
Hari terasa seperti malam. Malam terasa seperti ruang tunggu tanpa ujung.
Ia meraih ponsel di samping bantal.
Belasan notifikasi grup masuk bersamaan.
Grup koas. Grup rumah sakit. Grup angkatan.
Namun otaknya terlalu lelah untuk membaca semuanya.
Ia baru hendak meletakkan ponsel ketika sebuah nama membuat dadanya menghangat sedikit.
Dini.
Andre perlahan duduk di tepi kasur.
Rambutnya berantakan. Kaos hitam lusuh yang ia gunakan tidur penuh lipatan.
Ia menatap layar ponsel beberapa detik tanpa membuka pesannya.
Entah kenapa wajah gadis itu langsung muncul di kepalanya.
Dan ingatan beberapa jam lalu kembali perlahan.
—
Malam sebelumnya, halaman belakang RSUD Karanganyar terasa dingin dan sepi.
Andre duduk di bangku taman rumah sakit sambil memejamkan mata.
Masih memakai scrub hijau kusut. Masker menggantung di leher. Name tag miring di dada.
Sudah hampir dua hari matanya tidak benar-benar tidur.
IGD penuh. Bangsal penuh. Dokter jaga marah-marah. Pasien datang tanpa henti.
Tubuhnya rasanya tinggal separuh.
Ia bahkan tidak sadar seseorang sudah duduk di sampingnya.
Sampai aroma kopi dingin menyentuh hidungnya.
Andre membuka mata perlahan.
Dan seperti biasa, kelelahannya terasa sedikit lebih ringan.
Dini tersenyum kecil sambil menyerahkan segelas es Americano.
“Kamu keliatan kayak mayat hidup,” katanya pelan.
Andre tertawa lemah.
“Thanks.”
Tangannya menyentuh gelas dingin itu seperti seseorang yang baru menemukan alasan untuk bertahan hidup satu hari lagi.
Dini memperhatikannya beberapa saat.
“Bagaimana hari ini?”
Andre menatap langit malam sebentar sebelum menjawab.
“Kayak neraka.”
Dini tertawa kecil.
Suara tawanya selalu sederhana. Tidak keras. Tidak dibuat-buat.
Namun cukup untuk membuat dunia terasa lebih tenang.
“Terkadang aku mikir…” Andre meneguk kopinya pelan. “Apa aku salah ambil jurusan ya.”
“Wah akhirnya nyerah juga.”
“Mungkin aku harus kerja di kapal pesiar aja.”
“Biar?”
“Keliling dunia.”
“Dengan tampang zombie kayak gitu?”
Mereka tertawa.
Lelah. Namun hangat.